Senin, 27 September 2021 / 20 Safar 1443 H

Mimbar

Kiat Menulis Satu Pekan Satu Tulisan

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Penulis Muslim.
Bagikan:

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | Satu pekan satu tulisan. Itulah program yang saya kenakan kepada para mahasiswa kelas jurnalistik yang saya ajar. Mereka harus paham bahwa jurnalistik adalah praktik, bukan sekadar teori. Para jurnalis handal lebih banyak lahir dari lapangan ketimbang bangku kuliah, meskipun teori tetap diperlukan.

Namun, mereka yang telah membuat karya setiap pekan tak menjamin semakin bagus dalam menulis. Mereka masih harus mematuhi beberapa persyaratan lainnya. Apa saja persyaratan tersebut? Berikut penjelasannya.

Pertama, niatkan bahwa “Saya menulis untuk berdakwah.” Sebab, keridhoan Allah Ta’ala adalah tujuan tertinggi. Jika kita menggantungkan cita-cita pada tujuan tertinggi, maka yang lain akan menjadi mudah.

Kedua, karena niat kita menulis untuk berdakwah, maka sasaran karya kita adalah masyarakat luas, bukan sekadar dosen mata kuliah, atau guru Bahasa Indonesia, apalagi calon mertua. Semakin banyak masyarakat yang membaca tulisan kita, semakin banyak pula kebajikan yang kita bagi kepada mereka.

Ketiga, pilihlah tema yang menarik dan kita memiliki akses untuk menggali data tentang tema tersebut. Tema yang tidak menarik tentu tak akan diperhatikan pembaca. Semakin menarik tema yang kita pilih, semakin bernilai karya kita.  Bila perlu, lakukan riset kecil-kecilan. Cari tahu apa yang menjadi topik terhangat pembicaraan masyarakat saat ini.

Keempat, carilah bahan tulisan sesuai dengan tema yang kita pilih. Galilah secara mendalam, entah lewat wawancara, liputan pandangan mata, atau studi pustaka.

Jika bahan yang kita gali ternyata tidak cukup banyak dan kita kesulitan menggalinya lebih dalam, segeralah pikirkan kemungkinan untuk mengganti tema.  Mengganti tema adalah hal biasa. Sebab, seorang jurnalis bukanlah orang yang ahli dalam segala hal. Kualitas karyanya sangat tergantung pada bahan yang ia dapatkan.

Keharusan mencari bahan tulisan ini seringkali membuat para jurnalis pemula gampang menyerah. Mereka mulai mengeluh dengan mengatakan susah. Akhirnya mereka menggantungkan pena. Ini semua tergantung kepada seberapa kuat niat mereka berkarya.

Seharusnya mereka menyadari bahwa menghasilkan karya yang berbobot memang tak mudah. Semakin kita ingin menghasilkan karya yang berbobot, semakin banyak kesusahan yang akan kita dapati. Tak ada jalan dakwah yang mudah, sebab surga harganya tidak murah.

Kelima, jika bahan telah terkumpul, mulailah menulis dengan tata bahasa dan ejaan yang benar.  Jangan mengeluh tak bisa! Sebab, Bahasa Indonesia telah kita pelajari sejak bangku sekolah dasar sampai tamat SMU, bahkan disempurnakan lagi di semester pertama kuliah. Rasanya, setelah belajar selama 12 tahun lebih, tak mungkin kita tak paham menulis. Hanya perlu rajin mengulang-ulang saja.

Carilah waktu yang baik dalam menulis, saat di mana hati kita tentram. Misalnya, sehabis shalat malam. Bahkan, bila perlu, ambillah air wudhu sebelum menulis. Ini agar hati kita terpaut dengan tulisan yang akan kita buat. Seringkali tulisan yang keluar dari hati yang bersih lebih memiliki jiwa ketimbang tulisan yang dibuat secara terpaksa dan tergesa-gesa.

Keenam, setelah selesai menulis, baca ulang kembali karya kita. Perhatikan baik-baik kata demi kata. Sempurnakan tata bahasanya, rapikan alurnya, dan buang hal-hal yang tak bermanfaat. Ingat, tulisan yang amburadul tak akan menarik dibaca. Jika masyarakat tak tertarik membaca karya kita, maka dakwah tak akan sampai ke hati mereka.

Ketujuh, setelah semua telah sempurna, publikasikanlah. Sebarkan karya Anda seluas-luasnya. Lalu biarkan karya Anda menjangkau sendiri hati para pembaca. Ada yang tersentuh, ada pula yang menolak. Ada yang mencibir, ada juga yang mengagumi. Ikhlaskan semuanya. Sebab, hanya Allah Ta’ala yang mampu membolak-balikan hati manusia, bukan Anda. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah bersiaplah untuk menempuh langkah berikutnya pekan depan.

Selamat mencoba! *

Penulis wartawan dan pengurus MUI Pusat

Rep: Mahladi
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Antara HTI, Demokrasi dan Pemilihan Gubernur DKI

Antara HTI, Demokrasi dan Pemilihan Gubernur DKI

Rentetan Bencana Menyapa, Benarkah Itu Salahnya Curah Hujan?

Rentetan Bencana Menyapa, Benarkah Itu Salahnya Curah Hujan?

Maaf,  Saya Tidak Bangga atas Prestasi Anda Bu Menteri

Maaf, Saya Tidak Bangga atas Prestasi Anda Bu Menteri

Penyebab Kerusakan Negara dan Jalan Keluar Wujudkan Kebaikan

Penyebab Kerusakan Negara dan Jalan Keluar Wujudkan Kebaikan

Kenikmatan Berbagi di Tengah Pandemi

Kenikmatan Berbagi di Tengah Pandemi

Baca Juga

Berita Lainnya