Home Surat Pembaca


Petisi Orangtua untuk TV Beradab:
 
Share |
Stop Tayangan Bermasalah di TV!


 
 

Sabtu, 11 Februari 2012

KAMI orangtua menilai hingga hari ini televisi tidak ramah pada anak. Tayangan kekerasan, seks, mistik, hedonisme, masih kerap muncul setiap hari di layar kaca kita. Padahal, adegan-adegan di televisi tersebut bisa cepat ditiru oleh anak-anak. Hal tersebut berbahaya bagi anak bahkan bisa berujung kepada hilangnya nyawa seorang anak.

Salah satu contoh peniruan yang dilakukan oleh anak adalah peristiwa 15 orang bocah tertangkap menggarong kantor debt collector akibat menirukan gaya game Naruto (Jawa Post, 29 Januari 2012). Naruto adalah salah satu film animasi Jepang yang sempat tayang di TV.

Ada juga contoh peristiwa mengenaskan, meninggalnya Heri Setiawan, 12 tahun, siswa SMP Taman Siswa Jakarta Pusat, yang meninggal akibat menirukan aksi sulapnya Limbad (Desember 2009). Heri Setiawan tewas diduga usai mempraktekkan aksi sulap dengan mengikat leher, tangan dan kakinya sendiri. karena kurang hati-hati, lehernya terjerat oleh tali yang diikatnya. Atau sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa tahun lalu tentang anak yang tewas akibat memperagakan aksi smackdown yang ditayangkan di televisi.

Adegan kekerasan dalam program berita pun semakin berani dan vulgar ditayangkan. Padahal adegan kekerasan yang ditayangkan dalam program berita lebih berbahaya dibanding yang ditayangkan oleh sinetron.

Dalam sinetron, adegan kekerasan dilakukan atas tuntutan skenario, dan sifatnya adalah pura-pura. Sedangkan dalam berita, tayangan yang tersaji merupakan rekaman fakta atau kenyataan yang terjadi di lapangan. Kami mengkhawatirkan adegan kekerasan ini akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak yang menontonnya, atau bahkan bisa jadi menginspirasi bagi sebagian orang untuk melakukan tindakan kejahatan.

Jika kita kaji lebih jauh sebenarnya media massa televisi mempunyai fungsi utama yang selalu harus diperhatikan yaitu fungsi informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru. Namun jika kita lihat kenyataannya sekarang ini acara-acara televisi lebih kepada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi edukatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan, sangat sedikit sekali. Sebagai contoh adalah program di Trans 7 misalnya Gara-Gara Neo Magic, sangat bermasalah karena justru mengajarkan bagaimana mencuri uang dari credit card, mengambil perhiasan dan barang-barang berharga seseorang. Parahnya tayangan ini ditayangkan sore hari pukul 17.30 yang sangat mungkin ditonton oleh anak-anak.

Termasuk juga acara-acara music di pagi hari seperti Dahsyat (RCTI), Inbox (SCTV), Dering (Trans TV), Mantap & Klik (ANTV). Acara-acara ini bermasalah karena kerap menampilkan pembawa acara yang tidak sopan, pakaian seksi dan juga penyanyi-penyanyi yang berpakaian seksi serta lirik lagu yang membenarkan seks bebas (contoh; “Hamil Duluan”, “Belah Duren”, “Kawin Cerai”, “Mari Bercinta”, “Jadikan Aku yang Kedua”, “Selingkuh”, “Cinta Satu Malam”, “Keong Racun” dan lain-lain).

Acara komedi juga menggunakan kata-kata kasar, merendahkan orang lain, porno. Contohnya OVJ, Fesbukers, dan The Hits. Sinetron-sinetron menampilkan bulliying, tidak menghormati orangtua, hedonisme, pacaran, dan harapan-harapan palsu.

Anak adalah masa depan bangsa. Membiarkan anak-anak mengkonsumsi tontonan yang tidak mendidik berarti sama saja membiarkan bangsa ini hancur perlahan-lahan.

Oleh karenanya, kami meminta agar:

1. Pengelola TV tidak menanyangkan program-program yang berdampak negatif terhadap anak (kekerasan kriminal, vulgarisme, pornografi, dll). Pengelola TV diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan materi semata dengan cara menghalalkan segala cara, tapi juga memberi tontonan yang mendidik generasi bangsa ini.

2. Mendesak agar pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) khususnya Bidang pengawasan Isi Siaran untuk bersikap tegas terhadap tayangan tv yang dapat membawa dampak negative terhadap anak, khususnya tayangan-tayangan yang menampilkan kekerasan, kriminalitas, mistik dan seks. Kami tidak ingin anak-anak kami rusak karena televisi. KPI kami nilai selama ini tidak menjalankan tugas pengawasan isi siaran dengan semestinya dan cenderung melakukan pembiaran.

Untuk itu, melalui surat ini kami menuntut bidang pengawasan Isi Siaran KPI dan Pengelola TV melakukan tugasnya dengan benar dan bertanggung jawab. Terutama agar anak-anak kami aman mengkonsumsi TV tidak terpana muatan negative TV , sehingga dapat tumbuh menjadi generasi penerus yang produktif.

Jakarta, 7 Februari 2012

Nila Kurnia Pancawati
Direktur Eksekutif  LSM Rumah Peradaban

 

Foto: flickr


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Haye , Ahad, 12 Februari 2012
Itulah negeri kita. Memang, alangkah lucunya negeri ini. Kalau TV menayangkan acara-acara yang sopan, bisa dipastikan nggak laku. Di negeri yang sudah mengalami kerusakan moral ini, sesuatu yang aneh dan bersifat palsu memang banyak digemari. Tetapi hal-hal yang baik akan dijauhi sejauh-jauhnya oleh generasi muda kita. Langkah terbaik, buang jauh-jauh TV dari rumah kita..
  
   
  Bangsud , Senin, 13 Februari 2012
Akur dan setuju masalah konten tayangan TV yg berdampak negatif harus dikoreksi. Tapi TV tidak harus dibuang dari rumah kita, banyak juga sisi-sisi positifnya. Utk itu kita harus pandai memilih dan memilah tayangan yang berdampak positif.
  
   
  Amir Ahmad , Rabu, 15 Februari 2012
di negri seberang sampai ada channel khusus untuk tayangan acara anak-anak yang mendidik & jauh dari kekerasan & seks. Bahkan di channel itu iklan makanan atau mainan yang tidak sehat dilarang. Bagaimana kalau indonesia meniru?
  
   
  Eka , Kamis, 16 Februari 2012
Sangat memprihatinkan memang dengan kondisi content acara-acara televisi di Indonesia, dengan tayangan laki-laki yang keperempuanan dan sinetron-sinetron yang diperpanjang episode tayangnya dengan alur cerita yang semakin tidak jelas dan lebih cenderung ke tayangan kekerasan. Kapan kita punya televisi Indonesia yang bisa membangun anak-anak Indonesia?
  
   
  Y2k , Selasa, 21 Februari 2012
Kondisi Indonesia tercinta skrg serba susah. KPI/pemerintah pasti serba salah dlm mengambil sikap. Saat melakukan teguran atas siaran tertentu pasti muncul demo dr organisasi lainnya, tjdlah kasus spt AKBBP vs FPI. Satu pihak mencoba menata moral, mengembalikan peradaban negri yg tak terkontrol, tp pihak lain mengatasnamakan HAM. Krn pemerintah tdk jg bersikap, mk muncullah konflik yg mengakibatkan kerusakan, bahkan nyawa taruhannya. Tp jk pemerintah bersikap, pasti muncul jg demo2 anarkis yg saling berseberangan antara pendemo satu dg lainnya. Kecuali pemerintah mengambil sikap tegas, lbh peduli pd nasib & peradaban bangsa, jgn pedulikan intervensi asing/HAM kl itu tdk sesuai dgn budaya kita.
  
   
  Andanti , Jum'at, 02 Maret 2012
beri pemahaman secara kontinyu pada anak ttg buruknya televisi, beri kesibukan lain yg bermanfaat, belikan buku2 bacaan yg mendidik, daaan.... singkirkan televisi dari rumah anda. Insyaallah anak anda tidak akan bodoh hanya krn tidak menonton televisi!
  
   
  Ahmad , Senin, 05 Maret 2012
yuk, dorong dan dukung umat islam untuk membuat stasiun tv dg acara-acara yang ramah untuk anak, membangun umat dan membela ajaran islam.
  
   
  Tini , Kamis, 15 Maret 2012
saya juga sangat berterima kasih kalau kekerasan di negara timur dipampang di internet dan FB dan jangan di TV saja
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

 
Info Anda
 
Busana Muslimah Syar'i

Pusat belanja online busana syar'i. Murah,berkualitas dan terpercaya.

http://www.deblishop.com/

https://www.facebook.com/DebliShop

 
Grosir Kaos Kaki

Kaos Kaki Muslimah, Kaos Kaki Wudhu dan banyak pilihan kaos kaki dengan HARGA GROSIR. Menerima pesanan Kaos Kaki Logo Sekolah.
http://grosirkaoskakionline.com, http://kaoskakisekolah.com

 
Mushaf Pena : Harga Obral

Al-Quran Elektronik, teknologi terbaru membantu Anda belajar membaca dan tadarus Al-Quran. Diskon Besar!

www.mushafpena.com

 
 
   Berita Surat Pembaca Lainnya
  Televisi: Sahabat atau Musuh?
  Miss World = Mis-akidah?
  Ketika Bawang Menentukan Nasib Generasi
  Mengapa Kau Deportasi Muhajirin Rohingya...
  Hidayatullah Online, Kenetralan dan Hijr...
  Penanganan Kasus Terorisme Hanya Sebarka...
  Hak Jawab AMTI Terkait RDP RUU Pertembak...
  Perda Berbau Syari’ah Kembali Digoyang?
  FOS ARMI Desak Densus 88 Hentikan Aksi M...
  PUSHAMI Desak DPR Panggil KaDensus 88 d...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved