Home Opini

 
Share |
Islam dan "Bencana" Valentine’s Day


 

Selasa, 07 Februari 2012

Oleh: Abu Khadijah Bin Agil

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, peringatan Valentine`s Day (V-Day) akan kembali banyak dirayakan oleh banyak remaja. Mall-mall dan pusat perbelanjaan tidak mau kalah start, turut bersolek menampilkan atribut dan dekorasi yang menandai datangnya “hari cinta” dengan menghadirkan aksesoris seperti bunga mawar merah, lambang love, bahkan memberikan potongan harga besar-besaran demi menyambutnya.

Dalam banyak catatan sejarah, V-Day merupakan warisan paganisme (Dewa-Dewi) zaman Romawi kuno. Mereka meyakini pertengahan bulan Februari merupakan bulan cinta dan kesuburan. Kepercayaan ini kemudian diwarnai oleh kaum Kristen Katolik Roma dengan nuansa Kristiani. Salah satu bentuk ‘akuisisi’ atas mitos paganisme ini adalah dengan mengganti nama anak-anak gadis mereka dengan nama Paus atau Pastor dan mendapat dukungan Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Seiring berjalannya waktu, ketika Kaum Barat berhasil melakukan simbolisasi terhadap tokoh Valentino, ditunjang pula dengan penguasaan media dan informasi, sejak saat itu V-Day menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ia menjadi ajang menyatakan “cinta dan kasih sayang” kepada pasangan. Kekuatan media dimanfaatkan betul untuk memborbardir massa tentang personalisasi Valentino sebagai tokoh yang layak dikenang sepanjang masa oleh siapa saja yang berjuang demi “cinta.”

Betulkah propaganda mereka tentang cinta itu? Tidak usah jauh-jauh, lihatlah ke sebelah Timur. Iraq porak-poranda akibat gempuran tentara Salibis, Muslimah-nya diperkosa oleh tentara-tentara hidung belang, orangtua dan anak-anak menjadi korban pembantain, ribuan lainnya terpaksa menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Betulkah cinta yang mereka ekspor ke generasi ini? Lihatlah, angka perceraian yang tinggi, anak-anak menjadi rusak karena keluarga broken home, prostitusi yang merajelela bahkan dilegalkan oleh negara, aborsi, orangtua dititipkan dip anti jompo. Inikah cinta yang mereka pekikkan?

Bandingkan dengan titian cinta nabi kepada kita, umatnya. Di kala Thaif dan Uhud menjadi hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Teguh terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman ini. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya.

Sesungguhnya, V-Day tidak lain merupakan wajah buruk budaya Barat. Di satu sisi, mereka memasihkan kata cinta dengan bunga di tangan sebelah, tangan satunya menikam dan menjerumuskan ke dalam jurang kerusakan moral.

Betul, tidak semua hal yang bersumber dari Barat berakibat buruk. Namun, dalam hal perayaan hari Valentine’s ini jelas-jelas buruk dan merusak generasi muda.

Ada dua hal yang menandai keburukan hari ini.

Pertama, kaburnya sumber perayaan itu sehingga tidak laik umat Islam untuk ikut merayakannya.

Kedua, umumnya, perayaan Valentine’s dilakukan dengan pasangan alias kekasih atau pacar yang jelas ditentang dalam agama kita. Ketika telah bersinggungan dengan pacaran, tak pelak akan menyeret pada perbuatan yang tidak semestinya, gaul bebas, hubungan intim, dan sebagainya.

Setahun silam, berita memiriskan datang dari Kediri, Jawa Timur tahun lalu. Di kota tersebut dan mungkin di kota-kota lainnya, penjualan kondom mengalami peningkatan tajam menjelang tanggal 14 Februari. Kondom tersebut didistribusikan ke hotel-hotel sekitar untuk melayani permintaan dari penyewa kamar hotel.  Bagaimana dengan tahun sekarang ini?

Terjadinya kasus seperti di atas tak lain karena pemahaman remaja yang menyimpang dalam mengartikan hari kasih sayang. Anggapan sementara sebagian para remaja, hari kasih sayang adalah hari bercinta, bercumbu, memberikan seluruh raga kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan.

Ketika hari Valentine’s tiba, mereka meninggalkan orangtua mereka dengan pacar-pacar mereka, pergi ke tempat wisata atau sekedar pergi ke hotel-hotel kelas melati. Parahnya lagi, hotel pun sudah siap memfasilitasi perbuatan-perbuatan mesum mereka dengan menyediakan stok kondom yang mencukupi.

Sayangnya banyak para remaja kita yang justru mengimitasinya. Keikutsertaan ini tidak dibersamai tindakan reflektif yang mencerminkan akibat dan dampak dari apa yang mereka lakukan. Seakan, membuktikan cinta itu hanya ada di hari yang satu ini, bahwa ia mencintai setulus hati, dengan beragam tanda-tanda yang menyertainya sebagai penguat ungkapan cintanya. Tidak sedikit di antaranya, dari kata-kata menuju “tindakan” yang seharusnya baru dilakukan oleh pasangan yang telah sah menjadi suami-istri.

Padahal, Allah telah menjelaskan dalam al-Qur`an perihal para “pembebek” suatu perbuatan tanpa dasar ilmu.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُول

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa [17]: 36).

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda: “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?” Baginda bersabda: “Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR. Bukhari Muslim).

Lewat sabdanya, Nabi menunjukkan kekhawatiran yang sangat atas nasib generasi sepeninggalnya yang melepaskan atribut dan identitas keislamannya dengan mengikuti tradisi dan budaya yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Kebodohan menjadi penyebab utama di balik sikap mengekor budaya ‘orang lain’ tanpa menimbang dampaknya.

Tiga Dampak V-Day

Dalam Islam, konsep cinta telah diletakkan pada tempat yang semestinya, tidak menyimpang dari naluri manusia itu sendiri, juga selaras dengan titian ilahi sebagai nilai-nilai moralnya. Menjadi seorang muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita tidak butuh slogan-slogan cinta bila faktanya tak ada.

Cinta dan kasih sayang yang diobral, ibarat baju yang diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi murahan dan kehilangan nilai serta rasanya. Cinta dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara memperoleh pasangan juga sudah diatur sedemikian rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing individu juga dijaga, bukan untuk diobral yang dapat menimbulkan fitnah.

Sementara, Valentine`s Day akan memunculkan dan membentuk pola perilaku tercela.
Pertama, munculnya akhlak tasyabbuh yaitu akhlak yang meniru orang lain tanpa mengetahui ihwal dilakukannya hari V-Day tersebut. Dengan meniru dan merayakan praktek kasih sayang yang tidak benar itu, membuat keluhuran kasih sayang dalam Islam, perlahan tapi pasti, menjadi pudar, tak lagi populer, dan pada akhirnya dapat punah ditelan masa.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah memagari umat dengan sabdanya, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Tirmidzi).

Kedua, dengan meniru orang lain menunjukkan ketidakberdayaan umat Islam yang pada gilirannya akan meninggalkan ciri-ciri ketinggian nilai Islam, menanggalkan identitas keislaman. Pada akhirnya, membuat umat Islam berperilaku mengikuti trend yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Dengan mengikuti V-Day, bukan saja mengikuti pesta untuk menyatakan kasih sayang namun juga mengikutsertakan seks bebas, fashion, pakaian minim, dansa dansi, dan mengumbar nafsu lainnya.

Ketiga, V-Day secara tidak langsung memberi keuntungan kepada pihak kapitalis dan menjadikan umat Islam sebagai konsumennya. Mereka yang membuat, memproduksi barang untuk kepentingan perayaan, sementara pembelinya adalah umat Islam.

Karenanya, sikap kita mestilah berbanding lurus dengan sikap yang mencerminkan jati diri seorang muslim. Perayaan hari kasih sayang atau V-Day tidak lebih sekedar upaya peringatan kematian seorang pendeta yang dipandang sebagai ‘martir’ cinta. Berbicara tentang cinta dan kasih sayang, Islam tidak kehabisan bahan untuk itu. Terlebih salah satu pondasi berdiri tegaknya ajaran Islam karena Rahmatan lil Alamin yang salah satunya memprioritaskan hak (cinta) kepada Allah dari yang lain.

Hanya saja, alih-alih menjajal cinta kepada Allah justru cinta kepada sesama manusia sering disalahtafsirkan dengan berpacaran, ber-kholwah (berdua-duaan) di tempat-tempat ramai atau sepi, melakukan hubungan biologis pra-nikah. Akibat dari peringatan V-Day ini lahirlah anak-anak tanpa bapak disertai merajalelanya aborsi.

V-Day adalah bencana budaya buat kita semua. Peringatan V-Day sudah waktunya kita eliminasi lalu kita jadikan sebagai monumen kecelakaan sejarah yang tidak perlu ditangisi apalagi diikuti. Peringatan ini, sekaligus untuk para orangtua yang memiliki anak remaja.*

Penulis adalah Staf Pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang-Jawa Timur


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Budiharto , Rabu, 08 Februari 2012
Pendapat saya ?, boleh saja kan ! 1. Vday bukan bencana, tapi tantangan bagi kita, umat Islam, strategi pendidikan selama ini ? pendidikan agama lebih untuk target kurikuler, bukan target "rukhiyyah" alias TANPA SOUL, hampir tdk berbekas. 2. REMAJA, 100% TIDAK SALAH ! ABG dgn labile-personality nya, yg lagi dlm proses mencari jati diri, tidak segera di"tangkap" oleh para pendidik (orang tua/guru/ dosen) Multi talenta yg sangat variatif pd remaja kita, optimalkah wadah Islami untuk menampungnya sesuai sikon saat ini ? 3. Masalah umat, berapa % remaja Islam (SMP keatas) yg pernah lakukan hub sex, pornografi (data?). Begitu banyak fasilitas yg tersedia saat ini di Indonesia 4. Comprehensif-Action, apa yg telah dilakukn MenSos, Men P&K, MenKes, MenPora, Men- Agama, MenParpostel selama ini ??? Optimalkah ?
  
   
  Dhana , Selasa, 14 Februari 2012
Tidak semestinya remaja berlindung/dilindungi oleh labile-personality. Allah SWT lebih tahu kenapa remaja yang sudah baligh sudah memikul dosa sendiri. Berapa banyak remaja yang "lurus" jalannya, berapa banyak juga yg melenceng, mereka sesungguhnya telah memilih. Tentunya dlm hal ini peran orang tua sangat penting agar sedari kecil memberitahukan batas yang jelas antara yg haq dan yg bathil, termasuk tegas menyatakan valentine day itu bathil untuk diikuti.
  
   
  Mat Kodak , Kamis, 16 Februari 2012
@Dhana, tidak semestinya berlindung/dilindungi oleh labile-personality. Sherusnya remaja rajin sholat, rajin ibadah, rajin beramal, rajin menolong, rajin membantu orangtua. Nggak bisa bedain ya antara ajaran sama praktik, teori sama kenyataan. Kasihan.
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Opini Lainnya
  20 MEI Hari Kebangkitan untuk Siapa?
  Kesamaan Antara Irshad Manji dan Darmogh...
  Kampanye Deradikalisasi dan Kepentingan ...
  Melawan Mindset Konsumerisme
  Menjernihkan Potret Buram Pendidikan Ind...
  SuJu, Bieber, dan ‘Kegilaan’ Remaja Kita
  Pesawat Israel dan Masalah Komunikasi Pe...
  Mampukah Pemimpin Baru Membawa Penerapan...
  Antara Kartini dan Sayidah Aisyah
  Menggugat Peringatan Hari Kartini
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved