Home Gaya Hidup Muslim

 
Share |
Akhlakmu, Tak Jauh dari Perilaku Temanmu


 

Senin, 20 Februari 2012

SEMUA orang kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba muncul berita sembilan orang tewas seketika setelah ditabrak oleh sebuah mobil sarat penumpang di Jakarta beberapa waktu lalu. Padahal sembilan orang itu sejatinya sudah berada di jalurnya alias trotoar. 

Setelah diselidiki ternyata sang pengemudi baru saja mengkonsumsi narkoba dan minuman keras (miras). Pengaruh narkoba menjadikannya tak mampu mengemudikan kendaraannya dengan baik, sehingga akibat narkoba itu sembilan nyawa melayang sia-sia. Kini sang pengemudi sedang mendekam dalam bui untuk mempertanggung-jawabkan kecerobohannya. Inilah peristiwa yang terjadi pada Afriyani atau dikenal “peristiwa Xenia maut” yang menewaskan 9 orang yang terjadi  bulan Januari 2012 lalu.

Agama Temamu

Kasus ini layak untuk dijadikan pelajaran bagi semua umat Islam. Jangan sampai ada di antara keluarga kita --apalagi itu adalah putra-putri kita-- yang ikut-ikutan menjadi pengguna narkoba. Upaya deteksi dini dan pencegahan harus dilakukan secara serius dan terus-menerus. Sebab jika sudah kejadian, maka hilanglah harapan untuk masa depan yang bahagia.

Kasus “Xenia maut” menunjukkan bahwa di negeri ini pergaulan bebas kian tak terkendali. Kita sering alpa hingga lupa siapa teman dan oranng terdekat dari anak-anak kita.
   
Melihat situasi kekinian yang kian tidak menentu, utamanya soal akhlak dan keimanan nampaknya petuah dari orangtua kita zaman dulu yang dinyanyikan Emha Ainun Najib dan Opick dalam lyrix “Tombo Ati” adalah “Wong kang sholeh kumpulono” (berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, red).

Petuah ini mengajarkan kepada kita semua,  bahwa untuk menjadi baik, kita harus berkumpul dengan orang-orang yang baik pula (sholeh). Karena akibat kebaikannya itu, secara tidak langsung akan mengajarkan sifat terpuji lainnya kepada kita.

Dengan kata lain, kalau kita ingin hati kita sehat (terbebas dari penyakit dan dosa) maka hindarilah bergaul dengan orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. 

Pepatah Arab menyatakan, “anli mar'i la tas'al, was’al an qoriinihi fainna qoriina bil muqorini yaqtadi.” (Jika ingin tahu seseorang, jangan Tanya dirinya, tetapi tanyalah temannya dan keadaan temannya).

Terjemahan bebasnya adalah, setiap teman meniru temannya. Bila kita berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka. Dan janganlah berteman dengan orang yang rendah(hina), niscaya kita akan hina bersama orang yang hina. 

Lebih dari itu Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah menegaskan dalam sabdanya bahwa:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad).

Abud Darda’ berkata, di antara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama, dan teman duduknya. Sebab teman itu boleh dikatakan adalah teman akrab. Teman yang dalam perjalanan hidup nanti akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, watak, perilaku, dan kebiasaan. Jika teman kita baik, insya Allah kita akan terkondisikan ikut baik dan sebaliknya.

Beberapa kasus terbaru yang terjadi di negeri ini cukup menjadi bukti bahwa teman yang buruk perangainya akan menjerumuskan teman dekatnya pada kebinasaan. Bayangkan saja, di usia produktif disaat seorang pemuda harusnya menata diri untuk berprestasi di masa depan, harus mendekam dalam bui. Lihat saja pengemudi penabrak sembilan pejalan kaki, ia tak sendirian, ia bersama teman-temannya.

Pertanyaannya kemudian apakah haram berteman dengan orang yang jahat?
Sejauh ada kemampuan untuk menghadapi mereka dan bisa memastikan tidak ikut kejahatannya tidak masalah.  Karena setiap umat Islam diperintahkan berdakwah terhadap mereka. Tetapi jika tidak punya kemampuan, sebaiknya perkuat dulu diri sendiri, baru orang lain. Sebab kalau kalah, maka kita yang akan terwarnai (terjerumus). Masalahnya, apakah kita yakin memiliki kemampuan pertahanan itu?

Selagi masih di dunia mari kita tingkatkan keselektifan kita dalam bergaul, utamanya pergaulan putra-putri kita. Jangan sampai mereka salah memilih teman lalu terjerumus dalam pergaulan yang negatif. Sebab bukan saja di dunia dampak buruk yang akan diterima, tetapi juga di akhirat. Oleh karena itu bertemanlah dengan orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya, bukan yang lain.

Jangan sampai kita mengalami apa yang Allah ilustrasikan dalam ayat Al-Qur’an;

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُول

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS.25: 27 – 29).

Bahkan dalam al-Quran dikatakan, pada hari kiamat itu orang-orang yang saling berteman dalam kemaksiatan akan menjadi musuh satu sama lain karena saling mempersalahkan.

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67).

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa berkata:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti (berteman) dengan pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Dan adapun (berteman) dengan pembawa minyak wangi kemungkinan dia akan memberimu, kemungkinan engkau membelinya, atau kemungkinan engkau mencium bau yang harum. Dan (berteman) dengan tukang pandai besi kemungkinan dia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak enak.”

Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bari (4/324) menjelaskan: “Di dalam hadits ini terdapat larangan berteman dengan seseorang yang akan merusak agama dan dunia. Hadits ini juga mengandung anjuran agar seseorang berteman dengan orang yang akan bermanfaat bagi agama dan dunianya. Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.*

Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Joseph , Senin, 20 Februari 2012
Saya banyak melihat di suatu kampus negeri dimana mahasiswi muslimnya lebih akrab berteman dengan non-muslim. Bahkan beberapa berpacaran dengan pria non muslim. Dengan membaca artikel ini semoga mereka segera teradar bagaimana memilih teman. Usul untuk hidcom, kalo bisa disediakan artikel khusus pendidikan remaja agar bisa dijadikan bahan edukasi guna memperbaiki kondisi kebingungan remaja-remaja muslim di era sekarang. Syukron...
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Gaya Hidup Muslim Lainnya
  Mari Bertaubat dan Istighfar, Sebelum Te...
  Jangan Galau, Allah Selalu Menyertaimu!
  Keteguhan: Rumus Hadapi Gelombang dan Ke...
  Jiwa Kuat dan Dinamis dengan Bersabar
  Wahai Pemimpin, Cintai Rakyatnya Bukan J...
  Lima “Obat” Penawar Galau
  Ikhlas akan Selamatkan Amal Kita
  Agar Hati Tetap Hidup, Jagalah dengan Do...
  Tiga Pilar Bangun Etos Kerja Muslim
  Bersabarlah, Karena Stok Sabar Tak Akan ...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved