Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ghazwul Fikr

Tak Sekadar Beda Persepsi: Sebuah Catatan untuk Jalaluddin Rakhmat (1)

Youtube
Jalaluddin saat di Kompas TV
Bagikan:

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

DALAM acara ‘Satu Meja’ bertema, “Kapan Kasus Syiah bisa Dituntaskan” di Kompas TV, Senin (16 September 2013), Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), menyampaikan  ‘hinaan’ terhadap Sahabat Nabi hanyalah perbedaan persepsi.

“Tadi Bu Musdah (Dr Musdah Mulia, red) mengatakan, dalam perbedaan pendapat dihargai dalam konstitusi kita, termasuk perbedaan tanggapan terhadap sahabat. Jadi kalau ada perbedaan persepsi  orang Syiah terhadap Sahabat, tidak boleh kita artikan sebagai penghinaan terhadap Sahabat, “ ujar Jalaluddin Rahmat.

Seperti diketahui, dalam al-Qur’an Allah telah ridha kepada para Sahabat yang telah berbaiat (berjanji-setia) di bawah pohon (bai’at al-Riḍwān), yang berjumlah 1.400 orang, diantaranya ada 10 orang mendapat jaminan masuk surga (al-‘asyrah al-mubasysyarūn bi al-jannah).

Allah memuji para Sahabat yang memeluk Islam sebelum Fatḥ Makkah (“Pembebasan Kota Mekah”) dan setelahnya. Dijelaskan pula bahwa siapa saja yang memeluk Islam sebelum Fatḥ Makkah kedudukannya lebih mulia (afḍal). Seluruh mereka dijanjikan oleh Allah mendapat anugerah kebaikan (Qs. al-Ḥadīd [57]: 10).  

Allah juga menjelaskan di dalam al-Qur’an bahwa istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam adalah ibu seluruh kaum beriman (ummahāt al-mu’minīn) (Qs. al-Aḥzāb [33]: 6). Di sini Allah tidak memberikan pengecualian kepada siapapun dari mereka. Juga, Allah menjelaskan bahwa ketika istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. disuruh memilih antara kenikmatan duniawi dan hidup bersama Rasul-Nya, mereka memilih untuk hidup bersama beliau sampai wafatnya. Sekiranya mereka memilih duniawi, niscaya di dalam Islam mereka tidak dibenarkan hidup sehidup-semati bersama Nabi. Bahkan, beliau harus menceraikan mereka seluruhnya.

Allah juga sangat memuji kaum al-Muhājirīn dan kaum al-Anṣār. Kaum al-Muhājirīn disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang beruntung (al-mufliḥūn). Sementara kaum al-Anṣār disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang jujur dan benar dalam beragama (al-Ṣādiqūn). Plus, Allah juga menegaskan bahwa kaum beriman setelah mereka semua adalah: orang-orang yang mendoakan mereka dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka kepada Allah. Jadi mereka bukan orang-orang yang suka mencaci-maki setiap pagi dan petang (Qs. al-Ḥasyr [59]: 8-10).*/ (bersambung…Jangan Caci-maki Sabahatku!)

Penulis adalah guru di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Menulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2013 M) dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sumatera Utara

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Amien, Reformasi dan Fir’aunisme Politik

Amien, Reformasi dan Fir’aunisme Politik

Penjara Iran Pasca Revolusi [3]

Penjara Iran Pasca Revolusi [3]

Hitam Putih Presiden Soekarno

Hitam Putih Presiden Soekarno

Tempo, The Jakarta Post dan Kampanye Hitam

Tempo, The Jakarta Post dan Kampanye Hitam

Tinggalkan Epistimologi Barat, Cukup Islam Saja!

Tinggalkan Epistimologi Barat, Cukup Islam Saja!

Baca Juga

Berita Lainnya