Home Tsaqafah


Tanggapan untuk Akhmad Sahal
 
Share |
Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah (1)


 

Senin, 28 Februari 2011

Oleh: Dr Syamsuddin Arif

TAHUN kesepuluh Hijriah atau 632 Masehi merupakan tahun krisis. Dua orang ‘nabi gadungan’ muncul hampir bersamaan. Bukan secara kebetulan. Tetapi lantaran terbuka kesempatan apabila tersiar berita bahwa Rasulullah jatuh sakit. Maka di negeri Yaman, seorang bernama al-Aswad ibn Ka‘b al-‘Unsi pun memproklamirkan diri sebagai nabi. Lewat pelbagai atraksi seperti menyuruh keledainya bersujud –tentu sesudah dilatihnya, al-Aswad sempat mendapat sejumlah pengikut di Najran dan Sanaa. Ia juga mengklaim didatangi oleh dua malaikat, satu bernama Sahiq, dan satu lagi bernama Syahiq, dengan wahyu berbunyi: “Wal mayisati maysa, wad darisati darsa, yahijjuna ushaba wa furada.” Lantas bagaimana sikap pemerintah kala itu? Gubernur Khalid ibn Sa‘id langsung mengusirnya dari Sanaa. Kemudian Rasulullah mengirim detasemen khusus untuk menumpasnya.

Misi tersebut berhasil, meski berita tewasnya nabi palsu itu baru sampai ke Madinah kira-kira dua minggu setelah Rasulullah wafat (Lihat:Imam at-Thabari,Tarikh ar-Rusul wa l-Muluk, 3:185-187).

Musaylamah ibn Habib adalah orang kedua yang mengklaim dirinya nabi.Sebelumnya ia pernah menyertai rombongan sukunya, Bani Hanifah, yang baru masuk Islam, datang ke Madinah untuk menghadap Rasulullah. Ketika pamit, mereka memberitahu Rasulullah bahwa ada seorang anggota yang tidak ikut masuk tetapi menunggu di luar menjaga unta dan barang-barang bawaan mereka, yaitu Musaylamah. “Dia itu tidak lebih buruk dari kalian,” ujar Rasulullah seraya menyuruh mereka supaya memberikan hadiah yang sama kepadanya. Nah, sabda Rasulullah itulah yang dijadikan modal oleh Musaylamah untuk mengaku dirinya nabi di kemudian hari.

Tiba di Yamamah, kampung halamannya, Musaylamah berlagak dapat wahyu lantas bersajak: “Laqad an‘am Allah ‘ala l-hubla, akhraja minha nasmatan tas‘a, min bayni shifaq wa hasya.” Ia lalu menghalalkan minuman keras (khamr), hubungan seks tanpa nikah (zina) dan sebagainya. Kejadian ini dilaporkan oleh sejarawan Ibn Sa‘d dalam Thabaqat, 1:273 dan Imam at-Thabari dalam Tarikh, 3:138.

Ketika mendengar kondisi kesehatan Rasulullah terus memburuk, Musaylamah semakin berani menyuarakan klaimnya. Ditulisnya sepucuk surat kepada Rasulullah supaya wilayah kenabian dibagi dua saja, separuh untuk nabi orang Quraysh dan separuhnya lagi untuk nabi orang Yamamah –yaitu dirinya. Rasulullah jelas menolak permintaan tersebut dan menjuluki Musaylamah  ‘si pembohong’ (al-Kadzdzab). Kepada dua orang suruhan Musaylamah yang membawa surat itu Rasulullah berkata: “Seandainya boleh membunuh utusan (diplomat), niscaya sudah kupenggal kepala kalian berdua (ama w-Allahi law-la anna r-rusul la tuqtalu, la-dharabtu a‘naqakuma)!” Peristiwa ini dituturkan oleh Imam at-Thabari, (Tarikh jilid 3, hlm.146).

Musaylamah dan para pengikutnya berhasil ditumpas habis oleh pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Khalid ibn al-Walid tidak lama sesudah Rasulullah wafat (Lihat:al-Baladzuri, Futuh 1:104-106)

Imam at-Thabari memberikan catatan penting yang terjemah Inggrisnya berbunyi: “It is said that the pretension of Musaylamah and of those who falsely alleged prophethood during the time of the Prophet [Muhammad saw] actually took place after the Prophet had returned from his ‘Farewell Pilgrimage’ and during the illness in which he died. … When the Prophet returned to Medina after performing the Final Pilgrimage, he began to have a complaint of illness. As travel was allowed, the news of the Prophet’s illness spread, so both al-Aswad and Musaylamah leapt at [the opportunity and claimed prophethood for themselves], the former in the Yemen and the latter in al-Yamamah, and their news reached the Prophet. After the Prophet had recovered, Thulayhah leapt at [the opportunity and claimed prophethood] in the land of the Banu Asad. Then in Muharram the Prophet complained of the pain from which he died.” (The History of al-Tabari, vol. IX – the Last Years of the Prophet, trans. with notes by Ismail K. Poonawala, New York 1990, hlm.107-108 = teks Arabnya dalam kitab Tarikh jilid 3, hlm.146-147).

Kemunculan dua orang nabi gadungan itu sebenarnya sudah diisyaratkan kepada Rasulullah. Dalam sebuah riwayat disebutkan pernah suatu kali Rasulullah bermimpi melihat dua gelang emas diletakkan di atas telapak tangannya. Lama-kelamaan dua gelang emas itu tampak semakin membesar. Kemudian beliau mendengar suara berkata: ‘Tiuplah mereka!’Maka dengan satu tiupan dua gelang emas itupun sirna.‘Aku takwilkan mimpi tersebut sebagai dua orang penipu yang mengapit keberadaanku, yaitu penguasa Sanaa dan pemimpin Yamamah.’Demikian diceritakan Imam al-Bukhari sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab al-Bidayah wa n-Nihayah, juz 5, hlm.45-46.

Orang ketiga yang mengaku dirinya nabi ialah Thulayhah ibn Khuwaylid al-Asadi. Seperti halnya Musaylamah, ia pun awalnya seorang muslim, tetapi kemudian murtad dan menabikan diri. Rasulullah mengirim Dhirar ibn al-Azwar untuk memerangi nabi gadungan itu, namun belum berhasil sampai wafatnya. Di kemudian hari, tatkala sudah dikepung oleh pasukan Muslim, Thulayhah masih berlagak mendapat wahyu. “Telah datang Jibril kepadaku dan berbisik: (inna laka raha ka-rahahu, wa yawma la tansahu),” serunya. Sadar bahwa ia dan pengikutnya tak mungkin menang, Thulayhah pun akhirnya menyerah. Setelah ditangkap dan dibawa menghadap Khalifah Abu Bakr ra, ia pun bertobat dan kembali kepada Islam. Thulayhah tewas dalam sebuah pertempuran di Nahawand (Lihat: Imam at-Thabari, Tarikh, 3:186 dan Ibn al-Atsir, Usud al-Ghabah 3:95).

Masih di zaman Khalifah Abu Bakar, muncul di wilayah Oman seorang nabi palsu bernama Dzut-Taj Laqith ibn Malik al-Azdi. Terhadapnya Khalifah Abu Bakr ra bertindak tegas. Satu divisi tentara dikirim untuk membasmi aliran sesat itu dan membekuk kepalanya (Lihat Ibn Katsir, al-Bidayah wa n-Nihayah, 6:329).

Lalu pada zaman pemerintahan Abdul Malik ibn Marwan, seorang bernama al-Harits ibn Sa‘id mengaku nabi. Mereka yang terpukau oleh aksi-aksi anehnya lalu ikut dan berbai‘at setia kepadanya. Namun berita mengenainya sampai juga kepada Khalifah. Maka diutuslah beberapa orang untuk meringkusnya. Setelah beberapa lama buron di kawasan Baitul Maqdis, Yerusalem, nabi gadungan itu akhirnya berhasil ditangkap. Ia kemudian dibawa menghadap Khalifah di Damaskus dan disuruh bertobat tetapi bersikukuh menolak. Al-Harits akhirnya dijatuhi hukuman mati dan disalib (Lihat: Ibn ‘Asakir, Tahdzib Tarikh Dimasyq, 3:442-5). */bersambung

Penulis  pakar orientalis dari International Islamic University (IIU), Malaysia dan peneliti INSISTS. Tulisan ini diturunkan untuk menanggapi tulisan Akhmad Sahal berjudul, "Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah" di Tempointeraktif, Rabu,  16 Februari 2011 

Foto: ilustrasi


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Son Haman , Senin, 28 Februari 2011
Kita perlu penulis Islam yang pemikir dan inetelej seperti ini, untuk membendung pemikir pemikir liberal yang rutin berkampanye di media media liberal dan sekuler
  
   
  Yamin , Senin, 28 Februari 2011
Dari penjelasan tulisan Ustd Arif di atas berarti sudah sangat jelas, bahwa kalangan liberal sebangsa Ahmad Sahal hanyalah pencomot sejati, plagiator handal dalam memahami sejarah dan tidak pernah mau mencantumkan hasil comotannya secara utuh, sebagaimana koaran dia di TEMPO itu. Menyedihkan, katanya (dia mengakuinya sendiri, ditulis dengan PD banget kayaknya) seorang kandidat PhD (S3) tapi ternyata kualitasnya, Naudzubillah, hanya seujung kuku. Sahal hanyalah satu dari sekian banyak contoh pemikir liberal yang sebenarnya sama sekali dangkal pemahamannya. Cuma karena dapat duit, ya, mereka mau saja mengatakan/menulis apa yang dimau "tuannya"
  
   
  Yosep , Senin, 28 Februari 2011
Bukan hanya dangkal ilmunya, tapi memang sama sekali tidak ada gagasan yang benar benar baru dari mereka ini. Kelebihan mereka hanya pintar dan lihai sekali dalam mencomot pendapat orientalis pendahulunya, jadi tampak mereka seolah olah seperti intelektual beneran. Saya kalo baca tulisannya Novroantoni Kahar, Ulil, Sumanto, dll, sering kali membuat saya bersedih dan tertawa, inikah yang disebut intelektual? Menulis yang sok intelek/pemikir, tapi isinya hanya paparan ide yang sangat akrobatik, sama sekali tidak ada gagasan yang orisinil. Kita patut bersedih. Sudah liberal, jahil lagi. Seperti kata Pak Yamin, kita patut mengucapkan naudzubillah!
  
   
  Sudiro , Senin, 28 Februari 2011
Kisah-kisah nabi palsu sejak zaman Rosullullah SAW sudah sering diceritakan oleh kiai-kiai salafiyah, namun gaungnya sudah tertutup oleh kenikmatan dunia, bahkan kiai dunia. kok kita gak mau meniru yang benar seperti di atas ya... he...he....
  
   
  Budhi , Selasa, 01 Maret 2011
Pemerintah iki piye? Membela sing Mayoritas ae ra wani, apalagi membela sing minoritas, kek kek kek
  
   
  Matkarto , Kamis, 03 Maret 2011
Tulisan yang penuh kebencian, jauh dari klaim damai yg suka disebut umat Islam. Tulisan ini cuma mengajak umat Islam menjadi penuh kekerasan.
  
   
  Azein , Kamis, 03 Maret 2011
Komentar Matkarto penuh dengan kebodohan, jauh dari paparan ilmu yang suka disebut kaum berpengetahuan. Komentar Matkarto ini cuma mengajak umat Islam menjadi penuh kejahilan dan kelalaian.
  
   
  Beni Sutrisno , Jum'at, 04 Maret 2011
Percakapan Matkarto dan Azein.. percakapan dua orang yang sama2 muslim.. Indahnya..... Mencerminkan sangat keluhuran Islam..
  
   
  Faye , Sabtu, 05 Maret 2011
Jangan terjebak iklan semiotis antikekerasan yang maknanya sudah dikorup dude.. Yes kita keras, tapi ksatria dan terhormat bung.
  
   
  Taufiq , Sabtu, 05 Maret 2011
Tumpas ganyang benar benar keras dan dingin
  
   
  Aradea Markatin , Senin, 07 Maret 2011
Jadikanlah diri kita baik dan sholeh terlebih dahulu maka baru kita bisa menilai dan memperbaiki orang lain...
  
   
  Shadow Uchiha , Kamis, 10 Maret 2011
@Mukarto Kalau ada orang masuk lalu tinggal tanap izin di rumah Anda, bahkan mengklaim bahwa dialah pemilik sah dari rumah Anda, apa yang Anda lakukan? Diam saja sambil "bertoleransi" dan membiarkan orang tersebut petantang petenteng di rumah Anda? Jika Anda melawan dan mengusir orang kurang ajar tersebut, apakah tindakkan Anda adalah "kekerasan", "intoleran", dan "penuh dengan kebencian"?????? Apalagi ada orang yang memakai seragam kenabian setelah Muhammad saw sang penutup para nabi dan Rasul, pantaslah umat Islam, atau tepatnya pemerintah Islam bertindak tegas dan keras terhadap orang kurang ajar tersebut
  
   
  Ariefdinejed , Sabtu, 12 Maret 2011
Matkarto@Dlm ajaran agama manapun, Pembelaan thd Agama dlm hal penodaan dan pelecehan adalah kewajiban setiap pemeluknya,bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.. Kami cinta damai,tapi kami juga tidak rela akidah agama kami diacak2,dijejali dengan faham2 asing yg bertentangan dngn inti ajaran Islam..karena kecintaankami thd Allah SWT dan Rasulullah SAW melebihi kecintaan terhadap segala sesuatu bahkan diri kami sendiri,maka bila terjadi Penodaan dan penghinaan terhadap Islam,kami wajib membelanya dgn jiwa kami.. hal itu tdk ada hubungannya dgn toleransi antar umat beragama.
  
   
  Falah , Ahad, 13 Maret 2011
yeah...provokasi terus umat ini agar berbuat anarkis, agar terbentuk image bahwa Islam itu agama brutal.....
  
   
  Adjie , Ahad, 13 Maret 2011
ada 2 hal/sisi yang diperdebatkan. Bagi saya semuanya adalah pilihan. Salah dan benar berujung pada hukum dunia, namun kebenaran/kesalahan spiritualitas tidak bisa ditempatkan didunia.
  
   
  Jalan Tengah , Senin, 14 Maret 2011
Ini tanggapan dari Akhmad Sahal: http://mendarasislam.blogspot.com/2011/03/nabi-palsu-sikap-nabi-dan-ahmadiyah.html?spref=fb Bagi saya, ada beberapa kebenaran dari tulisan Dr Arif ini. Tetapi juga ada beberapa kebenaran dari tulisan Akhmad Sahal. Kedua tulisan itu membuat saya harus melihat ulang bagian2 yang disebutkan oleh kedua penulis. Sebetulnya ada beberapa titik perbedaan di antara mereka berdua. dan titik itulah yg perlu kita pertajam lagi agar lebih jelas mana yg benar mana yg salah. Menyedihkan sekali jika dalam menyikapi hal spt ini, kita lebih suka menghujat daripada mempertajam titik2 perbedaan pendapat itu dgn melihat kembali ke sumber2 primer.
  
   
  Abu Jameela , Senin, 14 Maret 2011
Astagfirullah...Nabi tidak pernah memerintahkan membunuh dan merusak kecuali dalam keadaan betul/benar perang fisik. Sebagai tauladan ia mengajarkan cara yang baik dan tidak pernah memaksakan kehendak. Ini yang membuat Isam besar dihormati bukan ditakuti. Kemudian ada beberapa \"pemimpin Islam\" yang menggunakan kekerasan , pasti itu bukan perintah Rosullulah. Bahkan ketika Nabi dilempar batu dia mendoakan, si pelempar. Kenapa kita tidak pernah belajar dari nilai yang ditanamkan Allah pada Rosullulah, tetapi malah suka membakar amarah dan hawa nafsu? itu karena sebagian umat Islam tidak mau belajar, mendengar dan merenung kebesaran Allah dan sunah Rosul.Wallahualam.
  
   
  Fzli , Selasa, 15 Maret 2011
Gila nih oon banget bahas agama pake sejarah bukan pake hadits dan quran, bodo ama sejarah yg penting hadits dan quran
  
   
  Bagus Oktafian A , Selasa, 15 Maret 2011
membaca artikel dua penulis ini sangat membuat pikiran saya terbuka, melihat 2 sisi argumentasi yang kontradiktif dengan pemaparan alasan yang berbeda satu dengan yang lain namun keduanya sama2 logis dan menyatakan kebenaran menurut versinya masing2. yang jelas janganlah kita jadikan agama sebagai alat untuk menghancurkan dan membinasakan. Terima kasih kpn Mas Sahak dan Mas Arif.Hanya Allah yang Mahabenar Wallahualam
  
   
  Sjam , Rabu, 16 Maret 2011
jangan atas nama toleransi, apalagi pikiran liberal lantas dibiarkan ada perusakan bahkan penodaan atas keyakinan yang kita anut. Kita tidak hidup untukdiri kita saja tapi juga anak-cucu, bagaimana nasib mereka kelak,.. jika tidak sejak sekarang kita pagari akidahnya dari pemikiran dan tindakan yang akan membahayakan atas kebenaran terhadap keyakinan yang mereka anut. Bedakan sikap toleran dengan penistaan dan penodaan agama!
  
   
  Banyu , Kamis, 17 Maret 2011
Maaf, menurut pengalaman saya, untuk menilai suatu pendapat secara objektif adalah dengan mengambil jarak darinya dan bukan menjadi bagian di dalamnya. Kalau kita bisa memposisikan diri sebagai \"pengamat\" dari kedua pendapat Sdr. Sahal dan Sdr. Arif, mungkin kita menemukan \"kebenaran sejati\" justru terletak di tengah, di antara pendapat mereka. Bukankah kemahakuasaan Allah tidak menjadikan-Nya menciptakan semua seragam, sama? Perbedaan (pendapat) adalah rahmat untuk mengkaji ke arah kesadaran akan kebenaran yang hakiki. Orang beriman, berakal dan beradab akan menyikapi perbedaan pemikiran dengan diskusi, bukan dengan penumpasan memakai jalan kekerasan. Keyakinan terhadap suatu ide/gagasan hanya bisa diubah melalui ide/gagasan yang lebih masuk akal. Karena yang mahatahu kebenaran, menurut saya, hanyalah Allah swt.
  
   
  Rusydov , Ahad, 27 Maret 2011
Indonesia ini bukan untuk satu keimanan kepercayaan dan agama-agama bodong lainnya, lihat mereka yang miskin dan ditindas haknya. tak satupun agama yang bisa menjadi negara, Tuhan? tidak ada di dalam negara. animisme-dinamisme, nasrani, yahudi, islam, ahmadiyah, agama-agama lain sama saja JIKA mengurus hak dan keawjiban manusia tanpa ada darah yang mengalir. aku sudah muak dengan perang salib yang silih berganti hanya karena nama yang tak masuk akal; agama.
  
   
  Udin , Senin, 28 Maret 2011
COPAS DARI TULISAN DIATAS : Orang ketiga yang mengaku dirinya nabi ialah Thulayhah ibn Khuwaylid al-Asadi. Seperti halnya Musaylamah, ia pun awalnya seorang muslim, tetapi kemudian murtad dan menabikan diri. Rasulullah mengirim Dhirar ibn al-Azwar untuk memerangi nabi gadungan itu, namun belum berhasil sampai wafatnya. Di kemudian hari, tatkala sudah dikepung oleh pasukan Muslim, Thulayhah masih berlagak mendapat wahyu. “Telah datang Jibril kepadaku dan berbisik: (inna laka raha ka-rahahu, wa yawma la tansahu),” serunya. Sadar bahwa ia dan pengikutnya tak mungkin menang, Thulayhah pun akhirnya menyerah. Setelah ditangkap dan dibawa menghadap Khalifah Abu Bakr ra, ia pun bertobat dan kembali kepada Islam. Thulayhah tewas dalam sebuah pertempuran di Nahawand (Lihat: Imam at-Thabari, Tarikh, 3:186 dan Ibn al-Atsir, Usud al-Ghabah 3:95). ALINEA TENGAH MENUNJUKKAN SIKAP KHOLIFAH ABU BAKAR YG MEMBERIKAN KESEMPATAN KEPADA THULAYHAH UNTUK KEMBALI KE ISLAM SETELAH KEMURTADANNYA, MENUNJUKKAN BAHWA TIDAKLAH BENAR KESIMPULAN BAHWA MENGHADAPI ORANG MURTAD SUDAH LAYAK UNTUK LANGSUNG DIBUNUH... BUKANKAH ABU BAKAR ADALAH TOKOH YG DIJAMIN MASUK SURGA DAN LAYAK DIJADIKAN TUNTUNAN?
  
   
  Ade , Senin, 28 Maret 2011
teman-teman sekalian, Dr. Arif, coba baca tanggapan dari Akhmad Sahal di islamlib.com.
  
   
  Abdi , Senin, 11 April 2011
To Yamin : Jgn salah lho..sekarang gelar Prof atau pun Dr tidak hanya disematkan kepada seseorang karena kepintarannya tapi ada juga yang disematkan karena kebodohannya.
  
   
  Mabndus , Jum'at, 15 April 2011
Go..Go...Go.. Bang Sahal....!!
  
   
  Ghiank , Jum'at, 15 April 2011
masuk surga atau neraka itu nanti. setelah kiamat besar terjadi didunia ini...
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Info Herbal Murah

Peluang usaha herbal termurah, menerima grosir keagenan.

www.herbalmurah.info

 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Tsaqafah Lainnya
  Syari’ah Islam: Antara HAM dan Kebebasan...
  RUU KKG: Pertarungan Feminis VS Muslimah...
  Mendesain Kurikulum Pendidikan dengan Ko...
  Kewajiban Menutup Aurat: Bukti Islam Tid...
  Virus K-Pop dan Dekonstruksi Aqidah
  Usul Tak Mulia Dari Si Musdah
  Ketentuan Umum RUU Gender Problematik
  Reformasi Ulang Pendidikan Islam
  Menjawab Tuduhan Terhadap Hizbut Tahrir
  “Indonesia Tanpa JIL”, What's Next?
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved