Kamis, 21 Oktober 2021 / 15 Rabiul Awwal 1443 H

Ghazwul Fikr

Mursy, Islamophobia, dan Kesatuan Umat

Bagikan:

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

SAYA mendesak orang-orang yang turun ke jalanan hari Jumat nanti untuk membuktikan tekad mereka dan memberi saya, tentara, dan polisi sebuah mandat guna menghadapi kemungkinan kekerasan dan terorisme.

DEMIKIAN petikan pidato Jenderal Abdul Fattahal-Sissi, jenderal yang memimpin kudeta Mohammad Mursy saat berpidato di acara wisuda kadet militer Mesir, mendesak masyarakat Mesir untuk turun ke jalan pada hari Jumat, sambil mengatakan bahwa massa yang besar akan memberinya “mandat” dan sebuah “perintah” untuk melakukan hal “penting” memerangi pertumpahan darah yang telah membunuh puluhan orang sejak militer menggulingkan Presiden Mohamad Mursy Rabu (24/07/2013) lalu.

Entah karena panic atau frustasi, Sisi yang seharusnya berposisi menjadim rakyat Mesir dalam aman dan jauh dari konflik justru mengajak rakyat dengan cara memprovokasi untuk turun ke jalan “melawan” Al Ikhwan al Muslimun (Ikhwan).

“Pada hari Jumat, semua orang Mesir yang jujur dan terhormat harus keluar. Keluar dan mengingatkan seluruh dunia bahwa kalian mempunyai sebuah keinginan memecahkan masalah kalian sendiri,“ kata al-Sissi. “Tolong, pikul tanggung jawab bersama-sama saya, tentara anda dan polisi serta tunjukkan besarnya ketabahan Anda dalam menghadapi apa yang terjadi,“ ujarnya.

Ia bahkan sudah mulai terang-terangan memberi stigma kelompok Islam dengan istilah “terorisme”. [baca: Frustasi, Militer Mesir Minta Dukungan Demo lebih Besar]

“Saya mendesak orang-orang yang turun ke jalanan hari Jumat nanti untuk membuktikan tekad mereka dan memberi saya, tentara, dan polisi sebuah mandat guna menghadapi kemungkinan kekerasan dan terorisme.”

“Dengan demikian dalam hal itu harus ada penghentiaan kekerasan serta terorisme dan tentara akan mendapat mandat untuk menghadapinya,” ujarnya dikutip BBC.

Islamophobia kaum Sekuler

Kudeta militer di Mesir yang menggulingkan presiden sah dan demokratis, Mohammad Mursy menyisakan catatan penting. Satu di antaranya adalah masalah islamophobia. Mengenai ini seorang pun tidak akan ada yang menolak bahwa yang sebenarnya terjadi di Mesir adalah gerakan mengekang dan menjegal langkah islamisasi pemerintahan. Karena selama 30 tahun lebih rezim Husni Mubarak yang tampil ke permukaan adalah konsep negara sekular.

Tidak ada yang menyangkal bahwa proses demokratisasi di Mesir dihadang oleh negara-negara Barat yang mendukung aksi kudeta militer untuk menghentikan gerak Presiden terpilih secara demokratis di Mesir, Mohammad Mursy. Sikap Amerika jelas plin-plan. Kabar-kabar terakhir menyebutkan bahwa pihak Gedung Putih akan mengirimkan pesawat F-16 plus bantuan militer. Konon lagi militer telah mengontak Israel sebelum aksi kudeta terhadap Mohammad Mursy dilangsungkan. Apa sejatinya yang tengah terjadi? Tidak lain dan tidak bukan adalah islamophobia masih besar di Mesir.

Islam memang akan terus diguncang bahkan diperangi oleh para musuhnya. Bahkan hingga di bangku parlemen sekalipun. Siang dan malam para musuh Islam memikirkan bagaimana agar nilai-nilai Islam tak mengalir dalam urat nadi masyarakat. Karena yang paling penting bagi musuh-musuh Islam adalah; “Manusia harus dijauhkan dari nilai-nilai rabbani.”

Dan berkaitan dengan kasus kudeta di Mesir begitu tampak jelas islamophobia itu. Islam seolah tak dapat memerintah Mesir. Dan sepertinya Mesir akan dikembalikan pada masa kejayaan peradaban Fir’aun (Pharaoh civilization). Satu kemunduran yang sangat menggelikan.

Barat sepertinya lupa dengan perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. dan para sahabatnya ketika membebaskan Mesir dari tangan Byzantium. Atau Barat ingin mengembalikan Mesir ke tangan kekuasaan Byzantium: kaum paganis, Yahudi, dan Kristen. Bukankah saat ini yang menguasai kursi-kursi parlemen di Mesir adalah kaum liberal-sekular, kaum nasionalis, dan Kristen Koptik. Di mana peran kalangan islamis? Paling-paling mereka menjawab: Kami sudah tawarkan kepada Al Ikhwan al Muslimun untuk gabung, tetapi mereka memilih untuk menolak. Bagaimana mungkin mereka ikut sementara presiden yang sah digulingkan secara inkonstitusional.

Bersatu

Menghadapi situasi yang serba sulit ini kita kembali diingatkan kepada satu sabda Nabi Muhammad saw. yang berbunyi, “Akan datang suatu masa dimana kalian akan diperebutkan oleh berbagai bangsa dan negara. Seperti mereka berebut menu makanan di meja makan.” Kemudian ada yang bertanya: ‘Apakah karena kami ketika minoritas ketika itu wahai Rasul?’ ‘Tidak! Kalian saat itu adalah umat mayoritas. Tetapi kualitas kalian bagai buih di lautan. Nanti Allah akan menghilangkan rasa segan (takut) terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian. Gantinya, Allah akan memasukkan penyakit ‘wahn’ ke dalam hati kalian.’ Ada yang bertanya lagi: ‘Penyakit apakah ‘wahn’ itu wahai Rasulallah?’ ‘Terlalu cinta kepada dunia dan (akhirnya) takut mati”, jawab Rasul. (HR. al-Bukhari, Abu Dawud, al-Thabrani, al-Baihaqi, al-Baghawi, Ibn Abi ‘Ashim, Ahmad, dan yang lainnya).

Dalam bukunya Aina al-Khalal, Syeikh al-Qaradhawi ketika mengontari QS. al-Anbiya’ [21]: 92 menyatakan, “Sekarang umat ini bukan lagi umat yang bersatu, sebagaimana yang diinginkan oleh Allah swt. Akan tetapi akan menjadi umat yang terpecah-belah sebagaimana yang diinginkan oleh penjajah, yakni umat yang bermusuhan antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan saling membinasakan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Singkat kata, umat kita melupakan Allah, hingga Allah membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri, seperti yang disebutkan dalam QS. al-Hasyr [59]: 19.” (Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, Titik Lemah Umat Islam, Terj. Rusydi Helmi (Jakarta: Penebar Salam, 1421 H/2001 M), hlm. 16).

Semoga pengalaman yang terjadi atas penjajahan di Palestina, Iraq, Libya, Suriah, Filipina, dan yang lainnya seharusnya memacu kita untuk merapatkan barisan. Satu barisan yang memikirkan peta jihad ke depan untuk membela umat Islam di mana pun mereka berada. Jangan sampai umat ini diberangus pelan-pelan tapi pasti. Karena Allah tidak akan pernah menyatukan umat ini kalau tidak ada keinginan untuk bersatu dari umat itu sendiri. Bukankah Allah telah menegaskan bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum (bangsa) sampai mereka sendiri mau mengubah nasibnya secara sadar (QS. al-Ra’d [13]: 11). Wallāh waliyyut-tawfīq.*

Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Penulis buku “Salah Paham tentang Islam: Dialog Teologis Muslim-Kristen di Dunia Maya” (2012)

           

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Konvergensi Informasi dan Kebangkitan Media (Cetak) Islam [2]

Konvergensi Informasi dan Kebangkitan Media (Cetak) Islam [2]

Ananda Sukarlan dan Al-Ma’idah Effect

Ananda Sukarlan dan Al-Ma’idah Effect

Syiah Dalam Perspektif Keindonesiaan

Syiah Dalam Perspektif Keindonesiaan

Baitul Maqdis dan Sikap Umat Islam

Baitul Maqdis dan Sikap Umat Islam

Breaking The Spell dan Monster Kapitalisme

Breaking The Spell dan Monster Kapitalisme

Baca Juga

Berita Lainnya