Dompet Dakwah Media

Mengapa Kita Butuh Petunjuk?

20 tahun setelah peristiwa hijrah, kekuasaan Islam yang berpusat di Madinah telah mencapai Syam, Afrika utara dan Armenia

Mengapa Kita Butuh Petunjuk?

Terkait

Oleh: Muhammad Faruq

 

Hidayatullah.com | TAHUN 1974, Marina Abramovich, seorang wanita asal Yugoslavia menggelar menggelar pertunjukan seni yang ia beri nama “Rhythm 0”, sebuah pertunjukan atas nama seni yang ‘gila’. Sang seniman berdiri mematung di sebuah ruangan.

Di hadapannya, sebuah meja diletakkan dengan berbagai macam benda di atasnya. Mulai dari mawar, makanan, silet hingga pistol beserta pelurunya. Konsepnya, selama 6 jam ia mematung, siapapun boleh melakukan apapun terhadap dirinya, layaknya benda mati.

Pada awalnya, pertunjukan seni ini berjalan biasa-biasa saja. Penonton yang hadir ada yang memberinya mawar, makanan dan sebagainya. Namun, semakin lama, saat para penonton menyadari mereka bisa melakukan apa saja, hal-hal gila pun mulai terjadi.

Ada yang menyileti leher Marina, ada yang menyiraminya air, ada yang merobek bajunya ,melakukan pelecehan seksual, memindahkan tubuhnya hingga mencoret-coretnya dengan spidol. Walau sempat menangis dalam pertunjukan tersebut karena rasa sakit atas luka-lukanya, ia tetap bertahan.

Namun, semakin lama penonton semakin kehilangan akal. Keributan sempat terjadi di antara penonton karena ada yang berniat menembaknya dengan pistol. Untung saja, aksi tersebut digagalkan oleh penonton lainnya yang segera mengambil pistol tersebut dan membuangnya.

Nafsu Manusia

Walaupun pertunjukan ini ide yang ‘aneh’, tapi ia semakin memberi bukti betapa manusia memiliki dorongan jahat. Bayangkan jika manusia memiliki kuasa atas segala sesuatu, tak ada benar dan salah, semua berhak bertindak atas kemauannya, maka betapa kacaunya dunia ini.

Hal ini sejalan dengan al Qur’an. Bahwa, walaupun manusia diciptakan sebaik-baik bentuk (QS: At-Tin ayat 4), kita juga memiliki potensi berbuat jahat. Hal ini tercantum dalam al-Qur’an surah Yusuf ayat 53. Maknanya “….sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan..”.

Syeikh Wahbah az-Zuhaili dalam mengomentari ayat ini menulis bahwa nafsu sering sekali memerintahkan pemiliknya untuk berbuat kejelekan. Yakni perbuatan keji daan segala dosa. Sesungguhnya jiwa merupakan kendaraan tunggangan setan. Dari situlah setan menyusup kepada manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki jiwa yang senantiasa menuntut dipuaskan dengan kejelekan. Baik itu berupa melakukan maksiat, dzolim terhadap diri sendiriatau orang lain. Pemenuhan atas ‘sisi gelap’ inilah yang menjadikan manusia rakus dan melakukan apa saja demi mencapai keinginannya.

Akan tetapi, potongan ayat selanjutnya memberi harapan baru. Kalimat tersebut berbunyi “…kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Allah SWT)..’’. Artinya, nafsu jahat tersebut bisa dikendalikan dengan rahmat Allah SWT. Pertanyaannya, bagaimana agar nafsu kita mendapat rahmat Allah SWT?.

Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Sebenarnya, ada banyak ayat al-Qur’an yang menyebut bagaimana agar kita mendapat rahmat-Nya. Namun, menurut kami, ayat-ayat tersebut terwakili oleh ayat ke 132 surah Ali Imran berikut ini yang artinya “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.”

Dengan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, manusia akan dibimbing ke jalan yang benar. Bimbingan tersebut telah sempurna dalam rupa ‘kitab suci’ al-Qur’an. Di dalam al- Qur’an, semuanya adalah petunjuk. Baik itu berupa perintah, larangan, kisah-kisah bahkan science. Sebagaimana yang firmankan-Nya dalan surah Al-Baqarah ayat 2.

Allah SWT juga menurunkan Rasul terakhir untuk menjelaskan maksud al-Qur’an. Bahkan, menjadikan kehidupan sang rasul sebagai tauladan dalam seluruh aspeknya. Itulah mengapa agama yang ia bawa disebut way of life. Kewajiban manusia hanyalah mengikuti seluruh petunjuk yang ada dengan penafsiran yang benar dan tepat.

Bukti Konkrit

Kita bisa berkaca pada sejarah. Lihatlah bangsa Arab. Pada masa sebelum kenabian atau masa jahiliyah, mereka tak ada apa-apanya. Tertinggal dalam banyak hal. Terhimpit oleh dua peradaban besar pada masa itu, Romawi di barat dan Persia di timur. Namun, semuanya berubah semenjak mereka menerima al-Qur’an sebagai pemandu hidup.

Para sejarawan mencatat, hanya dalam waktu yang relatif singkat atau 20 tahun setelah peristiwa hijrah, kekuasaan Islam yang berpusat di Madinah telah mencapai Syam, Afrika utara dan Armenia. Wilayah-wilayah yang sebelumnya dalam kekuasaan Imperium Persia dan Romawi.

Namun, ada yang lebih menarik dari itu semua. Umar bin Khattab ra, khalifah saat itu, lebih mempesona dari pencapaiannya. Dengan wilayah kekuasaan yang sebegitu luasnya, ia tetap hidup sederhana, tidak sewenang-wenang dan masih mau mendengar kritik dan nasehat.

Syeikh Jalaluddin As Suyuthi saat beliau menyampaikan pidato yang membatasi mahar pernikahan. Seorang wanita lantas berdiri dan membacakan sebuah ayat dalam al-Qur’an. Lantas, alih-alih menggunakan kekuasaanya untuk mengbungkam, Umar malah berkata “Tiap orang lebih paham ketimbang Umar.”  Dan menganulir keputusannya.

Tidak cukup sampai di situ, Dr. Naceur Jabnoun,  ahli manajemen dari UEA juga banyak menulis bagaimana Umar ra. berjasa besar dalam menata pemerintahan. Mulai dari sistem wakaf, konsep baitul maal, militer dan lain-lain.

Padahal, sebelum Islam, ada yang sampai mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena mengikuti budaya masyarakatnya. Perubahan yang terjadi pada beliau dan pada para sahabat sebagai generasi terbaik, tentu tidak lepas dari tuntunan al-Qur’an.  Sebuah petunjuk hidup yang peripurna dan holistik.*

Pengurus Pemuda Hidayatullah, Jawa Timur

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !