Selasa, 2 Maret 2021 / 18 Rajab 1442 H

Ghazwul Fikr

Benarkah Candi Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman? [1]

Bagikan:

oleh: Ibnu Yusuf

BELUM lama ini, seorang penulis, Fahmi Basya, menerbitkan buku berjudul, “Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman” yang isinya mengatakan, bahwa kata patung-patung yang di maksud dalam Al-Quran surat Saba’ ayat 13 adalah patung-patung yang berada di Candi Borobudur. Ia mengambil kutipan Surat Saba’ : 13.

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS: Saba’ : 13)

Fahmi Basya ( sang penulis) menafsirkan jika patung yang di maksud dalam Al-Quran tersebut adalah patung-patung yang berada di Candi Borobudur.

Lalu benarkah Nabi Sulaiman memerintahkan kepada jin-jin yang ia tundukkan untuk membuat patung-patung yang ada di Candi Borobudur?

Fahmi Basya juga mengklaim bahwa Candi Borobudur adalah istana peninggalan Nabi Sulaiman A.S.

Benarkah klaim ini?

Dalam kaca mata Al-Quran dan Islam, adalah sebuah perbuatan yang sangat mustahil jika seorang Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam Allah suka terhadap seni patung dan memerintahkan pengikutnya membuat patung, pembuatan patung juga sangat bertentangan dengan filosofi agama Islam yang mengajarkan keTauhidan kepada Allah Ta’ala dan melarang pemberhalaan dalam bentuk apapun.

Karena sesungguhnya misi dari Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam adalah agar manusia menyembah Allah yang maha esa dan “memerangi” dari menyembah selain Allah, dalam hal ini termasuk penyembahan terhadap berhala.

Sebagai buktinya,di dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang bercerita bagaimana Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam berhadapan dengan kaum mereka yang menyembah berhala, baik itu berbentuk Shanam, Wathan , ataupun Nushub , salah satunya adalah cerita dari Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang memerangi berhala dengan menghancurkan patung-patung yang di jadikan berhala bagi kaumnya, Allah Ta’ala menceritakan peristiwa tersebut di dalam Al-Quran :

“Mereka bertanya: ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab: ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’ Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang- orang yang menganiaya (diri sendiri).’ Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahawa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.’ Ibrahim berkata:, maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun tidak dapat pula memberi mudarat kepada kamu?’ Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS:al- Anbiya’: 62-67)

Kemudian Nabi Muhammad sebagai “The last prophet” juga menghancurkan patung-patung yang menjadi berhala bagi kaum Qurays dan tanah Arab pada peristiwa Fathul Makkah (pembebasan kota Makkah) yang ketika itu memiliki 360 berhala baik yang berada di dalam dan di sekitar Ka’bah, bahkan pada saat mereka memiliki berhala kecil yang di tempatkan di rumah mereka masing-masing. Pada hari yang penuh bersejarah tersebut (Fathul Makkah) Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam  dan para Sahabatnya menghancurkan 360 berhala-berhala yang berada di luar maupun di dalam Ka’bah, seraya mengucapkan :

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

“Katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’ : 81).

Sikap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam terhadap patung-patung yang disembah sejalan lurus dengan filosofi agama Islam yang sangat melindungi akidah pengikutnya agar tidak terjerumus kepada penyembahan terhadap berhala dan bahaya menyekutukan Allah Ta’ala (syirik).

Namun bukan berarti orang-orag Arab jahiliyah tidak mengenal agama Tauhid (monotheisme) yang di bawa oleh Nabi Ibrahim Alaihi Salam, mereka pada awalnya mengikuti agama Nabi Ibrahim yang hanif, akan tetapi setelah beratus-ratus tahun mereka menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim Alaihi Salam. Hal ini di karenakan secara naluri manusia selalu tidak mampu mem-”visualisasikan” tuhannya ketika beribadah, sehingga manusia selalu mencari “wasilah” sebagai perantara kepada tuhannya, hal ini telah di akui oleh orang-orang musyrik :

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.“( QS: Az-Zumar : 3)

Secara umum, akidah bangsa Arab jahiliyah memahami fitrahnya sebagai manusia yang mengakui ke-esaan Allah (Tauhid Rububiyyah) , firman Allah ta’ala :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS: az-Zukhruf : 87)

Bahkan mereka percaya bahwa Allah subhana Wa Ta’ala adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: “Allah.” (QS: Lukman: 25)

Tetapi menurut pandangan Islam kondisi seperti ini masih di katakan kafir dan musyrik. sebab mereka sudah menyimpang dari tata cara yang benar dalam menyembah kepada Allah Ta’ala ( Tauhid uluhiyah), mereka tidak tunduk kepada aturan yang Allah Ta’ala tetapkan, mereka membuat cara, ajaran, syariat sendiri dalam mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala dengan cara membuat tuhan-tuhan dari kayu dan batu untuk menjadi “wasilah” mereka dengan Allah Ta’ala. Mereka lebih patuh kepada peraturan yang mereka buat sendiri untuk mengganti hukum yang telah di turunkan dan di tetapkan Allah Subhanahu Wata’a, tauhid inilah yang membedakan antara seorang muslim dan seorang yang kafir.

Jenis Tauhid ini juga adalah inti dakwah para Rosul dan setiap Rosul selalu memulai dakwahnya dengan perintah Tauhid Uluhiyah, sebagaimana yang di ucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Su’aib Alaihi Salam dan Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam. * (bersambung)

Penulis adalah tamatan jurusan dakwah dan pemikiran Islam di kuliah dakwah Islamiyah tripoly-Libya 2005-2010), email : [email protected]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Apa benar Jokowi Menang, Jalaluddin Rahmat Menag?

Apa benar Jokowi Menang, Jalaluddin Rahmat Menag?

KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’ [1]

KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’ [1]

Brunei dan Masa Depan Hukum Islam

Brunei dan Masa Depan Hukum Islam

10 Cara, Anda sudah Membantu Yahudi-Israel

10 Cara, Anda sudah Membantu Yahudi-Israel

Skandal Miss World dan “Pengemis Moral”

Skandal Miss World dan “Pengemis Moral”

Baca Juga

Berita Lainnya