Home Tsaqafah


Bagian Pertama
 
Share |
Orientalisme dan Hujatan Terhadap Rasulullah


 

Senin, 06 Februari 2012

Oleh: Adnin Armas
 
BELUM lama ini, media kampus di Universitas Cambridge, Inggris, menerbitkan kembali salah satu kartun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cambridge yang terletak di Inggris timur adalah 10 besar universitas terbaik sedunia dan memiliki 25 ribu mahasiswa.
 
Penghinaan terhadap Rasulullah sungguh tindakan yang tidak masuk akal bagi kalangan terdidik. Namun rupanya hujatan terhadap Nabi bukanlah barang baru. Itu sudah berlangsung sejak dulu.
 
Daftar Hujatan
 
Di kalangan Yahudi-Kristen, telah umum beredar hinaan atau celaan terhadap Nabi Muhammad. Misalnya penggunaan istilah pseduopropheta (nabi palsu). Johannes dari Damascus Ioannou tou Damaskhenou alias Johannes Damascenus atau John of Damascus (±652-750)] adalah orang yang paling awal menganggap Rasulullah sebagai nabi palsu.
Johannes menyebut Rasulullah sebagai Mamed. Dikutip dalam buku John of Damascus: The Heresy of the Ishmaelites oleh Daniel J Sahas (1972), John atau Johannes berpendapat bahwa Mamed adalah seorang nabi palsu dan secara kebetulan mengetahui isi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta berpura-pura pernah bertemu dengan Arius. Setelah itu, Mamed membuat sendiri ajaran sesatnya. Johannes menegaskan Mamed sendiri tidak sadar kalau menerima wahyu karena mendapatkannya ketika sedang tidur.
 
Tak cukup itu, Johannes juga mengatakan bahwa Mamed bukanlah seorang nabi (alias nabi palsu) karena perilakunya yang tidak bermoral. Mamed, katanya, membolehkan mengawini banyak perempuan dan ia sendiri mengawini istri anak angkatnya sendiri.
 
Ada banyak sebutan untuk Nabi. Umumnya, bernada hujatan. Sebutan seperti; Mamed, Mawmet, Mahound, Mahoun, Mahun, Mahomet, Mahon, Machmet, yang kesemua kata tersebut bermakna setan (devil) dan berhala (idol) telah berkumandang keras khususnya pada zaman pertengahan.
 
Hujatan terhadap Rasulullah terus dilakukan oleh para tokoh terkemuka Kristen. Pastor Bede (673-735) menganggap Mamed sebagai a wild man of desert (seorang manusia padang pasir yang liar), kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, status sosialnya rendah, bodoh tentang dogma Kristen, tamak kuasa sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim dirinya sebagai seorang rasul (nuntius/apostolus).
 
Hujatan kepada Rasulullah juga dilakukan oleh para rahib terkemuka Kristen yang lain. Misalnya dilontarkan oleh Pierre Maurice de Montboissier yang juga dikenal sebagai Petrus Venerabilis alias Peter the Venerable (1049-1156), seorang kepala biara Cluny di Perancis.
 
Dalam buku Popular Attitudes Towards Islam in Medieval Europe, juga dalam Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe (editor Michael Frasseto and Davis R Blanks), Pierre Maurice pernah menegaskan bahwa Mahomet adalah an evil man (orang jahat) dan satan (setan) karena mengajarkan anti-Kristus.
 
Hujatan demi hujatan terus berlanjut. Ricoldus de Monte Crucis alias Ricoldo da Monte Croce (±1243-1320), seorang biarawan Dominikus, menulis beberapa karya yang juga menghujat Islam. Menurut Ricoldo, yang mengarang Al-Qur`an dan membuat Islam adalah setan.

Kata Ricoldo, sebagaimana dikutip Patrick O’Hair Cate dalam Each Other’s Scripture:
 
“Pengarang bukanlah manusia tetapi setan, yang dengan kejahatannya serta izin Tuhan dengan pertimbangan dosa manusia, telah berhasil untuk memulai karya anti-Kristus. Setan tersebut, ketika melihat iman Kristiani semakin bertambah besar di Timur dan berhala semakin berkurang, dan Heraclius, yang menghancurkan menara menjulang yang dibangun oleh Chosroes dengan emas, perak dan batu-batu permata untuk menyembah berhala-berhala, mengatasi Chosroes pembela berhala. Dan ketika setan melihat palang salib Kristus diangkat oleh Heraclius, dan tidaklah mungkin lagi untuk membela banyak tuhan atau menyangkal Hukum Musa dan Bibel Kristus, yang telah menyebar ke seluruh dunia, setan tersebut merancang sebuah bentuk hukum (agama) yang pertengahan jalan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dalam rangka untuk menipu dunia. Dengan maksud ini ia memilih Muhammad.”

Hujatan Ala Martin Luther
 
Seolah terpengaruh dengan pemikiran Ricoldo, Martin Luther (1483-1546) berpendapat, “The devil is the ultimate author of the Qur`an (setan adalah pengarang terakhir Al-Qur`an). Pendapat Luther didasarkan kepada penafsirannya terhadap Yohannes 8 (44).
 
Luther berpendapat bahwa setan adalah a liar and murderer (seorang pembohong dan pembunuh). Al-Qur`an mengajarkan kebohongan dan pembunuhan. Oleh sebab itu, yang mengarang Al-Qur`an (Mahomet) dikontrol oleh setan.
 
Luther juga menyatakan, “Jadi ketika jiwa pembohong mengontrol Mahomet, dan setan telah membunuh jiwa-jiwa Mahomet dengan Al-Qur`an dan telah menghancurkan keimanan orang-orang Kristen, setan harus terus mengambil pedang dan mulai membunuh tubuh-tubuh mereka.” (Lihat Martin Luther, On War Against the Turk, penerjemah Charles M Jacobs)
 
Menurut Luther, Mahomet, Al-Qur`an, dan orang-orang Turki semuanya adalah produksi setan. “Namun sebagaimana Paus yang anti-Kristus, begitu juga orang-orang Turki yang merupakan penjelmaan setan,” ujar Luther.

Sebagaimana Ricoldo, Luther menganggap Tuhan orang-orang Turki adalah demon (setan) karena ketika orang-orang Turki berperang, mereka berteriak Allah! Allah! Ini sama halnya dengan tentara-tentara Paus ketika berperang berteriak Ecclesia! Ecclesia! Bagi Luther, teriakan gereja (ecclesia) berasal dari setan.
 
Luther menegaskan, dalam peperangan, sebenarnya Tuhan orang-orang Turki yang lebih banyak bertindak dibanding orang-orang Turki sendiri. Tuhan mereka yang memberi keberanian dan trik, yang mengarahkan pedang dan tangan, kuda dan manusia.
 
Walhasil, Luther menyimpulkan Mahomet mengajarkan kebohongan, pembunuhan dan tidak menghargai perkawinan. Mahomet bohong karena menolak kematian Yesus dan ketuhanan Yesus sebagaimana yang diajarkan Bibel.
 
Tak hanya menghina, Luther juga memfitnah dengan mengatakan bahwa Mahomet mengajarkan bahwa hukum ditegakkan dengan pedang dan keimanan Kristiani dan pemerintahan Muslim perlu dihancurkan, dan Turki (Muslim) adalah pembunuh. (Lihat Patrick O’Hair Cate, Each Other’s Scripture).

Dalam pandangan Luther, Mahomet membolehkan siapa saja untuk beristri sebanyak yang diinginkan. Menurutnya, merupakan kebiasaan bagi seorang laki-laki Turki untuk memiliki sepuluh atau dua puluh istri dan meninggalkan atau menjual siapa yang dia inginkan. Sehingga wanita-wanita Turki dianggap murah yang tidak ada harganya dan dianggap rendah; mereka dibeli dan dijual seperti binatang ternak. (Martin Luther, On War Against the Turk)

Demikianlah, kecaman, hinaan, dan hujatan terhadap Nabi Muhammad tak hanya datang kali ini, namun telah berlangsung jauh-jauh hari. Dan ternyata, hujatan dan hinaan tersebut telah menjadi bagian dari studi orientalisme.

Tuduhan Pengaruh Yahudi

Gagasan bahwa ajaran Yahudi banyak mempengaruhi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diprakarsai oleh Abraham Geiger (1810-1874),  intelektual sekaligus rabi dan pendiri Yahudi Liberal di Jerman.

Tulisnya dalam buku “Was hat Muhammad aus dem Judenthume aufgenommen? “ (Apa yang Telah Muhammad Pinjam dari Yahudi?), terbit 1833, untuk mengarang Al-Qur`an, Muhammad telah meminjam sejumlah kosa kata Ibrani seperti tabut, Taurat, jannatu ‘adn, jahannam, ahbar, darasa, Rabbani, sabt, thaghut, furqan, ma’un, mathani, malakut.

Agama Yahudi dianggap mempengaruhi Muhammad ketika mengemukakan hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, peraturan-peraturan hukum dan moral, serta pandangan tentang kehidupan. Cerita-cerita dalam Al-Qur`an pun tidak terlepas dari pengaruh Yahudi.

Adanya kecaman Al-Qur`an terhadap Yahudi dianggap sebagai kesalahan Muhammad karena telah menyimpang dan salah mengerti doktrin-doktrin agama Yahudi.

Sementara Theodor Nöldeke, sarjana Kristen dari Jerman, berpendapat bahwa karangan Muhammad (Al-Qur`an) salah fatal karena menyebut Haman adalah menteri Fir’aun, padahal menteri Ahasuerus; menyamakan Maryam, saudara perempuan Musa, dengan Maryam Ibunya Nabi Isa. “Orang Yahudi yang paling tolol pun tidak akan melakukan kesalahan seperti Muhammad,” katanya.

Kesalahan fatal Al-Qur`an yang lain, menurut Nöldeke, adalah anggapan Muhammad bahwa tanah Mesir subur disebabkan hujan. Muhammad banyak salah-paham, misalnya ketika menerapkan ungkapan-ungkapan Aramaik. Furqan, misalnya, sebenarnya bermakna redemption (penebusan), namun bagi Muhammad makna tersebut dalam bahasa Arab menjadi revelation (wahyu). Millah sepatutnya bermakna word (kata), namun dalam Al-Qur`an menjadi agama. (Theodore Nöldeke, Sketches from Eastern History, London, 1985, hal 37-38).

Para sarjana itu melacak pengaruh Yahudi-Kristen kepada Muhammad karena ingin mengungkap orisinalitas ide dan wawasan Muhammad. Menurut Hartwig Hirschfeld, seorang Yahudi Jerman kelahiran Prussia, “Pengetahuan tentang sumber-sumber orisinal yang hanya dapat menerangkan apa yang sering nampak pada awal mulanya kabur dan tidak bermakna. Salah satu kesulitan utama di hadapan kita adalah untuk memastikan apakah ide atau ekspresi adalah properti spiritualitas Muhammad atau dipinjam dari yang lain, bagaimana dia mempelajarinya, dan sejauh mana itu diubah mengikut tujuan-tujuannya.”

Bagi Hirshfeld, sebelum mengaku menjadi Nabi, Muhammad telah menjalani kursus pelatihan Bibel. Bagaimanapun, kata dia, kursus tersebut tidak berjalan secara sistematis karena tidak mengikuti instruksi para guru dengan teratur. Muhammad lebih otodidak. (Hartwig Hirschfeld, New Research into the Composition and Exegesis of the Qoran, London, 1901, hal 4).*/bersambung

Penulis adalah peneliti INSISTS

Ilustrasi: tokoh orientalis Ignác (Yitzhaq Yehuda) Goldziher


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Asnawi , Senin, 06 Februari 2012
Sekian banyak data ttg hujatan kpd Nabi Muhammad yg dibeberkan dalam tulisan ini, apakah ada sanggahan atau fakta yg diputarbalikan dari tuduhan2 tsb, sehingga apa yg dituduhkan tdk benar dan orang awam mengerti bhw tuduhan tsb adalah bagian dari misi kristenisasi
  
   
  Anto , Senin, 06 Februari 2012
apapun makar mereka (kristen-yahudi) hanya akan menjadi makar yg sia sia.
  
   
  Septiyani , Senin, 06 Februari 2012
Heraclius pun seorang penguasa romawi mengakui kerasulan Muhammad shalallahu 'alaihi wassallam, mengapa orang2 itu berani mengungkapkan kebohongan mereka.
  
   
  Budi W , Senin, 06 Februari 2012
Orientalis merasa berotak cerdas, padahal otak mereka adalah otak setan. Mereka berpikir bahwa kitab suci mereka, tentunya yang sudah mereka rubah sesuai kemauannya (Yahudi dan Nashrani) adalah landasan berpikir mereka dan dianggap paling benar. Orientalis mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an sesuai kemauan mereka untuk menohok Nabi Muhammad Saw dan orang Islam serta tidak ingin Islam tetap langgeng sepanjang jaman
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Tsaqafah Lainnya
  Syari’ah Islam: Antara HAM dan Kebebasan...
  RUU KKG: Pertarungan Feminis VS Muslimah...
  Mendesain Kurikulum Pendidikan dengan Ko...
  Kewajiban Menutup Aurat: Bukti Islam Tid...
  Virus K-Pop dan Dekonstruksi Aqidah
  Usul Tak Mulia Dari Si Musdah
  Ketentuan Umum RUU Gender Problematik
  Reformasi Ulang Pendidikan Islam
  Menjawab Tuduhan Terhadap Hizbut Tahrir
  “Indonesia Tanpa JIL”, What's Next?
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved