Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Mimbar

Sikap Adil Melihat Kunjungan Raja Salman

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Raja Salman saat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (02/03/2017).
Bagikan:

Oleh: Muzhirul Haq*

 

MASYARAKAT Indonesia sedang heboh membicarakan kunjungan Diplomatik Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud. Tidak tanggung-tanggung, Raja Arab Saudi itu dikabarkan membawa 112-an orang delegasi resmi.

Tentu, kedatangan Raja Salman memiliki arti penting dan strategis bagi kedua negara, Arab Saudi dan Indonesia, terutama dari sektor ekonomi.

Perubahan politik dunia, terutama di Amerika Serikat (AS) yang sedang kurang bersahabat dengan Islam dan Timur Tengah, ini juga menjadikan kunjungan Raja Salman lebih ke arah kerja sama ekonomi.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang diskriminatif terhadap Islam dan Timur Tengah, membuat ketidaknyamanan bagi para investor Timur Tengah. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia mulai dilirik oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Pentingnya Kunjungan Raja Salman bagi RI dan Arab Saudi

Kunjungan Raja Salman bertepatan dengan isu nasional yang lagi hangat dan ramai dibicarakan, yaitu kasus penistaan ayat suci al-Qur’an dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Banyak persepsi dan analisa bermunculan.

Belum lagi isu dana investasi yang telah Arab Saudi persiapkan. Sehingga banyak analis yang mengambil kesimpulan bahwa kunjungan Raja Saudi ini lebih kepada ingin menjadikan Indonesia negeri yang merdeka dan berjaya dari cengkeraman hegemoni asing (baca: kafir).

Yang terbaru adalah sebuah tulisan yang dikonsumsi di media sosial. Penulisnya menganalogikan kunjungan Raja Salman seperti perang Tabuk pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam.

Dimana pada peperangan itu Rasulullah keluar dari Madinah bersama 30.000 pasukan, untuk memberikan sinyal kepada musuh akan kekuatan kaum Muslimin dan sebagian bentuk psywar terhadap koalisi Yahudi yang berada di sekitar Madinah. Kesimpulannya bahwa apa yang dilakukan Raja Salman adalah strategi jenius sebagaimana yang Rasulullah lakukan pada perang Tabuk.

Tentu kita semua mempunyai harapan besar akan hubungan antar dua negara Islam ini untuk selalu bersinergi. Corak kultur dan  latar belakang agama yang sama menjadi nilai lebih untuk kerja sama yang lebih baik.

Indonesia butuh tandem kuat untuk bisa lepas dari usaha pencaplokan beberapa kekuasaan di kawasan.

Indonesia-Arab Saudi Sepakat, Kemerdekaan Palestina Harus Terus Diperjuangkan

Di sisi lain, sebagai Muslim yang hanya fanatik kepada kebenaran, kita tidak boleh gegabah. Seorang Muslim harus  amanah: tidak mengatakan atau menuliskan kecuali apa yang bisa kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wata’ala.

Setelah jatuhnya kekuasaan Utsmaniyah, kita mengenal Perjanjian Sykes-Picot. Pada  tahun 1916 terdapat  perjanjian rahasia antar pemerintah Britania Raya dengan pemerintahan Prancis yang diikuti dan disetujui oleh Kerajaan Rusia. Dimana, dalam perjanjian ini ketiga negara mendiskusikan pengaruh dan kendali di Asia Barat setelah jatuhnya Kerajaan Utsmaniyah pada Perang Dunia I yang telah diprediksi sebelumnya.

Perjanjian ini secara efektif membelah daerah-daerah Arab di bawah Kerajaan Otoman di luar Jazirah Arab, sehingga di masa depan dapat ditentukan dimana kendali atau pengaruh Inggris atau Prancis akan berlaku.

Sejak jatuhnya khilafah dan terjadinya pemetaan negara-negara Islam sampai sekarang, negara-negara Arab belum sepenuhnya bangkit. Kendali negara-negara Eropa masih kuat mencengkeram.

Dan kita sampai sekarang menyaksikan secara jujur bahwa belum ada negara Arab Islam yang 100 persen memperjuangkan nilai-nilai dan harga diri kaum Muslimin.

Masyarakat Antusias Sambut Raja Salman, Pemerintah Indonesia Diharapkan Menangkap Pesannya

Apa yang terjadi di Palestina, Suriah, dan negara negara Arab menjadi bukti kuat, bahwa negara Arab masih penuh dengan kepentingan dan kedaulatan individu.

Kesimpulan yang terburu-buru adalah bumerang bagi barisan kita sendiri. Apa yang diperlukan adalah at-tawassuth (pertengahan) dalam bersikap, tidak fanatik buta dan juga tidak alergi parah. Silakan menempatkan kunjungan ini sesuai dengan porsinya.

Dan tentunya yang tidak kalah penting adalah untuk tidak memaksa menjadi jubir bagi siapapun, jangan merasa alim sehingga memberi opini ngawur, analisa yang tidak  penting ataupun sok tahu.

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya.” (QS: Al-İsra).*

 

Penulis sedang studi di Turki

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Rentetan Bencana Menyapa, Benarkah Itu Salahnya Curah Hujan?

Rentetan Bencana Menyapa, Benarkah Itu Salahnya Curah Hujan?

Menjadi ‘Da’i yang Punakawan’

Menjadi ‘Da’i yang Punakawan’

Pemuda Pasca Covid-19

Pemuda Pasca Covid-19

Puisi “LGBT”

Puisi “LGBT”

Go-Jek dan Revolusi Sosial

Go-Jek dan Revolusi Sosial

Baca Juga

Berita Lainnya