frontpage hit counter

10 Penemu Dunia yang Mengakhiri Hidup dengan Bunuh Diri

Imam Ghazali ini,  ulama (ilmuwan) bukan saja mereka yang intelek, tapi juga berakhlak mulia

10 Penemu Dunia yang Mengakhiri Hidup dengan Bunuh Diri
Beberapa penemu dunia justru memilih bunuh diri, kenapa?

Terkait

DALAM buku berjudul: “The Ultimate Book of Top Ten Lists: A Mind-Boggling Collection of Fun, Fascinating and Bizarre Facts on Movies, Music, Sports, Crime, Celebrities, History, Trivia and More” (2009: 579-583) ada cerita unik yang disajikan. Ada sebanyak sepuluh penemu yang disebutkan mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Apa sebabnya? Berikut kisah ringkasnya.

***

Pakar kimia asal Berlin, Jerman, Viktor Meyer (1848-1897), seorang ilmuan yang  berkontribusi besar dalam bidang kimia organik dan anorganik. Pencipta alat pengukur kepadatan uap pada tahun 1848 dan penemu tiofena, ini lantaran gila kerja, sarafnya pun terganggu. Naasnya, akibat kondisi mental yang tak stabil tersebut, akhirnya ia bunuh diri menenggak sianida pada usia 49 tahun.

Selanjutnya ada David Christopher Kelly (1944-2003), salah seorang pegawai Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) juga ahli senjata biologi dan mantan inspektur Perserikatan Bangsa bidang senjata di Irak. Ia dilaporkan telah menelan 29 obat penghilang rasa sakit dan menyayat pergelangan tangannya.

Seorang fisikawan Austria yang terkenal di bidang mekanika statistik dan termodinamika statistik bernama Ludwig Eduard Boltzmann (1844-1906) yang juga merupakan salah satu pendukung utama teori atom. Meski banyak perestasi yang didapatkannya, tapi Boltzmann menderita gangguan bipolar, yang pada akhirnya membuatnya bunuh diri.

Selain itu ada juga Valeri Alekseevich Legasov (1936-1988), penelitik Soviet terkemuka di bidang kimia anorganik dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet. Pasca terkena radiasi di tanah Chernobyl, kesehatan Legasov mulai memburuk dan didera depresi berat. Akhirnya, ia memutuskan bunuh diri pada 27 April 1988.

Baca: Bedanya Ilmuwan Barat dan Ilmuwan Muslim

Contoh yang lain adalah Hans Berger (1873-1941), pria kelahiran Neuses, Jerman, orang pertama yang merekam electroencephalograms (EEGs) dengan objek manusia juga penemu the rhythmic Alpha brain waves. Akibat, terganggu oleh bangkitnya Nazisme dan efek Perang Dunia II, Berger gantung diri pada 1 Juni 1941.

Seorang insinyur listrik Amerika penemu radio FM bernama Edwin Armstrong (1890-1954) juga melakukan bunuh diri. Ia melakukan tindakan naif ini karena banyak yang menghalang-halangi gagasannya, ia putus asa, frustasi dan bahkan mengganggap radio FM tidak akan pernah berhasil. Akhirnya, Armstrong bunuh diri. Ia melompat dari lantai 13 apartemennya di tahun 1954 saat beruisa 63 tahun.

Nicolas Leblanc (1742-1806), ilmuan ahli kimia dan ahli bedah asal  Prancis yang dikenal sebagai orang pertama yang memproduksi soda dari garam biasa. Pada tahun tahun 1806, Leblanc bunuh diri karena terlanjur kecewa akibat Pemerintah Revolusioner Prancis membatalkan hadiah  yang telah diberikan kepadanya karena yang  berhasil memproses abu garam menjadi soda.

IIlmuan kelahiran Waterville, New York George Eastman (1854-1932) yang merupakan pendiri  Eastman Kodak Company sekaligus penemu roll film yang mengangkat derajat dunia fotografi dan memudahkan pembuatan film juga melakukan tindakan yang sama. Pada tahun 1932, Eastman bunuh diri karena merasa pekerjaannya sudah selesai.

Sedangkan Wallace Hume Carothers (1896-1937), seorang kimiawan Amerika yang dikait-kaitkan dengan penemuan nylon juga peletak dasar bagi terciptanya Neoprene. Setelah penemuan monumentalnya, Carothers menderita depresi akibat ‘inventor’s block, di samping itu karena adiknya mati. Karena tidak kuat, akhirnya meminum racun pada tahun 1937 saat berusia 41 tahun.

Terakhir adalah Alan Turing (1912-1954), penemu Inggris sangat ahli dalam bidang matematika, logika dan kriptografer. Pada tahun 1954 ia bunuh diri dengan cara memakan apel yang dicampur dengan sianida karena tidak kuat menahan hinaan dan rasa sakit atas hukuman pengebirian kimia yang diterimanya akibat akibat insiden Acts of Gross Indecency tahun  1952 yang mana pada saat itu ia mengakui hubungan sesksual sesama jenis.

Nyatanya, para penemu dunia  mati dalam keadaan bunuh dirinya karena stres, tak jelas perkaranya. Bahkan termasuk menderita gannguan jiwa, kesehatan memburuk, depresi berat, terganggu oleh bangkitnya Nazisme, gagasan yang dihalangi, bahkan ada yang terlibat sindikat homo.

Cara bunuh dirinya pun beragam; gantung diri, terjun dari gedung, meminum racun, menenggak sianida, dan menyayat diri.

Berilmu dan Beramal Shalih

Dalam Islam, kedudukan ilmu sangat penting. Bahkan orang berilmu memiliki kedudukan tinggi. Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab  ‘ilm, masdar dari ‘alima-ya’lamu  عَـلِمَ – يَـعْـلَمُ yang berarti tahu (mengetahui). Jamak alim (orang yang berilmu) adalah ulama’. Maka dalam Islam, yang disebut orang berilmu pasti terkait dengan orang yang taat dalam ibadah (shalih).

Sementara dalam bahasa Inggris, ilmu hanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Hal ini berbeda dengan Islam.

Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah dalam magnum opusnya Ihyâ ‘Ulûmiddîn (I/77) mencatat lima ciri ulama yang disarikan dari al-Qur`an.

Pertama, khasyah (takut yang disertai pengagungan). Kedua, khusyu’. Ketiga, tawadu’, rendah hati. Keempat, berakhlak mulia. Kelima,  memperioritaskan akhirat.

Dari ciri yang disarikan Imam Ghazali ini,  ulama bukan saja mereka yang intelek, tapi juga berakhlak mulia; tidak hanya pintar dan menguasai berbagai bidang ilmu, tapi juga beramal shaleh.

Baca: Jepang Memburu Website Curhat Bunuh Diri

Makanya, ilmu dan amal tidak bisa dipisahkan dari identitas mereka. Jika pun dalam kehidupan mereka mengalami persoalan berat, maka berkat iman dan orientasi akhirat, mereka tidak akan melakukan bunuh diri, karena pasti akan mendapat solusi. Karena dalam Islam, bunuh diri merupakan salah satu dosa besar, dan itu tidak mungkin dilakukan oleh ulama yang sejati.

Melihat beberapa contoh di atas, bagi yang hendak mencontoh ilmuan Barat, hendaknya diikuti dengan nalar kritis. Bukan berarti sama sekali menolak kontribusi mereka, tapi harus waspada terhadap gaya dan pandangan hidup mereka. Mereka lahir dalam lingkungan di mana ilmu dan agama diceraikan akibat paham sekularisme. Jadi wajar ketika sudah tidak jalan keluar, maka bunuh diri dijadikan solusi.

Padahal menurut Ilmuan Fisika berkebangsaan Jerman, Albert Einstein –sebagaimana dikutip Fabio J. A. Farina dalam buku “Four Treatises for the Reconsideration of the History of Science” (2003: 77) pernah menyatakan bahwa, “Science without religion is lame and religion without science is blind.” Intinya, ilmu tanpa agama lumpuh. Sebaliknya, agama tanpa ilmu, buta.

Lantas, siapakah yang seharusnya menjadi teladan bagi orang beriman? Al-Qur`an menjawab yaitu orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah dari kalangan:

{مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: 69]

“Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang benar), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa [4]: 69). Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !