Home Catatan Akhir Pekan


Catatan Akhir Pekan ke-315
 
Share |
“Misi Kristen di Buku Sejarah SMP”


 

Kamis, 25 Agustus 2011

Oleh: Dr. Adian Husaini

DALAM sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “Perkembangan Kristen di Indonesia”. Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih. Namun, karena intervensi politik Barat, timbul kesan penyebaran Kristen identik dengan kolonialisme dan imperialisme. Dengan mempelajari bab ini, kita diajak untuk semakin sadar betapa campur tangan politik dapat merusak nilai-nilai luhur yang terkandung pada setiap agama.”

Pada bagian selanjutnya dijelaskan tentang kendala penyebaran agama Kristen di Indonesia: “Para penguasa dan penduduk setempat mencurigai para rohaniwan sebagai sekutu Portugis ataupun Belanda. Tindakan penindasan yang dilakukan para pedagang maupun pemerintah kolonial menimbulkan kesan bahwa Kristen identik (sama saja) dengan kolonialisme. Padahal para rohaniwan selalu datang dengan maksud damai.” (hal. 61)

Inilah salah satu contoh materi sejarah yang diajarkan kepada para pelajar SMP. Benarkah isi buku pelajaran sejarah tersebut? Ada baiknya kita simak penjelasan dari kalangan Kristen sendiri!

Pada tahun 2010, juga rangka memperingati 150 tahun Huria Kristen Batak Prostestan, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, bekerjasama dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Ecole francaise d,Extreme-Orient, dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menerbitkan sebuah buku berjudul Utusan Damai di Kemelut Perang, Peran Zending dalam Perang Toba: Berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan Penginjil RMG Lain, karya Prof. Dr. Uli Kozok, seorang professor kelahiran Jerman.

Prof. Uli Kozok membuka bukunya dengan sebuah kutipan seorang tokoh Gereja se-Dunia, Ph. Potter: “Gerakan penginjilan […] bermula bertepatan dengan waktu munculnya kolonialisme, imperialisme dan – sebagai akibatnya – rasisme. Oleh sebab itu maka gerakan penginjilan secara hakiki terkait dengan sejarah rasisme.”

Berdasarkan dokumen-dokumen di lembaga misi di Jerman yang mengirimkan Nommensen ke Tanah Batak, yaitu Rheinische Missions-Geselschaft (RMG), Prof. Uli Kozok menemukan fakta pengakuan Ludwig Ingwer (L.I.) Nommensen, tokoh misionaris Jerman di Tanah Batak, bahwa dia bergabung dengan pasukan Belanda untuk melawan gerakan perlawanan para pahlawan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII. Laporan Berichte Rheinische Missionsgeselschaft (BRMG), menunjukkan, para penginjil justru bersekutu dengan tentara penjajah dalam menumpas perlawanan Sisingamangaraja XII. Lebih jauh Prof. Kozok mencatat:

“Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan permintaan Nommensen, sehingga terbentuk koalisi Injil dan pedang yang sangat sukses karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama: Sisingamangaraja XII yang oleh zending dicap sebagai “musuh bebuyutan pemerintah Belanda dan zending Kristen.” Bersama-sama mereka berangkat untuk mematahkan perjuangan Sisingamangaraja. Pihak pemerintah dibekali dengan persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan modern, sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan adat istiadat dan bahasa. Kedua belah pihak, zending Batak dan pemerintah kolonial, saling membutuhkan dan saling melengkapi, dan tujuan mereka pun pada hakikatnya sama: memastikan bahwa orang Batak “terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. (BRMG 1882:202)” (hal. 92).

Dalam perang menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, pihak zending Kristen berhasil meyakinkan ratusan raja di tanah Batak agar berhenti mengadakan perlawanan dan menyerah kepada kekuasaan Belanda:

“Dukungan dan bantuan para misionaris yang mendampingi ekspedisi militer hingga ke Danau Toba juga mempunyai tujuan lain, yaitu meyakinkan masyarakat bahwa perlawanan mereka sia-sia saja dan mendesak mereka agar menyerahkan diri.” (JB 1878:31). (hal. 93).

Sementara, para raja yang tidak mau menyerah, didenda dan kampung mereka dibakar. Atas jasa para misionaris, terutama Nommensen dan Simoncit, pemerintah kolonial Belanda memberikan penghargaan resmi, melalui sebuah surat:

“Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil Rheinische Missions-Geselschaft di Barmen, terutama Bapak I. Nommensen dan Bapak A. Simoncit yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah diberikan selama ekspedisi melawan Toba. (BRMG 1879:169-170).” (hal. 93-94).

Selain surat penghargaan, para misionaris juga mendapat hadiah sebesar 1000 Gulden dari pemerintah kolonial yang dapat diambil setiap saat. Kerjasama antara misionaris Kristen dan penjajah Belanda berlangsung sampai Pahlawan Sisingamangaraja XII tewas dalam pertempuran tahun 1907. Dukungan kaum misionaris kepada pemerintah penjajah juga dimaksudkan untuk mencegah masuknya Islam ke Tanah Batak. (BRMG 1878:94).

Sikap pro-penjajah dari kaum Misionaris bukan hanya saat Perang Toba melawan Sisingamangaraja XII. Sikap para misionaris Kristen ini masih terus berlangsung di kemudian hari. BRMG 1897: 278-279 menulis laporan berjudul “Wie weiter auf Sumatra?” (Bagaimana Kelanjutannya di Sumatra?). Batakmission mengaku mengalami kendala untuk melakukan misi Kristen di Samosir, sebab Samosir masih merupakan “Tanah Batak Merdeka”. Selanjutnya, BRMG mencatat:
“Oleh sebab itu, “dapat dimengerti bahwa penginjil kita sangat menghendaki agar pemerintah Belanda menduduki Samosir.” Lagipula, konferensi penginjil tahun 1897 telah memutuskan bahwa “penginjilan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan dengan lebih banyak sukses di bawah perlindungan pemerintah Eropa.” (hal. 103).

Menurut catatan sejarah, kerjasama misionaris Kristen Batak dengan penjajah Belanda diakui dengan bangga oleh para misionaris Batak. Belanda juga mempersenjatai kaum Kristen Batak dengan 50 bedil. Sebab, jika orang Batak menjadi Muslim, mereka tidak mungkin setia kepada pemerintah penjajah. BRMG 1878:154 mencatat:

“Betapa orang Batak Kristen dapat diandalkan tampak jelas sekarang. Sebagai orang Islam, orang Batak takkan mungkin menjadi rakyat yang patuh pada Belanda. […] memang benar orang Silindung yang Kristen adalah teman setia Belanda, dan pasukan bantuan mereka berperang bersama pasukan Belanda.”. (hal. 106).

Dalam surat-surat yang dikirim tokoh misionaris I. Nommensen, tampak jelas digunakannya istilah “musuh” untuk Sisingamangaraja XII dan rakyat Batak yang berusaha mempertahankan kemerdekaan mereka. Misalnya, dia tulis: “Setelah kami bekerja dengan tenang selama beberapa hari, musuh kami yang jahat bergerak lagi”… “Kebanyakan musuh berasal dari daerah sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh Sisingamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan rakyatnya.” (hal. 107).

Dalam suratnya yang lain, Nommensen mencatat: “Hal yang paling penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah zending kita bisa masuk… (BRMG 1882:302).” (hal. 108).

Sebuah surat tentang pentingnya penaklukan Toba oleh penjajah Belanda dan misi Kristen dalam rangka menghambat masuknya pengaruh Islam, ditulis oleh laporan BRMG 1882 (7): 202-205:

“Perang dan penaklukan Toba sangat mendukung dan mempercepat pembukaan pos penginjilan. Walaupun tidak secara langsung, para penginjil kita di Silindung memainkan peranan yang cukup besar dalam ekspedisi militer Belanda terhadap Toba. Upaya mereka untuk menyebarkan Injil di Silindung mendapatkan perlawanan dari Sisingamangaraja yang dulu maupun Sisingamangaraja yang sekarang. Karena sudah kehilangan sebagian besar kekuasaannya, keduanya berusaha memperoleh kembali pengaruhnya yang hilang dengan mengusir para penginjil. Sisingamangaraja terutama memusuhi agama Kristen, akan tetapin karena ia bersekutu dengan orang Aceh di Utara maupun dengan Batak Islam di Timur maka kegiatan mereka juga memusuhi pemerintah Belanda. Dengan demikian sangat bijaksana keputusan pemerintah untuk langsung bertindak memperluas dan memperkokoh kekuasaannya, mengingat tindak-tanduk orang Aceh dan jaringan mereka yang makin hari makin ketat dan luas.” (hal. 153-154).

Dalam bukunya, Prof Uli Kozok juga menunjukkan data bahwa hubungan erat antara misi Kristen dan Penjajahan memang sudah menjadi suatu kelaziman. Paus Pius XI, misalnya, melalui surat kabar Vatikan, Osservatore Romano, 24 Februari 1935, pernah secara eksplisit mengeluarkan pernyataan yang mendukung penjajahan:

“Penjajahan merupakan keajaiban yang diwujudkan dengan kesabaran, keberanian dan cinta kasih. Tiada bangsa atau ras yang berhak hidup terisolir. Penjajahan tidak berlandaskan penindasan tetapi berdasarkan prinsip moralitas tertinggi, penuh dengan cinta kasih, kedamaian dan persaudaraan. Gereja Katolik senantiasa mendukung penjajahan, asal dilaksanakan dengan jujur dan manusiawi tanpa menggunakan kekerasan. Oleh sebab itu kami melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki daya dan keindahan yang luar biasa.” (hal. 85-86).

Bukan hanya kolonialisme, ideologi rasisme juga ditanamkan kepada para misionaris dari Rheinische Missions-Geselschaft (RMG). Seorang petinggi RMG, Ludwig von Rohden (1815-1889), berpendapat bahwa semua manusia adalah keturunan Nabi Nuh, yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ada lima warna kulit yang dimiliki keturunan Nabi Nuh itu: putih, kuning, merah, coklat dan hitam. Menurutnya, warna kulit ditentukan oleh kadar dosa masing-masing. Semakin berdosa sebuah bangsa, maka akan semakin hitam warna kulitnya. Kata Ludwig von Rohden dalam sebuah tulisannya:

“Secara bertahap-tahap manusia menjauhkan diri dari sumber kehidupan ilahi. Semakin jauh [sebuah bangsa] menjauhkan diri, semakin merosot moral dan kecerdasan, seiring dengan itu juga postur, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Bangsa yang paling dekaden mendapatkan warna kulit paling hitam, dan bentuk tubuhnya menjadi mirip dengan binatang. Namun perbedaan hakiki antara manusia dan binatang masih tetap ada: ialah jiwa yang dihembuskan Allah kepada jasad sebagai bagian kehidupan ilahi.” (hal. 59).

Menurut Rohden, bangsa berkulit hitam bisa menjadi putih kulitnya jika mereka menjadi Kristen:

“Negro yang paling rendah derajat pun masih bisa diangkat menjadi manusia terdidik bila dididik dengan cara yang tepat melalui pengaruh Kekristenan yang bersifat menyembuhkan. Seiring dengan [proses penyembuhan] itu, maka raut muka yang kebinatangan menghilang, pandangan mata dan tubuhnya akan menjadi lebih sempurna, bahkan warna kulitnya secara turun-temurun bisa menjadi lebih putih.” (hal. 60).

Itulah fakta dan data tentang misi Kristen yang ditampilkan Prof. Uli Kozok – guru besar dan ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas Hawai. Gambaran misi Kristen yang berkolaborasi dengan penjajah itu jauh sekali bedanya dengan isi buku Sejarah yang kini diajarkan kepada anak-anak Muslim di sekolah-sekolah tingkat SMP.

Seyogyanya, para pimpinan sekolah Islam, para guru, dan orang tua sadar benar akan kekeliruan besar semacam ini. Sungguh ironis, jika ada lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan bahan-bahan sejarah semacam ini, yang merusak pemikiran dan jauh sekali dari fakta sejarah sebenarnya. Bukankah Allah SWT sudah memperingatkan: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” Wallahu a’lam bil-sshawab.*/Depok, 24 Ramadhan 1432 M/24 Agustus 2011.

Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com, Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

 


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Anti Misionaris , Kamis, 25 Agustus 2011
kristen masuk ke indonesia dengan penjajah. indonesia merdeka melalui seruan JIHAD FISABILILLAH dari para ulama . sekarang kristen cuma nikmatin hasil kemerdekaannya saja
  
   
  Mu'min Selalu Beruntung , Kamis, 25 Agustus 2011
 TOLAK buku sejarah SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006) sekarang juga
  
   
  Sidik , Kamis, 25 Agustus 2011
Koq bisa ya buku sejarah semacam itu terbit di Indonesia. Mesti diusut siapa yang bertanggung jawab. Ayo media-media Islam bersatu mengusut kasus yang bersifat laten ini.
  
   
  Amin , Kamis, 25 Agustus 2011
Umat islam perlu kritis dan waspada, memang ada usha yg semakin massif untuk membelokan sejarah negara ini dan secara perlahan melepaskan peran islam dan muslimin dalam pembentukan negara ini.Maslahnya juga pemasok buku2 pelajaran adalah dari penerbit yg non islam.
  
   
  Netral , Kamis, 25 Agustus 2011
Christian tidaklah seburuk itu.. Intervensi dari pihak Bld membuat seolaholah christian nampak seperti itu...
  
   
  Hamba Allah , Kamis, 25 Agustus 2011
Memang misi mereka adalah Gold, Glory, and Gospel. Antara kekayaan, kejayaan, dan agama tak terpisahkan. Kristen adalah agama penjajah TAK TEBANTAHKAN!
  
   
  Akatzuka , Jum'at, 26 Agustus 2011
saya setuju dengan ungkapan Netral. Kristen dan Yahudi adalah agama yang paling sering dibajak umatnya buat kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri. Makanya di buku sejarah itu perlu dicantumkan keterangan, bahwa: "Kristen suka diperalat umatnya buat kepentingan politik dan ekonominya sendiri. Jika ingin lihat Kristen sejati, lihatlah Bunda Theressa dan para Santo/Santa..."
  
   
  Wawan , Jum'at, 26 Agustus 2011
@netral - Anda sdh baca sejarah kolonialisme di benua amerika ? anda sdh baca sejarah spanyol, prancis, jerman ? kl udah pasti ada yg terlewatkan tp kl blm bacalah dg seksama baru komentar. sinar matahari tdk akan pernah masuk ke rumah jk kamu tdk membuka tirai di rumah & jgn salahkan matahari jk kamu tak mau membuka tirai rumahmu.
  
   
  Non Netral (non Nasrani) , Jum'at, 26 Agustus 2011
Netral tidak paham artikel ini apa? Misi penjajahan yaitu 3G (Glory Gold Gospel).
  
   
  Shofi , Jum'at, 26 Agustus 2011
mungkin itulah perbedaan antara agama buatan manusia dengan agama Tuhan
  
   
  Muhmmad Khodafi , Jum'at, 26 Agustus 2011
Contoh saja ahlaq Nabi Muhammad yg suka menyuapi perempuan tua Yahudi yg buta, yg terus ngomel menjelekkan beliau, ketika beliau sedang menyuapinya. Kita udah merdeka bung, mari berdakwah mendewasakan ahlaq, pikiran dan ekonomi ummat. Ummat jangan diajak untuk memusuhi dan curiga dengan ummat atau kelompok lain yang tidak sepaham dengan anda.
  
   
  Fauzi Rachman , Jum'at, 26 Agustus 2011
Waspadalah kepada semua siswa SMP dan Orang Tua murid yang muslim, karena kristenisasi kini sudah merambah ke arena pendidikan nasional kita. Waspadalah...waspadalah.... Hentikan segera !
  
   
  Randi , Jum'at, 26 Agustus 2011
Kok yaa bisa buku seperti itu terbiit...kemana peran Kementrian Pendidikan Nasional...???
  
   
  Muksin , Ahad, 28 Agustus 2011
sebahagian orang islam sekarang udah banyak terkontaminasi misi2 mereka, music, gaya hidup, media dan makanan
  
   
  Aminudin , Ahad, 04 September 2011
Sekarang bisa diliat sepak terjangnya Agama Penjajah ini,...mereka berusaha dg cara apapun ntk mengkristenkan umat Islam....kita semua...para pejuang adlh para Da\\\'i...(Bng Tomo, Jend. Sdirman dll), jadi Mstail kalo Orang Kristen akan pro Indonesia...
  
   
  Akmal , Jum'at, 23 September 2011
(ini bukan pembelaan) Kenapa kita mesti Takut? kalo akidah kita dah kuat, ngapain takut sama buku begituan... Makanya kita kuatkan akidah kita, jgn terkontaminasi... Dakwah dengan baik seperti nabi Muhammad, tunjukan pada dunia bahwa islam adalah kebenaran, agama penuh rahmat... bukan malah menjelek njelekan ato menyalah nyalahkan mereka yg non muslim...
  
   
  Sri W , Selasa, 27 September 2011
menurut saya artikel ini tidak bermaksud menjelekkan agama lain (=baca kristen) tapi memberikan kita pencerahan. bagi yg kristen mohon jangan tersinggung, toh memang benar kok kristen masuk melalui jalur penjajahan, tidak hanya di indonesia tp di banyak belahan negara lain, bagi yg muslim dan mengaku moderat, bukan berarti menunjuk membabi buta mengatakan artikel ini menghasut tp belajarlah utk membuka hati dan pikiran sehingga bs menerima informasi dengan benar.
  
   
  Abimizan , Selasa, 27 September 2011
SUDAH ADAKAH ORGANISASI ISLAM (ex: DDII dll) YANG MENGIRIMKAN SURAT KEBERATAN KEPADA DIRJEN DIKTI DENGAN MELAMPIRKAN HAL DIATAS SEBAGAI DATA?
  
   
  Mat Kodak , Sabtu, 22 Oktober 2011
Entah mana yang benar; Komentar yg termuat di sini menunjukkan intelektual pembaca hidayatullah yg menyedihkan atau adminnya yg partisan dan rendah toleransinya. Kenapa sih jadi kepanasan dengan buku pelajaran sejarah agama - anak-anak SMP malah perlu tahu juga sejarah masuknya agama Budha, Hindu, Konh Hu Chu, dll, agar tak picik seperti warga AS yg tahunya negaranya sendiri dan agama Kristen. Kita hidup di negeri Pancasila, bukan di negeri Islam. Hidup damai bersama umat lain dalam bingkai persatuan dan kebhinekaan diawali dengan pengetahuan agama satu dan lainnya, supaya tidak chouvinistik. Cupet. Picik dan tidak PD!
  
   
  Ayyub Abdillah , Senin, 28 November 2011
kenapa ya, yang namanya Mat Kodak kok komentarnya selalu memojokkan umat islam? sebenarnya Mat Kodak itu agamanya apa sih? Islam?Kristen?Hindu? atau Budha? atau malah ga punya agama? kasihan deh Mat Kodak,pikiran ternyata cupet, secupet Kodak Film.
  
   
  Kurdi , Kamis, 01 Desember 2011
kalau dulu sebelum islam hindu dan budha sangat berjaya dan pemeluknya khusuk menjalankan kepada sang hyang widi/Tuhan semesta, lalu datang pedagang2 dari timur tengah membawa islam dan merongrong zaman kejayaan nusantara dengan segala rayuan dan trik hingga yang masih bersikukuh dengan kehiduan dan kebudha'an diperangi oleh saudaranya yg sebeumnya sesama hindu budha. apakah ini disebut islamisasi terbesar atau hidayah??? negara ini dengan penduduk terbesar ke 4 didunia dalam kurun waktu kurang lebih 417tahun dalam kiprahnya yang bernaungkan islam hanya mampu mencetak prestasi terbesar yaitu mengusir penjajahan, itupun karena dampak perang dunia pertama dan kedua yang mengakibatkan sang penjajah pulang kampung gara2 dibombardir. selanjutnya setelah kemerdekaan hingga detik ini nyaris tak ada lagi revolusi, padahal negara ini sejak memproklamasikan kemerdekaan semakin kukuh dipegang oleh islam(secara tak langsung tapi sangat terasa)justru yang berkembang sangat pesat adalah orang2 radikal termasuk pembela2 agama(padahal Tuhan sudah mahakuat) selalu berwaspada terhadap orang2 lain, selalu percaya terhadap doktrin2 diatas mimbar bahwa orang yang tak sepaham dan sealiran adalah haram dan kafir. website ini adalah salah satunya 90% berisi keradikalan dan 10%berisi dakwah islam. harusnya dibalik. sampai kapan penduduk ini terus dibodohi oleh agama ini? sapai kapan kita terus2an mengenyangkan perut2 syekh di jazirah arab. mereka hanya sedikit berjuang berpolitik dan berbisnis global tapi dapat kenyang dan kaya raya, bandingkan dengan negara ini yang penduduknya selalu giat berbisnis dan berdagang tanahnya subur dan tak bergurun pasir justru selalu jatuh miskin dan terkorup? orang indonesia dengan budaya santun dan ramah kontras sekali dengan orang2 kurdi yang galak, tak ramah( lihat orang2 arab di puncak,saat berdagang dan membeli) dan meniksa warga negara ini. Contohlah Qatar negara islam yang begitu megah dan modern yang sudah dikatakan bisa menjamin kesejahteraan rakyatnya dan membuka diri terhadap negara2 dunia.(indonesia selalu demo bila ada seminar dan pembahasan perekonomian dengan negara2 yang sudah lebih maju dan terbukti, alasannya simple, katanya kafir) nyatanya qatar tetap dalam keislamannya walaupun bersahabat dengan amerika,rusia,cina,jepang,korea. perasaan2 dan pemikiran sentimen yang masih dianut adalah buahpikir dari doktrin agama yang kuno. intinya, sekarang itu yang dibutuhkan kesejahteraan masyarakat bukan kesejahteraan agama, jika ada yang bilang lebih baik beragama taat daripada sejahtera hidupku ya jadinya radikalisme agama politik, contohnya ya seperti situs ini yang mendapatkan dana dari iklan, dana itu ya buat makan para juru ketiknya ini. belum lagi organisasi2 agama radikal lainnya, buntutnya ya tetep uang kok. walaupun berkedok. yah praktek inilah yang berkembang subur menjadikan dan melahirkan paham2 ekstrim melebihi asal mula agamanya ini sendiri dijazirah arab sana. sejahterakanlah dulu indonesia dengan segala kelebihan yang indonesia miliki, beragamalah karena semata2 sebagai pengendali hawa nafsu dan keserakahan. Toh islam bukan dari tanah jawa,sumatra,papua,kalimantan dan sulawesi khan? artinya dulu juga di islamkan dan banyak dari penganut sebelum islam yang berpikiran berperang melawan islamisasi pada zamannya. begitu pula dengan kristen hindu dan budha. kiranya orang2 radikal semakin berkurang dan kembali tersadar, beragam tak harus radikal, tak harus ngotot untuk beragama, kalau toh iman kuat kenapa harus ngotot? justru ngotot menandakan imannya tak kuat bila tidak ngotot(radikal)dan selalu takut akan tantangan dunia .
  
   
  Bedil , Jum'at, 02 Desember 2011
PAK KUDIS,,, ISLAM DLM DAKWAHNYA DARI AWAL TAK ADA PAKSAAN SAMA SEKALI... DLM AL-QURAN DI SEBUTKAN \"TAK ADA PAKSAAN DLM AGAMA, DN BAGIMU AGAMAMU BAGIKU AGAMAKU\". BEDA DG YG LAIN HARUS PAKE IMING2 HARTA BENDA N KERJAAN BAHKAN SERINGKALI HIPNOTIS DN CUCI OTAK... KALO HINDU BUDA MUNDUR WAJAR AJA,,,, MRK MEBEDA2KAN MANUSIA DLM KASTA DN GOLONGN. LAIN DG ISLAM,,, YG MEMBEDAKAN HANYALAH SIAPA YG PALING TAKWA PD ALLOH, DN SESAMA ISLAM ADLH SEDERAJT TAK ADA KASTA DN PEMISAH KAYA OR MISKIN SEMUA SUJUD DALAM BARISAN SOLAT YG RAPAT MENYEMBAH SATU TUHAN YAITU ALLOH SWT. BEDA AMA BUDA HINDU KRISTN YG BANYAK DEWA DN TUHAN, SEHINGGA ORANG JAMAN DULU BINGUNG MAU SEMBAH YG MANA? SAPI ATO GAJAH ATO ULAR, SIWA ATO WISNU. SETELAH ISLAM DATANG LALU BERDUYUN2 MASUK ISLAM KRN PARA JURU DAKWAH YG RAMAH DN BERAHLAK MULIA... DN MUDAH MEMAHAMI KONSEP KETUHANAN YG SIMPEL. YAITU LAA IILAHAILLALOH MUHAMMADAD ROSULLULLOH( TIADA TUHAN YG WAJIB DISEMBAH SELAIN ALLOH DN MUHAMMAD ADLH UTUSANNYA.
  
   
  Sulaeman , Ahad, 25 Desember 2011
kurdi sempit...kalau dibandigkn dgn qatar jelas beda,krna indonesia bukan negara islam!insyaalloh tdklama lagi akan mnjadi negara islam dan bisa melbihi qatar!!! alloohuakbar
  
   
  Bedil Aneh , Kamis, 12 Januari 2012
Bedil, emangnya benar yang diajarkan kepada lu, bahwa orang Hindu dan Budha itu meninggalkan agamanya dengan sukarela untukmasuk Islam? Pantang untuk orang Hindu berperang di malam hari, dimanfaatkan dengan sangat bagus untuk menghancurkan mereka? Buku sejarahnya, YANG DILARANG BEREDAR DI INDONESIA, bisa anda temukan di Bali. Namun sudah sangat sulit untuk diperoleh
  
   
  Dewo , Ahad, 29 Januari 2012
Kpd saudara kurdi semoga selalu sehat....orientasi dunia dan keagamaan harus seimbang,,dalam mengusahakan kesejahteraan dunia tetap harus berpegang dengan aturan2 yang sudah di tetapkan ajaran agama.. inilah perbedaan antara ideologi islam dan ideologi liberal. dalam ideologi liberal memisahkan antara urusan dunia dan agama,yang kecenderunganya orientasinya terlalu condong terhadap dunia.aplikasinya adalah menghalalkan segala cara dalam mendapatkan penghasilan.begitu juga dalam menyebarkan ideologi yang dianutnya,salah satunya adalh dengan cara2 konspirasi,,terutama terhadap generasi2 muda melalui penyisipan /penyelewengan dalam kurikulum pendidikan..CONTOHNYA DALAM ARTIKEL DIATAS... mohon maaf kalo ada kekeliruanya..
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Catatan Akhir Pekan Lainnya
  “Irshad Manji, Lady Gaga dan Logika Seta...
  Irshad Manji: Kebebasan Akademik dan “S...
  “Promosi Lesbi, Hina Nabi, Lecehkan Al-Q...
  Irshad Manji Sepatutnya Diobati!
  “Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralism...
  Mengapa Kita Menolak RUU Kesetaraan Gend...
  Mengapa Kita Menolak RUU Kesetaraan Gend...
  “Multikulturalisme dalam Pendidikan Agam...
  "Dari Cak Nur ke Gus Hamid"
  Mengapa Kita Menolak RUU Kesetaraan Gend...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved