Majalah Husnul Khotimah Studi Banding ke Majalah Suara Hidayatullah

"Kami ingin belajar kepada majalah Suara Hidayatullah bagaimana mengelola majalah, yang tadinya majalah komunitas bisa berkembang menjadi majalah yang tersebar luas."

Majalah Husnul Khotimah Studi Banding ke Majalah Suara Hidayatullah
M Abd Syakur
Kunjungan ke redaksi Majalah Suara Hidayatullah di Jakarta

Terkait

Hidayatullah.com–Sebanyak 33 orang dari Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat menyambangi kantor redaksi Kelompok Media Hidayatullah (KMH) di Polonia, Jakarta Timur, Selasa, (18/o2/2014) kemarin.

Kepala Divisi Humas dan Dakwah PP Husnul Khotimah Drs Diding Tarmidi datang didampingi Pimpinan Redaksi (Pimred) majalah Husnul Khotimah Sanwani dan  sekretaris majalah Haris Setiadi. Didampingi pula pimred sebelumnya Apriadi, serta Nono Sudana dan Ahmad Alfian Dzulfikar, keduanya staf pesantren.

Hadir pula puluhan santri yang juga kru majalah tersebut. Selain bersilaturahim, mereka melakukan studi banding tentang manajemen pengelolaan media dakwah Islam berbasis majalah dan online.

“Majalah Husnul Khotimah, majalah ini baru berusia 6 tahun, baru mulai tahun 2008. Sehingga perlu banyak studi banding, melihat majalah-majalah lain yang usianya lebih dahulu daripada kami,” ujar Sanwani dalam sambutannnya.

Rombongan ini diterima Pemimpin Redaksi (Pemred) KMH Mahladi, Pemred majalah Suara Hidayatullah Dadang Kusmayadi dan segenap jajarannya. Hadir pula staf Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YWASH) Mamik Hidayat.

“Kami yang pertama ingin belajar kepada majalah (Suara) Hidayatullah bagaimana mengelola majalah, tadinya majalah komunitas kemudian bisa berkembang menjadi majalah yang tersebar luas,” tambah Sanwani.

Di antara yang mereka pelajari mulai proses perencanaan sebuah majalah, naik cetak, sampai penyebarannya.

“Kemudian bisa sampai meyakinkan masyarakat bisa tahu membeli majalah ini gitu,” ujar Sanwani.

Mahladi mengatakan, dalam penggarapan sebuah majalah, ada proses-proses yang harus dilalui. Mulai rapat perencanaan hingga rapat evaluasi. Adapun di antara hambatan saat hendak memenuhi target deadline, adalah situasi kepepet.

“Yang harus kita bunuh kepepet itu,” ujarnya berpesan.

Majalah Suara Hidayatullah sendiri, katanya, adalah majalah yang dibuat oleh ormas Hidayatullah untuk umum.

“Jadi bukan majalah internal,” ujarnya memperkenalkan majalah tersebut kepada para tamu.

Sehingga majalah ini, lanjutnya, tidak hanya dibaca oleh orang-orang Hidayatullah. Tapi juga dibaca oleh saudara-saudara di Tarbiyah, Salafi, HTI, NU, dan sebagainya.

“Itu untuk merangkul semua kalangan tadi. Majalah ini tidak kepunyaan pribadi, jadi tidak menghidupkan untuk seseorang. Laba terbesar majalah ini untuk membesarkan organisasi,” ungkapnya.

Untuk Semua Kalangan

Seorang pengurus majalah Husnul Khotimah lantas bertanya, dalam rubrikasi, apa yang harus didobrak, mengingat majalah tersebut masih muda dan bersifat internal pesantren.

Mahladi menjawab bahwa sebaiknya sebuah majalah diterbitkan untuk umum, tak sebatas kalangan tersendiri.

“Kalau ada majalah hanya untuk kelompok dia saja, itu mempersempit. Orientasi kita kepada pasar,” jelasnya.

Meski begitu, majalah bukan berarti mengikuti pasar sepenuhnya. Harus punya koridor, tapi jangan dipersempit falsafahnya. Tidak menerima semua keinginan pembaca.

“Bisa kebablasan,” dalihnya.

Dadang Kusmayadi menjelaskan sejarah singkat majalah Suara Hidayatullah. Majalah ini telah berusia 26 tahun. Berawal dari keberadaan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang didirikan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said.

“Almarhum Abdullah Said mendirikan pesantren pada tahun 1970. Baru beberapa tahun kemudian, karena dakwahnya semakin banyak, makin diminati, sehingga ada inisiatif dari pengurus Pesantren Hidayatullah untuk merangkum, mencatat hasil ceramah-ceramahnya. Kemudian dicetak dalam bentuk buletin,” tutur Dadang.

Dari buletin itu, lanjutnya, majalah Suara Hidayatullah mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. Dalam perjalanannya, pengerjaannya pindah ke Surabaya dan kini berpusat di Jakarta.

Selain membahas majalah, Husnul Khotimah juga menanyakan soal penggarapan media online. Khususnya situs Hidayatullah.com di bawah naungan KMH.

Sanwani pun menyampaikan terima kasih atas studi banding yang berlangsung sejam lebih ini.

“Terima kasih atas ilmu telah diberikan kepada kami. (Mulai) semangat menjalankan majalah, kemudian beberapa masalah teknis di lapangan. Mudah-mudahan silaturahmi tidak sampai di sini saja,” pungkasnya.

Di akhir acara, diadakan serah terima cinderamata dari Majalah Husnul Khotimah kepada Suara Hidayatullah, dan sebaliknya.*

Rep: Muh. Abdus Syakur

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan aplikasi hidcom untuk Android . Install Sekarang !

Topik:

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !


Twitter Feeds

Blusukan’, Syeikh Sudais Mutasi Pengurus Masjid Nabawi bit.ly/1tJbmr1

Find Us