Rabu, 19 Januari 2022 / 15 Jumadil Akhir 1443 H

Ghazwul Fikr

Mempertanyakan Kembali Komitmen kita untuk Palestina

PressTV
Bagikan:

Oleh: Fais al-Fatih

TERGULINGNYA Presiden Mesir, Dr. Mohammad Mursy, yang terpilih secara demokratis berdampak luar biasa bagi penduduk Palestina, terutama yang berada di penjara terbuka terbesar di dunia, Jalur Gaza. Seketika itu juga perbatasan Rafah ditutup, terowongan-terowongan yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk Gaza dihancurkan. BBM dan material bahan bangunan menjadi langka, harga bahan makanan melangit, penduduk Gaza semakin menderita.

Yang membuat miris adalah pihak militer Mesir yang notabene (mengaku) Islam yang melakukan tindakan zalim nan kejam tersebut, bukan Zionis Israel musuh abadi umat Islam. Ditambah lagi Suriah, yang merupakan salah satu gerbang utama pembebasan Palestina selain Mesir, sampai saat ini pemerintahnya yang lalim dan haus darah, rezim Bashar al-Assad belum juga berhasil ditumbangkan.

Sisi lain saat ini yang terjadi banyaknya fitnah antara faksi mujahidin. Pemerintah Qatar yang pernah memberikan bantuan secara langsung kepada penduduk Gaza juga ditinggalkan dan dimusuhi oleh trio Arab Saudi, Bahrain dan UEA. Hal itu terjadi tersebab Qatar yang mendukung pemerintahan Mohammad Mursy dan menolak mendeportasi Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi yang dikenal sangat vokal membela umat Islam.

Selain itu juga stasiun Aljazeera, yang gencar meliput aksi tentara Zionis saat menyerang Gaza dan demonstrasi pro Mursy masih berada di bawah perlindungan pemerintah Qatar. Perdana menteri Turki, Erdogan, yang juga sangat vokal membela Gaza, yang pernah mempecundangi perdana mentri Israel pada acara World Economic Forum tahun 2009 di Davos, mulai digoyang oleh beberapa kalangan dari dalam dan juga luar negri.

Progres pembebasan Palestina untuk sementara, sepertinya mundur ke belakang.  Apakah akibat kasus ini akan turut melemahkan kita? Apakah suara kita yang dulu vokal, yang dulu loyal, untuk Palestina akan menurun dan menghilang tanpa bekas?

Apa pun yang terjadi, kita sebagai umat Islam (terlebih jika mengaku sebagai aktivis dakwah), sudah selayaknya menempatkan Palestina terus-menerus di hati kita yang terdalam, mencintai dan menghormatinya, memimpikan untuk bisa syahid di tanahnya, mencurahkan jiwa dan harta untuk membebaskannya. Bahkan menempatkannya  sebagai bagian dari akidah kita.

Optimisme wajib kita tanamkan dalam diri, bahwasanya atas izin Allah, suatu saat Palestina pasti akan terbebas. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran)….” (QS:  Ali Imran: 140)

Dulu tak ada yang pernah mengira, imperium Romawi dan Persia yang gagah perkasa bisa ditaklukkan. Dulu tak ada yang pernah menduga, kota Konstantinopel yang kokoh bisa direbut. Bahkan dulu tak ada yang pernah menyangka, imperium kolonial Inggris, imperium komunis Uni Sovyet dan imperium Nazi Jerman yang kuat serta memiliki persenjataan yang modern bisa rapuh dan runtuh.

Kita harus percaya pada sunnatullah, bahwasanya suatu saat rezim zalim Zionis dan pihak-pihak yang menyokongnya habis-habisan juga akan segera collapse dan hancur lebur atas izin Allah.

Mari kita buang jauh-jauh sikap ketergesa-gesaan dalam meraih kemenangan. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi Wassalllam kepada Khabab ra yang mengadukan penderitaan tiada henti yang dialami umat Islam di Makkah. Meereka dicambuk, disiksa, ditindih dengan batu, dibakar dan Khabab “mempertanyakan” kapan pertolongan Allah akan datang, dengan kalimat yang panjang dan ditutup dengan, “Akan tetapi kalian terlalu tergesa-gesa..”

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pentingnya Undang-Undang Perlindungan Agama

Pentingnya Undang-Undang Perlindungan Agama

Beda Radikal dan Radikalisme [1]

Beda Radikal dan Radikalisme [1]

Paradigma Jurnalis Baik: Atheis atau Religious?

Paradigma Jurnalis Baik: Atheis atau Religious?

Metode Ilmiah vs Metode Warung Kopi

Metode Ilmiah vs Metode Warung Kopi

Islam, Barat, dan Cara Kita Memandang Fashion

Islam, Barat, dan Cara Kita Memandang Fashion

Baca Juga

Berita Lainnya