Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Mimbar

Berfikir Solutif Mengadang Ancaman Limbah Pandemi Covid-19

Bagikan:

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

Hidyatullah.com | MANUSIA adalah tempatnya salah dan lupa, hal ini sudah digariskan. Sesuai fitrahnya sebagai wadah yang tidak bisa lepas dari dua hal itu, maka menjadi kewajaran belaka bagi manusia untuk selalu memohon ampun kepada Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda,

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (hasan, Hadis Riwayat Imam at-Tirmidzi (2499), lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139).

Taubat sendiri berasal dari akar kata تاب  yang bermakna kembali dari kesalahan dan dosa. Maksudnya adalah si pelaku dosa kembali kepada Allah dari yang semula berada di dalam kubangan dosa dan salah.

Di dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman,

يا عبادي إنكم تخطئون في الليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفر لكم

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian.”(Shahih Muslim).

Betapa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengampun. Semua dosa akan diampuni kecuali syirik. Dan ada satu hal lagi yakni dosa yang pengampunannya tergantung dari manusia lainnya. Atau yang lebih sering disebut sebagai dosa haqqul adamy. Bagi sesiapa yang melakukan dosa ini dan belum mendapatkan maaf atau penghalalan maka kelak di akhirat si korban kedzholiman akan berhak menuntut balas.

Islam sebagai agama yang menjunjung asas keadilan pun tidak absen dari hak-hak hayawan dan lingkungan. Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ هَزْلاً

“Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi, sehingga mati kelaparan.” (Muttafaq ‘Alaih).

Ini adalah kisah wanita Himyariyah Israiliyah yang mengurung seekor kucing, tetapi dia tidak memberinya makan dan minum hingga kucing itu mati karena kelaparan dan kehausan. Perbuatan ini telah mencelakakan wanita tersebut, sehingga dia masuk Neraka.

Dalam sebuah kotbah shalat gerhana Rasulullah ﷺ bersabda:

قَدْ دَنَتْ مِنِّي الْجَنَّةُ حَتَّى لَوْ اجْتَرَأْتُ عَلَيْهَا لَجِئْتُكُمْ بِقِطَافٍ مِنْ قِطَافِهَا وَدَنَتْ مِنِّي النَّارُ حَتَّى قُلْتُ أَيْ رَبِّ وَأَنَا مَعَهُمْ فَإِذَا امْرَأَةٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ تَخْدِشُهَا هِرَّةٌ قُلْتُ مَا شَأْنُ هَذِهِ قَالُوا حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا لَا أَطْعَمَتْهَا وَلَا أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ قَالَ نَافِعٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ مِنْ خَشِيشِ أَوْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Telah didekatkan surga kepadaku hingga seandainya aku dibenarkan (berani) untuk mengambilnya tentu aku akan bawakan kepada kalian kurma dari kurma-kurma di dalamnya. Dan didekatkan juga neraka kepadaku hingga aku berkata, ‘Wahai Rabb, mereka umatku. Tiba-tiba aku melihat seorang wanita’. Aku (Nafi’) menduga beliau mengatakan, “Dicakar-cakar oleh seekor kucing. Aku bertanya, ‘Apa yang menyebabkan demikian? Mereka menjawab, ‘Wanita tersebut menahan kucing tersebut hingga mati karena kelaparan karena dia tidak memberinya makan atau membiarkan kucing tersebut pergi mencari makan.’ Nafi’ berkata, “Aku menduga beliau mengatakan, “Mencari makan dari serangga di permukaan tanah’.” (HR. Bukhari).

Dari hadis itu kita dapat menyimpulkan bahwasannya berbuat dzalim kepada siapapun dan apapun adalah perbuatan dosa yang akan mencelakakan diri kita sendiri. Dan salah satu perbuatan dzalim yang belakangan menjadi sorotan di negeri ini adalah masalah limbah masker sekali pakai yang menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah ini tidak hanya menjadi ancaman bagi manusia namun bagi ekosistem hewan dan lingkungan.

Seperti yang beritakan oleh beberapa media, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengajak semua pihak bersinergi dan berkolaborasi dalam penanganan limbah medis khususnya masker sekali pakai. Pasalnya, sejak awal pandemi covid-19 di Indonesia Maret 2020 hingga kini, limbah medis covid-19 menjadi persoalan kesehatan baru di lingkungan masyarakat.

“Masker ini polemik, mau dibuang ini plastik yang untuk terurai butuh waktu 50-100 tahun. Tetapi kalau dikumpulkan, bagaimana menghindari infeksi virus,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Agus Haryono dalam Webinar Pengelolaan Limbah Masker di Masa Pandemi Covid-19, Rabu (17/02/21).

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengingatkan agar pengolahan limbah medis harus ditangani maksimal. Bahkan, Direktur Penilaian Kerja Pengelolaan B3 dan Limbah B3 Kemenkes Sinta Saptarina Soemiarno mengatakan Indonesia berpotensi menghasilkan 7.578.800 kilogram limbah medis dari kegiatan vaksinasi covid-19. (Media Indonesia, 16/2/21).

“LIPI menemukan limbah di Teluk Jakarta, yakni di Marunda dan Cilincing. Mulai ada pembuangan limbah APD di muara sungai sekitar 15 %-16 % dari sampah di Teluk Jakarta atau di muara di Cilincing dan di Marunda sekitar 0,13 ton,” lanjut Agus Haryono.

Sekretaris Utama LIPI Nur Tri Aries Suestiningtyas menambahkan bahwa meningkatnya angka penyebaran penyakit juga berdampak pada limbah. Limbah medis tidak saja datang dari fasilitas kesehatan, tapi juga dari masyarakat, seperti APD, masker, dan face shield.

“Timbunan limbah medis termasuk masker dan APD sekitar 1.662,75 ton untuk periode Maret-September 2020. Itu bahaya dan dampak yang ditimbulkan limbah medis terhadap lingkungan khususnya. Tentu saja berdampak buruk buat masyarakat,” ungkap Nur. (Media Indonesia, 17/02/21).

Kasus limbah medis itu sekali lagi membuktikan bagaimana manusia beserta apa yang terkait dengannya tidak pernah bisa lepas dari hal ihwal membuat masalah baik bagi sesama manusia maupun lingkungan sekitarnya.

Lantas apakah tidak ada solusi dari ancaman limbah medis berbahaya akibat kesembronoan manusia yang membuangnya secara sembarangan itu, kita optimis pasti ada. Salah satunya adalah solusi yang ditawarkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang memberi ide agar limbah masker sekali pakai didaur ulang menjadi produk baru.

Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) LIPI, Akbar Hanif Dawam Abdullah, mengatakan bahwa bahan baku masker sekali pakai yang beredar di masyarakat didominasi oleh Termoplastik yang disebut Polipropilen (PP) yang jamak digunakan oleh industri plastik seperti untuk tutup botol dan gelas plastik.

Menurut Dawam, dengan titik leleh 163-169 derajat celcius, membuat bahan baku yang digunakan untuk masker sekali pakai itu bisa didaur ulang. LIPI telah membuktikannya dengan proses disinfektan menggunakan pelarutan Natrium Hipokrolit. Setelah dikeringkan, lalu dipotong kecil-kecil melalui proses ekstrusi yang kemudian menghasilkan biji plastik daur ulang. Setelah dilakukan proses pencetakan maka terciptalah produk plastik daur ulang dari limbah masker sekali pakai tersebut. Solusi ini juga dianggap bisa membantu ekonomi masyarakat karena bisa melibatkan UMKM yang bergerak dalam bidang pengelolaan daur ulang plastik. (Republika, 17/02/21).

Solusi lain juga dicetuskan oleh Penelitian Pusat Kimia LIPI, Sunit Hendrana yang menawarkan metode rekristalisasi yang mampu mengurangi sampah mikroplastik. Metode ini bisa memisahkan kandungan logam dalam plastik medis sehingga menghasilkan serbuk plastik baru yang bisa dipakai lagi. Metode ini dinilai efektif dan mudah diterapkan kepada semua jenis plastik. (Republika, 18/02/21).

Beberapa solusi yang ditawarkan oleh para ilmuwan pribumi itu tentu sangat layak diapresiasi dan diimplementasikan sesegera mungkin mengingat kian meningkatnya kuantitas limbah medis selama masa Pandemi ini. Yang mana masker sekali pakai merupakan limbah paling dominan di dalamnya.

Secara worldview Islam, beberapa solusi itu bisa diambil sebagai bentuk tanggung jawab seorang Muslim kepada lingkungan sekitarnya dalam rangka islah (perbaikan) lingkungan. Sebagai penduduk mayoritas di Indonesia tentu menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk berada di garda terdepan yang bisa diandalkan dalam memenej permasalahan limbah medis tersebut.

Jangan sampai fitrah sebagai wadahnya salah dan lupa malah membuat seorang Muslim pasrah menerima takdir begitu saja. Sebab inilah saatnya meningkatkan tawakal kita dalam menghadapi Pandemi ini. Jangan sampai pandemi yang belum usai ini malah ditambahi dengan masalah baru berupa limbah medis yang bisa jadi bencana baru selanjutnya jika tidak ditangani dengan tepat. Wallahu A’lam Bis Showab.*

Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Wakaf  untuk Layanan Kesehatan Syariah

Wakaf untuk Layanan Kesehatan Syariah

Dibutuhkan Sistem Pendidikan yang Berdasarkan pada Akidah

Dibutuhkan Sistem Pendidikan yang Berdasarkan pada Akidah

Pemilu dan ‘Strategi Bertahan’ Prabowo

Pemilu dan ‘Strategi Bertahan’ Prabowo

Gerakan Massa atas Kasus Penistaan Al-Quran Makin Memuncak

Gerakan Massa atas Kasus Penistaan Al-Quran Makin Memuncak

Ramadhan, Bulan Tarbiyah Amanah

Ramadhan, Bulan Tarbiyah Amanah

Baca Juga

Berita Lainnya