Kamis, 20 Januari 2022 / 16 Jumadil Akhir 1443 H

Ghazwul Fikr

Jokowi, Prabowo dan Didin Hafidhuddin

Ilustrasi: by Nurhalim
"Andaikan yang muncul nama KH Didin Hafidhuddin dan Ahok, maka bismillah, saya akan memilih KH Didin Hafidhuddin. Insya Allah saya tidak salah pilih!”.
Bagikan:

Oleh: Nuim Hidayat

MAJALAH  TEMPO edisi Maret ini menampilkan cover dua kali berturut-turut tentang Jokowi. Di penerbitan pertamanya 10 Maret 2014, TEMPO mengungkap kelemahan Jokowi dalam menangani proyek-proyek bis Trans Jakarta. Jokowi dianggap TEMPO gagal mengendalikan orang-orangnya bermain-main dalam proyek impor bis dari China ini.

Orang mungkin menduga TEMPO telah berubah. Yang dulu mendukung Jokowi sekarang mengkritisinya. Ternyata tidak. TEMPO tetap mendukung Jokowi. Karena itu dalam edisi berikutnya 17 Maret 2014, TEMPO berbalik mengungkap tentang kehebatan Jokowi. TEMPO pun mengungkap tentang alasan Megawati atau PDIP di balik pencalonan Jokowi. Bahkan puji-puji ke keluarga Soekarno pun diungkap. Karena Megawati tidak mencalonkan anaknya Prananda atau Puan Maharani. TEMPO seolah menutup diri bahwa keluarga Soekarno saat ini sudah tidak laku ‘dijual’ sebagaimana keluarga mantan presiden Soeharto.

Selain ramai di majalah –Majalah Info Bank edisi Maret ini juga mengelu-elukan Jokowi- pencalonan Jokowi juga ramai di media sosial. Beberapa kalangan mendukung Jokowi dengan alasan profesionalisme semata. Kalangan yang menolak Jokowi sebagai capres cukup banyak. Terutama kalangan tokoh Islam dan aktivis-aktivis Islam. Keluhan mereka terutama dua kali Jokowi menjadi pejabat di Solo dan Jakarta, meninggalkan pemimpin non Islam.

Hal ini nampaknya juga dirasakan tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid. Hidayat yang dulu ikut kampanye menyukseskan sebagai Wali Kota di Solo sepertinya “bertaubat”. Ketika pemilihan gubernur di Jakarta, Hidayat tidak lagi menggadang-gadang Jokowi.

Jokowi, lelaki kelahiran Surakarta 21 Juni 1961 ini, memang fenomena. Sikapnya yang luwes, merakyat dan rendah hati membuat banyak orang kepincut padanya. Jokowi pun pintar dalam menangani masalah ekonomi di wilayah yang dipimpinnya. Kekurangan Jokowi adalah keteguhan sikap dan pemahaman Islamnya yang masih minim.

Kekhawatiran lain terhadap Jokowi mudah dikendalikan. Karena itu majalah TEMPO pun mengungkapkan kekhawatiran akan dominannya Megawati bila Jokowi menjadi presiden. Ketundukannya pada Mega sangat terlihat selama ini. Seolah-olah apapun yang dikatakan Mega, Jokowi menurutinya. Beda dengan Tri Rismahariri, Kota Surabaya yang berani kadang-kadang ‘mbalelo’ pada Mega atau PDIP.

Calon presiden kedua yang mengemuka adalah Prabowo Subianto. Mantan Danjen Kopassus ini menurut sejumlah survey lembaga politik, nomor dua setelah Jokowi.

Dan bila PDIP tidak mencalonkan Jokowi, bukan mustahil Prabowo yang menduduki peringkat teratas. Karena itu Prabowo tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dengan pencalonan Jokowi oleh PDI-P.Prabowo sempat menyindir dengan mengatakan pemimpin harus bisa dipercaya, memegang janji dan seterusnya. Ini adalah kritikan Prabowo kepada Jokowi, karena Jokowi pernah berjanji di rumah Megawati akan menjabat gubernur Jakarta selama lima tahun.

Prabowo yang diusung Gerindra memang punya sedikit keunggulan dengan Jokowi. Berlatarbelakang militer, lelaki kelahiran Jakarta 17 Oktober 1951 ini dinilai mempunyai sikap agak tegas dan kemungkinan tidak mudah dikendalikan.

Tim ekonomi Prabowo pun cukup kuat. Prabowo pernah dikabarkan mempunyai sejarah yang bagus dengan kalangan Islam di masa awal reformasi. Saat itu Prabowo sangat dekat dengan tokoh-tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bahkan Muhammadiyah. Namun belakangan,  Prabowo mulai berubah.

Bila dulu semasa Danjen Kompassus ia berani menyerukan kata Allahu Akbar di depan anak buahnya. Kini ia mulai berfikiran liberal sebagaimana Jokowi.  Sebagaimana Golkar dan PDIP, Gerindra pun banyak mengusung calon-calon non Islam sebagai anggota DPR. Bahkan Basuki Tjah Purnama (Ahok) yang setuju dengan kolom agama dalam KTP dihapuskan dan pengadaan lokalisasi pelacuran yang menaikkan menjadi Wakil Gubernur adalah Prabowo atau Gerindra.

Umat Islam masih punya calon. Ada nama Yusril Ihza Mahendra, Hidayat Nur Wahid (HNW), Suryadharma Ali atau mungkin “kuda hitam” Didin Hafidhuddin.

Yusril tokoh PBB ini, mempunyai latar belakang intelektual Islam yang baik. Kelebihan Yusril juga pada keberaniannya mengungkapkan kebenaran. Sang professor ini juga berpengalaman sebagai menteri di tiga presiden. Ide-idenya pun seringkali brilyan dan mendapat banyak pujian. Ia adalah salah satu tokoh yang mengegolkan berlakunya syariat Islam di Aceh. Bahkan ia mengaku dirinyalah yang membuat draft rancangan pemberlakuan syariat Islam di Aceh Nanggroe Darussalam (NAD).

Kelemahan lelaki kelahiran Belitung 5 Februari 1956 ini adalah egonya. Yusril kurang luwes dalam bergaul, kurang rendah hati dan sering emosional. Beberapa tahun lalu, istrinya menjadi sorotan. Suaminya tokoh partai Islam tapi tidak mengenakan jilbab. Tapi sebagai calon alternative dari kalangan Islam, Yusril pasti lebih baik dari Prabowo atau (mungkin) Jokowi.

Selain Yusril, Hidayat Nur Wahid juga banyak mendapat perhatian kalangan umat Islam. Sikapnya yang rendah hati dan luwes dalam pergaulan menjadikan dirinya dicalonkan sebagai salah satu calon presiden PKS. Latar belakang Islamnya yang kuat juga mendapat perhatian. Yang disayangkan banyak aktivis Islam, Hidayat masih kurang berani menampilkan syariat Islam bila berhadapan dengan khalayak umum.

Seperti jawaban Hidayat yang dinilai tidak taktis ketika ia berjanji tidak akan menerapkan syariat Islam bila menjadi gubernur di Jakarta. Laki-laki kelahiran Klaten 8 April 1960 ini kini mencalonkan diri sebagai anggota DPR daerah pemilihan Jakarta.

Suryadharma Ali mestinya juga bisa menjadi pilihan umat. Pengalaman Suryadharma menjadi menteri dan Ketua Umum PPP dapat dijadikan pertimbangan untuk dicalonkan menjadi presiden. Tapi karena PPP mungkin tidak percaya diri dengan perolehan suaranya di DPR nanti, PPP tidak berani mencalonkan dirinya menjadi presiden. Sang Menteri Agama ini menunjukkan keberaniannya dengan mengeluarkan kebijakan pembatasan dakwah Ahmadiyah, meskipun wakil-wakil dari negara-negara besar menentangnya. Laki-laki kelahiran  Jakarta 15 September 1956 ini cukup bagus menejerialnya.

Bagaimana dengan Bang Haji Rhoma Irama yang dicalonkan PKB?

Nampaknya namanya hanya sebagai calon ‘jadi-jadian’. Karena PKB tidak serius mencalonkan Rhoma. Bahkan di kalangan mereka sendiri sebagian mencalonkan Mahfudz MD dan Jusuf Kalla. Selain itu Rhoma juga tidak mempunyai pengalaman dalam memimpin.

Calon “kuda hitam” yang digadang-gadang kalangan aktivis Islam adalah Prof Dr Didin Hafidhuddin. Sikapnya yang rendah hati, luwes dalam bergaul dan mempunyai kepribadian kuat ini bisa menjadi alternatif.

Ketua Baznas ini juga mempunyai latar belakang intelektual Islam yang kuat. Tahun 1999 ia pernah dicalonkan PKS untuk menjadi kandidat Presiden. Ia dengan rekan-rekannya kini berhasil menggulirkan pentingnya mengembangkan ekonomi Islam di negeri ini. Ia juga mempunyai agenda hebat untuk “Islamisasi Pendidikan”.

Sayang karena kesibukannya di dunia pendidikan, laki-laki kelahiran Bogor 21 Oktober 1951 ini tidak lagi menjadi lirikan Parpol Islam untuk menjadi calon presiden. Padahal di antara capres yang ada, ia mungkin yang terbaik. Ia berhasil membina anak-anaknya sehingga saat ini menjadi intelektual-intelektual muda ekonomi Islam. Ia pun berhasil mengembangkan Baznas sebagai organisasi yang disegani dalam pengembangan zakat nasional. Dan bersama koleganya kini ia juga cukup berhasil memelopori Islamisasi pendidikan di kampus.

Memang tidak mudah membawa “kuda hitam” ini ke area perpolitikan nasional. Karena partai-partai Islam masih kuat egonya. Mereka jarang sekali melirik calon-calon di luar partainya, untuk kepentingan umat yang lebih besar. Kecuali kepepet!

Dan bila demikian lagi-lagi kita hanya akan memiliki pemimpin yang ‘minimalis Islamnya’. Mengingatkan kita pada perkataan ahli sejarah George Santayana : “Mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi sejarah itu.” Lallahu a’lam.*

Penulis peneliti INSISTS, tinggal di Jakarta

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mengislamkan Indonesia Bukan Mengindonesiakan Islam

Mengislamkan Indonesia Bukan Mengindonesiakan Islam

Artis dan Pesona Perdagangan Perempuan [1]

Artis dan Pesona Perdagangan Perempuan [1]

Membela Orientalis, Memojokkan Intelektual Islam

Membela Orientalis, Memojokkan Intelektual Islam

Fanatisme dan Kebangkitan Ahlus Sunnah

Fanatisme dan Kebangkitan Ahlus Sunnah

Penghinaan Nabi; Bebalnya Mereka Atau Lemahnya Kita? [2]

Penghinaan Nabi; Bebalnya Mereka Atau Lemahnya Kita? [2]

Baca Juga

Berita Lainnya