Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Mimbar

Merdeka, Merdeka Apanya?

acehtraffic.com
Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), dalam aksi mereka di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya,
Bagikan:

 

oleh: Muhammad Mu’alimin 

BAGI kaum ‘’pemuja’’ formalitas, pasti membenarkan  setiap 17 Agustus adalah hari kemerdekaan. Peringatan ini dirayakan di mana-mana. Dari gang, jalan, sekolah, kantor hingga istana.

Apakah kemerdekaan itu hanya sebatas ‘’badaniah – fisik’’ yang seolah terbebas dari jeratan rantai, padahal jiwa dan kebebasannya ‘’tercekik’’ tanpa mereka sadari? Sebenarnya siapa yang butuh perayaan atau upacara formalitas?

Tentu bukan itu yang diharap pendiri bangsa, Soekarno – Hatta!.

70 tahun Indonesia merdeka, APBN untuk pendidikan minimal 20% dan didukung pendakwah dari 6 agama formal nyatanya belum mampu mendidik – membentuk anak bangsa menjadi manusia – manusia merdeka. Bukankah agama lahir untuk menyingkirkan belenggu kebodohan dan membentuk akhlak anti – penindasan?

Janganlah bangsa ini terus – menerus terjebak kenangan pahit yang memilukan hati. Indonesia harus move on. Kita harus mengutamakan rasionalitas, bukan emosional. Kalau di film ‘’Gie’’ simbol dan gerakan PKI boleh dipertunjukkan / diperagakan, kenapa untuk karnaval dan dalam rangka mendidik siswa sekolah tidak? Kenapa kalau di dunia film bisa? Ada apa sebenarnya ini?

Diakui atau tidak, faktanya PKI pernah mewarnai kenangan dalam sejarah negara ini, meskipun itu kenangan berdarah – darah.

Siapa yang membunuh – membantai paling banyak selain PKI?

PKI itu jahat. Tetapi ada lebih jahakat lagi,  penguasa yang berusaha ’mengkarungi’’ mahasiswa yang kritis.

PKI kita benci, tapi ada yang juga kita benci,  yaitu mereka yang “menjilat’’ kapitalis Amerika Serikat hingga negara ini menumpuk utang yang jumlahnya ribuan trilyun.

Ada faham yang lebih bahaya selain atheisme, yaitu polytheisme. Yaitu mereka yang katanya ‘bertuhan’’ tapi nyatanya menciptakan ‘’tuhan – tuhan’’ baru dalam dirinya alias bertuhan banyak. Tuhan tandingan itu berupa ketergantungan pada bangsa lain, elit pejabat yang sewenang – wenang, atau mereka yang menggantungkan hidupnya pada asing. (ini disitir quran dalam surat Al – Ikhlas).

Jangan kau gampang teriak merdeka. Karena bagaimana mungkin dikatakan merdeka jika dari presiden, gubernur, ustadz, petani, guru hingga tukang ojek atau hampir 80% rakyat dinegeri ini menggunakan mobil – motor buatan ‘’mantan’’ penjajah kita sendiri, Jepang.

Jika kemerdekaan berarti independen dalam mengusahakan diri bangsa ini atas kemauan sendiri, maka saat ini kita masih dalam kondisi ‘’keterjajahan’’.

Parahnya, penjajahan itu dilakukan oleh ‘’saudara’’ kita sendiri. Dan ‘’saudara’’ macam apa yang ‘’menjual’’ gunung emas – tembaga – uranium pada kapitalis Amerika seperti Freeport?

Jika hari ini kita berteriak merdeka, apa tidak malu? Bagaimana mungkin dalam kondisi stabil begini kurs Rupiah mendekati 1.4000 / dollar USA? Ini bukan masa kegentingan politik.

Jika Soeharto lengser karena rupiah anjlok dalam kisaran 16.000 / USD, dan mungkin sebentar lagi Rezim Jokowi mengulangi ‘’ketidakbecusan’’ menjaga kenaikan harga barang – barang pokok untuk perut rakyat.

Maka tidak ada kata yang lebih ‘’sopan’’ dari mulut rakyat kecuali turunkan orang yang bertanggungjawab atas kesengsaraan rakyat.

Merdeka.. Merdeka! Merdeka apanya? Kita lebih bangga makan KFC ketimbang Warteg bukan?

Masjid – masjidmu masih pakai karpet impor dari Turki. Pesawat kepresidenanmu saja buatan Boeing milik Amerika Serikat padahal kita punya pabrik pesawat di Bandung.

Jadi bagian mana yang kamu teriaki merdeka?

Dari celana dalam hingga BH-mu saja buatan China kok teriak merdeka, merdeka apanya?

Kita ini munafik atau bagaimana? Kalau mau merdeka ‘’buang’’ mental gengsi dan sok kaya yang ada dalam dirimu!

Kita ini sok – sokan teriak merdeka atau cuma ‘’merasa’’ merdeka?

Bangun pagi kau makan nasi berasnya impor dari Vietnam. Mandi pagi sabun kita buatan Unilever. Kita berangkat kerja naik bus buatan Jerman. Guru ngaji anak kita sholatnya pakai sajadah buatan Kashmir – Pakistan.

Sampai ana-anak yang jadi mahasiswa, yang menyebut dirinya aktivis kalau haus usai unjuk rasa minumnya Aqua, padahal ada merk lain yang rasanya sama dan harga lebih murah.

Di umur negara yang sudah memasuki 70 tahun ini bukan bicara lagi teriak ‘’Merdeka’’. Itu sangat kekanak – kanakan.

Detik ini mari kepalkan tangan dan ‘’sentil’’ kuping presiden dan para pejabat agar dia dengar suara teriakan perutmu yang lapar.

Pembangunan nasional tidak hanya diukur dari banyaknya anggaran dan tingkat pertumbuhan ekonomi, bahwa selain makan dan minum, rakyat butuh ‘’diajari’’ arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kemerdekaan tidak lahir dari formalitas atau kampanye ‘’sok merdeka’’. Kemerdekaan bukan diukur perginya tentara asing dari tanah pertiwi. Kemerdekaan tidak diukur dari meriahnya lomba – lomba atau karnaval tujuh belasan. Kemerdekaan tidak berupa ‘’taatnya’’ upacara bendera yang dilaksanakan dengan rapi dan disiplin, itu merdeka yang palsu!

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika Jokowi, Menteri dan Anggota DPR atau semua orang di negeri ini sadar, jika selama mata dan cara pandang kita masih terjebak pada apa – apa yang terlihat (matrealisme) atau seolah – olah sudah terasa merdeka, maka itu belum merdeka.

Jika fikiranmu masih ‘’terpasung’’ badaniah formalitas, maka kau tak pernah mampu mengerti arti kemerdekaan.

Kau tak mungkin merdeka jika lebih bangga bekerja keras menjadi Paskibraka demi ‘’pertunjukan’’ 90 menit didepan Presiden ketimbang memilih berkeringat membantu nenek – nenek nyebrang jalan.

Kita belum merdeka karena setiap orang masih dijajah oleh dirinya sendiri. Banyak dari kita merasa bangga jika berjalan pakai Pantovel mengkilat dan berteriak ‘’inilah aku Pejabat Terhormat’’ atau ‘’inilah aku Sang Direktur’’ sedangkan 2 meter disampingnya ada gembel sedang mengemis.

Kita tak mungkin merdeka jika kaum agamawan (Ustad, Pastur atau Pendakwah) dengan bangga turun – keluar dari tempat ibadah sembari berteriak ‘’inilah aku orang baik’’ padahal didepannya ada anak putus sekolah sibuk mengantongi botol Aqua sisa pengajian – jemaat.

Jika semua fakta itu masih ‘’tenang – tenang’’ saja berlangsung di depan mata kita,  maka jangan kita teriak ‘’merdeka’’, kecuai kita  seorang munafik.  Salam “kemerdekaan’’ omong – kosong!

Penulis Ketua DPC PERMAHI Jakarta Selatan – Ketua Umum HMI Komisariat Universitas Al Azhar Indonesia

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pandemi Covid-19 dan “Jihad” Pemuda

Pandemi Covid-19 dan “Jihad” Pemuda

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional dalam Perspektif Hukum Islam

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional dalam Perspektif Hukum Islam

Sikap “Pro-Nasional” dan “Anti-Islam”  Warisan Penjajah Belanda?

Sikap “Pro-Nasional” dan “Anti-Islam” Warisan Penjajah Belanda?

Muslim Kaffah, bukan “Islam KTP”

Muslim Kaffah, bukan “Islam KTP”

Barat dan Mitos Peradaban Unggul

Barat dan Mitos Peradaban Unggul

Baca Juga

Berita Lainnya