Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ghazwul Fikr

Nyatakan “La ilaha Illallah” Hadapi Islamophobia Barat

TIME
Laporan Majalah TIME Amerika tentang Islamophobia
Bagikan:

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

AWAL tahun lalu, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengabarkan berencana meluncurkan jaringan satelit sebagai salah satu upaya untuk memerangi Islamophobia. OKI bahkan berencana membahas peluncuran sebuah jaringan televisi satelit berbahasa Arab, Inggris dan Prancis. Salah satu tujuannya, untuk memperbaiki citra Islam, melawan gerakan Islamphobia khususnya di Barat.

“Islamophobia terus meningkat,” kata Sekretaris Jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu  dikutip media asing. “Bahkan, itu telah memasuki tahap ketiga.”

Pada tahap pertama, kata Ihsanoglu, kaum Islamophobia menggunakan kebebasan berekspresi sebagai alasan untuk mempromosikan kebencian terhadap umat Islam. Tahap kedua, berupaya melembagakan kebencian terhadap Islam dan Muslim, tambahnya.

Pertanyaan yang layak dikemukakan adalah, mengapa hal ini bias terjadi?

Mengapa dari era pre-modern hingga post-modern , Islamphobia di Barat tetap terpelihara dengan baik? Mengapa Barat selalu bersenangan menaruh curiga besar kepada Islam dan umatnya?

Tidak mudah untuk menjawabnya. Namun  hal ini ternyata dapat kita telusuri mulai dari masa hidup “Sang Bapak Bangsa” yang kita kenal dengan Ibrahim Alaihissalam dalam al0Qur’an dan Abraham dalam Khazanah Israiliyat.

Secara singkat, dalam Bibel dikisahkan bahwa Sara (Siti Sarah) yang merupakan istri pertama Ibrahim (Nasrani menyebutnya Abraham) merasa cemburu kepada Hagar (Siti Hajar) yang merupakan istri kedua Abraham yang dipilihkan sendiri oleh Sara.

Ini disebabkan karena Hagar yang awalnya adalah budak Sara asal Mesir mendapatkan perhatian lebih dari Abraham karena Hagar dapat memberikan keturunan lebih dulu daripada Sara yang sudah sangat tua. Anak yang dinamakan Ismael itulah yang kelak melahirkan bangsa Arab, termasuk Bani Hasyim nya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Meskipun pada akhirnya Sara juga melahirkan anak buat Abraham yang dinamai Ishak sang kakek Israel. Kelahiran 2 anak beda ibu ini dalam Bibel Kitab Kejadian pasal 21 disebutkan berselang  14 tahun.

Ismael lahir saat usia Abraham 86 tahun dan Ishak lahir saat usia Abraham 100 tahun. Kemudian dikisahkan ketika tiba masa Ishak disapih, maka semakin bertambahlah rasa cemburu Sara pada Hagar.

“Bertambah besarlah anak itu (Ishak) dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (lihat Kitab Kejadian 21 : 8-10).

Dari kisah cemburunya Sara inilah kristolog seperti Ahmad Deedat berpendapat bahwa kecemburuan itu sedikit banyak telah menurun kepada beberapa anak cucunya hingga sekarang.

Dan itulah juga menjadi dasar di antara salah satu dari awal kebencian Barat yang merepresentasikan diri sebagai “anak nakal” Israel terhadap keturunan Ismael alias bangsa Arab wabil khusus, Islam.

Kebencian itu makin bertambah karena Tuhan juga memindahkan tongkat kekuasaanNya dari Bangsa Israel kepada Bangsa Arab (Ismael) karena Israel mengingkari perjanjian yang telah disepakati oleh nenek moyang mereka dengan Tuhan melalui Musa (lihat Keluaran 19 : 3-8).

Era Perang Salib

Di era Perang Salib,  kebencian Barat makin menjadi terhadap Islam. Saat Yerussalem jatuh ke tangan kaum Muslim untuk kedua kalinya, tepatnya saat Kaum Muslim dipimpin Salahudin Al Ayyubi, kegusaran Barat yang saat itu berpusat di Eropa juga semakin besar.

Pasca kejatuhan Yerussalem yang kedua, Paus Urbanus II berpidato di Clermont pada bulan November 1095  yang isinya menghasut orang-orang Kristen untuk memerangi kaum Muslim yang dikatakannya sebagai bangsa keji dan barbar  yang menguasai  Tanah Suci Yerussalem.

Pidato sarat kebencian inilah yang dianggap sebagai Proklamasi Peradaban Barat yang bercirikan sinisme kepada Islam hingga kini.

Leopold Weiss, seorang penulis kenamaan berdarah Yahudi Polandia memiliki sebuah pandangan menarik mengenai akar kebencian Barat kepada Islam. Penulis yang setelah memeluk Islam memakai nama Muhammad Asad ini dalam buku memoarnya yang terkenal, “Road To Mecca”,  menulis bahwa pengalaman dahsyat dalam Perang Salib inilah yang akhirnya menyadarkan bangsa Eropa bahwa mereka memiliki satu kesatuan kultural.

Sebab sebelumnya bangsa ini hampir sulit disatukan karena besarnya ego masing-masing kaum seperti Frank, Saxon, Jermania, Burgundia, Norman, Sisillia, dan Lombardia. Perang Salib pertama inilah yang telah menyatukan mereka dalam satu kebanggaan sebagai bangsa Kristen Eropa.  Kisah Perang Salib inilah yang kemudian dijadikan doktrin kepada putra-putri Barat agar membenci Islam.

Menurut  Muhammad Asad, Perang Salib sangat berbeda dengan Perang lainnya. Karena betapa banyak perang besar yang terjadi dan memakan banyak korban dan seolah-olah tak dapat dimaafkan pada masanya ternyata di kemudian hari perlahan bisa dilupakan.

Kisah pengeboman Pearl Harbour, perang vietnam, dan bom atom Hiroshima-Nagasaki yang pada masanya sangat heboh toh saat ini sudah dianggap sebagai sejarah belaka dan negara yang terlibat pun kini  hubungan diplomatiknya juga makin erat seolah lupa bahwa mereka pernah bermusuhan di masa lalu.

Artinya kebencian masa lalu tak berlanjut di masa kini. Ini berbeda dengan Perang Salib. Selain berlangsung lama dan bertahap, perang ini ternyata tak hanya memakan banyak korban namun juga menimbulkan luka intelektual bagi Barat.

Dan luka intelektual inilah yang kemudian jadi pemantik bara dendam Barat pada Islam. Dengan difasilitasi media-media, citra Islam dibiaskan Barat sejak dini. Sebutan Nabi Muhammad diganti dengan Mahound sebagai bentuk penghinaan.

Islam dan Barat Hari Ini

Bulan September ini,  mengingatkan kita pada peristiwa WTC 11 September. Momen di mana Barat makin menemukan momentum tuk makin menyudutkan umat Islam.

Islamphobia makin meningkat, serangan rasisme kepada Muslim juga makin banyak. Hal ini makin diperkuat dengan tesis Profesor Samuel Huntington yang berjudul “Clash Of Civillization” (Benturan Peradaban) yang menyatakan bahwa setelah  Uni Soviet (Komunis) runtuh, maka Islam lah musuh berikutnya yang patut diwaspadai.

Hal senada dikatakan oleh Zbigniew Brezinski yang mengatakan  bahwa Islam adalah Musuh Hijau (The Green Enemy) setelah Uni Soviet si musuh merah (The Red Evil) rontok jadi negara-negara kecil pada tahun 1991. Dan kebencian inipun hingga kini masih terus dipelihara di Barat.

Kita tentu masih ingat kisah Anders Behring Breivik yang membantai 77 orang di Norwegia. Dia menyerang para keturunan imigran termasuk Muslim dengan alasan untuk melindungi Eropa dari Islamisasi.

Paranoid akut itu juga terjadi di Belanda, di mana Geert  Wilders si pembuat film “Fitna” dan anggota  Parlemen Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi yang berhaluan Kanan Liberal juga getol menyuarakan pembersihan Eropa dari Islam.

Di Inggris, Islamphobia juga masih nyaring terdengar. Di sana ada Mafia EDL (English Defense League) yang selalu mengganggu kebebasan hak kaum Muslim.

Di Prancis, ada larangan bercadar. Di Swiss ada larangan membangun menara Masjid. Di Denmark  tentu semua masih ingat dengan kasus Koran Jyllands  Posten pada 2006 yang mengemparkan dunia dengan kelancangannya menerbitkan kartun Nabi Muhammad. Dan masih banyak lagi kasus lain. Hal ini menandakan “luka intelektual”  Barat kepada Islam memang sulit disembuhkan.

Sikap Kita

Apapun yang dilakukan Barat terhadap Islam, kita sebagai Muslim hendaknya dapat lebih bijak dalam menyikapinya. Karena kita pun telah mafhum akar sejarah kebencian tersebut.

Faktanya, semakin benci Barat pada Islam toh Islam semakin berkibar di mana-mana, khususnya di Eropa. Satu hal yang tak bisa dibantah, di Eropa dan Amerika agama yang pertumbuhannya paling cepat adalah Islam.

Ini menunjukkan, segala rekayasa dan tipu-daya manusia, tak akan bisa mengalahkan rekayasanya Allah Subhanahu Wata’ala.

Hal ini makin membuktikan bahwa janji Allah adalah benar. “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.”(QS.As Shaff [61] :9).

Tulisan ini sendiri bukan penulis maksudkan untuk membuka kembali luka lama antara Islam dan Barat. Tulisan ini hanya dimaksudkan agar kita mengetahui akar sejarah yang merupakan kunci penting untuk mengetahui alasan mengapa hingga kini masih ada benturan antara Islam dan Barat.

Dan yang terpenting, semakin menambah keyakinan dan keteguhan kita kepada agama ini.

Nyatakan “La ilaha Illallah” dan katakana ”Isyhaduu bianna Muslimuun” (Saksikanlah bahwa aku adalah seorang Muslim). Di mana saja, meski tekanan dan kebencian terhadap agama ini datang dan berganti-ganti wajahnya. Wallahu A’lam.*

Penulis adalah blogger dan  peminat masalah sejarah

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Simbolisasi dan Kontradiksi Revolusi Iran

Simbolisasi dan Kontradiksi Revolusi Iran

Sinyal Dajjal di Era Digital

Sinyal Dajjal di Era Digital

Syiah Dalam Perspektif Keindonesiaan

Syiah Dalam Perspektif Keindonesiaan

Penjara Iran Pasca Revolusi [1]

Penjara Iran Pasca Revolusi [1]

Bersemangat Membela Islam Di Negeri Orang

Bersemangat Membela Islam Di Negeri Orang

Baca Juga

Berita Lainnya