Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ghazwul Fikr

Mengungkap Kebohongan Baru Ayaan Hirsi Ali, Penulis Anti-Islam [1]

EPA
Ayaan Hirsi Ali, perempuan Belanda berdarah Somalia, yang mendadak terkenal dan disanjung Barat karena dianggap pengkritik Islam dan pandangannya yang liberal
Bagikan:

Oleh: Max Blumenthal

SEMBARI mempromosikan buku terbarunya, Heretic, pada acara talkshow “The Daily Show” yang tayang pada 23 Maret, penulis serta aktivis anti-Islam kelahiran Somalia, Ayaan Hisi Ali membuat pernyataan mengejutkan: “Jika anda melihat pada kekerasan yang terjadi di seluruh dunia sekarang, 70% diantaranya dilakukan Muslim,” ungkapnya pada presenter Jon Stewart.

Jon Stewart tidak memintanya menunjukkan barang bukti dan Hirsi Ali tidak mengutip sumber apapun. Tetapi, dirinya membuat pernyataan serupa pada essay yang terbit tanggal 20 Maret 2015, yang menjadi preview bukunya di harian Wall Street Journal: “Menurut International Institute for Strategic Studies (IISS), setidaknya 70% kematian yang disebabkan oleh konflik bersenjata di seluruh dunia tahun lalu melibatkan Muslim.”

IISS adalah sebuah lembaga independen yang menangani kebijakan luar negeri yang berpusat di Inggris. Ketika dihubungi AlterNet mengenai statistic yang dibuat oleh Hirsi Ali, juru bicara IISS, Kat Slowe, menyatakan bahwa lembaganya tidak pernah membuat pernyataan tersebut dalam penelitiannya.

“Saya telah bebicara dengan beberapa staf ahli kami, dan mereka tidak tahu darimana statistic ini datang,” ujar Slowe. “Tebakan terbaik mereka adalah si jurnalis ini (Hirsi Ali) memiliki akses atau berlangganan database mengenai konflik bersenjata milik kami, lantas menghitungnya sendiri. Ada kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat menyesatkan, karena jika konflik di Suriah tidak dihitung maka angka tersebut akan terlihat sangat berbeda,” imbuh Slowe. Konflik di Suriah menewaskan hampir 200.000 orang, dimana jumlah tersebut adalah hampir separuh dari seluruh orang yang tewas dalam konflik kekerasan tahun lalu. Dan tentu seluruh konflik tersebut tidak berakar pada agama.

Baik AHA Foundation yang dimiliki Hirsi Ali maupun American Enterprise Institute yang memperkerjakan Hirsi Ali sebagai peneliti mereka tidak menanggapi ketika ditanya mengenai statistic tersebut. E-mail yang dikirim oleh AlterNet kepada Hirsi Ali juga tidak dibalas.

Sekitar 24 jam setelah AlterNet berusaha menghubungi Hirsi Ali, yang bersangkutan membuat pernyataan publik mendukung klaim-nya tersebut. “Sangat menyedihkan bahwa 70% kematian dalam konflik bersenjata di dunia tahun lalu melibatkan Muslim,” kicaunya di akun Twitter pribadinya.

Hirsi Ali juga menyertakan link tentang hasil survey yang menyebutkan jumlah korban meninggal dalam konflik global. Survey tersebut dibuat oleh peneliti IISS, Hanna Ucko Neill dan Jens Wardenaer, yang tidak ada hubungannya sama sekali kepada kekerasan karena agama ataupun Muslim.

Tampaknya Hirsi Ali menghitung sendiri statistic milik IISS yang mendokumentasikan korban tewas dalam konflik di berbagai teritori, mulai dari Ukraina Timur hingga sub-Saharan Afrika terus ke Timur Tengah, dan Meksiko dimana pembantaian yang dilakukan kartel narkoba banyak terjadi. Slowe mengatakan bahwa adanya peningkatan korban tahun lalu karena adanya konflik Suriah, serta menjelaskan lebih lanjut bahwa klaim yang dibuat Hirsi Ali “menyesatkan” karena “konflik ini tidak berakar pada agama.”

Bukannya merespon pertanyaan jurnalis AlterNet, AHA Foundation justru meneruskan email tersebut ke Washington Free Beacon, sebuah media sayap-kanan yang memiliki sejarah menuliskan cerita bohong serta dilebih-lebihkan untuk menimbulkan Islamophobia. Karena email tersebut, Free Beacon menyebut jurnalis AlterNet sebagai anti-Semitis.

Sejarah Penipuan

Statistik mencurigakan Hirsi Ali adalah penipuan baru yang dilakukan oleh salah satu penentang Islam paling gigih. Sementera aktivis anti-Muslim lainnya seperti Robert Spencer dan Pamela Geller telah termarginalisasi, Hirsi Ali masih menjadi favorit media mainstream Amerika. Bukunya, Heretic, Hiris Ali mengulangi lagi argument-argumennya terdahulu yang menimbulkan polemik. Tak ketinggalan dirinya meminta sesosok Muslim seperti Martin Luther, seorang anggota pemerintahan pada abad ke-16 yang dihujat karena membakar synagog milik Yahudi, yang dia bandingkan dengan penyakit mematikan. Dengan diterbitkannya buku tersebut, Hirsi Ali diterima dengan tangan terbuka oleh BBC, presenter CNN Anderson Cooper, dan juga Jon Stewart dari stasiun TV ABC.

Acara berita channel tersebut bahkan menuliskan kutipan dari Heretic, sementara New York Times Book Review bahkan mewawancarai Hirsi Ali secara ekslusif, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti buku anak-anak favoritnya.* (bersambung)

Wartawan dan penulis buku, “Goliath: Life and Loathing in Greater Israel”. Tulisan dimuat di www.alternet.org

 

Rep: Tika Af'ida
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tintin dan Stereotipe Islam dalam Animasi

Tintin dan Stereotipe Islam dalam Animasi

Mungkinkan Cita-Cita Ikhwanul Muslimin akan Mati?

Mungkinkan Cita-Cita Ikhwanul Muslimin akan Mati?

Jilbab dan Gazwul Fikri, Apa Hubungannya?

Jilbab dan Gazwul Fikri, Apa Hubungannya?

Ananda Sukarlan dan Al-Ma’idah Effect

Ananda Sukarlan dan Al-Ma’idah Effect

Komedi Banci dan Kedudukan KPI

Komedi Banci dan Kedudukan KPI

Baca Juga

Berita Lainnya