Dompet Dakwah Media

Akibat Covid-19, Afrika di Ambang Resesi

Terbatasnya mobilisasi masyarakat Afrika Selatan membuat ekonominya masuk ke dalam resesi terpanjang dalam 28 tahun, dengan kontraksi PDB lebih tajam dari perkiraan.

Akibat Covid-19, Afrika di Ambang Resesi
muh. abdus syakur/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Kegiatan ekonomi rakyat Sudan di Khartoum (2015).

Terkait

Hidayatullah.com | PANDEMI Covid-19 tak dapat dipungkiri telah mengubah tatanan ekonomi seluruh dunia. Benua Afrika yang identik dengan kemiskinan, dengan adanya Covid-19 ini, kemiskinan penduduk Afrika semakin meningkat drastis.

Nigeria diperkirakan masuk ke jurang kemiskinan ekstrem seiring anjloknya harga minyak dan ambruknya ekonomi karena corona. Afrika sendiri sebenarnya merupakan benua yang terkena dampak pandemi virus corona paling rendah setelah Oceania.

Lembaga keuangan multilateral memperkirakan Afrika bakal terjerat resesi dengan penurunan laju PDB sebesar 1,7 hingga 3,4 persen tahun ini. Proyeksi itu merosot 5,6 hingga 7,3 poin persentase dari perkiraan sebelum pandemi.

Tak hanya Nigeria, Afrika Selatan yang masuk jurang resesi di tengah pandemi. Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat terkontraksi -51% secara tahunan (year on year) di kuartal II-2020, setelah kuartal I-2020 terkontraksi -1,8%. Angka itu adalah penurunan paling tajam sejak tahun 1990 dan memperpanjang resesi hingga kuartal IV-2020.

Bahkan ini merupakan periode kontraksi kuartalan terpanjang berturut-turut sejak 1992. Anjloknya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak lain karena disebabkan oleh lockdown untuk menghindari penyebaran virus Corona (Covid-19) sehingga menghantam ekonomi. Terbatasnya mobilisasi masyarakat Afrika Selatan membuat ekonominya masuk ke dalam resesi terpanjang dalam 28 tahun, dengan kontraksi PDB lebih tajam dari perkiraan.

Selain penurunan angka yang sangat tajam, beberapa negara benua Afrika juga sudah pernah mengalami inflasi yang sangat buruk. Inflasi di Zimbabwe pernah menyentuh 231 juta persen, dan pengangguran berada di tingkat 94%. Kondisi inflasi ini membuat warga Zimbabwe yang bekerja tidak bisa merasakan gaji mereka. Karena harga-harga sangat tinggi dan stok barang di toko-toko sangat langka.

Banyak sarjana menganggur di negara ini, bahkan menjadi pedagang informal. Tingginya inflasi di Zimbabwe membuat negara ini pernah melakukan redenominasi mata uang, dengan menyederhanakan uang 10 miliar dolar Zimbabwe menjadi 1 dolar Zimbabwe atau menghilangkan 10 angka nol. Awal tahun ini, pemerintah Zimbabwe menyatakan simpanannya di bank hanya tersisa US$ 217 atau sekitar Rp 2,06 juta (Rp 9.500/US$).

African Development Bank (AfDB) memperkirakan, 50 juta penduduk Afrika terancam masuk jurang kemiskinan ekstrem di tengah pandemi virus corona. Dalam laporan African Economic Outlook, AfDB menerangkan sekitar 425 juta penduduk atau sepertiga penduduk Afrika sebelumnya sudah hidup di bawah garis kemiskinan internasional US$1,9 per hari pada 2020.

Lonjakan penduduk miskin terparah diprediksi terjadi di Nigeria, negara dengan penduduk terpadat di Afrika. Sekitar 8,5 juta hingga 11,5 juta dari 200 juta penduduk Nigeria diperkirakan masuk ke jurang kemiskinan ekstrem seiring anjloknya harga minyak dan ambruknya ekonomi karena corona.

Proyeksi itu dibuat untuk dua tahun ke depan, di mana 28,2 juta adalah proyeksi wajar dan 49,2 juta adalah skenario terburuk. Sementara itu, jumlah penduduk sangat miskin Republik Kongo diramal meningkat 2,7 juta hingga 3,4 juta penduduk.

Sebagai catatan, saat ini, 72 persen dari 90 juta penduduk Kongo hidup di bawah garis kemiskinan. Afrika sendiri sebenarnya merupakan benua yang terkena dampak pandemi virus corona paling rendah setelah Oceania. Per Selasa (7/8), AFP melaporkan kasus positif corona di Afrika hampir 500 ribu kasus dimana nyaris 11.700 di antaranya meninggal. Kendati demikian, krisis kesehatan dan penutupan wilayah (lockdown) telah memukul perekonomian, lapangan kerja, dan pendapatan warga.

AfDB memprediksi wabah corona bakal menghilangkan sekitar 24,6 juta hingga 30 juta lapangan pekerjaan di Afrika. Tak ayal, lembaga keuangan multilateral itu memperkirakan Afrika bakal terjerat resesi dengan penurunan laju PDB sebesar 1,7 hingga 3,4 persen tahun ini. Proyeksi itu merosot 5,6 hingga 7,3 poin persentase dari perkiraan sebelum pandemi. Pada akhir bulan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan sub-Sahara Afrika diprediksi turun 3,2 persen dan tingkat pendapatan masyarakat akan anjlok ke level 2010.

Selain itu semua, meskipun faktor alam dan ekonomi seperti kondisi geografis yang membuat benua Afrika sering mengalami kekeringan dan mengakibatkan kenaikan tajam harga pangan menjadi penyebab krisis perhambatan ekonomi, ada juga satu faktor utama yang sangat penting. Faktor tersebut adalah konflik militer yang sudah melanda benua ini selama setengah abad.

Selain mengganggu rantai produksi dalam negeri, konflik bersenjata juga mengancam keberadaan pasar sebagai tempat transaksi kebutuhan sehari-hari. Negara-negara di Afrika juga tidak mempunyai mekanisme penanganan krisis yang memadai.

Berdasarkan laporan lembaga kajian Africa Center for Strategic, 19 negara di Afrika sedang menghadapi krisis kelaparan, darurat kesehatan, dan minimnya ketersediaan makan. 10/19 negara tersebut sedang dilanda konflik berkepanjangan. Selain itu, negara-negara di Afrika juga bisa disalahkan atas krisis ini.

Mereka bahkan ingin menghentikan arus bantuan dari luar. Menurut laporan PBB, telah terjadi sekitar 950 penolakan bantuan untuk negara-negara Afrika. Bahkan, para pemerintah menetapkan peraturan resmi untuk menghentikan pengiriman pangan.

Telah terjadi kasus dimana Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) pernah menghentikan iring-iringan pembawa bantuan yang ingin masuk ke Sudan. SPLA menuduh bantuan tersebut ditujukan ke alamat musuh dan menurut mereka, jika di tangan musuh, bahan pangan bisa diperjualbelikan dan hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli senjata.

Hal serupa juga terjadi di Sudan Selatan. Pemerintah menghambat distribusi bantuan pangan, tidak tahu secara sengaja atau dikarenakan proses birokrasi yang rumit, banyak kelompok relawan yang diserang tanpa jelas.

Baca: Sudan Mengumumkan Keadaan Darurat 3 Bulan karena Banjir Mematikan

Meskipun negara Nigeria dikenal dengan eksportir minyaknya, negara ini tidak dapat mensejahterakan rakyatnya. Belum pula aksi-aksi kelompok teroris Boko Haram selama 8 tahun kebelakang ini yang membuat kondisi masyarakat Nigeria semakin terjepit. Somalia tak jauh berbeda. Selama 25 tahun, Somalia berjalan tanpa pemerintahan akibat konflik yang tak kunjung reda.

Kelompok utama dalam konflik ini adalah kelompok Islamis militan Al-Shabab yang menguasai banyak wilayah pedesaan. Meski Al-Shabab menjalankan kehidupan ekonomi tradisional (ternak dan pertanian), mereka tak mengizinkan masuknya bantuan asing.

Kondisi di Yaman juga tidak sama baiknya. Konflik sipil yang melibatkan banyak pihak, telah merusak tatanan regional, menghilangkan banyak nyawa, serta menghancurkan roda perekonomian. Persediaan air bersih di Yaman juga memprihatinkan. Parahnya lagi, 90% bahan pangan berasal dari impor sebelum meletusnya konflik.

Mengapa Afrika Identik dengan Kemiskinan?

Afrika merupakan benua terbesar ketiga di dunia dan kedua terbanyak penduduknya setelah Asia. Dengan 800 juta penduduk di 54 negara, benua ini merupakan tempat bagi sepertujuh populasi dunia. Dengan populasi 1,2 miliar orang per tahun 2016, benua ini menyumbang sekitar 16% dari populasi manusia dunia.

Benua ini dikelilingi oleh Laut Mediterania di utara, Isthmus of Suez dan Laut Merah di timur laut, Samudra Hindia di tenggara dan Samudra Atlantik di sebelah barat.

Benua ini mencakup Madagaskar dan berbagai kepulauan. Benua ini juga berisi 54 negara berdaulat yang sepenuhnya diakui, sembilan wilayah dan dua negara dengan pengakuan terbatas atau tidak ada secara de facto independen.

Mayoritas benua dan negaranya berada di Belahan Utara, dengan sebagian besar dan jumlah negara di Belahan Selatan. Populasi rata-rata Afrika adalah yang termuda di antara semua benua. Usia median Afrika pada 2012 adalah sekitar 19,7 sedangkan usia rata-rata di seluruh dunia adalah 30,4.

Tak hanya itu, Afrika juga menjadi tuan rumah keragaman besar etnis manusia, budaya, dan bahasa. Pada akhir abad ke-19, negara-negara Eropa menjajah hampir seluruh Afrika; sebagian besar negara di Afrika muncul dari proses dekolonisasi pada abad ke-20. Negara-negara Afrika bekerja sama melalui pembentukan Uni Afrika, yang berkantor pusat di Addis Ababa. Untuk kondisi iklim alam, Afrika sangatlah kering pada sebagian wilayahnya. Teriknya matahari dan sinar UV (ultra-violet) yang sangat tinggi menyebabkan para penduduk Afrika untuk beradaptasi, oleh karena itu kulit mereka berwarna hitam. Iklim cuaca yang sangat panas dan jarang turunnya hujan, menyebabkan warga Afrika kesulitan untuk mencari air. Dengan begitu Afrika dikatakan “benua yang paling kering sedunia”.

Selain memiliki iklim yang sangat ekstrem atau bisa disebut kering, tetapi mereka mempunyai sumber daya alam pertambangan yang sangat melimpah, meskipun itu semua sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. Hal ini terjadi karena kondisi geografis mereka yang sebagian besar terdiri dari dataran tinggi yang keras dan pegunungan, mereka memiliki banyak barang tambangan yang antara lain tembaga, emas, uranium, dan timah mangan, krom, minyak bumi, dan gas alam.

Walaupun negara Afrika memiliki sumber daya alam pertambangan yang melimpah, masyarakat Afrika masih hidup di bawah garis kemiskinan karena perkembangan ekonomi yang kurang baik. Masyarakat-masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan mengalami penghambatan perekonomian dengan penurunan sebesar 11%. Akibat penurunan tersebut, ratusan warga Afrika hidup dengan sengsara sebagai warga miskin.

Salah satu alasan mengapa terdapat penghambatan perekonomian adalah kurangnya investasi. Selama 40 tahun, investasi di Afrika semakin jauh dan menurun.

Selain kurangnya investasi, Afrika juga mempunyai sumber daya manusia, pendidikan, dan kesehatan yang sangat buruk. Pada tahun 1960-an, jumlah anak yang melaksanakan pendidikan sekolah dasar secara keseluruhan hanya sekitar 42%. Jumlah ini merupakan jumlah yang paling kecil, dibandingkan dengan negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) atau Asia Timur yang bisa mencapai 100%.

Baca: Pandemi Covid-19: Banyak Orang Kehilangan Pekerjaan di Nigeria dan Ethiopia

Bangunan Mewah di Afrika: Sebuah Kontradiksi

Meskipun Afrika beridentik dengan kemiskinan, siapa sangka Afrika juga mempunyai negara yang terdapat bangunan-bangunan mewah, di antaranya adalah Nigeria, Mesir, Afrika selatan, dan Algeria. Nigeria yang terletak di bagian Afrika Selatan merupakan negara berkembang melalui perdagangan, agrikultur, sumber daya manusia, dan pertambangan yang melimpah.

Selain itu, Nigeria juga bekerjasama di dalam perdagangan dengan Afrika dan Amerika. Sedangkan negara Mesir yang penuh dengan sumber daya alam berupa minyak bumi, kota-kotanya yang sangat besar.

Mesir mempunyai Piramida yang bisa dijadikan pariwisata, di setiap tahun banyak sekali orang mengunjungi piramida itu. Di dalam piramida itu ada makam Firaun. Hal ini menunjukan bahwa benua Afrika memiliki banyak potensi pariwisata dan pertambangan namun pengelolaan dan pendidikan yang kurang merata dan dominan dari penduduk benua Afrika tidak dapat merasakan kesejahteraan atau keuntungan dari potensi alam maupun pariwisata.

Hal ini menunjukkan bahwa benua Afrika cukup kaya akan sumber daya alam dan potensi lainnya. Kekayaan benua Afrika bagian atas menunjukan bahwa benua Afrika tidak sepenuhnya miskin dan stigma benua Afrika yang seringkali dikaitkan dengan kemiskinan ini tidak sepenuhnya benar.

Media tentu lebih banyak menunjukkan gencatan senjata dan penurunan ekonomi, namun sebenarnya benua Afrika memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Tetapi karena adanya konflik sipil dan aksi-aksi kelompok teroris menyebabkan banyak kaum hidup di pelosok daerah hidup terbelakang dan dikuasai.

Disebabkan oleh konflik dan masalah yang berada dimana-mana, membuat Afrika menonjol karena konflik dan betapa terpelosok penduduknya. Munculnya stigma negatif benua Afrika identik dengan kemiskinan juga disebabkan kekurangannya bahan pangan yang sulit tumbuh karena letak astronomis dan geologis tanah yang kering.*

Ditulis: Raynar Raya Rayendra, Najwa Zaneta De Titan, Adhyasta Prasraya Mahanipuna, Nayla Muthia Arzie, dan Muhammad Edward Viera Philosopia, siswa kelas 9 SMP Lazuardi GCS

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !