Energi ‘Perlawanan’ 212

Perlawanan yang ketiga adalah memberdayakan umat. Ini agar umat tidak hanya hebat dari segi jumlah, tapi juga mutu

Energi ‘Perlawanan’ 212
abdus syakur/hidayatullah.com
Jutaan massa Reuni Alumni 212 memadati Lapangan Medan Merdeka Monas, Jakarta, Sabtu (02/12/2017). Sejak sebelum subuh massa sudah hadir. Tampak jamaah usai shalat subuh.

Terkait

(Halaman 2 dari 2)

Sambungan artikel PERTAMA

 

Akibat lebih jauhnya, kata beliau, bukan mustahil timbul sekularisasi subjektif yang menyebabkan agama jadi tidak punya lagi kredibilitas untuk mengatur urusan-urusan duniawi. Rakyat lemah dan tertindas jadi “ditinggalkan” agamanya. Kalau ini sampai terjadi, tragis sekali.

Tentu kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena itu, kini saatnya agama juga kita fungsikan untuk melawan ketidakadilan sosial-ekonomi.

Bentuk Perlawanan

Jutaan umat yang mengikuti aksi 212 menyimpan energi Islam yang luar biasa besarnya. Alangkah sayang jika energi potensial itu tidak diubah menjadi energi kinetik untuk melawan ketidakadilan sosial-ekonomi.

Setidaknya ada tiga bentuk perlawanan yang bisa dilakukan. Pertama, demonstrasi, kedua, menggalakkan dakwah wajib berzakat, dan yang ketiga, pemberdayaan umat. Dalam hal ini, peran tokoh pimpinan, dai, kalangan menengah ke atas, kaum intelektual 212 sangatlah penting dan berpengaruh dalam menggerakkan, mengarahkan, mengeksekusi, dan membina umat.

Perlawanan yang pertama, demonstrasi. Tidakkah rasa keadilan di dada kita berontak ketika ada segelintir orang yang menguasai ekonomi bangsa ini, sementara gembel mengorek-orek limbah pesta, rakyat miskin yang penghasilannya luar biasa kecil dipaksa bertahan hidup dengan biaya mahal, dan wong cilik dibiarkan bertarung dengan raksasa modal?!

Demo-demo perlu dicurahkan pada kasus-kasus ketidakadilan seperti penggusuran secara sewenang-wenang, perampasan tanah-tanah petani, penguasaan jutaan hektar lahan oleh segelintir orang, privatisasi air dan energi oleh swasta, pengerukan kekayaan sumber daya alam oleh perusahaan asing, reklamasi yang merugikan nelayan dan mencemari lingkungan, pemurahan upah buruh, dan lain sebagainya.

Baca: [Berita Foto] Pesan Ukhuwah dari Reuni 212

Yang terakhir ini, tokoh kita dulu pernah mencontohkannya. Tokoh Sarekat Islam, Surjopranoto, ketika melihat kesenjangan antara pengusaha dan buruh perusahaan gula begitu lebar, –seorang pegawai Belanda dalam pabrik gula dengan duduk ongkang-ongkang mendapat persenan tahunan 50.000 gulden, sedangkan upah kuli yang membuat lubang dalam tanah sepanjang 24 kaki, selebar dan sedalam 1 kaki, hanya dikasih 1,50 sen–  ia mengadakan pemogokan. Dengan anggotanya yang berjumlah hingga 31 ribu orang, Serikat Buruh yang dibentuknya mampu menekan pengusaha gula (Rizkiyansyah, 2014).

Demo-demo melawan ketidakadilan ini, jika diikuti jutaan umat, tentu akan mengguncang, menciptakan opini publik, membuat musuh resah dan tidak bisa tidur, serta menggedor kesadaran pemerintah dan mendesaknya mengubah kebijakan. Rakyat lemah dan tertindas yang dibela pun akan merasakan kehadiran agama begitu dekat dengannya.

Bentuk perlawanan berikutnya adalah menggalakkan dakwah wajib berzakat. Dulu, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Prof. Mubyarto, pernah menyarankan supaya dakwah lebih diintensifkan pada orang kaya. “Dari segi moral agama, “kata beliau, “rasanya sudah sangat mendesak!” (Panji Masyarakat, 1 Mei 1981).

Sarannya ini agar pemerataan ekonomi bisa terwujud. Supaya jarak kesenjangan antara si kaya dan si miskin bisa dipersempit. Beliau melihat penggarapan dakwah waktu itu hanya untuk orang miskin. Nah, barangkali jurang ketimpangan yang luar biasa dalam sekarang ini, mohon maaf, salah satunya karena banyak orang kaya yang belum didekati dan diingatkan oleh para dai akan kewajibannya berzakat. Dengan banyak yang berzakat, akan tercipta pemerataan dan banyak rakyat lemah dan tertindas yang tertolong. Ini berbeda dengan cara perjuangan kelas ala Marxis yang mengajak kelas proletar menghancurkan kelas borjuis. Yang terjadi penghancuran kelas, bukan tegaknya keadilan.

Perlawanan yang ketiga adalah memberdayakan umat. Ini agar umat tidak hanya hebat dari segi jumlah, tapi juga mutu. Dengan menjadi berdaya, umat tidak menjadi buih-buih di lautan.

Pemberdayaan perlu dilakukan terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Ekonomi umat perlu ditopang. Mengingat sekarang ini bukan kita yang menguasai keuangan nasional, dan bidang ini lebih berkelanjutan. Koperasi Syariah 212 yang telah dibentuk merupakan langkah konkret untuk memandirikan ekonomi umat dan menumbangkan ekonomi kapitalis. Ini perlu didukung penuh. Umat perlu juga dibina agar menjadi wirausahawan-wirausahawan kreatif, inovatif, dan go global.

Baca: Aksi 212 dan 5 Fenomena Lahirnya Generasi Baru

Akses pendidikan juga harus dibuka seluas-luasanya untuk umat. Dengan mengenyam bangku sekolah dan kampus, umat tak lagi bisa dibodoh-bodohi terus, peluang mendapatkan pekerjaan pun jadi semakin besar, kemudian umat juga bisa mengembangkan diri, berkontribusi dan memimpin bangsa ini.

Dengan begitu, umat Islam akan menjadi unggul dan tuan di negeri sendiri. Citra Islam pun semakin terhormat. Dan bangsa ini menjadi maju. Mari bersatu melawan ketidakadilan sosial-ekonomi!*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !