Memupuk Amal di Usia Senja

Kecenderungan untuk rakus terhadap dunia hendaknya dibendung dan diredam

Memupuk Amal di Usia Senja

Terkait

MEMUPUK amal shalih semestinya dilakukan sejak muda. Dengan begitu, perjalanan hidup kita akan sarat dengan amal kebaikan sebagai syarat mencapai khusnul khatimah, akhir kehidupan yang baik.

Namun, kalau usia ditakdirkan sampai lanjut, lalu belum juga menyadari pentingnya memupuk amal baik, tentu ini suatu musibah dan perlu diingatkan.

Tidak sedikit orang yang mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika usia senja. Tapi karena dia mampu manfaatkan seluruh waktu sisanya untuk beramal baik, akhirnya bisa mendapatkan khusnul khatimah.

Orang tersebut sangat mensyukuri petunjuk yang diperoleh itu. Dia terima sebagai satu karunia besar sebagai bukti kasih sayang Allah kepadanya. Dia begitu ngeri membayangkan betapa celakanya seandainya masih berlarut-larut dalam kezhaliman sampai tiba ajalnya.

Kalau seseorang memperturutkan keinginan hawa nafsu, sampai kapanpun tidak akan berhenti. Tidak sedikit orang yang sampai tua tidak pernah berpikir untuk melakukan amal baik sebagai bekal paling berharga untuk hari esok yang abadi. Tidak memanfaatkan uangnya, misalnya, untuk membantu kesulitan orang lain dan kemaslahatan umat.

Kegembiraannya adalah bila harta bendanya terus bertambah. Dengan sejumlah harta yang dimiliki itu, alangkah indahnya kalau sebagian disalurkan kepada orang-orang miskin. Jelas, itu berarti membahagiakan sekian banyak orang sekaligus bakal mendatangkan ganjaran di sisi Allah.

Tentu saja tidak dilarang mencari dan meraup apa saja yang mampu diperoleh, asal dengan cara yang benar dan tidak bakhil. Orang bakhil diancam oleh Allah dengan neraka.

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-sekali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam huthamah (neraka).” (Al-Humazah: 1-4)

Sebenarnya, selain ancaman kecelakaan di akhirat yang sudah sangat pasti, di dunia inipun orang tersebut akan merasakannya. Sejumlah uang dan harta yang dikumpulkan akan mengganggu pikiran dan perasaannya dikala sudah renta. Sebab pada saat seperti itu, kebutuhan terhadap makanan yang enak-enak sudah menurun. Demikian pula keinginan untuk berjalan-jalan, misalnya, sudah terganggu oleh mata yang makin kabur. Pendengaran juga sudah tidak jelas. Lalu apa yang bisa dinikmati dan dibangga-banggakan?

Malah bisa jadi anak dan cucunya akan bergantian datang memperbodohnya agar dapat menguras seluruh harta kekayaannya!

Rakus dan Panjang Angan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Anak cucu Adam akan menjadi tua renta, namun ada dua hal yang masih tetap bersamanya, yaitu rakus dan panjang angan-angan.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, kedua hal di atas tidak boleh dituruti. Itu adalah tantangan yang harus dilawan dengan keimanan dan keyakinan yang terpatri di dalam jiwa.

Sebagai orangtua, siapapun harus berpikir positif. Kecenderungan untuk rakus terhadap dunia hendaknya dibendung dan diredam. Apalagi kalau kebiasaan menipu dan meraih kekayaan dengan manipulasi masih dipertahankan, na’udzu billahi min dzalik.

Angan-angan yang masih jauh beterbangan untuk membangun istana yang lebih indah daripada yang ada sekarang, hendaknya sudah diikat dan diarahkan kepada cita-cita untuk mendapatkan istana di surga. Untuk itu, memiliki harta di usia lanjut itu adalah karunia yang harus disalurkan ke jalan yang diridhai Allah.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memanfaatkan waktu untuk banyak berdzikir, merenung, dan istighfar.

Kehidupan Abu Dzar Al-Ghiffari, salah seorang sahabat Nabi, sangat patut dijadikan pelajaran. Pada usia tuanya, dia memilih tinggal di sebuah kemah yang jauh dari keramaian. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan puasa, dzikir, membaca, dan berpikir.

Seorang sahabat mengunjunginya lalu bertanya, “Dimana kekayaan duniamu?”

Dia menjawab, “Aku tidak membutuhkan dunia di rumahku. Bukankah Rasulullah telah berpesan kepada kita bahwa, ‘Di depan nanti akan ada tantangan yang sangat berat dan hanya orang yang tidak dibebani dunia yang mampu melewatinya’?”

Syaikhul Islam Ibnu Thaimiyyah, di masa tuanya tidak punya rumah, kekayaan, pangkat, dan kedudukan. Tempat tinggalnya cuma sebuah kamar kecil yang menempel di Masjid Jami’ Bani Umayyah. Sehari hanya makan sepotong roti, pakaiannya hanya dua lembar, dan terkadang tidurnya di masjid. Tapi dia ceritakan tentang dirinya, “Surgaku ada di dalam dadaku, kematianku adalah syahid, penjara bagiku adalah tempat merenung, dan pengusiran diriku adalah sebuah perjalanan wisata.”

Mungkin kehidupan seperti itu sulit kita ikuti. Tapi, marilah menyadari betapa indahnya kehidupan orang yang tidak diperbudak oleh dunia. Demikianlah kondisi orang yang telah mampu mematri iman di dalam dadanya dan mengerti hakikat hidup yang sebenarnya. Yang demikian ini kebahagiaannya jauh melebihi orang-orang yang masih mudah tertarik gebyar dunia.

Sikap yang Tepat

Apa yang mesti diperbuat terhadap harta benda yang kita genggam di usia senja? Cara yang paling tepat adalah memanfaatkan itu semua untuk kepentingan hari akhirat.

Sungguh menjadi hiburan yang paling membahagiakan manakala kita mampu menginfakkan harta dan uang kepada orang yang sangat membutuhkan. Tentu ia akan sangat senang menerimanya. Sama dengan orang yang mentransfer ilmunya lalu orang itu memanfaatkannya untuk kemaslahatan diri, rumah tangga, dan masyarakat.

Di usia senja, semestinya jadwal ibadah sudah tidak lepas dari ingatan. Tiada lagi hari tanpa shalat jamaah, tiada hari tanpa dzikir dan renungan, tiada hari tanpa membaca al-Qur`an, tiada hari tanpa diisi dengan shalat-shalat sunnat, tiada hari tanpa bersedekah dan menolong orang. Hari-harinya juga akan selalu digunakan untuk merekam dan merenungi kejadian di sekelilingnya tentang musibah, kecelakaan, kematian dan peristiwa-peristiwa lain.

Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam baru-baru ini tentu sangat patut direnungi. Allah hanya perlu waktu 20 menit untuk menghilangkan ratusan ribu manusia dan menghancurkan bangunan-bangunan di Aceh. Untuk merehabnya, butuh waktu minimal lima tahun. Itupun hanya dari segi fisik. Sementara manusianya sudah kehilangan begitu banyak hal; kehilangan masa lalu karena tidak ada lagi arsip dan dokumen yang tertinggal, dan kehilangan masa depan karena tak ada lagi harta warisan yang tersisa.

Kontrol Amal dan Ibadah

Dalam beramal, hati harus dijaga agar tetap dalam koridor ketulusan dan keikhlasan. Suka dipuji dan disanjung-sanjung, senang pamer dan doyan publikasi, itu semua harus sudah ditinggalkan.

Pelaksanaan ibadah mahdhah juga harus selalu dikontrol. Sudah benarkah menurut tuntunan sunnah? Kalau ada orang yang menunjukkan paham yang lebih benar dengan landasan yang cukup kuat, mengapa tidak diterima dengan penuh kesadaran walaupun paham yang kita anut telah lama dipegang. Jangan malah orang yang mengingatkan itu dimarahi dan diomeli. Sesungguhnya orang tersebut ingin menyelamatkan kita dan untuk mendapatkan pahala dari Allah.

Alangkah indah kehidupan yang berujung dengan khusnul khatimah. Kepergiannya akan dikenang sepanjang masa. Namanya selalu disebut-sebut karena kebaikannya akan sulit terlupakan. Turunannya akan kecipratan kebaikan, dan itu merupakan tambahan nilai yang dapat memberatkan timbangan kebaikan.

Mari kita renungi sabda Nabi, “Orang beriman jika meninggal, dia beristirahat dari kepayahan dunia dan segala gangguannya menuju kepada rahmat Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kematian, kata Nabi, adalah hadiah Allah kepada orang beriman. Demikian hadits yang diriwayatkan Dhailamiy.*/ Manshur Salbu/SAHID

Rep: Administrator

Editor: Cholis Akbar

Baca Juga

Twitter Feeds

Hikmah Ramadhan: Kenapa Harus “Menjaga” Al-Qur’an? bit.ly/1oaBx7M

Find Us