Agama dan Jurnalistik, Haruskah Dipertentangkan?

seseorang bisa saja menjadi Muslim sekaligus wartawan yang baik pada saat yang sama tanpa perlu jadi kafir atau Atheis. Sebab seseorang tidaklah mungkin pernah netral, karena orang pasti berpihak

Agama dan Jurnalistik, Haruskah Dipertentangkan?
Rumoh Aceh
Pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh: Wartawan bisa profesional dan tetap taat agama

Terkait

(Halaman 1 dari 2)

Oleh: Surya Fachrizal Ginting
 
BELUM lama ini Penulis mengikuti acara “Lokakarya Peliputan di Wilayah Konflik”, kerjasama Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), 13 – 14 Mei 2014 di Jakarta.

Peserta lokakarya adalah para wartawan dari media massa – media massa berbasis agama. Pihak penyelenggara berpendapat, tema lokakarya ini penting untuk dipahami oleh media massa berbasis agama karena media jenis ini punya peran signifikan dalam pemberitaan masalah konflik. Entah pemberitaan tersebut membantu penyelesaian konflik atau malah memparah.

Para pembicara adalah para praktisi yang kaya pengalaman. Baik pengalaman lapangan dan pengalaman akademis. Contoh-contoh kasus yang dihadirkan berdasarkan pengalaman, hingga membuat lokakarya terasa dinamis dan tidak membosankan.

Ide-ide yang disampaikan pembicara adalah, media massa dan jurnalisnya agar bisa bersikap netral, berpihak kepada masyarakat sipil yang menjadi korban, mengakomodasi seluruh pihak yang terkait, membuat laporan yang konprehensif, dan lain sebagainya.

Penyelenggara juga memberikan pendekatan ajaran-ajaran agama yang dianggap selaras dengan Hukum Humaniter Internasional. Para peserta umumnya bisa menerima gagasan tersebut secara global.

Yang menjadi sorotan Penulis adalah, pandangan sebagian pembicara -yang notabene wartawan senior dari media yang cukup beken di negeri ini – bahwa agama yang dianut seorang wartawan / jurnalis adalah faktor yang membuat berita tentang konflik berpotensi besar menjadi bias.

Para pembicara itu tentu tidak mengatakan mereka adalah Ateis. Bahkan mereka tak  sungkan mengaku sebagai Muslim. Tapi pembicara tersebut mengakui, agama yang mereka anut punya potensi membuat karya jurnalistik mereka menjadi bias. Sehingga jurnalis perlu cermat memposisikan antara dirinya dengan agama yang dianutnya.

Konsekuensinya, sejumlah pembicara tersebut mengaku menjadikan jurnalisme sebagai identitas utama mereka. Agama, suku, ras, golongan, dan lainnya adalah nomor kesekian. Sebagai seorang jurnalis harus bisa menyampaikan fakta meskipun itu tidak menguntungkan agama mereka.

Lebih jauh lagi, ada seorang pembicara yang memulai diskusinya dengan menanyakan seorang peserta lokakarya; apakah Tuhan itu fakta jurnalistik? Pembicara itu juga mengatakan, orang yang taat beragama itu akan sulit menjadi wartawan yang profesional.

Alih-alih membicarakan teknik jurnalistik, diskusi itu malah menjadi debat filsafat ketuhanan yang menyulut banyak tanggapan dan sanggahan.

Penulis menanggapi pernyataannya dengan mengatakan, jika orang yang taat beragama sulit menjadi jurnalis profesional, maka orang yang suka maksiat akan mudah menjadi wartawan profesional. Sehingga seorang wartawan profesional harus doyan mabuk, berzina, dan aksi-aksi maksiat lainnya.

Sang Pembicara menanggapi kesimpulan Penulis dan menganggap melompat terlalu jauh. Karena pernyataanya itu tidak semestinya bisa diartikan secara terbalik. Malah katanya, meski sulit, orang yang taat beragama mampu berkontemplasi dalam melakukan tugas jurnalistiknya. Dan bisa menjadi wartawan yang baik sekali.

Namun, pembahasan soal apakah Tuhan itu fakta jurnalis atau bukan, belum selesai. Sang Pembicara berkeras meyakini Tuhan bukanlah fakta jurnalistik. “Walaupun saya seorang Muslim,” kata wartawan senior itu.

Katanya, meskipun bukan fakta jurnalistik bukan berarti Tuhan itu fiksi. Fakta harus bisa dilihat dan diibuktikan keberadaanya dengan alat indera manusia. Dia menjelaskan, fakta dalam jurnalistik tidak bisa berhenti atau tidak adalah istilah “titik” dalam fakta jurnalistik.

Dia mencontohkan, fakta yang ditulis media hari ini boleh jadi dibatalkan dengan fakta yang mungkin hadir di masa datang.

Apapun alasanya, Penulis menilai, pendapat tentang Tuhan dan Fakta oleh pembicara tersebut sarat masalah. Terlebih jika pendapat itu juga disetujui para punggawa dan institusi pers negeri ini. Apalagi jika keyakinan si Pembicara itu benar-benar dijadikan ukuran kompetensi dan profesionalitas seorang jurnalis.

Karena dengan hal itu, Pembicara seolah tengah memaksakan standar/keyakinan mereka sendiri kepada orang tidak sejalan dengan mereka. Padahal mereka selalu mengaku sebagai pejuang kebebasan, termasuk kebebasan keyakinan dan berpendapat.

Dengan berkeras berpendapat, ‘Tuhan bukan fakta jurnalistik’, seolah menunjukkan adanya usaha dari sang Pembicara untuk menilai, bahwa jurnalis yang percaya Tuhan sebagai fakta, maka dia bukanlah jurnalis profesional.

Atau lebih parah lagi, jika hal itu berujung pada penilaian, orang yang yakin Tuhan sebagai fakta maka dia bukan jurnalis dan medianya bukanlah produk jurnalistik. Dan, anggapan seperti itu memang telah diadopsi sebagian wartawan “profesional” terhadap media massa berbasi agama, khususnya media massa Islam.

Penulis berkesimpulan, para Pembicara tersebut memandang media Islam dan wartawannya menghalalkan pembelaan membabi-buta terhadap segala hal tentang Islam tanpa melihat fakta, rasa, dan keadilan. Apa benar begitu?

Tanpa bermaksud menghakimi, penulis merasa Pembicara itu tidak memahami atau tidak mau memahami tuntunan Islam -agama yang dianutnya sendiri- dalam memandang konflik.

Padahal sejarah Islam tidak melulu menulis orang Islam tidak pernah berbuat salah. Sejarah Islam yang ditulis para ulama dan ahli sejarah Islam juga mencatat kesalan-kesalahan kaum muslimin.

Sejarah Islam mencatat Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah kalah perkara di pengadilan karena tidak bisa membuktikan seorang Yahudi telah mencuri baju perangnya. Padahal pengadilan itu berlangsung di bawah kekhalifahannya.

Contoh lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam juga pernah menyalahkan seorang sahabat yang membunuh seorang tentara musuh padalah tentara itu telah menyerah dan mengucapkan syahadat.*/bersambung “Tak Perlu “Kafir” atau Atheis untuk jadi wartawan
 

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !