Senin, 18 Oktober 2021 / 11 Rabiul Awwal 1443 H

Ghazwul Fikr

Konflik Suriah dan Tiga Kemungkinan Skenario Hizbullah

Hasan Nasrullah, pemimpin milisi Syiah Hizbullah
Bagikan:

Oleh: Reza Ageung S

30 April 2013 lalu, Hasan Nasrallah, Sekjen milisi Hizbullah muncul di TV Al Manar, Beirut Libanon. Dalam tayangan berdurasi lebih dari satu jam itu, awalanya Nasrallah dalam pidatonya membahas persoalan Israel-Palestina. Nada suaranya meninggi ketika masuk di pembahasan Suriah. “Suriah memiliki teman-teman sejati”, begitu tegasnya, “yang tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Amerika, Israel, atau Jamaah Takfiri.”

Keberadaanteman-teman sejati itu, yang tentu saja adalah Rusia, Iran dan Hizbullah sendiri semakin menunjukkan kerapuhan rezim Assad yang sudah tidak mampu menopang patahnya kaki-kaki kursi kekuasaannya sehingga membutuhkan tangan-tangan eksternal untuk menopang. Oktober 2012, Nasralah membenarkan keberadaan tentara Hizbullah di Suriah namun katanya atas nama pribadi, bukan partai . Hal ini menjawab keraguan sebagian pihak atas kehadiran anasir partai yang oleh sebagian negara Barat dimasukkan dalam daftar teroris tersebut dalam konflik Suriah. Namun, pidato terakhir Nasralah semakin menguatkan bukti bahwa bagaimana pun Hizbullah memang ingin hadir di dalam konflik.

Abdul Hamid Zakaria, juru  bicara FSA, bersaksi bahwa ada 2000 tentara Hizbullah selama ini memperkuat rezim di Damaskus, dan 3500 lainnya di perbatasan Suriah – Libanon . Ini bukan isapan jempol, apalagi para pejuang Suriah sudah pernah terlibat bentrokan dengan milisi Syiah tersebut, misalnya pada Februari 2013 . Oleh karenanya Muadz al-Khatib, mantan presiden Koalisi Oposisi Suriah (pro-Barat) pada April 2013 lalu menuntut Hizbu**** agar menarik diri dari Suriah.

Tiga Kemungkinan Skenario

Apa sebenarnya yang diinginkan Hizbullah? Mengapa pion Iran tersebut keukeuh ingin terjun ke dalam Perang Suriah walaupun mantan sekjen Hizbulah, Sobhi Tfaili secara terbuka pada Februari 2013 lalu telah mengkritik Hizbullah dengan mengatakan bahwa tentara Hizbullah yang “gugur” di Suriah akan masuk neraka dan tidak dapat disebut sebagai martir karena telah membantu rezim dan kejahatannya membunuhi anak-anak dan menghancurkan rumah-rumah?

Setidaknya ada tiga kemungkinan maksud di balik terjunnya Hizbullah

Pertama, memulihkan kekuasaan Rezim Assad. Alasan klasik Blok Syiah adalah bahwa Assad adalah front penting dalam perlawanan terhadap Israel untuk menyelamatkan Palestina. Alasan ini akan nampak ironis ketika fakta berbicara bahwa Assad telah mengorbankan puluhan ribu nyawa rakyatnya ketika merasa kekuasannya terancam, lalu berapa nyawa Yahudi (jika ada) yang ia bunuh ketika Israel mengancam dan membombardir Gaza?

Hizbullah berargumen bahwa selama ini Damaskus di samping Teheran adalah penyokong utama perjuangan bersenjata Hizbullah dan HAMAS, sehingga layak dipertahankan demi keberlangsungan jihad membebaskan Palestina. Padahal, sebagaimana pernah penulis paparkan dalam artikel terdahulu, Hamas-Iran dan kartu penting bernama Palestina , HAMAS sendiri tidak berkeberatan untuk berseberangan sikap dengan rezim Assad atas dasar pelanggaran kemanusiaan. Meski, dengan sikapnya tersebut HAMAS rela Iran memotong bantuannya kepada organisasi perlawanan itu. Lalu mengapa Hizbullah harus sewot?

Kemungkinan kedua adalah memberi jalan kepada Iran, majikan Hizbullah untuk mendominasi politik Suriah. Ini sama saja dengan Irakisasi Suriah, meniru kesuksesan Iran menanamkan pengaruhnya di Iraq. Pertanyaannya, apakah dengan meluasnya dominasi Iran akan berbanding lurus dengan melemahnya pengaruh koalisi Amerika Serikat-Israel di kawasan?

Padahal sebagaimana penulis paparkan dalam artikel Krisis Irak dan Perselingkuhan Iran-Amerika ,justru dengan terbentuknya rezim al Maliki yang didominasi Syiah pro-Iran di Iraq, Amerika Serikat malah mendapat rekan di Iraq, karena boneka AS tersebut ditopang oleh pengaruh Iran. Jadi, perubahan apa yang diharapkan dengan dominannya Iran di Suriah?

Koar-koar “Membela Palestina” sudah menjadi pepesan kosong sejak Iran, majikan Hizbullah menunjukkan keridhaannya terhadap penjajahan AS atas negara-negara tetangganya!

Sebenarnya kedua skenario tersebut di atas akan menemui rintangan yang berat karena, tidak sebagaimana di Iraq, mayoritas rakyat Suriah adalah Sunni. Sentimen penindasan minoritas Syiah Nushairiyah sudah menyatu dengan bahan bakar ideologisasi kaum Sunni dalam revolusi Suriah. Memaksakan dominasi Blok Syiah di Suriah hanya akan memperpanjang konflik. Maka Hizbullah akan beranjak ke kemungkinan ketiga, yaitu terjun ke dalam konflik semata-mata untuk menghalangi gerakan Sunni Ideologis untuk mengambil alih kekuasaan pasca Assad.

Hal ini sebenarnya sudah tersirat dalam kata-kata Nasrallah, “tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Amerika, Israel, atau Jamaah Takfiri.” Jamaah Takfiri yang dimaksud tentu tidak lain adalah mujahidin Sunni. Di antara mereka ada Jabhah Nushrah, kelompok paling dominan dalam jihad Suriah yang secara resmi sudah dinobatkan sebagai teroris oleh AS. Kelompok seperti itu, di samping Ahrar asy-Syam dan sederet kelompok lainnya jelas-jelas mencita-citakan Negara Islam pasca runtuhnya rezim Assad.

Bukan hanya Hizbullah yang cemas dengan pergerakan mujahidin. AS pun menggalau ketika hendak mengirim bantuan persenjataan untuk oposisi Suriah setelah muncul dugaan bahwa Assad akan menggunakan senjata kimia. AS khawatir persenjataan akan jatuh ke tangan “pejuang jihadis”.

Bukan untuk Melawan Amerika dan Israel?

Barangkali pembaca bertanya-tanya, dengan kata-kata Nasrallah di atas, bukankah menunjukkan bahwa Hizbullah ingin juga melawan konspirasi Amerika dan Israel?

Sesungguhnyalah, dengan utopisnya dua skenario di atas, mustahil bagi Hizbullah untuk melawan Amerika dan Israel dengan jalan mempertahankan rezim Assad, atau memberi jalan pada Iran untuk mendominasi pemerintahan Suriah.

Lagipula, jika Blok Syiah benar-benar ingin melawan Amerika dan Israel, mengapa tidak sedari dulu Iran menurunkan pasukannya membela Muslimin Iraq dan Afghanistan dari invasi AS?

Mengapa baru sekarang ketika Suriah hendak di-obok-obok Barat, Iran dan Hizbullah ketar-ketir dan menerjunkan pasukan? Jika sekarang Hizbullah mampu menembus perbatasan Suriah untuk memperkuat Assad yang katanya hendak digoyang oleh konspirasi Israel, mengapa tidak sedari dulu Hizbullah masuk ke Palestina memperkuat HAMAS melawan Israel? Ada apa?

Penulis peminat masalah politik Iran

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Risalah Amman dan Kampanye Politis Syiah

Risalah Amman dan Kampanye Politis Syiah

Mengapa Syiah Imamiyah tak Disebut?

Mengapa Syiah Imamiyah tak Disebut?

Beda Radikal dan Radikalisme [2]

Beda Radikal dan Radikalisme [2]

Nyatakan “La ilaha Illallah” Hadapi Islamophobia Barat

Nyatakan “La ilaha Illallah” Hadapi Islamophobia Barat

Mungkinkan Cita-Cita Ikhwanul Muslimin akan Mati?

Mungkinkan Cita-Cita Ikhwanul Muslimin akan Mati?

Baca Juga

Berita Lainnya