PDI, Jokowi-Jusuf Kalla dan Paham Sesat

Semoga pemimpin mendatang ikut menjaga dakwah Islam yang syumul dan ikut memurnikan Indonesia dari sekularisme, pluralisme, liberalisme, Syi’ah, Ahmadiah, Inkar Sunnah dan Assabiyah

PDI, Jokowi-Jusuf Kalla dan Paham Sesat
Kompas
Jokowi bersama Dubes Amerika untuk Indonesia Scott Marciel, untuk turun meninjau lapangan ke Kampung Muara Bahari

Terkait

Oleh : Aktifanus Jawahir

SIAPA yang akan bertanding untuk Pemilihan Umum  (Pemilu) Presiden dan Wakil Presiden memimpin Republik Indonesia 28 Oktober 2014-27 Oktober 2019 akhirnya telah jelas.

Prabowo Subianto dengan pasangannya Hatta Radjasa berhadapan dengan rivalnya Joko Widodo (Jokowi) berpasangan dengan M Jusuf Kalla.

Yang menarik, secara sosio-georafi-politik tidak boleh dihindari pasangan dari Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Maka bertemulah pasangan Prabowo (Jawa) dengan Hatta (Sumatera) lawan Jokowi (Jawa) dan JK (Sulawesi).

Mengingatkan kembali nostalgia pasangan Ir Sukarno dengan Dr Mohammad Hatta, kemudian Soeharto-Adam Malik terakhir Soeharto dengan Prof Dr Baharuddin Jusuf Habibie. Soalnya secara fisik realitas dan fakta sejarahnya memang sudah begitu dan telah terjadi.

Yang menjadi persoalan hasil Pilpres itu apa untung ruginya bagi masa depan umat Islam Indonesia yang merupakan 88% penghuni negeri ini? Karena ini akan membawa pengaruh besar kepada perkembangan dakwah dan eksistensi umat Islam bukan hanya di Indonesia tetapi juga kegugusan kepulauan Nusantara dan regional Asia Tenggara.

Sebab kehadiran tokoh itu nanti memimpin negeri ini akan dapat dibaca dan dikaji dari latar belakang kemudian partai yang mendukungnya.

Sejarah Jokowi sebelumnya jadi Wali Kota Solo didampingi oleh wakilnya dari kalangan Kristen, kini menggantikannya menjadi Wali Kota Solo dan juga Ketua PDI-P Solo. Ketika dia pindah ke Jakarta dan terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta,  wakilnya juga seorang beragama Kristen.

Saat ini, ketika Jokowi dinobatkan menjadi calon presiden, maka secara otomatis, yang akan menggantikannya sebagai gubernur Jakarta adalah wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) seorang pemeluk Kristen.

JK dan ‘Gerbong Kosong’ PKB

Terlepas dengan figurnya yang sederhana, selalu blusukan dan bertindak cepat dalam menghadapi persoalan, tapin yang tidak kalah pentingnya adalah siapa-siapa orang penting di belakang Jokowi. Yang jelas, fakta sejarah selalu menunjukkan, PDI-P tidak mesra dengan umat Islam, apalagi ormas dan LSM Islam.

Belum lama ini, belum apa-apa ia sudah meminta restu ke Vatikan, Amerika Serikat. Termasuk bertemu di Singapur dan Jakarta dengan Dubes Vatikan, Dubes Amerika Serikat dan lain-lain.

Kini calon wakilnya adalah M Jusuf Kalla, yang dulu dikenal seorang aktivis PII, kemudian HMI, dan juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). Ia dikenal berasal dari dua keluarga ormas besar, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU). Isterinya berasal dari Muhammadiyah asal Batu Sangkar Sumatera Barat.

Tapi yang menjadi persoalan bukan Muhammadiyah dan NU nya, tetapi Jusuf Kalla,  tidak tegas dengan Syi’ah dan Ahmadiyah, bahkan di saat menjadi Wapres era Susilo B Yudhoyono tahun 2004 hingga 2009, dia yang ikut meminta agar buku-buku karya Syeikh Hasan al Banna, Sayyid Quthb serta pemimpin, ulama dan aktivis al Ikhwan Al Muslimun diwaspadai.

Ia juga mengajak generasi muda berhati-hati membaca buku-buku harakah dan fikrah dari ulama gerakan Islam ini  agar lebih berhati-hati dan waspada agar ‘tidak terpengaruh yang nanti akan melahirkan generasi teror yang akan membuat negara ini huru hara’ katanya. Layaknya seorang yang dulu pernah berkecimpung dalam gerakan Islam seperti PII dan HMI bersikap seperti itu?

Begitu pula dengan partai-partai koalisinya yang mendukung Jokowi-JK. Sebut saja PKB, Nasdem dan Hanura.

PKB adalah partai yang dibidani oleh NU, namun partai terbuka ini Ketua Umumnya Muhaimin Iskandar cenderung sekular dan liberal.

Muhaimin yang semula dalam kampanye legislatif membawa musisi dan Raja Dangdut Indonesia Rhoma Irama serta pentolan Bank DEWA, Ahmad Dhani kampanye ke kantong-kantong NU, rupanya menggunakan jurus ‘tipu-tipu’ dan meninggalkan Rhoma Irama yang awalnya dicalonkan menjadi presiden dari PKB.

Tak hanya Rhoma, Ahmad Dhani rupanya kecewa juga dengan gaya politik ‘selingkuh’ ala PKB. Awalnya, lagu-lagu Ahmad Dhani, dijadikan model iklan kampanye PKB saat Pemilu legislatif.  Namun ujungnya, PKB mendekat ke PDI-P.

Tidak tanggung-tanggung, Muhaimin PERNAH memberi stempel pada Jokowi dengan sebutan ‘menjaga tegak dan utuhnya NKRI dan pelaksanaan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah”.

Entah apa faktornya, tokoh-tokoh yang dulu membantu PKB akhirnya berbelok membantu Prabowo.  Di antara mereka adalah Rhoma Irama, Ahmad Dhani dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD.

Tak ketinggalan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Mohammad Saifullah Yusuf yang justru akan ikut memenangkan pasangan Prabowo-Hatta bersama Ahmad Heryawan, yang kini gubernur Jawa Barat.

Boleh dikata, kehadiran PKB berkoalisi dengan PDI-P hanya membawa ‘gerbong kosong’.

Bagaimana pula dengan Nasdem dan Hanura?

Surya Paloh dengan kekuasaannya yang luar biasa, memiliki Metro TV dan Media Indonesia. Jika umat tahu sejarah,  pasti akan tahu siapa kini yang betul-betul membela rakyat dan tahu betul susah payahnya kehidupan rakyat kecil dan rakyat miskin.

Peran bersama dan Aliran Sesat

Jokowi dan Prabowo sama-sama Islam abangan. Apakah mereka berdua sempurna shalatnya? Atau jangan-jangan hanya shalat berapa kali saja dalam seminggu?

Inilah peranan ulama, da’i dan ustadz yang seharusnya menjadi perhatian. Memang pada hari ini kebanyak yang mendukung Prabowo-Hatta untuk menjadi Presiden RI tahun 2014-2019 adalah kalangan Muslim, tetapi janganlah kita menutup pintu untuk bersilaturrahmi dan mendakwahi Jokowi dan Jusuf Kalla, terlepas dengan kekuarangan mereka berdua.

Harus ada di antara kita yang berusaha mengetuk hati mereka agar bisa ke jalan yang lurus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Sebagaimana pula Prabowo, dimana kakak-adiknya adalah beragama Kristen, kita juga perlu mendakwahi mereka sebagai umat da’wah, namun kita jangan melupakan umat ijabah ini.

Meski gelar yang melekat kepadanya sebagai ‘jendeal hijau’,  merupakan kredit tersendiri, bukan berarti jika berkuasa ia tak bisa silap. Bagaimanapun dia tetaplah seorang militer. Kita hanya meminta dan berharap jika dia menang sebaiknya bisa diingatkan dan menerima dakwah dan nasehat dengan begitu kegiatan ormas Islam, LSM  dan kehidupan masyarakat diberi ruang kebebasan dibawah kontrol kebenaran dan keadilan.

Begitu juga dengan Hatta Radjasa, yang dikenal seorang aktvis HMI, Masjid Salman ITB-Bandung, ICMI dan keluarga besar Muhammadiyah dan Partai Islam Masyumi. Hendaknya ia lebih bersikap tawadhu’, lebih membuka diri dan tak banyak janji jika akhirnya hanya diingkari.

Siapapun yang tepilih, semoga Indonesia betul-betul lebih merdeka dan berdaulat bukan demo-crazy atau mencari kursi. Tentu saja,  semakin menyuburkan kehidupan beragama Islam sebagai agama yang kita yakini mulai dari zaman Nabi Adam As sampai sempurna ditangan Nabi dan Rasul terakhir Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Semoga pula pemimpin mendatang ikut menjaga dakwah yang syumul berdasarkan Al Qur’an-As Sunnah dan para salafus salih, serta ikut menjaga akidah dan ikut berperan memurnikan Indonesia dari sekularisme, pluralisme, liberalisme, Syi’ah, Ahmadiah, Inkar Sunnah dan Assabiyah, Wallahu ‘alam.*

Penulis aktivis gerakan Islam, keluarga besar Muhammadiyah dan keluarga Bulan Bintang. Kini tinggal di Malaysia

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !