Home Opini

 
Share |
Ahlussunnah dan Sikap Caci-maki Ulama


 

Senin, 23 Januari 2012

Oleh: Khairil Miswar

BEBERAPA waktu lalu  penulis sempat terjebak dalam status Facebook milik seseorang yang mengakui dirinya sebagai seorang santri dan sekaligus seorang mahasiswi di salah satu Universitas Swasta di Aceh.

Dalam status Facebook wanita tersebut penulis mendapati puluhan bahkan ratusan komentar yang menyudutkan para ulama, khususnya para ulama penegak sunnah. Diantara ulama yang menjadi sasaran Facebooker tersebut adalah Syeikhul Islam Ibnu Tamiyah رحمه الله  , Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله   dan Syeikh Muhammad Nahieruddin Al Al bani رحمه الله .

Dalam banyak kasus, kejadian seperti ini juga terjadi di masarakat. Pelakunya bahkan tokoh terpandang dalam Islam .

Entah apa yang menyebabkan saudara kita tersebut sangat membenci para ulama.  Dalam status Facebook tersebutdia bukan saja mencaci tetapi sampai menyesatkan dan bahkan mengkafirkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله  . Sungguh sangat disayangkan apalagi kata – kata cacian tersebut keluar dari mulut (via Facebook) seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai seorang santri.

Penulis juga pernah menjadi santri selama sebelas tahun (umur 7 tahun sampai 18 tahun ). Sebagai mantan santri penulis juga sangat keberatan dengan ulah orang – orang yang menghina ulama. Pada dasarnya penulis tidak bermaksud memperlebar persoalan ini apalagi hal tersebut terjadi di dunia maya, namun mengingat para ulama yang menjadi sasaran, maka sangat tidak etis rasanya apabila dibiarkan begitu sja.

Abu Darda رضى الله عنه  meriwayatkan sebuah hadits bahwa Nabi   صلى الله عليه وسلم  pernah bersabda: “ Sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi, Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu” ( H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Berpedoman pada hadits ini sebagai umat Muhammad صلى الله عليه وسلم sudah selayaknya kita menghormati para ulama. Dalam hadits ini juga terlihat jelas bahwa para ulama dihormati karena ilmunya, adapun orang – orang yang bergaya sok ‘alim tapi tidak berilmu maka tidak dikatagorikan sebagai ulama. Menurut penulis persoalan ini harus benar – benar difahami khususnya bagi para penuntut ilmu semisal santri dan mahasiswa.

Pembimbing umat

Ulama adalah orang – orang yang dianugerahkan ilmu oleh Allah سبحا نه وثعالى, namun demikian ilmu itu mereka peroleh melalui proses belajar yang panjang, bukan melalui proses bertapa atau semedi seperti yang disangka oleh sebagian orang. Ulama adalah penunjuk jalan dan pembimbing umat setelah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم. Jika yang
mereka sampaikan adalah ilmu yang berasal dari Allah سبحا نه وثعالى dan Rasulnya صلى الله عليه وسلم  sangat tidak layak dan tidak patut bagi kita untuk mencela mereka apalagi sampai menuduh mereka sesat.

Apalagi jika ilmu kita masih dibawah mata kaki (bahasa Aceh; ‘et tum’et). Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama rabbani yang tidak pantas kita cela apalagi ilmu yang kita miliki tertinggal jauh jutaan kilometer dari ilmu beliau. Umur sepuluh tahun beliau
telah hafal Al–Quran dan menguasai berbagai macam ilmu syar’i seperti hadits, ushul fiqh dan tafsir sedangkan kita membaca “Bismillahirrahmanirrahim” saja harus merangkak seperti kura – kura keracunan.

Demikian juga dengan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Syeikh Muhammad Nashieruddin Al – Al Bani mereka adalah ahli ilmu bukan ahli fitnah seperti kita. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan semangat jihadnya telah menghancurkan berbagai bentuk simbol – simbol kesyirikan yang disembah dan dipuja oleh “Ahlul Hawa” (pengikut hawa nafsu). Seharusnya kita berterima kasih kepada beliau bukan malah sebaliknya menuduh beliau sesat. Sejarah juga telah mencatat bahwa Syeikh Al Bani menghabiskan waktunya lebih dari dua puluh tahun hanya untuk meneliti hadits, tidak seperti kita yang setiap hari tersibukkan dengan judi poker malah tiba–tiba berani menyesatkan beliau. Syeikh Al Bani membeli makanan untuk diri dan keluarganya melalui jerih payahnya dengan usaha reparasi jam, bukan seperti orang – orang yang mengaku ‘alim hari ini yang tersibukkan dengan proposal dan mengiba kepada penguasa.

Jangan Tertipu Penghasut

Penulis menduga bahwa saudara kita yang menghina ulama di Facebook tersebut telah termakan oleh cerita – cerita dusta yang sengaja dihembuskan oleh “Ahlul Hawa”. Tujuan mereka tidak lain Cuma ingin menjerumuskan umat ini dalam kesesatan. Mereka menisbatkan cerita – cerita dusta dan palsu kepada ulama ahlussunnah semisal
Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Cerita – cerita dusta tersebut menurut penulis kemungkinan besar ditularkan beberapa penulis buku. Sebenarnya sah – sah saja membaca buku tersebut, namun sebagai seorang yang hidup dilingkungan ilmiyah (mahasiswa dan santri) seharusnya mereka harus mampu membandingkan isi buku tersebut dengan ratusan referensi lain yang menyajikan fakta berbeda. Sebaiknya jangan hanya terpaku dengan buku – buku yang berasal dari satu sumber. Bagi seorang mahasiswa dan santri kemampuan analisa sangat dibutuhkan agar mampu bersikap bijak dan mampu melahirkan kesimpulan yang tidak keluar dari standar ilmiyah.

Tak Pantas Menghinakan Ulama

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik رضى الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidak beriman seseorang daripada kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (H.R Bukhari dan Muslim).

Jika kita mau berfikir sehat dan rasional tentunya hadits ini bisa menjadi dasar bagi kita untuk saling mencintai sesama muslim, bukan sebaliknya saling mencaci dan menghujat. Dalam hadits lain yang juga terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim, bersumber dari Abdullah bin Mas’ud رضى الله عنه, Rasul  صلى الله عليه وسل  bersabda: “Membenci seorang muslim adalah sebuah kefasiqan dan memerangi mereka adalah sebuah kekafiran” (H.R. Bukhari
Muslim). Tidakkah kita faham apa yang dimaksud oleh Nabi صلى الله عليه وسلم? Kita dilarang untuk membenci dan menghujat seorang muslim.

Apalagi yang kita hujat itu adalah ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan juga ulama – ulama lainnya. Kita juga jangan tersegasa – gesa menuduh mereka (ulama) telah sesat. Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari رضى الله عنه, Rasul  صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa memanggil seseorang dengan sebutan kafir atau menyebutnya sebagai musuh Allah sedangkan
(mereka yang dituduh) tidak demikian (bukan kafir) maka kekafiran itu akan kembali kepadanya (sipenuduh). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya.

Sebagai seorang santri dan mahasiswa yang mengaku dirinya sebagai ahlussunnah waljama’ah perlu dicatat, diingat dan jika perlu harus dihafal bahwa salah satu ciri – ciri ahlussunnah waljama’ah adalah tidak mudah mencaci --apalagi-- mengkafirkan orang lain. Perilaku yang mudah mengkafirkan orang mukmin adalah perilaku khawarij, jangan sampai kita menyamai mereka dalam hal ini.

Akhirnya hanya kepada Allah kita semua akan kembali sambil mengharap wajahNya serta diampuni segala dosa dan kesilapan yang telah terlanjur kita perbuat. Wallahu Waliyut Taufiq.

Penulis adalah alumni IAIN Ar – Raniry Banda Aceh / Peminat Kajian Sosial dan Keagamaan

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Ayoe , Senin, 23 Januari 2012
“Hentikan Stigma–Stigma yang menyesatkan kaum muslimin yang lain"
  
   
  Gemblung , Senin, 23 Januari 2012
Saya setuju dgn anda bhw adalah dosa besar mencaci maki sesama muslim apalagi thd para ulama. Namun ada asap juga karena ada api. Golongan yg salalu berdakwah dgn merujuk pada ulama2 di atas juga perlu memperbaiki & instorspeksi diri untuk tidak terlalu bernafsu & tergesa2 dlm membidahkan /menyesatkan para Ulama ataupun kelompok2 yg tidak sefaham dgn mereka di tempat yg mayoritas tidak berfahamm dgn faham mereka. Bahasa awamnya TAU DIRI lah! Dan semoga Hidayatullah ttp istiqomah tidak menjadi corong terhadap salah satu golongan (manhaj) tertentu spt halnya kebanyakan situs2 Islami yg lain.
  
   
  Nov , Senin, 23 Januari 2012
di satu sisi, ini bagian dari kampanye anti radikalisme dan anti fundamentalisme yg berada 1 gerbong dgn paham-paham liberal, pluralisme, dan sejenisnya, yg didukung oleh para pemodal, penguasa korup, dan media anti Islam. intinya mereka memang ingin mengubah konstruksi Islam yg lurus dan kaffah seperti yg diajarkan Rasulullah SAW. tapi di sisi lain, hrs diakui pula makin menjamurnya kelompok-kelompok yg mengklaim sbg penganut Islam yg paling benar seraya menebar benih perpecahan dgn menghujat kelompok lain. diperparah pula dgn sikap beberapa kelompok Islam yg mengambil jalan anarkisme dlm memberantas kemungkaran. cobalah dalami riwayat Rasulullah SAW, khalifah, dan ulama terdahulu. betapapun tegas dan kerasnya fatwa yg mereka keluarkan, tapi perilaku dan tutur kata mereka jauh dari kekerasan
  
   
  Adam , Senin, 23 Januari 2012
Terima kasih atas tulisannya saudara Khairil miswan, miris hati kita melihat kondisi itu apa lagi di ucapkan oleh seorang santri dan juga mahasiswa. Memang di masyarakat kita masih melekat kuat anti Muhammad Abdul Wahab dan ulama yang lain yang semuanya itu di tanamkam ke kepala orang orang kita oleh snough hugranye yang tujuannya supaya kita tetap mencampur adukkan agama dan budaya.kita semua berdoa ke pada ALLAh semoga anak anak kita dan juga santri yang tadi di tunjukkan jalan yang mulia>
  
   
  Biksen , Senin, 23 Januari 2012
tulisan ber belit2
  
   
  Buana , Senin, 23 Januari 2012
Trima kasih, kita harus dengan tenang berfikir,..kalau yaqin dengan kebenaran yang akan didakwahkan...lakukan dengan etika dan estetika yg baik. Teliti apa yg dikatakan..jgn melihat siapa yg mengatakan. Kalau yg dikatakan sesuai Alquran dan Hadist yg terima.
  
   
  Anto , Selasa, 24 Januari 2012
hal itu terjadi krn mayoritas umat muslim dinegeri ini beragama krn keturunan, jd hanya ikut2A BAIK DLM BERAMAL MAUPUN BERPENDAPAT, atau terdogma oleh agama yg bersaput adat TURUN TEMURUN lalu jd fanatik buta thd apa yg diamalkan selama ini, spt memakai kacamata kuda, didukung kemalasan mencari dalil dr agama yg dia anut. lalu bermental senang dg kenyamanan tdk siap dg perubahan...
  
   
  Saya , Selasa, 24 Januari 2012
marilah kita saling introspeksi diri masing2. Berbeda pendapat bolehz, tapi jangan saling menyesatkan dan merasa golongan sendiri paling benar. Sebenarnya inilah akar permasalahnnya. Karena ada slah satu golongan yg merasa paling bersih sehingga dengan mudah menvonis golongan lain bidah(sesat). Mudah2n hidayatullah menjadi media untuk seluruh umat islam, bukan media golongan tertentu,,amiin
  
   
  Ayoe , Selasa, 24 Januari 2012
yah,, komentarku di"SENSOR" ama admin!
  
   
  Masruddin , Kamis, 26 Januari 2012
bersikaplah seperti empat mazhab yang ada, mereka tidak saling menyalahkan satu sama lain terhadap fatwa yang mereka keluarkan tapi saling melengkapi.
  
   
  Vai , Ahad, 29 Januari 2012
jadi sebenarnya syaikh muhammad bin abdul wahhab itu gimana sh? saya pernah denagr pengikutynya menghancurkan kuburan baqi? benarkah?
  
   
  A Hamzah , Ahad, 29 Januari 2012
Satu pencerahan yang bagus.... sesungguhnya ada kalanya "Allah halang ilmu dari akal", ini yang menjadikan seseorang itu tersasar.
  
   
  Bedil , Rabu, 01 Februari 2012
YA SMG ALLOH SWT MEMBERIKN KEPHAMAN KPD MASYRK AWAM BAHWA ULAMA2 TERSBT ADLH BENAR2 PENYERU PD YG MAKRUF DN BUKAN AHLI BID'AH.... UMAT ISLAM HRS RAPATKAN BARISAN DN BERSATU HANCURKN KEBODOHAN UMAT
  
   
  Ardina , Rabu, 08 Februari 2012
lalu bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap ahmadiyah? kata temen2, mereka juga bersyahadat, sholat, zakat, berhaji,ds
  
   
  El Yardi , Kamis, 09 Februari 2012
Cara memahami Islam oleh Muslim saat ini, alhamdulillah lebih kritis. Dahulu apa yang dikatakan oleh guru (kiyai) semuanya (hampir) dipercaya tanpa ditanya mana dalilnya. Saat ini, kitab-kitab ulama-ulama muktabar sudah banyak diterjemahkan dan semua Muslim bisa membaca. Siapa pun yang membuka diri, akan mendapati siapa sesugguhnya ulama sejati yang memeliki keilmuan Islam yang mumpuni. Sikap menyalahkan tanpa hujjah yang kuat, sungguh ia telah menunjukkan kualitas siapa dirinya sendiri. Wallahua'lam
  
   
  Siswan , Kamis, 09 Februari 2012
tulisanya berbelit2 memangnya universitasnya apa ? karena ad universitas syiah kuala di aceh
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Opini Lainnya
  20 MEI Hari Kebangkitan untuk Siapa?
  Kesamaan Antara Irshad Manji dan Darmogh...
  Kampanye Deradikalisasi dan Kepentingan ...
  Melawan Mindset Konsumerisme
  Menjernihkan Potret Buram Pendidikan Ind...
  SuJu, Bieber, dan ‘Kegilaan’ Remaja Kita
  Pesawat Israel dan Masalah Komunikasi Pe...
  Mampukah Pemimpin Baru Membawa Penerapan...
  Antara Kartini dan Sayidah Aisyah
  Menggugat Peringatan Hari Kartini
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved