Rabu, 26 Januari 2022 / 22 Jumadil Akhir 1443 H

Mimbar

Dilema Karakter Wartawan

ilustrasi
Bagikan:

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | SEORANG pimpinan ormas Islam pernah mengemukakan keheranannya kepada saya tentang tingkah polah wartawan yang menurutnya “kurang adab”. Saya lalu bertanya mengapa beliau sampai pada kesimpulan itu?

Beliau kemudian bercerita tentang bagaimana cara wartawan masuk ke ruangan, duduk di kursi, mengajukan pertanyaan, sampai menyodorkan alat rekam ke dekat mulut beliau. Saya tersenyum mendengar cerita itu. Saya lalu menjelaskan kepada beliau tentang dilema karakter wartawan.

Dulu, di masa awal menjadi jurnalis, saya kerap diberi nasehat oleh para jurnalis senior agar selalu menempatkan narasumber, siapa pun dia, sejajar dengan posisi kita. Di mata wartawan, seorang pejabat dan rakyat sama saja. Begitu juga seorang hartawan tak ada bedanya dengan karyawan. Semua sama, semua sumber berita! Tak ada yang boleh diposisikan berbeda.

Ya. Saya bisa memahami tujuan dari nasehat itu. Seorang jurnalis yang kagum berlebihan kepada seorang selebritis, misalnya, tentu akan sulit bersikap kritis ketika sang selebritis harus ia kritisi. Rasa kagum akan mengaburkan pandangannya. Laporannya pun tak akan obyektif.

Begitu juga rasa hormat yang berlebihan kepada seorang pejabat akan menyulitkan sang wartawan menggali informasi lebih dalam kepadanya. Bahkan, sang wartawan tak akan bisa mendesaknya, meminta waktunya lebih banyak, atau menawar informasi-informasi yang off the record. Akibatnya, ia  hanya akan memperoleh data “apa adanya”.

Saya teringat kepada seorang reporter alumni sebuah pesantren besar untuk mewawancarai pimpinan pesantren tempat ia dulu mondok. Pimpinan pesantren tersebut seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh masyarakat yang berpengaruh.

Hasilnya, dangkal, sangat normatif, dan sudah tentu tak menarik. Mengapa? Karena sang wartawan tidak menempatkan dirinya sejajar dengan narasumbernya. Ia malu dan sungkan. Ia telah menempatkan narasumber berada di atasnya.

Keadaan seperti Ini juga berlaku bila sang wartawan menempatkan narasumber berada di bawahnya. Ia akan memandang remeh narasumbernya. Keinginannya untuk menggali informasi dari narasumber akan hilang, atau setidaknya berkurang. Instingnya menjadi tumpul. Data-data penting menjadi luput dari pengamatannya.

Jadi sebenarnya tak ada yang salah dengan nasehat para jurnalis senior tadi. Hanya saja, jika sang wartawan sering menempatkan siapa pun lawan bicaranya sejajar dengan dirinya, maka lama-lama hal itu akan menjadi kebiasaan. Dan, kebiasaan lama-lama akan berubah menjadi karakter.

Saat itulah, jika tak hati-hati, seorang wartawan akan kehilangan adab. Ia merasa tak perlu memint izin terlebih dahulu untuk duduk di sebuah kursi, tak perlu menghadapkan posisinya ke arah lawan bicaranya ketika wawancara, bahkan tak ada lagi basa-basi ketika memulai wawancara.

Tampaknya, sang wartawan yang tadi disebutkan oleh pimpinan ormas Islam, telah mengidap penyakit “kurang adab” ini. Bahkan, saya pernah mendengar seorang narasumber marah ketika diwawancarai seorang narasumber karena alat rekam sang wartawan diulurkan ke arah mulut narasumbernya, sedang wajah sang wartawan melihat ke arah yang lain. Ini betul-betul tidak sopan!

Seharusnya seorang wartawan, selain memposisikan narasumbernya sejajar dengan dirinya, juga harus mampu membuat nyaman narasumber selama berada di dekatnya. Jika narasumber telah nyaman, maka tak akan ada kesenjangan antara wartawan dan narasumber. Jarak tak akan terpaut jauh, posisi pun tak akan njomplang. Wawancara akan mengalir lancar. Informasi akan terkorek dengan dalam.

Mana mungkin sang narasumber merasa nyaman jika tak ada adab yang ditunjukkan sang wartawan. Yang ada malah emosi. Catat! Menunjukkan adab yang baik adalah cara ampuh membuat nyaman narasumber.

Adab ini penting dalam semua profesi, tak hanya jurnalis. Tak heran jika para ulama selalu mendahulukan adab sebelum ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Ibnu al Mubarok juga menjelaskan, “Kami mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan ilmu (hanya) 20 tahun.” Wallahu a’lam *

Penulis seorang wartawan, pengurus MUI Pusat

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Membangun Kembali Kepingan Peradaban Islam yang Hilang

Membangun Kembali Kepingan Peradaban Islam yang Hilang

Wakaf  untuk Layanan Kesehatan Syariah

Wakaf untuk Layanan Kesehatan Syariah

merdeka

Merdeka

Jika Tak Bisa dengan Tanganmu, Sisihkan Doamu!

Jika Tak Bisa dengan Tanganmu, Sisihkan Doamu!

Sya’ir Demam Corona

Sya’ir Demam Corona

Baca Juga

Berita Lainnya