Saintek dalam Perspektif Islam

Orang yang tidak tau bagaimana cara dan apa tujuan penggunaan teknologi akan mengalami kerugian besar

Saintek dalam Perspektif Islam
ilustrasi

Terkait

Oleh: Wandi Bustami

 

SEIRING pesatnya perkembangan saintek (sains dan teknologi) maka pertukaran suatu budaya, tradisi dan ritual-ritual antar bangsa, negara dan agama tak terelakkan. Setiap individu dengan mudah mengakses situs jejaring sosial, menjelajah belahan dunia dan meneliti sisa pradaban masa lampau.

Dengan hitungan menit bahkan detik seseorang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi diluar nun jauh dari lingkungannya. Informasi-informasi yang sampai ke telinga dan dilihat mata beraneka-ragam bentuk dan rupanya. Semua itu dapat dirasakan karena wujudnya sains dan teknologi.

Kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi tersebut banyak memberi pengaruh positif dan negatif  dalam aspek kehidupan. Pada tingkat mahasiswa atau dosen misalnya, mereka tanpa bersusah payah  mendapatkan buku-buku penunjang mata kuliah. Cukup dengan bermodalkan handphone, android, komputer dan elektronik lainnya dapat memenuhi kebutuhan mereka seketika.

Seorang ibu rumah tangga umpamanya, mereka cukup menyetel siaran tataboga untuk meraih sejumlah informasi terkait masak-memasak dan begitu seterusnya. Efek positif yang dihasilkan oleh saintek ini harus dipertahankan.

Tentu selain menghadirkan efek positif, sains dan teknologi juga mendatangkan dampak negatif. Tak jarang ditemukan seorang anak larut dalam permainan yang diinstal (pasang) dalam handphone dan komputer apatis terhadap panggilan ayah atau ibunya. Dia asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan mereka sampai lupa belajar, makan, mandi dan lain sebagainya.

Selain itu, betapa banyak orang cengengesan dengan sendirinya (seperti orang gila) tatkala gadget berada dalam genggaman, dan bukan saja tertawa sendirian, mereka lalai dan lupa dengan hak dan kewajibannya. Efek negatif lainnya, mainan berbasis andorid, ios dan windows itu sering menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Tentu fenomena seperti ini harus diwaspadai.

Sisi negatif akibat yang dihasilkan sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat perlu mendapat perhatikan lebih intensif. Seorang muslim harus senantiasa mengingatkan saudara muslim lainnya. Jangan sampai mereka jauh dan lalai bahkan lupa dengan visi dan misi hidup mereka. Dan bukan itu saja, masuknya pemikiran barat melalui media televisi, menjelajah situs-situs internet, mengkonsumsi majalah-majalah terbitan Barat dan berinteraksi dengan orang asing tidak ada jaminan seseorang tak terkontaminasi pola pikirnya. Oleh karena itu, perlu penanganan serius terkait pengaruh buruk sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat muslim khususnya.

Prinsip dasar yang diajarkan Islam tidak membatasi seseorang untuk memanfaat fasilitas duniawi. Hanya saja sebagai agama, Islam tentu mempunyai undang-undang (norma-norma) yang harus dipatuhi.

Dalam al-Qur’an misalnya, Allah Subhanahu Wata’ala melarang hambaNya terpedaya dengan kemewahan dan kemegahan dunia. Allah menyebut kenikmatan dunia ini bersifat fana, artinya tidak kekal abadi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

‘Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS:. Al Hadid 20)

Syeikh al-Sa’di rahimahullah menegaskan bahwa ayat diatas memperingatkan (tanbīh/warning) kepada orang–orang yang lalai dengan fasilitas dunia dan seisinya. Kehidupan dunia ini sebuah permainan dan akan berakhir dengan kemenangan atau kekalahan.

Orang yang tidak tau bagaimana cara bermain dan apa tujuan utama permainan diselenggarakan akan mengalami kerugian besar. Statmen ulama tafsir diatas pada dasarnya bukan serta-merta mengarah pada sebuah permainan, spektrum yang lebih luas daripada itu adalah seseorang jangan terkecoh dengan kemajuan sains dan teknologi yang akan terus berkembang. Karena hakikatnya manifestasi (keberadaan) fasilitas itu adalah untuk menambah keimanan.

Orang-orang kafir dahulu hingga sekarang, banyak yang telah menemukan hidayah setelah sekian lama mengkaji dan mengembangkan sains.

Prof Mourice misalnya, ia telah meneliti bahwa gerakan sujud dalam shalat mampu menghantar aliran darah ke sel saraf di otak yang paling dalam. Kabarnya semua bentuk gerakan olahraga tidak mampu dicapai oleh darah ke tempat tersebut kecuali dengan gerakan sujud.

Dimitri Bolykov seorang fisikawan Rusia masuk Islam setelah sekian lama menggeluti sains. Dalam penelitiannya ia mengemukakan sebuah teori bahwa suatu saat matahari akan terbit di barat dan masih banyak ilmuan-ilmuan lainnya, intinya adalah sains yang telah berhasil ditemukan itu dapat memberi manfaat dalam hidup dan kehidupan.

Allah Subhanahu Wata’ala menceritakan seseorang tidak terhalang menundukkan langit dan bumi dengan kecanggihan sains dan teknologi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَانفُذُوا لاَتَنفُذُونَ إِلاَّ بِسُلْطَانٍ

“Wahai jama’ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus/melintasi penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak akan bisa menembusnya melainkan dengan sulthan (kekuatan).” [QS: Al-Rahman: 33]

Imam al-Thobari rahimahullah dalam Tafsir Jāmi’ al-Bayān fī ta’wīl ai al-Qur’an menyatakan seseorang tidak akan mampu melintasi ruang angkasa kecuali dengan ilmu yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala.

Lalu bagiamana seharusnya sikap seorang muslim dengan perkembangan sains dan teknologi ? Apakah harus ditolak mentah-mentah atau menerima tanpa filter yang baik? Atau mengkafirkan orang yang memakai produk orang-orang kafir tersebut?

Sejak awal Islam disebarkan oleh para nabi dan rasul tidak pernah menolak sebuah kebaikan.

Seorang ahli hikmah berkata, “Unzhur mā qõla walā tazhur man qõla” (lihat apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan).

Jika itu sebuah kebenaran dan kebaikan harus diterima dengan lapang dada meski pahit dirasa. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah mendengar nasehat seorang kristiani ketika hijrah ke madinah.

Kisah lain, saat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berada di Thoif, beliau  disakiti, dilempari batu sampai menetes darah dari pelipisnya dan bahkan hampir mau dibunuh. Kala itu yang menolongnya adalah seorang laki-laki Nasrani. Intinya adalah selama sesuatu itu mengandung unsur kebenaran, kebaikan, kemaslahatan mestinya jangan ditolak semuanya.

Jadi sebagai seorang muslim yang baik harus mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Mengendalikan dan membentengi diri dari arus perkembangan zaman mesti digalakkan. Karena iblis tidak pernah tidur. Selain itu bersikap objektif menilai segala sesuatu harus dilihat dengan mata hati yang jernih.*

Penulis Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !