Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ghazwul Fikr

Bersemangat Membela Islam Di Negeri Orang

www.franceculture.fr
Rasyid Nikaz saat membebaskan wanita bercadar di sebuah pengadilan Paris 2011
Bagikan:

Oleh: Inne Rachma Hardjanto

MENYIKAPI peristiwa Majalah Satire Perancis Charlie Hebdo, nampaknya apa yang dilakukan Rachid Nekkaz (Rasyid Nikaz), seorang wirausaha imigran Prancis, patut diteladani. Ia membela agamanya sebisa mungkin dengan kekuatan finansial yang ia miliki.

Seperti diketahui, Rachid adalah seorang pengusaha sukses keturunan Aljazair yang tinggal di Prancis. Namanya mencuat karena selalu membayarkan denda bagi para Muslimah bercadar yang ditangkap pemerintah Perancis.

Beberapa saat setelah terjadinya penyerangan terhadap kantor redaksi Charlie Hebdo, Rachid mengajukan membeli 51% saham surat kabar yang telah memuat kartu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam tersebut dengan nilai investasi 700.000 Euro. Tujuannya, agar media tersebut bisa lebih ramah terhadap Islam. Keingininan ini dilakukan sejak lama, 2012. Namun hingga saat ini pemilik majalah masih menolak keinginannya.

Di Eropa saat ini, banyak imigran muslim khususnya asal Turki, Marokko, dan Aljazair yg memiliki kekuatan secara finansial.

Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai entrepreneur (wirausaha). Dari mulai pemilik bengkel langganan kami yang penghasilan perbulannya bisa melebihi CEO Philips, hingga pengusaha kecil restauran dan ‘travel agent’ yang bertransformasi menjadi pemilik sebuah maskapai penerbangan swasta di Eropa.

Dari mulai start up hingga kakap, mereka juga tak segan-segan menafkahkan hartanya untuk agamanya.

Tidak heran kalau kita akan terperangah melihat banyak masjid-masjid megah di bangun di lokasi strategis yang dibeli di wilayah utama sebuah kota di beberapa negara Eropa.

Di Belanda, misalnya Eindhoven, sebuah masjid megah komunitas Turki dibangun hampir berhadapan dengan lokasi Stadion PSV Eindhoven, lokasi startegis utama di pusat kota dengan nilai beli tanah yang tinggi, begitu juga di kota-kota lain di Belanda.

Yang terbaru saya lihat di Utrecht, baru akan rampung pembangunannya, sebuah masjid megah dan indah tepat di ‘centrum’ kota.

Masjid-masjid itu sebagian besar adalah swadaya imigran muslim sendiri, pengecualian mungkin untuk Le Grande Mosque Paris yang dibangun sebagai ungkapan terima kasih ‘a token of gratitude’ Prancis terhadap warga koloni nya yang Muslim yang berkorban dan gugur saat membantu Perancis dalam perang dunia pertama.

Bukan suatu hal yang mudah juga padahal membangun masjid di Eropa, selain masalah pendanaan, terbentur peraturan pemerintah lokal menjadi tantangan. Aturan ini itu mesti dipenuhi bahkan di beberapa negara, banyak yang sengaja dipersulit dan dihambat seperti di Yunani, Spanyol, dan Italia (beberapa artikel di Huffington Post membahas tentang hal ini, salah satunya yang ini, http://www.huffingtonpost.com/…/mosque-controversies-in-e_b… )

Dalam hal infaq, sadaqah, dan wakaf para muslim imigran ini memang luar biasa. Tidak hanya dalam pembangunan rumah ibadah tentunya.

Pernah suatu hari saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka berlomba-lomba dalam hal infaq dan sadaqah, saat di tempat mengaji anak-anak dilakukan penggalangan dana solidaritas untuk Palestina.

Apa yang mereka berikan? Bukan uang lembaran apalagi recehan tapi perhiasan-perhiasan emas terkumpul banyak dalam sebuah wadah besar saat itu.

Mereka amat yakin bahwa apa yang mereka keluarkan Fi Sabilillah tidak akan mengurangi sedikitpun harta mereka malah akan memberi keberkahan berlipat.

Rachid Nekkaz adalah salah satu dari mereka yang menggunakan kekuatan finansial miliknya di jalan Islam. Pria berusia baru 43 tahun yang lahir dan besar di Prancis ingin memberi pengaruh atas redaksi majalah Charlie Hebdo yang kerap menghadirkan humor provokatif yang kontroversial dan memojokkan Islam ini.

Terlepas dari pada akhirnya tawarannya ini ditolak, walau Nekkaz telah menawarkan nilai investasi sekitar 700,000 euro untuk membeli saham majalah ‘satire’ itu, upayanya seolah menghadirkan wajah muslim yang elegan, yang tidak melawan dengan hujatan membabi buta atau kekerasan, tetapi dengan segenap kekuatan yang ia miliki, kekuatan ekonomi juga tidak kalah pentingnya.

Rachid Nekkaz ini memang paling getol membela Muslim yang terkena dampak dari kebijakan-kebijakan Islamophobia pemerintah Perancis. Dia kerap membayarkan denda, diantaranya denda atas setiap vonis pengadilan Perancis yang menghukum muslimah-muslimah yang menggunakan cadar di lokasi publik.

Dalam waktu tiga setengah tahun terakhir, tak kurang dari 894 kasus denda ia bayarkan hingga total dana yang ia keluarkan mencapai 206,00 euro. Upayanya ini terus berlanjut hingga sekarang walau ia telah menanggalkan kewarganegaraan Perancis-nya dan menetap di tanah leluhurnya.

Menghujat Simbol Agama (Blasphemy)

Menyoal kembali Charlie Hebdo, peristiwa ini memang meninggalkan luka bagi Muslim, apalagi Muslim yang menetap di Eropa seperti kami, yang dapat merasakan dampak langsung peristiwa itu. Hari-hari terakhir ini saya merasakan bagaimana teman-teman saya dari akademisi hingga mereka yang bekerja di fashion industry beramai-ramai menulis status yang menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap tindakan terorisme di Paris.

Sebagian disertai komentar-komentar yang secara langsung ataupun tidak langsung merefleksikan ketidak berpihakan mereka terhadap Muslim, yang mereka pikir sedikit banyak bagian dari komunitas yang identik dengan gerakan radikal, ekstrim, dan ajaran yang mereka anggap sebagai antithesis dari kebebasan dan HAM.

Beberapa dari mereka juga menulis bahwa ‘freedom of speech’ dan ‘freedom of expression’ tidak akan bisa dibungkam, mereka akan ‘fight for it’.

Kadang lucu memang, mereka mengagungkan kebebasan berbicara dan berekspresi diatas segalanya tetapi mereka lupa mereka sendiri memasung kebebasan orang lain dalam menjalankan hak paling dasar yaitu hak beragama.

Menghujat simbol-simbol sakral agama (blasphemy) adalah menginjak-injak hak komunitas lain. Padahal kebebasan berbicara ‘freedom of speech’, menurut para penggagasnya yang sekarang dijamin hukum international melalui treaty “International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)”, adalah kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain, kebebasan yang harus menghormati hak-hak orang lain.

Dikhawatirkan, kasus penembakan di Paris itu akan berdampak pada makin merebaknya Islamophobia. Maka dari itu sebisa mungkin perlu lah kita menunjukkan sikap pada mereka bahwa kita jauh dari apa yang sebagian dari mereka persepsikan. Agama kita adalah agama mulia yang mengajarkan kebaikan bukan kekerasan, bukan pula antithesis dari hak asasi manusia. Tindakan terorisme dalam berbagai bentuknya adalah kriminal. “Terrorism has no religion” terorisme tak punya agama dan suatu yang salah bila tindakan terorisme disangkutpautkan dengan ajaran Islam pun mengatasnamakan Islam.

Yuk bersemangat mengambil sikap dengan santun dan elegan, mari kuasai ilmu, mari kuasai ekonomi, terutama muslim Indonesia, teladani para imigran muslim di Eropa dalam hal berwirausaha hingga bisa memiliki kemandirian dan kemapanan ekonomi, jadikan itu sebagai kekuatan, bukan untuk melawan tapi untuk menunjukkan bahwa Islam itu rahmattan lil alamin.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS: Al Anbiya’ [21]:107).*

Penulis seorang entrepreneur asal Indonesia yang kini menetap di Belanda

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

8 Hikmah Kemenangan Jokowi (1)

8 Hikmah Kemenangan Jokowi (1)

Runtuhnya Dominasi Politik Amerika Serikat [2]

Runtuhnya Dominasi Politik Amerika Serikat [2]

‘Ustadzah’ Selebritis dan Destruksi Ke-faqih-an

‘Ustadzah’ Selebritis dan Destruksi Ke-faqih-an

Syeikh Mahmud Syaltut, Syiah, dan Mut’ah

Syeikh Mahmud Syaltut, Syiah, dan Mut’ah

Televisi dan Naturalisasi Penyimpangan Seksual

Televisi dan Naturalisasi Penyimpangan Seksual

Baca Juga

Berita Lainnya