Home Internasional

 
Share |
Kristen Suriah Berpartisipasi dalam Revolusi


 

Sabtu, 04 Februari 2012

 

Hidayatullah.com—Ada kesan umat Kristen Suriah berdiri di sisi rezim Presiden Bashar Al-Assad, namun menurut jurubicara kelompok oposisi, Kristen Suriah juga terlibat aktif dalam revolusi lewat politik dan media.

George Sabra, jubir Dewan Nasional Suriah, dalam wawancara di acara Nuqtat Nizam di televisi Al Arabiya (03/02/2012), menjelaskan bahwa umat Kristen Suriah tidak berpartisipasi dalam revolusi secara massal.

Terkait dengan peran gereja, Sabra menjelaskan, alasan utama mengapa Kristen Suriah tidak turun ke jalan-jalan untuk berdemonstrasi adalah karena gereja tidak mengambil sikap yang jelas. Sejumlah tokoh gereja terdengar mengutarakan kekhawatirannya akan keadaan umat Kristen di Suriah.

Namun menurut Sabra, seharusnya Kristen Suriah tidak membandingkan nasib mereka dengan keadaan yang dialami umat Kristen di Iraq pascarezim Saddam Hussein. Sebab, sejarah Suriah berbeda dengan Iraq.

Sabra menambahkan, selama periode demokrasi, kehadiran umat Kristen di kancah politik melebihi kehadiran sosialnya, di mana jumlah populasi mereka rendah. Arti penting umat Kristen di bidang politik ditunjukkan dengan perannya dalam masyarakat, di mana mereka terlibat saat kondisi baik maupun buruk.

Terkait dominasi Al Ikhwan di Dewan Nasional, Sabra mengatakan bahwa kelompok Islam di Suriah bersifat moderat dan Al Ikhwan Suriah sendiri menyatakan sebagai kekuatan yang moderat.

Di pihak lain, Sabra menyanggah pernyataan Uskup Agung Katolik Roma di Aleppo Jean Jean-Bert yang menyatakan bahwa ia tidak mempercayai otoritas Sunni (Muslim) ekstrimis. Menurut Sabra, pernyataan itu keliru, sebab pada awal masa kemerdekaan Suriah di pertengahan tahun 1940-an, Muslim dalam beberapa kesempatan menominasikan perdana menteri dan jurubicara parlemen dari kalangan minoritas Kristen Protestan, yang mereka panggil sebagai “bos”.

Lebih lanjut Sabra menyatakan bahwa Dewan Nasional memiliki sejumlah kelemahan, antara lain di tingkat pembuatan keputusan. Dan kelemahan itu menjadi tanggungjawab dari Presiden Dewan Nasional Burhan Ghalioun.

Patut diketahui bahwa Sabra, yang meninggalkan Suriah akhir tahun 2011, pernah dipenjara selama delapan tahun saat rezim Hafiez Al Assad berkuasa dan ia pernah ditahan pada masa revolusi ini. Sabra menjadi salah satu calon kuat pengganti Ghalioun, jika mandat kepemimpinannya di Dewan Nasional berakhir.*

 


Red: Dija

Share |
 
KOMENTAR
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Internasional Lainnya
  Kristen Koptik Dukung Kandidat Pengusung...
  Pakistan Blokir Twitter sebab Melecehkan...
  Akhir dari Pengawasan Berdasar Ras dan A...
  Diprotes di Indonesia, Justru Lolos di M...
  Pejabat Kementerian Malaysia Sebut Buku ...
  Aljazair Mulai Garap Masjid Terbesar Ket...
  KTT NATO di Chicago Didemo Ribuan Orang ...
  TKW Indonesia Dituduh Guna-Gunai Majikan
  Libanon Minta Tiga Negara Teluk Pertimba...
  Amnesty Peringatkan Nasib 6 Warga Arab d...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved