Kamis, 21 Oktober 2021 / 15 Rabiul Awwal 1443 H

Ghazwul Fikr

Dua Faktor Mengapa Umat Islam Lemah

Bagikan:

Oleh: Wandi Bustami

Hidayatullah.com | UMAT Islam merupakan umat yang satu. Dalam berkasih sayang dan mencintai mereka bagaikan satu tubuh yang apabila satu dari anggota tubuhnya sakit maka anggota tubuh lainnya pun ikut bersama-sama merasakan sakit.

Rasulullah ﷺ juga pernah menggambarkan bahwa orang Islam itu dalam kebersamaan bagaikan sebuah bangunan yang kokoh.  Perumpamaan satu tubuh dan satu bangunan yang melekat pada jati diri kaum muslimin merupakan suatu isyarat bahwa umat islam harus bersatu dalam segala hal.

Tidak mungkin umat ini bisa kuat, disegani dan ditakuti bila bercerai-berai. Allah subhānahu wa ta’ālā berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

Artinya: “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai.” (QS Ali ‘Imrān 103).

Seperti yang saksikan saat ini. Pertumbuhan kaum muslimin sangat massif. Jumlahnya setiap hari terus bertambah.

Namun dalam waktu bersamaan kekuatan dan gaungnya semakin lemah dan kecil. Mengapa hal itu bisa berlaku? Bukankah seharusnya semakin besar suatu bangsa dan semakin banyak penduduknya akan semakin kuat?

Benar! Seharusnya umat ini dengan jumlah yang banyak akan kuat, disegani dan bahkan ditakuti. Dalam buku-buku sejarah dipaparkan secara baik dan jelas bahwa umat Islam pernah berada di puncak tertinggi dalam segala bidang.

Mereka maju dari aspek kedokteran, falak, filsafat, astronomi dan ilmu eksak lainnya di samping pengetahuan agamanya juga bagus dan tak kalah penting umat Islam pernah menjadi penguasa dunia dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun bila kita perhatikan beberapa hari belakangan dan juga beberapa tahun silam. Saudara kita yang berada di Palestina terkhusus di Masjid al-Aqsha kiblat pertama umat Islam dan Gaza hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.

Nyaris setiap hari mereka merasakan hidup dalam keadaan tertekan, cemas, was-was dan jauh dari rasa aman dan nyaman. Apa penyebabnya?

Boleh jadi karena kkum muslimin tidak bersatu, umat Islam tercerai-berai; Mereka bagaikan santapan di atas meja makan; terombang-ambing bagai buih di lautan.

Apakah semua ini berlaku karena kuantitas kaum muslimin sedikit? Tidak! Jumlah kaum muslim dewasa ini nyaris memenuhi seperempat bumi. Namun kenapa masih lemah, dizhalimi, diintimidasi dan dibunuh di negerinya sendiri?

Rasulullah ﷺ telah memberikan jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut secara detail dalam hadits-hadits eskatologi/akhir zaman. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Artinya:  Dari [Tsauban] ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “Hampir saja bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di atas meja hidangan.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al-wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR: Abu Daud).

Secara tegas hadits ini menjelaskan bahwa umat Islam kala itu dalam keadaan lemah, tertindas, teraniaya, karena cinta mereka terhadap dunia dan takut mati.

Sulthan Ali al-Qārī rahimahullah berkata: Kala itu umat Islam menang dari segi kuantitas namun kalah kualitas. Tercabutnya rasa takut dari musuh dan tumbuhnya sifat wahan di dalam hati adalah penyebabnya. (Dalam Mirqātu al-Mafātīh/3365).

Bila hadits di atas disarikan maka penyebab ketidak-pedulian seorang Muslim dengan saudaranya adalah sebagai berikut;

Cinta dunia dan takut mati

Cinta dunia mengaburkan segalanya. Karena dunia seseorang bisa menjadi materialistis yang kemudian hilangnya rasa simpati dan belas kasih antar sesama. Dunia dapat mengelabui penghuninya jika tidak memiliki iman di dada. Karena dunia itu indah dan mengasikkan.

Allah subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

Artinya: “Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS: Thaha 131).

At-Thabari berkata: “Allah swt berpesan kepada nabi Muhammad ﷺ agar tidak terpengaruh dengan banyaknya kenikmatan dunia yang diberikan kepada orang-orang kafir yang kemudian berujung pada pengingkaran terhadap perintah tuhan mereka.” (Dalam Tafsīr at-Thabarī 18/403).

Al-Baghawi bertutur: Maksud sebagai bunga kehidupan ialah dunia memiliki keindahan yang luar biasa. (Dalam Tafsīr al-Baghawi 5/303).

Selain itu, dunia sangat manis sehingga bisa menghipnotis orang-orang yang lupa akan tujuan hidup. Maka tak heran ketika Rasulullah ﷺ mewanti-wanti akan bahaya dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Artinya:  “Dari [Abu Sa’id Al Khudri] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Israil adalah wanita.” (HR: Muslim).

Terkait hadits ini Ibnu ‘Alān berkomentar, “Dunia diserupakan dengan buah-buahan yang manis nan hijau sebab sesuatu yang manis disukai dari rasanya sedangkan sesuatu yang hijau disenangi kala memandangnya.” (dalam Dalīl al-Fālihīn 1/255).

Dunia sangat mengasikkan, menggoda, manis, indah dan menawan itu dapat mematikan hati untuk berempati. Hilangnya ada rasa iba dan belas kasihan melihat saudaranya dianiaya, dizhalimi, diusir dan bahkan dibunuh; Ia hanya memikirkan diri dan keluarganya saja.

Ketika hartanya diminta untuk membantu saudaranya yang sedang kesulitan atau diminta untuk dikeluarkan di jalan Allah swt dengan pongah dan congkak ia mengatakan; mengapa saya harus mengeluarkan harta untuk mereka yang susah payah saya mengumpulkannya?. Maka inilah model manusia yang cinta dunia. Jahil, acuh, tak peduli dengan orang lain.

Padahal syarat untuk mendapatkan pertolongan Allah swt ialah dengan memberikan pertolongan kepada sesama. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR: Abu Daud)

Adapun sebab kedua sikap acuh seorang muslim dengan saudaranya ialah takut mati. Ketika seseorang menyuarakan kebenaran, membela keadilan dan tegak di atas yang hak maka ia sedang memposisikan dirinya dalam keadaan bahaya.

Karena ia akan mendapat banyak kecaman, hujatan dan bahkan fitnah yang bertubi-tubi. Sesungguhnya itulah sikap ksatria. Mereka pahlawan perjuangan. Nilai keimanan sungguh telah mengkristal di dada mereka. Mati menjadi cita-cita tertinggi mereka.

Namun apabila mereka takut akan dicaci, dikecam, dihujat dan difitnah maka diam menjadi pilihan terbaiknya. Mereka takut karirnya mati, nama baiknya rusak, ekonominya kolaps dan jabatannya hilang. Karohiyatul maut! takut mati!

Di saat maraknya seruan memboikot produk Yahudi, mereka justru mereka membela mati-matian. Mereka takut kepentingannya terusik, takut targetnya gagal, takut tidak mendapat bantuan dan masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya yang bersarang di dada mereka.

Imam al-Ghazali dalam Mīzānu al-‘Amal berkata: “Ada empat yang membuat orang takut mati, 1) Karena ingin menikmati dunia selama-lamanya. 2) Tidak siap berpisah dengan orang yang dicintai. 3) Ketidak-tahuan pasca kematian dan 4) Takut dengan dosa-dosa.”

Dari empat poin ini terdapat dua poin yang berkaitan dengan poin pertama yaitu cinta dunia. Karena terlalu cinta dengan dunia maka ketakutan akan kematian pasti akan muncul.*

Asatidz Tafaqquh Study Club, Pekanbaru

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Mengungkap Kebohongan Baru Ayaan Hirsi Ali, Penulis Anti-Islam [2]

Mengungkap Kebohongan Baru Ayaan Hirsi Ali, Penulis Anti-Islam [2]

Nyatakan “La ilaha Illallah” Hadapi Islamophobia Barat

Nyatakan “La ilaha Illallah” Hadapi Islamophobia Barat

Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (1)

Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (1)

Korporasi, Kekuatan Asing dan Kemandirian Indonesia

Korporasi, Kekuatan Asing dan Kemandirian Indonesia

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Baca Juga

Berita Lainnya