Home Surat Pembaca

 
Share |
Giliran Wanita Dilecehkan di Negeri Sendiri Kita Bungkam!


 

Senin, 06 Februari 2012

GERAH juga rasanya saya mengikuti pemberitaan akhir-akhir ini baik itu di media cetak maupun media elektronik. Berita perkosaan adalah salah satu yang sangat merisihkan, karena info perkosaan menempati headline di berbagai media masa, seakan-akan tiada lagi warta menarik lainnya.

Sungguh sangat mengkhawatirkan jika situasi seperti ini terus dibiarkan melanda negeri ini, karena lama-kelamaan akan menjadi habit yang membentuk mainframe pada setiap orang bahwa wanita sebatas pemuas nafsu.

Banyak media masa yang memuat berita perkosaan sembari menjelaskan modus pelaku dalam melakukakan kejahatan tersebut.

Memang dengan adanya penjelasan modus perkosaan dapat menjadi pelajaran bagi korban atau calon korban agar lebih waspada. Namun secara tidak langsung penjelasan tersebut juga menjadi wawasan tersendiri bagi mereka yang rendah imannya untuk mengoleksi trik-trik khusus demi memperlancar aksi bejatnya. Buktinya, hingga detik ini berita perkosaan terhadap kaum hawa semakin sering kita dengar.

Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya yang di muat beberapa media masa, selama tahun 2011 terjadi 68 kasus perkosaan. Sedangkan pada tahun 2010, ada 60 kasus perkosaan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sekitar 13.33 persen dalam setahun. Atau bisa disimpulkan bahwa tindak kriminal perkosaan tumbuh subur di negara kita yang dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sungguh-sungguh memalukan.

Sementara itu, data yang dirilis Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan, sejak 1998 hingga 2010 ada 295.836 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 91.311 di antaranya kasus kekerasan seksual. Ironis, terlebih kasus pemerkosaan menempati peringkat pertama yang sering terjadi. Sebanyak 4.391 perempuan di Indonesia mengalami pemerkosaan. Itu yang tercatat, bagaimana yang tidak tercatat?

Sementara itu, pada peringkat kedua aksi kejahatan yang menimpa perempuan, yakni kasus perdagangan manusia untuk tujuan seksual, ada sekira 1.359 kasus. Adapun kasus pelecehan seksual menempati peringkat ketiga dengan 1.049 kasus. Sungguh mengerikan!

Ironinya, belum ada organisasi massa (ormas) khususnya ormas Islam yang tampil beraksi menyikapi situasi ini secara konsisten. Bayangkan, dengan data seperti ini tak banyak masayarakat merasa ini sebuah peristiwa penting yang jadi perhatian besar. Para politisi juga masih hanya sibuk dengan urusan partainya sendiri.

Coba bayangkan jika satu kejadian saja seperti ini  terjadi di Arab. Apa yang bakal terjadi? semua warga protes, mencaci-maki –bahkan jika bisa—maunya mengajak perang. Gilirannya jika warga kita dianiaya, diperkosa dilecehkan di dalam negeri sendiri, kok ya kita semua seolah membiarkan?

Di sisi lain, formula penyelesaian masalah yang diambil pemerintah belum mampu menuntaskan perkara, bahkan penegak hukum yang menyidik kasus perkosaan juga bisa dibilang tanpa hasil nyata. Sementara lembaga-lembaga yang mengusung jargon gender, HAM, feminisme beserta kroni-kroninya yang lain seakan-akan bungkam tanpa aksi. Mereka hanya berkoar di depan media masa tanpa pengambilan sikap yang jelas dan tegas dalam menindaklanjutinya.  

Saya coba mengutip Pasal 285 KUHP,  "Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”

Sanksi ini sangat multitafsir dimana yang tertulis pidana penjara paling lama, tidak menutup kemungkinan hukuman penjara bisa dipercepat asal ada uang. Kemudian penjahat-penjahat itu akan bebas bergentayangan menebarkan kehancuran lagi.

Dan kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kasus perkosaan masih terjadi berulang-ulang dengan modus yang hampir sama.

Hal tersebut sangat mengindikasikan bahwa hukuman bagi pelaku perkosaan tidak menimbulkan efek jera sehingga kejahatan perkosaan terus meningkat. Kita tidak bisa banyak berharap kepada aparatur pemerintah untuk bertindak tegas dalam menyikapi kasus perkosaan. Selain hukum yang masih menganut kapitalis, pemimpin-pemimpin negeri ini juga belum memiliki wibawa dihadapan pelanggar hukum sehingga segala bentuk sanksi/ hukuman masih dapat di-negosiasi-kan.

Inilah kegusaran yang saya yakin banyak orang juga sedang merasakannya. Terutama mereka yang memiliki family wanita entah itu anaknya, adiknya, kakaknya, sepupunya  atau apapun statusnya. Paling tidak sebagai orang yang beriman semestinya kita mengambil sikap bila melihat kedholiman, dan bila sedikitpun kegusaran tidak dirasakannya maka bisa dipertanyakan keimanannya.

Melalui tulisan ini saya coba men-derivasi-kan angan yang terus membayangi setiap mengikuti perkembangan berita di media masa. Keprihatinan mendorong saya untuk coba membuka wacana public sebaiknya sikap apa yang menjadi solusi. Jika sampai sekarang ini ulama, tokoh masyarakat, pemimpin-pemimpin, pejabat, aparatur  keamanan, pegawai serta orang-orang yang berpengaruh di negeri ini masih adem-ayem dibalik gejolak kasus perkosaan yang kian merisaukan. Lalu siapa yang mestinya bertindak agar hukum Allah benar-benar dilaksanakan? Bukankah kita berada di bumi Allah?

Marilah  semua pihak untuk segera mengambil peran bersama dalam menindak tegas pelaku perkosaan yang telah menebarkan kemaksiatan di negeri ini. Jika perlu, kita mendampingi aparatur penegak hukum negeri ini sehingga mampu memberikan sanksi yang benar-benar menjerakan bagi pelaku perkosaan.

Yang lebih aneh, perangkat hukum kita terbukti tak pernah bikin orang jera memperkosa. Tapi kalau sudah giliran ditawarkan Islam sebagai bagian cara menyelesaikan masalah, semua di antara kita langsung menolak. Bayangkan jika seandainya salah satu keluarga kita menjadi korbannya, mungkin lain perkara.

Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan kita semua. Amiin yaa Robbal’alamin.

Zainal Arifin, S.Pd
Tinggal di Depok, Jawa Barat


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Rima Herwin , Ahad, 05 Februari 2012
maka kaum wanita berbusanalah yang baik & benar!!!!
  
   
  Sukarman Harianto , Ahad, 05 Februari 2012
jaga penampilanmu didepan publik, tutup aurat,penampilan yang seronok akan mengundang orang untuk melakukan tindakan kejahatan bagi kaum wanita
  
   
  Tazmahal , Senin, 06 Februari 2012
Tegakkan syariat islam yg kaffah..InyaAllah hukum akan adil..kalau dalam islam hukuman bagi pemerkosa bagi Laki2 belum menikah hukum cambuk 100kali ditambah mengganti kerugian membayar diat..untuk yg sudah menikah hukumannya rajam sampai mati..ini baru ada efek jera..ini namanya hukuman dari Allah disamping itu para wanita harus menutup aurat dengan benar. Ada baiknya segala fasilitas umum ada dikhususkan untuk wanita..jadi tidak bercampur baur dengan Laki2. ini peraturan dalam islam Rahmatan lilalamin
  
   
  Abiya , Senin, 06 Februari 2012
"Coba bayangkan jika satu kejadian saja seperti ini terjadi di Arab. Apa yang bakal terjadi? semua warga protes, mencaci-maki –bahkan jika bisa—maunya mengajak perang. Gilirannya jika warga kita dianiaya, diperkosa dilecehkan di dalam negeri sendiri, kok ya kita semua seolah membiarkan?" Komentar: Ya, ini dia wajah munafik bangsa kita. Kalo ngurusin orang lain "sangat pintar". Giliran ngurusin diri sendiri, memble bin letoy. Kaciah deh...
  
   
  Kangkung , Senin, 06 Februari 2012
Saya setuju atas tulisan tsb. Banyak faktor kenapa pemerkosaan masih banyak di indonesia? Lemahnya hukum dan moral salah stunya. Kenapa di arab atau malaysia ada "jarum" jatuh menjadi geger, di cina, hongkong, singapur "mesin jaitnya" jatuh ga ada yang denger. Karena arab dan malaysia (Melayu ) identik dengan islam. Coba kita cermati acara terutama metro tv, dari mulai imlek sampai cap gomeh beritanya/acaranya ga pernah berhenti, apa pernah kalau hari besar islam, media tv memutar film sejarah islam? seperti Arrisalah misal. Tapi kita bisa apa.
  
   
  Anto , Senin, 06 Februari 2012
ironi dr penampilan dan gaya hidupnya , sesungguhnya sebagian mereka (wanita negeri ini) scr tdk sadar telah membuka peluang dirinya untuk dilecehkan...
  
   
  Henry Eko , Senin, 06 Februari 2012
pemerkosaan tidak korelatif dengan busana. sebagian korban yg terkena musibah berpakaian baik dan sopan. walupun tidak berjilbab. bahkan santriwati pun juga bisa jadi korban. jangan menempatkan wanita sebagai biang kerok. bila kita yg laki laki malah gagal menyediakan perlindungan. justru akar dari kejahatannya yang harus dibasmi. miras dan narkoba. menghilangkan akal dan pikiran. selama miras dan narkoba beredar bebas, semua dapat terancam. menegakkan kilafah, dimulai dari yang paling kecil.
  
   
  Nov , Rabu, 08 Februari 2012
betul, jangan melulu menempatkan perempuan sbg pihak yg memancing syahwat. wanita berhijab tebal pun tak otomatis merdeka dari ancaman pelecehan seksual. kaum lelaki yg harus diperkuat imannya secara internal. ekstrimnya, andaikan di hadapan sang lelaki ada perempuan (yg bukan istrinya) telanjang, lalu bangkit gairah syahwatnya, maka si lelaki itu harus tetap bisa mengendalikan diri dan tdk mendadak berubah jadi monster syahwat buas yg siap menerkam di perempuan. setiap lelaki hrs bisa menjadi pelindung dan pengayom bagi perempuan, ambillah kain utk menutupi tubuh si perempuan yg telanjang itu lalu antarkan dia pulang ke mahramnya. nah, jika kita sdh memiliki kaum lelaki dgn kualitas pengendalian syahwat seperti ini, baru kita bicara syariat Islam. krn tanpa kualitas mental yg baik, nasib syariat Islam hanya akan berakhir seperti demokrasi: menjadi alat utk meraih kekuasaan, alat penumpuk kekayaan semata, dan alat penindas lawan politik...
  
   
  Samhani , Rabu, 08 Februari 2012
pelecehan seksual terjadi tentu adanya sebab, sebab itu yang harus kita perbaiki, di antaraya yaitu: sebarang berpakaian harus kita perbaiki dengan berpakaian islami, pergaulan yang tidak ada manfaatnya, hura-hura dan banyak lagi, ini pada intinya harus kita jalurkan kepada penetapan islam yang sesuai ajaran rosullulah kepada muslimah....
  
   
  Abuya , Rabu, 08 Februari 2012
Ketika rumah si abu nawas kemalingan, seluruh warga menyalahkan abu nawas karena tidak mengunci pintu rumahnya. Akhirnya abu nawas berteriak " Apakah malingnya tidak salah?"
  
   
  Hamba Allah , Jum'at, 10 Februari 2012
@Nov, perumpamaan itu seperti api yang didekatkan dengan bensin, api harus tetap tenang ... tidak boleh terpancing oleh bensin .. sekalipun bensin itu kwalitas nomor wahid. Mana bisa? Bukankah tindakan preventif lebih utama? Jangan dekatkan api dengan bensin jika tidak ingin terbakar. Gak ada jaminan laki-laki normal tidak akan terganggu emosinya jika melihat wanita tanpa busana seperti yang Anda gambarkan. Laki-laki umumnya seperti kucing. Jika ada tuannya, diam, lugu dan manis, saat tuannya pergi dia akan ambil ikan di meja :P Jadi, jangan percaya laki-laki ... apalagi tanpa busana! Tutup yang rapi auratmu, mudah-mudahan laki-laki nakal bin bengal itu malu dan respek melihat dirimu.
  
   
  Wahyu , Jum'at, 10 Februari 2012
Wah semua komen bagus-bagus, lebih realistis ketimbang DPR yang bahas RUU kagak rampung-rampung.
  
   
  Qolbskita , Jum'at, 17 Februari 2012
@henry eko: pernahkan berfikir apakah nutrisi terbaik bagi jiwa? @nov:tidakkah kamu percaya syetan mampu masuk lewat aliran darah?
  
   
  Sasa , Senin, 20 Februari 2012
saya pernah membaca hasil penelitian (dlm suatu seminar kejahatan di dunia) bahwa tingkat pelecehan teritinggi di dunia terjadi al. di Mesir, Aljasair . Yg dilecehkan sama saja baik yg berpakaian sopan/berhijab maupun yg tidak
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Surat Pembaca Lainnya
  “Islam Bukan Agama Anti Kebudayaan”
  Komitmen Cagub DKI Cegah Liberalisme
  Tanggapan Terhadap Ketua SGF yang Sewena...
  Memenangkan Persaingan Global dengan Men...
  Sebaiknya Wapres Menahan Diri Bicara Aga...
  Hati-Hati, Ada Buku Panduan Shalat, Tapi...
  Bencana Lagi..Bencana Lagi, Ada Apa deng...
  Cukup Islam, Tak Perlu UU Kesetaraan Gen...
  Tak Mengenal Poligami, Tapi Memilih Seli...
  Islamic Book Fair, Seharusnya Bukan Seke...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved