Home Jendela Keluarga

 
Share |
Untuk Apa Di Rumah, Bila Tanpa Ilmu


 

Selasa, 21 Februari 2012

DI AWAL PERNIKAHAN, banyak suami-suami yang meminta istrinya untuk tetap tinggal di rumah atau maksimal tetap bekerja di luar rumah hingga mereka dikaruniai anak. Tak jarang, kesadaran sang istri juga mendorong mereka kembali ke rumah dan meninggalkan aktivitas mereka di ranah publik.
 
Kesadaran ini sungguh mulia, apalagi jika mengingat peran sentral seorang wanita sebagai ibu yang nantinya akan mengasuh anak-anak. Tentu bukan sebuah pemahaman yang baru bahwa anak tak hanya memerlukan terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan psikis.
 
Namun, ada sesuatu yang terlupakan saat sang suami meminta istri kembali “pulang” ke rumah atau ketika si istri dengan kesadaran penuh meninggalkan ranah publik untuk berjibaku penuh dalam ranah domestik. Benarkah kedua belah pihak sudah siap dengan konsekuensi bila seorang istri benar-benar hanya berada di rumah?
 
Rumah vs Bahagia

Banyak orang yang melupakan bahwa ibu, istri, perempuan, tetap adalah manusia yang juga butuh ruang untuk mengaktulisasikan kemampuan mereka. Tentunya, setiap perempuan punya keinginan untuk bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi banyak orang, punya teman-teman diskusi, dan jika memungkinkan, punya sedikit penghasilan dari jerih payahnya sendiri. Walaupun ini bukan berarti seorang perempuan akan meninggalkan tugas mulianya sebagai seorang kreator peradaban umat melalui pengasuhan terhadap anak-anaknya.
 
Pemahaman akan kebutuhan untuk berkarya, mengaktualisasikan diri, dan memiliki teman berdiskusi inilah yang seringkali terpendam, dalam pemahaman bahwa wanita harus diam di rumah. Bagaimana dengan wanita yang terbiasa aktif dengan sejumlah kegiatan di kantor atau organisasi kemanusiaan?
 
Banyak wanita-wanita yang memiliki latar belakang seperti ini akhirnya merasa “banyak tertinggal” saat mereka kemudian seutuhnya berada di rumah. Seperti pengakuan seorang ibu yang terpublikasikan di sebuah situs Islam, “Satu bulan yang lalu, saya memutuskan kembali berkerja meskipun dengan sistem kontrak. Banyak yang bilang terutama keluarga dan teman dekat, saya kelihatan lebih cerah, powerful, dan bahagia. Tetapi pada saat bekerja, pikiran saya jadi bercabang kembali, apakah tidak lebih baik sebagai seorang ibu harus lebih mementingkan keluarga dan anak? Namun, disatu pihak sepertinya saya kurang bahagia jika tinggal di rumah.”
 
Apa yang membuat mereka merasa kurang berbahagia saat berada di rumah? Apakah semata hanya karena pemahaman mereka tentang tugas mulia yang mereka emban masih rendah? Tentunya tidak. Banyak faktor yang harus diperhatikan ketika hendak menyimpulkan  penyebab ketidakbahagiaan ini.
 
Peduli pada Keinginan

Kini mari sejenak mengingat, pernahkah ada pembicaraan antara suami dan istri tentang apa yang bisa dinikmati seorang istri, saat waktunya mutlak di rumah? Sekali lagi, dinikmati, bukan dikerjakan oleh istri. Si istri merasa bahagia dengan totalitasnya di rumah. Juga, pernahkah terbahas, hal-hal menarik apa yang bisa dilakukan seorang istri dalam mengisi waktunya bersama anak-anak? Atau yang ada, cuma pembicaraan  tentang sederet daftar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, agar rumah rapih dan penghuninya merasa betah tinggal di rumah?
 
Bila pembicaraan ini belum pernah ada atau pernah ada tapi tak pernah direalisasikan, tentu tak aneh bila seorang istri merasa menjadi “korban dari sebuah kewajiban”. Padahal, tentu akan jadi hal yang menyenangkan bila seorang suami dapat memahami perasaan istrinya. Sangat indah rasanya bila seorang suami dapat  mengetahui apa yang membuat istrinya bahagia dan bersemangat setiap waktu. Dan, akan semakin berkesan di hati, bila seorang suami, selain menuntut seorang istri melakukan dengan baik tugas-tugasnya di rumah, juga memenuhi keinginan-keinginan istrinya. Baik keinginan untuk maju, berkembang,  bersosialisasi, maupun keinginan untuk mengabdikan potensi yang dimiliki sang istri untuk kemajuan Islam.
 
Sebuah sikap yang bijak manakala seorang suami menawarkan atau bahkan memerintahkan pada istri-istrinya untuk belajar menguasai keterampilan tertentu yang disukai oleh istrinya, membiarkan istrinya berkarya, dan memiliki waktu yang luas untuk bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang bermanfaat; demi untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah?
 
Tentu seorang istri akan berbunga-bunga hatinya bila suaminya dengan penuh kasih menawarkan padanya untuk mengikuti kursus merias pengantin yang sudah lama didambakannya misalnya. Juga,  hati seorang istri akan sangat berbahagia bila suami sepulang bekerja, dengan senyum yang tulus menyodorkan formulir pendaftaran untuk mengikuti lomba penulisan novel di sebuah majalah wanita, atau dengan sepenuh kasih menawarkan diri menemani sang istri mengikuti workshop seputar masalah kecerdasan anak.
 
Mempersiapkan Generasi Unggul

Intinya, sudah sejauh mana suami dan istri telah saling memahami dan mempersiapkan apa yang akan dilakukan seorang istri ketika ia total “bertugas”  di  rumah. Sudahkah si istri memiliki keterampilan untuk mengisi hari-harinya? Sudahkah ia juga memiliki keterampilan ketika mengurus dan mengurus si buah hati? Tentu akan jadi sebuah kesia-siaan manakala si ibu berada di samping anak tetapi tidak memiliki ilmu yang cukup untuk mempersiapkan fisik dan mental seorang anak tumbuh dengan baik.
 
Sejatinya, pengetahuan- pengetahuan seperti inilah yang seharusnya dimiliki seorang istri sebelum dia benar-benar berkiprah di rumah. Sehingga profesi ibu rumah tangga tak lagi identik dengan ketidakproduktifan dan ketertinggalan. Bila seorang ibu rumah tangga kerjanya hanya menonton sinetron setelah selesai mengerjakan tugas rumah atau gaptek (gagap teknologi) saat harus mengoperasikan sebuah perangkat elektronik, maka sebaiknya jangan menyalahkannya semata. Ini semua tentu bukan terjadi dengan sendirinya.
 
Yang lebih menyedihkan bila kaum wanita sendiri yang memaklumkan diri dengan mengatakan, “ Yaaa…maklumlah ibu rumah tangga, sehari-hari hanya mengurus anak.”
 
Bila seorang istri, apalagi seorang ibu sampai berkata demikian, sesungguhnya tugas mulia sebagai seorang kreator peradaban umat sudah gagal. Sebab, sangat mustahil seorang kreator bisa menciptakan generasi tangguh yang unggul, bila ia pun bukan seorang kreator yang unggul. Jika seorang istri atau ibu sudah memaklumkan ini pada dirinya sendiri, maka mustahil peradaban Islam yang berjaya akan segera hadir di depan mata.
 
Generasi unggul di kemudian hari hanya bisa hadir dari sepasang orangtua yang visioner, yang memiliki visi jauh kedepan untuk menyongsong peradaban Islam yang gilang-gemilang. Tak akan mungkin generasi ini muncul dari seorang suami dan ayah yang hanya berpikir bahwa sang istri atau sang ibu, hanya harus berada di rumah. Tanpa membekali pasangannya agar mumpuni melaksanakan tugasnya dan menghasilkan karya terbaik seorang perempuan, yaitu anak-anak yang shaleh dan shalehah.
 
Sebab itu, inilah saatnya untuk sama-sama meningkatkan kualitas pribadi. Bila kita semua sepakat bahwa kewajiban utama para istri dan ibu adalah di rumah, mengasuh dan merawat keluarga, maka inilah saatnya bagi para suami untuk meng-up grade kemampuan istri dengan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan, hingga sang istri pun akan bisa memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya di rumah. Hingga sabda Rasulullah bahwa “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.” (Riwayat Muslim) benar-benar tercipta dari ketangguhan pribadi seorang wanita yang akan senantiasa menghiasi rumah dengan ilmu dan cinta.*/Kartika Trimarti

foto: sakinah-ol

Rep: Sahid
Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Mamaray , Kamis, 23 Februari 2012
Subhanallaah... sangat mencerahkan dan memotivasi saya yang memang sudah lama ingin resign dari kantor. terima kasih, dan mohon ijin untuk menyalin...
  
   
  Nurim , Senin, 27 Februari 2012
Tulisan yg sangat baik bagi pasangan suami istri.
  
   
  Ibnu Haeruman , Senin, 27 Februari 2012
Tulisan yang sangat lemah dan menyedihkan. Wanita yang ingin berontak dari rumahnya dan melawan 33: 33. Sehingga harus mendefinisikan rumah dengan definisi yang buruk-buruk; tidak punya teman, tidak punya penghasilan, tidak punya ilmu. Kasihan....
  
   
  Hani Nurul , Rabu, 29 Februari 2012
Sy seorang ibu rumah tangga tnp mengenyam pendidikan khusus menjadi IBU, sy lebih ingin biar suami yg mencari nafkah di jalan Allah untuk keluarga dan bukan salah suami bila istri merasa dirinya "nothing"... Anak2 adalah gudang ilmu bagi seorang ibu untuk belajar kesabaran, keikhlasan dan kasih sayang,, I'm really realy happy with my called "BUNDA"
  
   
  Luluksrini , Rabu, 29 Februari 2012
Judul diatas: Untuk apa dirumah, bila tanpa ilmu kurang tepat. kenapa? karena Allah sudah mengajarkan/memberikan ilmu/pengetahuan itu kepada Nabi Adam dan siti hawa kemudian terus ke anak2 beliau. Jadi sebenarnya sudah berilmu. Lebih bijak judulnya begini: Untuk apa dirumah, bila tak bisa apa-apa. Sedangkan mencuci, memasak, kegiatan dirumah itu sudah berpahala.
  
   
  Arie Setiawan , Kamis, 01 Maret 2012
Wanita adalah seperti berlian, apabila berlian itu berada di luar rumah maka akan terjadi suatu perhatian dan menarik, sehingga banyak orang ingin memiliki dengan cara-cara tersendiri. Wanita selalu di rumah adalah mengabdi kepada suami dan keluarga untuk menuju jalan surga. Wanita harus menjalani dengan ikhlas dan tidak memikirkan hal yang duniawi sehingga dalam menjalani sebagai ibu rumah tangga tidak ada penolakan dan sakit hati. Saya kurang setuju apa yg di katakan R. A. Kartini dengan emansipasi, yang pada akhirnya istri berani berdebat bukan berdiskusi dengan suami.
  
   
  Ummu Jundi , Selasa, 06 Maret 2012
bismillah...saudara-saudaraku mari berhusnudzon, termasuk dengan tulisan ini, saya hanya menarik kesimpulan bahwa belajar itu sepanjang masa, termasuk belajar menjadi ibu dan istri...dan belajar tidak harus selalu keluar rumah...dikatakan penulis, yang mengajari dan mengupgrade bisa sang suami...:) bahkan sekarang ada fasilitas internet...., betapa banyak ilmu2 parenting dan psikologi modern yang ternyata sesuai dengan Rasul, yang belum kita tahu dan sadar... untuk mencetak generasi hebat,... umminya insyaAllah juga harus hebat...wallahua'lam...
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Jendela Keluarga Lainnya
  Mendongeng Eratkan Emosional Ibu dan Ana...
  Biarkan Anak Kita Tumbuh dan Berkembang!
  Wanita-Wanita Terhormat Pilihan Islam [1...
  Kemuliaan Wanita; Antara Pandangan Femin...
  Kemuliaan Wanita; Antara Pandangan Femin...
  Faktanya, Kita Belum Bisa Melindungi Mus...
  Wahai Muslimah, Jadilah Pendukung Dakwah...
  Sepuluh Pesan Al Qarni untuk Muslimah
  Muslimah dan Jihad Wanita Masa Kini
  Nyatakan Cinta dengan Bicara
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved