Home Wawancara

 
Share |
HNPT: Perlu Pemetaan Batasan yang Disebut Radikal


 

Senin, 02 Januari 2012

Hidayatullah.com--Medio tahun 2009 lalu, sebagian umat Islam Indonesia dikagetkan dengan kegiatan yang dinilai sebagai upaya deislamisasi dan terorisasi syariat Islam. Saat itu, tak kurang dari 100 orang dari berbagai ormas Islam se-Jatim dan pengurus MUI hadir memenuhi undangan MUI Jatim dalam acara “Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme”.

Selain di Jawa Timur, acara serupa juga diselenggarakan di enam kota besar Indonesia, meliputi Jakarta (11 Nopember), Solo ( 21 Nopember), Surabaya (28 Nopember), Palu (12 Desember), dan rencana terakhir di Medan (30 Desember). Program halaqah ini sendiri digagas MUI Pusat dan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN) yang diketuai oleh Wahyu Muryadi (Pimred Majalah Tempo). 
Yang acap dinilai tak adil, program halaqah ini kerap menghadirkan Deputi Badan Intelejen Negara dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, sebagai pembicara.

Pernyataan Ansyaad sendiri selama ini dinilai kerap menuding tak berdasar. Ansyaad Mbai pernah berkata bahwa penyusupan ajaran radikal semakin luas, sudah masuk hingga ke perguruan-perguruan tinggi elite, bukan perguruan tinggi pinggiran. Bahkan, menyusup ke perkantoran dan mempengaruhi karyawan.

Tokoh Islam di Indonesia juga menilai agenda “Halaqah Nasional” sarat pesanan. Pasalnya, setiap kegiatannya selalu dihadiri para petinggi Polri, BIN, dan pejabat BNPT, sekalipun acara tersebut digagas MUI bersama FKPMN. Bahkan yang dihadirkan sebagai pembicara adalah orang-orang yang hanya merepresentasikan kepentingan BNPT atau aparat saja.

Apa sesungguhnya latar belakang dididirikannya Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme (HNPT) ini? Apa misi dan agenda di balik pendiriannya? Berikut petikan wawancara Hidayatullah.com dengan penggagas dan Ketua Steering Committee HNPT Wahyu Muryadi. Sebagaimana diketahui, Wahyu Muryadi adalah mantan aktivis masjid UNAIR, yang pernah dekat dengan (alm) Gus Dur, bahkan diangkat menjadi kepala protokol istana presiden. Berikut wawanca lengkapnya:

Anda penggagas Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme?
Terus terang memang saya yang punya ide bersama Sekretaris Komisi Fatwa MUI. Yaitu bagaimana kita bikin halaqah, pertemuan, pengkajian, diskusi, seminar segala macam secara intensif di tempat tempat yang kita nilai sebagai basis terorisme. Yang pertama kita lakukan di Jakarta karena momentumnya pas bertepatan dengan rencana kedatangan Presiden Obama waktu itu.

Idenya berawal dari mana?
Idenya itu dari kami Forum Praktisi Media Nasional. Kan kebetulan kantor majalah Tempo tidak jauh dari kantor MUI, kita sering kontak-kontak sama mereka. Kebetulan beberapa pengurus di sana adalah temen-temen dari NU, temen-temen saya juga.

Kita ngomong-ngomong bagaimana kalau kita ini membikin satu acara yang merupakan follow up dari acara yang sudah dibikin oleh MUI sendiri. MUI kan telah mendirikan lembaga semacam tim penanggulan terorisme yang diketuai oleh Kyai Ma’ruf Amin. Saya pikir soal terorisme itu adalah persoalan yang tidak bisa dibicarakan sekilas. Dia harus jangka panjang.

Apa misi dari halaqah ini?
Apa yang kita bahas di sini adalah merupakan satu konklusi, atau ijma’ bersama dari umat Islam dalam memandang masalah terorisme ini yang mungkin bisa disampaikan kepada pihak pengambil keputusan, termasuk kepada istana, agar masyarakat jangan salah paham bawah Islam itu tidak seperti itu.
 
Angle atau sudut pandang yang kami pilih dari halaqah ini tentang bagaimana ajaran itu disebarluaskan melalui pendekatan yang benar. Karena asumsi kami, tanpa menafikkan adanya faktor-faktor lain sebagai akar munculnya terorisme, kami melihat ada satu fokus yang perlu kita kaji lebih dalam, yaitu soal ajaran. Bagaimana ajaran atau pesan-pesan Islam itu disampaikan oleh para ulama sehingga tepat sasaran dan tidak disalahtafsirkan dan lebih-lebih tidak disalahgunakan. Makanya yang kita inginkan adalah menegakkan peran keulamaan untuk menyatukan ajaran Islam yang benar. Karena kami anggap ulama sebagai pewaris Nabi, Warasathul ‘Anbiyaa. Pesan pesan itu yang ingin kita petik.

Halaqah pertama kali digelar di mana?
Pertama digelar di Jakarta karena di sini pusatnya. Baru kemudian disusul ke Bandung, Jawa Barat. Ini diharapkan untuk mewakili problem-problem potensi terorisme yang kebanyakan muncul dari situ.

Dari Jawa Barat kemudian ke Solo, Jawa Tengah. Solo ini kita pandang lebih “hot”-lah ya. Di situ ada Ngruki, tapi kita tidak bermaksud untuk memberikan satu tuduhan bahwa Ngruki pasti menjadi pengekspor teroris. Maka kita kumpulkan ulama-ulama ini dari berbagai organisasi untuk bicara.

Setelah itu diadakan di Surabaya. Kita tahulah di sana ada Tenggulun, Lamongan, segala macam. Setelah itu ke Palu dan Medan. Baru ada enam kota karena kemampuan kita baru sebatas itu.

Halaqah sempat mandeg dalam waktu lama, kenapa?
Kenapa tidak diteruskan, sebenarnya kita sayang juga. Makanya saya usulkan untuk mengangkat topik-topik yang serius, sehingga menjadi perhatian media massa. Utamanya untuk mencermati isu-isu tentang Millenium Development Goals (MDGs). Dari MDGs itu kemudian ada satu topik yang kami anggap menarik yaitu persoalan terorisme ini.

Dalam pembicaraan formal yang saya lakukan dengan beberapa tokoh agama, termasuk dengan Kyai Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum NU waktu itu, beliau mengeluh, kenapa ulama kok kayaknya tidak terlalu dianggap penting dalam isu melawan terorisme.

Kalau ada muncul isu-isu itu biasanya yang langsung bergerak adalah Densus 88, yang sibuk dengan kegiatannya sendiri, pencarian dana segala macam. Ulama baru diajak ngomong kalau dampaknya sudah sedemikian meluas. Sehingga ulama hanya diperankan sebagai alat pemadam kebakaran saja.  Itu kan kurang tepat.

Menurut Anda, peran ulama seharusnya seperti apa?
Saya beranggapan seharusnya sejak dulu ulama harus dilibatkan karena isu-isu ini menyangkut isu keagamaan yang kebetulan disalahpahami adalah Islam. Lah, ulama ini siapa. Ulama itu, ya, mereka yang mewakili secara kelembagaan organisasi-organisasi Islam. Kesemuanya itu berkumpul ke dalam satu wadah yang namanya MUI.

Ke depan, apakah halaqah ini akan terus dilanjutkan?
Memang harus berkelanjutan ini. Sekarang saya lagi merancang untuk follow up-nya untuk kota-kota lain. Bahkan kejadian bom-bom kan membuktikan bahwa terorisme itu berakar di tanah air. Seperti Densus yang mengatakan, memberantas terorisme ini seperti cukur jenggot. Habis dicukur akan tumbuh lagi.

Angka terorisme di Indonesia memang cukup mencengangkan. Dari gerakan-gerakan ini bahkan bukan saja ratusan tapi ribuan di berbagai tempat. Kita juga tahu masih banyak, atau ada lebih seribu mahasiswa kita yang belajar di Pakistan, Yaman, segala macam.

Kenapa, apakah ada yang salah mereka belajar di Pakistan atau Yaman?
Itu bisa jadi potensi. Katakanlah, ajaran yang mereka bawa dari sana itu berbeda dengan mainstream dengan pemahaman Islam yang ada di Indonesia. Kalau begitu kan akan repot nanti.

Sekarang ada sekitar 240-an teroris yang sudah dipenjara yang kemudian dibebaskan karena tidak ada bukti. Tapi ada juga di antara mereka yang memang sudah habis masa hukumannya.Ada juga di antara mereka yang sudah terbukti melakukan pemboman. Ini kan menarik, sementara di sisi lain ada program deradikalisasi yang digagas oleh pemerintah yang nggak jalan.

Bagaimana peran Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT)?
Badan ini kan baru saja dibentuk menjadi badan di bawah organ Kemenkumham (Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Kemananan). Tapi lembaga ini mengeluh karena nggak ada anggarannya. Dia gak bisa bergerak untuk melakukan apa pun.

Dari mana sumber anggaran untuk proyek halaqah ini?
Dari teman-teman berbagai media nasional yang peduli mengadakan acara kayak gini. Kita bikin murah meriah. Ini murni inisiatif dari orang per orang media dan teman-teman dari organisasi keislaman.

Ada sumbangan dari luar negeri atau lembaga lainnya?
Tidak ada. Ini murni hanya partisipasi teman-teman saja dan MUI. Tadinya saya berharap pemerintah bisa ikut memberikan dukungannya, tapi itu tidak ada. Ya sudah, kita tetap jalan saja.

Apakah BNPT tidak membantu?
Kita tidak ada urusan dengan BNPT, kan mereka sendiri gak ada anggaran. Kami hanya meminta Pak Ansyad Mbai menjadi pembicara dalam acara acara halaqah ini.
 
Menurut Anda, apa pengertian radikal dari sudut pandang HNPT?
Ya radikalisasi yang dalam gambaran praktisnya itu lebih banyak mereka itu memanfaatkan, atau menggunakan dan menyebarluaskan dalil-dalil agama yang mengumbar kebencian, yang semata-mata lebih menonjolkan aspek-aspek kekerasan atas nama Islam. Dan ini sudah semakin semarak di mana-mana.

Apakah ada format khusus dari HNPT tentang deradikalisasi?
Memang sempat muncul beberapa masukan dari pembicara melalui makalah-makalah yang mereka sajikan. Tapi kemudian itu tidak secara spesifik kami jadikan sebagai format atau program yang menurut kami paling ampuh untuk mencapai saat seperti itu.

Target dari halaqah ini masih semata-mata sifatnya ta’aruf, saling mengenal. Jadi lebih kepada pemetaan dari problematik isu terorisme yang bertitik tolak dari kesalahapahaman dan penyalahgunaan ajaran. Jadi apa itu benar itu terjadi, apa benar ini serius, ini yang kita bahas bersama.

Nah yang hadir sebagai narasumber adalah pihak-pihak yang kami anggap berkompeten untuk bicara soal itu. Ada dari ulama MUI tentu saja ada, BNPT sendiri, kemudian dari intelijen, dan juga dari kepolisian, utamanya Densusnya. Dan yang terakhir mengundang para akademisi.

Tapi, narasumber yang Anda hadirkan dalam halaqah terkesan selalu satu arah?
Ya formatnya selama ini seperti itu dan memang masih ada kritik karena terkesan masih sepihak. Dari pembicara kepada floor, tapi floor-nya tidak mendapatkan kesempatan banyak untuk bicara karena memang juga waktunya sangat terbatas. 
Sehingga format dalam acara yang lain nanti, Insya Allah, halaqah akan kita ubah nantinya, bukan lagi pembicaranya yang terus bicara, tapi semua bebas bicara. Pembicara ada sesi sendiri, floor juga sendiri, sehingga tidak ada sekat. Mungkin nanti bentuknya adalah diskusi panel atau focus group discussion.

Ada kesan yang ingin diciptakan bahwa radikalisasi lekat dengan atribut Islam, seperti mereka yang membaca buku jihad, bercadar, atau singkatnya mereka yang menjalankan ajaran Islam?
Nggaklah. Kita nggak sampai ke sana. Justru kita luruskan stereotip yang sangat salah atau sikap sinikal seperti itu. Kita lebih, bagaimana ajaran, ideologi, atau doktrin doktrin yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, kesalahpahaman tafsir, dan juga penyalahgunaan. Dan hal ini juga memang belum tuntas. Rasanya pun ini kami harus gulirkan terus pada kesempatan forum-forum berikutnya.

Apakah peran media Islam dalam penanggulangan terorisme sudah maksimal?
Belum. Media Islam umumnya masih terjebak dalam glorifikasi terhadap jihad. Semestinya, kalau memang mau menjadi media dakwah, itu sah-sah saja dan wajib itu harus dilakukan. Mungkin kita tidak terlalu penting dengan hasil komersialnya, tapi lebih kepada pentingnya nilai-nilai jihad Islam itu.

Anda bikinlah semacam liputan yang yang memuat distingsi antara kita dengan ajaran-ajaran kelompok kelompok teroris, di mana sih batasannya itu. Di mana yang masih bisa ditoleransi, di mana yang disalahpahami. Itu harus dibikin pemetaannya, dong.

Anda harus serius untuk menampilkan cover story semacam itu. Saya yang kebetulan di Tempo membikin edisi liputan terorisme dan tentu saja itu masih ada saja kelemahannya karena kebanyakan bersumber dari polisi.

Media Islam harus berperan untuk membantu meredam dan syukur-syukur bisa melakukan pemberantasan terorisme yang sangat dikutuk dan tidak dibenarkan oleh Islam.*
Rep: Ainuddin Chalik
Red: Syaiful Irwan

Share |
 
KOMENTAR
   
  Farhan Beis , Senin, 02 Januari 2012
Hmmm gak heran. Wahyu yang saya kenal dulu tdk spt wahyu yang skr. Wahyu skr, lebih terpengaruh pikiran liberal-Nya mas Gun. Lagian, ia besar, krn dpat balas budi dr GD. Sebab wahyu-lah yg ikut berjasa membesa2rkan GD saat masih wartawan di sby. Selamat ya Yu, akhirnya ente bisa dkt2 dengan kekuasaan. Maklum, lama jadi mahasiswa kos2an mlarat. skr tinggal menikmati pundi2 :). Skr, ente mirip Aqil Siroj, asal tak sama dengan NU, ente berangus semua meminjam tangan BNPT dan densus.  mudah2an jasamu ini akan dikenang malaikat di akherat
  
   
  Cak_pirman , Senin, 02 Januari 2012
@Farhan: setuju. Bukankah ini anak FE, mantan ketua UKKI era 80-an? lha sjk dkt GusDur dan di Tempo, malah banyak menjadi corong BNPT gebuki anak2 masjid. Ya begitulah, kata dahlan iskan, "orang bisa mengatakan tuhan pemurah jika ada duit." Jadi "idiologi" duit bisa saja merubah segalanya, termasuk rela memakan bankai saudaranya. Kliping saya cukup banyak, Tempo "mencaci" maki syariat! mau bukti?
  
   
  Untung , Senin, 02 Januari 2012
daripada ngurusin yang seperti ini, mendingan tuh gimana agar korupsi tidak terus merajalela, yang bikin rusak negara ini nih, bukan umat Islam . . umat Islam tuh terus menerus dizalimi , , dibodohkan, dicurigai , , . . . maunya apasih ! ! ! . . Umat Islam tuh udah kurang sabar gimana . . dimiskinkan sampai menjadi TKI pun dilakoni, , , dibodohkan dengan privatisasi pendidikan . . masih juga kurang puas . . . Teroris . . . teroris . . . Apa bedanya penguasa sekarang ini dengan kaum penjajah tempo dulu . . yang selalu menyebut : ekstrimis, fundamentalis . . . .
  
   
  Hakam Marbun , Senin, 02 Januari 2012
@Farhan/Pirman: Komentar ente menandakan ente begitu egois dan tak bisa menerima perbedaan. Apa yg dikatakan pak Wahyu di atas benar bahwa terjadi kesalahpahaman terhadap ajaran Islam. Jika ente mencerna kutipan wawancara di ats pasti ente bisa paham ketulusan hati beliau utk mnyampaikan Islam yg santun.
  
   
  Abdul Malik , Senin, 02 Januari 2012
Maa Syaa ALLOH !!! dua komen diatas ini cukup untuk menjadi nasihat yg berharga bagi wahyu ini agar segera tobat, kalo tidak juga mau tobat , bahkan semakin bertambah pengrusakannya terhadap citra mujahid2 ISLAM , maka saksikanlah !!! wahai sodara2ku kaum muslimin rohimakumulloh perhatikan baik2 kenali fotonya dan orng-orang semacamnya. agar besok jangan biarkan mereka2 ini sholat dimasjid2 kita ,usir mereka dari masjid2 kita sampai mereka kembali taat,tunduk dan menghormati SYARIAT ALLOH SWT (ISLAM KAAFFAH).itu juga kalo mereka masih menjalankan/melaksanakan sholat.
  
   
  Adul Malik , Senin, 02 Januari 2012
mas wahyu undang juga ulama -ulama yg dianggap oleh orang kafir sebagi teroris dalam dialog tersebut dan kalo bisa sekalian ditayangkan LIFE diseluruh stasiun TV yg ada di NKRI ini supaya semua manusia menjadi saksi sipa yg benar dan siapa yg salah. kalo sudah seperti ini ane jadi ingat kisah di dalam ALQURANULKARIIM tentang NABI MUSA AS dengan RJA FIRAUN la'natulloh dan para tukang sihirnya. dan kayaknya sejarah akan segera terulang kembali. ALLOHUAKBAR !!!
  
   
  Iis , Selasa, 03 Januari 2012
Iya, hargai perbedaan, toh wawancaranya bagus, gak salah, akur lah!
  
   
  Donny , Selasa, 03 Januari 2012
Tidak ada yang salah dri komentar pak wahyu. salam ini kan yg identik teroris adalah alumni dari Timteng, tidak semua pastinya. Teror bom memang tdk bisa ditolelir krn hanya mnjelekan citra islam. akhirnya yg tdk terlibat kena getahnya. lawan teroris yg bawa2 nama Islam.
  
   
  Uchon , Selasa, 03 Januari 2012
Aslkm, mmg sekali2 atau klo boleh sering2 juga nggak apa2 diadakan Dialog Nasional di TV secara LIVE jgn2 ada edit2 segala yang menghadirkan Pembicara2 yang dianggap "Teroris" dan yang mengatakan Teroris, supaya org2 awam tdk dibuat bingung. Nah dgn begitu nanti akan ketahuan yang mana Pejuang Islam Sejati maupun Pejuang Islam Bayaran atau yang mempartahankan Persatuan Umat Islam atau yang mau menghancurkan Persatuan Umat Islam
  
   
  Anto , Selasa, 03 Januari 2012
konfirmasi dan di konfrontir, spy jelas siapa yg komit dan jujur serta ikhlas dan siapa yg oportunis dan membawq titipan sponsor..saya setuju dg Uchon..., tp kapan ya...RCML4
  
   
  M.asrian Noor , Selasa, 03 Januari 2012
Ass,wr,wb Untuk melihat ada apa dibalik semua ini ( tujuan gerakan sesesorang/golongan)...lihat saja darimana ia berasal..siapa saja yg ada didekatnya dulu maupun sekarang ..siapa saja penyandang dananya.. InsyaAllah yg samar2 akan jadi terang... Semoga semua ini ada hikmahnya bagi kita kaum Muslimin di Indonesia ...Berpegang teguhlah pada tali Allah,bukan yg lain..InsyaAllah kita akan selamat dunia wal Akhirah...Amin !!!
  
   
  Wahyu Muryadi , Selasa, 10 Januari 2012
@Farhan, Pirman dll..sungguh keji tuduhan Anda kalau saya memakan bangkai saudara sendiri. Sebagai sabahat yg mengaku pernah kenal saya, sebaiknya Anda tabayyun, klarifikasi, ketimbang asal main tuduh tanpa dasar--lalu mengait-kaitkan dengan mas Gun dan Gus Dur yang sama sekali tak relevan. Cobalah Anda perhatikan, jika Anda memang ulul albab, adakah selama ini ada dialog intensif ihwal terorisme antara para stakeholders di negeri ini? Bukankah yang terjadi justeru tuduhan sepihak yg menyudutkan kaum muslimin yg taat dan kerap digambarkan dg stereortipe yg salah? Bukankah selama ini semua media massa punya kelemahan mendasar bhw liputan terorisme --spt saya akui-- banyak bersumber dari polisi/densus? Yang saya lakukan bersama teman2 media dan MUI justeru memberikan pemetaan dan batasan siapa sih sebenarnya teroris itu--termasuk biang state terrorism. Semuanya kudu dibahas lewat dialog sehat, menghadirkan semua gerakan Islam (termsuk FPI, Hizbut Tahrir dll), agar mereka bicara lepas tanpa diatur-atur, menyampaikan akar masalah terorisme ini, termasuk juga kritik thd Densus yg eksekusinya ngawur; yg hanya memanfaatkan ulama ketika kepepet. Sayang sekali Anda tidak hadir dalam kesempatan berharga itu...
  
   
  Guru Uban , Selasa, 10 Januari 2012
@Wahyu Muryadi. Saya tak tahu Anda Wahyu Muryadi beneran yang ketua HNPT itu atau cuma Wahyu Muryadi jadi-jadian. Whoever you are, semoga Anda sudah membaca 3 dokumen penting berikut: (1). National Security Strategy (baik versi awal yang dipublikasikan tahun 2002 maupun versi revisi yang dirilis pada tahun 2006). (2). National Strategy for Combating Terrorism dan (3). The 9/11 Commision Report. Mudah-mudahan Anda juga pernah membaca tulisan Michael Stohl dalam “Networks of Terror” yang terang-terangan mengutip perkataan biang kerok terrorisme dunia, George W Bush, sebagai representasi kaum Hawkies. Saya kutip ulang supaya Anda berkesempatan untuk menimbang ulang langkah-langkah Anda yang kelak akan Anda pertanggungjawabkan di depan mahkamah Alloh subhanahu wa ta’ala. Si Bush bilang, “ How will we fight and win this war? We will direct every resource at our command – every means of diplomacy, every tool of intelligence, every instrument of law enforcement, every financial influence, and every necessary weapon of war – to the disruption and to the defeat of the global terror network.” Ya. Si Bush berkali-kali menyebutkan bahwa Global War on Terrorism harus menghancurkan dan menghadapi ancaman sebelum mereka muncul. Before they emerge. Washington menyebutnya sebagai pre-emptive strike, dengan dua pilar utama: (1). Strategi-strategi untuk melumpuhkan dan menghancurkan organisasi-organisasi “terrorist”, dan (2). Melangsungkan dan memenangkan perang ide, the war on ideas. Senada dengannya, NSfCT pun menggelar konsep 4D (Defeat, Deny, Diminish, Defend). Tolong perhatikan strategi ke 2, Pak Wahyu Muryadi: DENY. Deny further sponsorship, support, and sanctuary to terrorists by ensuring other states to take action against these international threats within their territory, convincing reluctant states and compelling unwilling states). Tentu saja metode utamanya adalah carrot and stick. Kalau tunduk, kasih wortel. Kalau ngeyel, kasih penthung! Nah. Bush sudah lewat berganti Obama. Tapi ini adalah inersia sejarah Pak Wahyu. Wacana yang digelindingkan oleh biang terrorism itu telah menciptakan rangkaian kebijakan dan dampak-dampaknya, termasuk peperangan, struktur anggaran, proyek rekonstruksi, konflik horizontal, dan keruwetan konflik Negara. Tambah lagi, betapa maraknya PROYEKISASI dari proyeksi wacana GWoT oleh berbagai aktor di berbagai pelosok dunia, baik berupa penyesuaian dari aktor tertentu (terutama sekelompok elit di dalam rezim penguasa sebuah Negara) untuk memperjuangkan kepentingannya MEMINJAM MOMENTUM, BAHSA DAN RUANG yang dibentuk oleh Globar War on Terrorism ini. Serbia-Checnya-Degestan, Xinjiang-China, dan Pakistan adalah contoh nyata. Di Indonesia ini, barangkali kita menyaksikan HAL YANG TIDAK JAUH BERBEDA. ANDA SEDANG BERADA DI MANA DAN SEBAGAI APA, PAK WAHYU? Ya. Kekuatan, keliatan dan keliaran wacana GWoT yang Anda manfaatkan, telah memakan banyak korban: anak-anak yang terbunuh, kehilangan orang tua, atau kehilangan anggota tubuh, konflik yang semakin rumit dan carut marut, orang-orang yang dibinasakan tanpa sisa kemanusiaan, hingga berkuasanya curiga yang mencemari udara dan pikiran kita. Atas nama kemanusiaan, banyak yang mencabik kemanusiaan. Atas nama peradaban, banyak yang mempertontonkan kebiadaban. Atas nama masa depan, banyak yang mencoba mencuri masa depan. Bertobatlah, mumpung nyawa masih di tenggorokan.
  
   
  Abdul Malik , Sabtu, 28 Januari 2012
http://muslimdaily.net/berita/lokal/bedah-buku-kritik-dan-koreksi-deradikalisasi-bnpt-diadakan-di-masjid-al-fajar-bandung.html monggo si baca berita nya http://muslimdaily.net/artikel/studiislam/video-proyek-deradikalisasi-bnpt-menurut-munarman.html monggo sedulur di persaksikan supaya segera diketahui siapa saja mereka2 itu yg berusaha merusak indahmya DYARIAT ISLAM.... segeralah berTOBAT kalian semua sebelum para MUJAHIDIN dapat menangkapmu ato malaikat IZROIL datang untuk mencabut nyawamu . ALLOHUAKBAR !!!
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Wawancara Lainnya
  MIUMI Tegaskan RUU Gender Produk Liberal...
  Raja Papua yang Suka Berdakwah
  “MIUMI Himpun Potensi Ulama Muda Lintas ...
  Pastur dan Pendeta Ingin Habib Rizieq Da...
  Heppy Trenggono: “Riba Itu Masalah Menta...
  “Gerakan Syiah Indonesia Diremote dari I...
  "Menerjemahkan al-Qur`an tidak boleh sem...
  Menkes: Tidak Mudah Menghibahkan Uang Ke...
  “Turunan Yahudi di Indonesia Mendekati 2...
  “Menghina Islam Boleh, Menghina Gereja T...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved