Senin, 29 Maret 2021 / 16 Sya'ban 1442 H

Mimbar

Melawan Asap dengan Beriqra’

merdeka
Musibah demi musibah yang menimpa negeri hendaknya menyadarkan masyarakat utamanya para pemimpin bangsa
Bagikan:

oleh: Mustabsyirah

PEMBAKARAN hutan yang mengakibatkan polusi asap yang melanda bangsa Indonesia (2015) disebut sebagai terparah sepanjang sejarah asap di Indonesia.

Ribuan warga di sejumlah propinsi menjadi korban pencemaran udara dan asap tersebut. Mulai dari Riau, Jambi, Sumatra Selatan, hingga ke sebagian Pulau Kalimantan.

Seorang Ilmuwan Columbia University yang bekerja untuk National Aeronautics and Space Administration (NASA), memprediksi situasi demikian (jika terus berlanjut) bisa mengantar kepada bencana asap paling parah dalam sejarah manusia.

Data yang dirangkum GoRiau.com (per 29 Juni-6 Oktober 2015) menyebutkan, untuk daerah Riau dan sekitarnya, penderita ISPA sebanyak 50.741 jiwa, pneumonia sebanyak 893 jiwa, asma sebanyak 2.409 jiwa, penderita sakit mata sebanyak 3.040 jiwa, disusul penderita penyakit kulit sebanyak 3.934 jiwa. Hal ini disebabkan oleh buruknya kualitas udara di daerah tersebut.

Menurut Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, kualitas udara di daerah Sumatera, Kalimantan dan daerah lainnya di sekitar kawasan tersebut akibat kabut asap dalam kondisi berbahaya.

Pada tanggal 14 September 2015, Indeks Standar Pencemaran Udara di Kota Pekanbaru, Riau mencapai 984 psi yang jauh berada diatas batas kualitas udara sehat yang seharusnya lebih kecil dari 50 psi.

“Kualitas udara di Pekanbaru sangat tidak sehat, Palembang berbahaya. Sedangkan untuk Kalimantan khususnya Pontianak berbahaya, dan Banjarbaru tidak sehat,” ujar Sutopo, seperti dikutip di laman internet lalu.

Ibarat nasi telah menjadi bubur. Dampak dari keserakahan manusia tersebut tak mempan dengan berbagai cara yang telah ditempuh pemerintah Indonesia. Justru asap tersebut kian melebar dan menyeberang ke berbagai daerah lainnya.

Kini pemerintah terlihat pasrah dengan keadaan tersebut. Seolah harapan yang tersisa itu hanya bernama datangnya musim hujan sesegera mungkin.

Rahmat yang Tak Kunjung Datang

Musibah demi musibah yang menimpa negeri hendaknya menyadarkan masyarakat utamanya para pemimpin bangsa. Ada jenak yang harus disinggahi untuk ber-iqra’ dan mengevaluasi diri.

Menepi terlebih dahulu dari berbagai rutinitas dan kesibukan hidup. Merenung dan mengajak nurani berdialog, serta memikirkan dosa-dosa yang pernah manusia perbuat hingga rahmat itu enggan datang menemui.

Hujan adalah rahmat sekaligus rezeki dari Allah kepada seluruh hamba-Nya. Sedang rezeki akan terhalang jika dosa-dosa itu tak henti dihindari dan dikerjakan.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma (Ra), ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (Saw) pernah berdiri di hadapan kami lalu bersabda: “Wahai sekalian Muhajirin, lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya:

Pertama, tidaklah merebak perbuatan keji (seperti zina, homo seksual, pembunuhan, perampokan, judi, mabuk, konsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya) di suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan merebak di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada di generasi sebelumnya.

Kedua, tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan disiksa dengan paceklik panjang, susahnya penghidupan, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Ketiga, tidaklah mereka menahan membayar zakat kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka. Dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.

Keempat, tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh mereka (dari kalangan kuffar) menguasai mereka, lalu ia merampas sebagian kekayaan yang mereka miliki.

Kelima, dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) berhukum dengan selain Kitabullah dan menyeleksi apa-apa yang Allah turunkan (syariat Islam), kecuali Allah timpakan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim).

Jika nurani ini masih jujur, lima perkara tersebut adalah realita pahit bahkan sudah tumbuh menjamur ke seluruh lapisan masyarakat.

Sebut saja kasus perampokan, pembunuhan, pemerkosaan menjadi konsumsi harian yang menghiasi media massa. LGBT kian berkembang dan mendapat simpati, ribu tumbuh subur di kalangan pedagang.

Gerakan anti zakat dan syariah terus terdengar dan diperjuangkan oleh orang-orang sekular dan liberal. Dakwah dan orang yang menegakkan syariat jsutru dituduh sebagai “teroris”.

Singkat kata, negeri yang dikenal kaya dengan sumber daya alam menjadi tak berarti apa-apa dengan diangkatnya keberkahan dari bumi dan langit.

Ia hanya bisa diatasi dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Semoga Allah masih berkenan menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh hamba-Nya yang beriman.*

Penulis mahasiswi Unmul

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kuasa di Atas Senjata

Kuasa di Atas Senjata

Kultur PERSIS dan Gagasan Dakwah Simbolik Seni-Sastra

Kultur PERSIS dan Gagasan Dakwah Simbolik Seni-Sastra

Meneladani M. Natsir Berjuang Melalui Pena

Meneladani M. Natsir Berjuang Melalui Pena

Rasionalisasi Homoseksual dan Identitas Kebangsaan

Rasionalisasi Homoseksual dan Identitas Kebangsaan

Enam Karakter Pemuda Pilihan Islam

Enam Karakter Pemuda Pilihan Islam

Baca Juga

Berita Lainnya