Ahad, 14 Februari 2021 / 2 Rajab 1442 H

Mimbar

Hantu Komunisme, Tuhankan Paham Marxisme Berorientasi Materialisme

WIKI
Karl Marx and Friedrich Engels
Bagikan:

oleh: Muawwin

 

Hantu komunisme, istilah yang mereka pakai untuk dirinya sendiri (Karl Max, Frederick Engels: Manifes Partai Komunis) kini merayap dan berkeliaran di seluruh dunia.

Komunisme adalah sebuah aliran atau sistem yang hendak memecahkan persoalan kehidupan dan kemasyarakatan.

Karenanya, ia tak hanya konsepsi duniawi semata, ia juga sebagai perumusan persaudaraan modern.

Paham komunisme ini tegak berlandaskan filsafat hidup yang belum selesai, filsafat Marxisme dan Materialisme.

Kenapa filsafat hidup Marxisme dan Materialisme dianggap belum selesai? Sebabnya ia sangat bertentangan dengan fitrah manusia. Dalam diri manusia ada perasaan yang ia bukanlah dipengaruhi oleh kebendaan/materi semata.

Lebih lagi seorang Muslim yang menjadikan Islam sebagai agama. Tentu ia bukanlah berpedoman dengan suatu tata nilai yang nampak saja, ia mengharuskan percaya dan mengikuti aturan yang bersumber dari wahyu, sesuatu yang tidak bisa diukur dengan nilai kebendaan.

Belum lagi jika dikaitkan dengan alam akhirat, maka paham Komunisme ini tidak akan pernah sampai menjangkau titik tersebut, tentu ia tidak akan selesai mengatur segala aspek kehidupan di dunia dan akhirat kelak.

Jika demikian, lantas bagaimana ia akan diterima oleh semua orang?

Paham Komunisme adalah filsafat hidup yang belum selesai. Ia menolak adanya unsur-unsur batin, faktor ruhani, jiwa dan semangat, ruh dalam diri, ia juga menolak unsur kepercayaan dalam kehidupan manusia, tidak ada kesadaran batin, rasa keterikatan sosial yang harmoni, dan lain sebagainya.

Kekurangan-kekurangan itulah yang layak menyatakan bahwa Komunisme adalah paham/falsafah hidup yang tidak akan pernah selesai.

Mari kita lihat teori kemasyarakatan dari Marxisme dan Komunisme. Secara mutlak, teori mereka didasarkan kepada kebendaan (Materialisme).

Hal itu dibuktikan dengan produk pemikiran yang dipertuhankan oleh mereka.

“Bukanlah kesadaran-otak manusia yang menetapkan adanya manusia, akan tetapi sebaliknya, keadaan masyarakat manusia yang menetapkan kesadaran otaknya,” demikian kata Karl Max (dalam Bahaja Merah di Indonesia, M Isa Anshary, hal. 3-25).

“Dunia-benda, dunia yang salah kita alami dengan panca indera kita, dimana kita juga pun termasuk di dalamnya, adalah satu-satunya yang hakikat.

Kesadaran ingatan kita dan pikiran kita, bagaimanapun juga rupa-rupanya tinggi dan rasa tak tercapai dengan panca indera kita adalah hasil akibat dari bagian badan kita yang kasar, yaitu otak.

Benda bukanlah hasil akibat dari kesadaran-ingatan (ruhani), akan tetapi kesadaran-ingatan (ruhani) sendiri adalah hanya cuka hasil akibat yang setinggi-tingginya dari benda,” ujar  Frederick Engels.

Menurut M Isa Anshary dalam buku Bahaja Merah di Indonesia menuliskan, “Materialisme filosofi atau Marxisme pada hakekatnja adalah kejakinan ‘menuhankan alam benda’ (stofvergoding), mempunjai kepertjajaan bahwa segala sesuatu ini adalah asalnja dari benda, oleh benda dan kepada benda.”

Lanjutnya Isa menyebutkan, bahwa Komunisme-Materialisme akan menyebabkan banyak sekali paham dan akibat buruk yang akan terjadi.

Ada sebelas poin pedih bilamana hantu Komunisme bergentayangan, dengan tuhan Marxisme dan orientasi hidup yang Materialisme menguasai dunia, yaitu:  Anti Tuhan,  Anti Agama,  Hukum Rimba,  Tanpa Moral,  Perang Golongan,  Pemerintah Teror,  Neraka Dunia,  Anti Demokrasi,  Anti Nasional,  Imperialisme Baru, dan  Agama Baru.

Kekuasan Ghaib itu tidak ada, karenanya Tuhan dan agama disingkirkan dari pentas kehidupan di dunia ini.

Akibatnya, tidak ada aturan agung yang mengikat orang-orang berotak otak Materialisme, tata nilai, norma, akhlak dan adab tidaklah menjadi bingkai indah pribadi seorang manusia.

Dampaknya, manusia akan bertindak brutal. Berlaku hukum rimba, tidak ada norma, yang ada hanya perang dan saling bunuh, menebar terror, dan perbuatan yang bersifat merusak semua segi kehidupan.

Hidup di dunia pun menjadi seperti di neraka, yang ada hanya siksa dan derita, darah manusia menjadi fenomena yang biasa, potongan tangan, kaki, bahkan kepala, berserakan dimana-mana.

Sungguh keji dan biadab paham yang telah menewaskan sekitar 120.000 juta nyawa di 76 negara selama kurang lebih 79 tahun lamanya.

Oleh karena itu, M Isa Anshary, salah satu tokoh Islam yang lahir dari ormas Persatuan Islam (PERSIS) mengingatkan.

“Adalah termasuk kedalam tugas suci dari segenap umat beragama, terutama kaum Muslimin dan umat Nasrani, untuk membentuk blok Ketuhanan, kembali kepada kalimat persamaan antara kedua umat ini, untuk bekerja sama menolak dan menantang faham yang sesat dan agama palsu ini (Komunisme-Materialisme).

Tugas keagamaan dan kemanusiaan ini, lebih terasa arti dan urgensinya, jikalau kita memahamkan secara sungguh kegelisahan zaman kita karena ancaman negeri yang dahsyat itu.”

Penulis mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIKA Bogor

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kenikmatan Berbagi di Tengah Pandemi

Kenikmatan Berbagi di Tengah Pandemi

Hiasi Kemerdekaan dengan Move On

Hiasi Kemerdekaan dengan Move On

LGBT dan Masa Depan Bangsa

LGBT dan Masa Depan Bangsa

“Antara Hidup dan Mati” 1848 dan 2015

“Antara Hidup dan Mati” 1848 dan 2015

Peradaban dan Gerakan 212

Peradaban dan Gerakan 212

Baca Juga

Berita Lainnya