Home Sejarah

 
Share |
Kisah Tentang Nabi-Nabi Palsu


 

Ahad, 20 Februari 2011

 

Oleh: Abduh Zulfidar Akaha

 

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي .

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud (3710), At-Tirmidzi (2145), Ibnu Majah (3942), Ahmad (21361), Al-Baihaqi dalam Dala`il An-Nubuwwah (2901), Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ (249), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (8509), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (7361), dan Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin (2623); dari Tsauban bin Bujdud RA. At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih.” Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, namun mereka berdua tidak mengeluarkannya.” Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Tahqiq Misykat Al-Mashabih (5406), Shahih Sunan Abi Dawud (4252), Shahih Sunan At-Tirmidzi (2219), dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (2654).

Dengan matan sedikit berbeda, hadits tentang akan munculnya nabi palsu juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3340), Muslim (7526), At-Tirmidzi (2144), Ahmad (6930), dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (199); dari Abu Hurairah RA.

Rahasia “Penutup Para Nabi”

Fakta akan munculnya nabi-nabi palsu, jauh-jauh hari sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Demikianlah yang tersirat dari sabda beliau, “Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” Dan, demikian pula yang difirmankan Allah SWT, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)

Kata “penutup para nabi,” menyiratkan makna bahwa akan muncul nabi-nabi palsu, baik itu pada masa hidup Nabi Muhammad SAW maupun pasca beliau wafat. Fakta pun berbicara di kemudian hari, dimana sabda Nabi ini menemukan buktinya. Dan, kebenaran sabda ini tentu saja adalah sebagian dari mukjizat beliau.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Secara tekstual hadits ini menyebutkan bahwa tiga puluh orang tersebut semuanya mengaku nabi. Inilah dia rahasia sabda Nabi pada akhir hadits sebelumnya, ‘Dan sesungguhnya aku adalah penutup para nabi.’ Hal ini juga bisa berarti bahwa yang mengaku sebagai nabi di antara mereka hanya tiga puluh orang, sementara selebihnya adalah para pendusta saja namun mereka menyeru kepada kesesatan.”

Nabi Palsu Pada Masa Nabi SAW dan Khulafaur Rasyidin

Pada masa Nabi, muncul Nabi palsu di Yaman bernama Abhalah bin Ka’ab bin Ghauts Al-Kadzdzab, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Aswad Al-Ansi. Al-Aswad pernah mengirim surat kepada Rasulullah SAW, “Hai orang-orang yang membangkang kepada kami, kembalikanlah tanah kami yang telah kalian rampas. Berikan kepada kami apa yang telah kalian kumpulkan, karena kami lebih berhak memilikinya. Adapun kalian, cukuplah kalian dengan apa yang kalian miliki.”

Al-Aswad mati dibunuh oleh istrinya, Idzan, yang bekerja sama dengan pasukan kaum muslimin dalam strategi yang jitu. Berita matinya Al-Aswad sampai ke Madinah pada pagi hari wafatnya Rasulullah SAW. Namun, ada juga riwayat yang mengatakan bahwa kabar tersebut sampai Madinah ketika Khalifah Abu Bakar baru saja selesai mempersiapkan pasukan Usamah.

Di Yamamah, juga muncul nabi palsu bernama Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab. Musailimah (bukan Musailamah) pernah datang kepada Nabi bersama rombongannya dari Bani Hanifah. Dia berkata, “Jika Muhammad menyerahkan perkara ini kepadaku setelah dia meninggal, aku akan mengikutinya.”

Mendengar apa yang dikatakan Musailimah, Nabi bersabda, “(Jangankan kenabian), kamu minta tongkat ini dariku saja tidak akan aku berikan. Sungguh, jika kamu pergi, niscaya Allah akan menyembelihmu. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku apa yang akan terjadi padamu.”

Nabi benar. Musailimah mati oleh Wahsyi bin Harb. Dia lempar Musailimah dengan tombak,  Musailimah mati pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Masih pada masa Nabi, dari Bani Asad muncul nabi palsu bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun sembilan Hijrah, dia datang bersama kaumnya kepada Nabi dan menyatakan keislamannya. Ketika Nabi sakit keras, dia memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Dia ingin menggantikan Nabi Muhammad SAW sepeninggal beliau.

Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum muslimin dan selalu kalah. Bersama istrinya, dia kabur ke Syam (sekarang Suriah). Dia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.

Ada juga nabi palsu bergender perempuan. Sajah binti Al-Harits bin Suwaid namanya. Dia berasal dari Bani Tamim. Dia memproklamirkan kenabiannya setelah Nabi wafat dan ketika kaum muslimin sedang sibuk memerangi kaum murtaddin. Sajah tidak pernah terlibat peperangan langsung dengan kaum muslimin. Justru dia ‘bersaing’ dengan sesama nabi palsu, yakni Musailimah, yang sempat memperistrinya selama tiga hari. Dia tinggal di tengah-tengah kaumnya hingga masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan, sebelum akhirnya dia diusir oleh Muawiyah.

Nabi Palsu Pasca Khulafaur Rasyidin

Dalam ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Imam Abu Ath-Thayyib Abadi menyebutkan sebuah atsar dari Ibnu Abi Hatim dari Abu Zumail; Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas RA, “Hai Ibnu Abbas, sesungguhnya Al-Mukhtar bin Abi Ubaid mengaku bahwa tadi malam dia mendapatkan wahyu.” Ibnu Abbas berkata, “Dia benar.” Abu Zumail yang saat itu berada di dekat Ibnu Abbas langsung tersentak. Dia bangun dan berkata, “Ibnu Abbas mengatakan Al-Mukhtar benar telah mendapatkan wahyu?”

Kata Ibnu Abbas, “Sesungguhnya wahyu itu ada dua macam; wahyu dari Allah dan wahyu dari setan. Wahyu Allah diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW. Sedangkan wahyu setan diturunkan kepada kawan-kawannya.” Lalu, Ibnu Abbas pun membaca ayat, “Sesungguhnya setan itu memberikan wahyu kepada kawan-kawannya untuk membantah kalian.” (QS. Al-An’am: 121)

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya.

Al-Harits ditangkap oleh Khalifah Abdul Malik. Ia disuruh bertaubat dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Tapi ia enggan. Ia tetap dalam kesesatannya. Akhirnya, Abdul Malik pun menjatuhkan hukuman mati padanya. Al-Ala` bin Ziyad berkata, “Aku tidak iri sedikit pun pada kekuasaan Abdul Malik. Tapi aku iri dengan vonis matinya terhadap Al-Harits. Sebab, Rasulullah SAW bersabda, ‘Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul tiga puluh orang dajjal pendusta yang semuanya mengaku nabi. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengaku nabi, maka bunuhlah ia. Dan barangsiapa yang membunuh salah seorang dari mereka, maka ia akan masuk surga’.” (HR. Ibnu Asakir)

Dua Sebab Munculnya Nabi Palsu

Setidaknya ada dua hal yang membuat seseorang mengaku nabi dan atau mendapatkan wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pertama, karena kebodohannya. Dan kedua, karena nafsu duniawi.

Dikarenakan kebodohan terhadap ajaran agama, seseorang yang lemah imannya sangat mudah digelincirkan setan. Dengan segala kelihaian dan kecerdikannya, setan bisa membuat seseorang merasa sangat yakin bahwa bisikan yang diterimanya adalah wahyu dari Allah melalui utusannya, Malaikat Jibril. Padahal, itu tak lain adalah bisikan setan

Dan, dikarenakan nafsu duniawi, baik itu motivasi materi ataupun kedudukan, seseorang bisa saja mengaku sebagai nabi dengan cara-cara yang dipoles sedemikian rupa. Anehnya, masih saja ada orang ‘Islam’ yang percaya kepada nabi palsu. Dan tak kalah aneh, ada pula yang menganggap nabi palsu sebagai seorang mujaddid! Wallahu a’lamu bish-shawab.*

Foto: Sergei Torop, mantan polisi lalu lintas di Siberia,  Moscow yang pernah mengaku sebagai Nabi dan memiliki 5000 lebih pengikut. Nampak Torop sedang mengadakan kebaktian di desanya Petropavlovka/gettyimage


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Fahmi , Ahad, 20 Februari 2011
Di dunia ini pasti banyak orang yang masih mengakui nabi, padahal nabi terakhir adalah Nabi Muhammad S.A.W.apakah mereka yang mengakui bahwa dirinya Nabi merasa sempurna?????????
  
   
  Alatif , Ahad, 20 Februari 2011
Kalau ada nabi2 muncul,itu bukan tugas Rasul atau ulama2, tapi tugas ALLAH semata mata. Hanya ALLAH yg tahu siapa yang benar dan siapa yang palsu. QS.6:159. salam
  
   
  Iqbal Khan , Senin, 21 Februari 2011
sekarang nabi palsu semakin banyak mereka adalah para idola anak muda...yaitu artis2
  
   
  Amif , Senin, 21 Februari 2011
@Alatif: Jangan ngawur pak,, masalah palsu atau nggak bukan hanya Allah yang tahu pak,, kita dah diberi panduan oleh Allah untuk mengetahuinya. Jangan diserahkan kepada Allah semua... Trus tugasnya manusia sebagai khalifah Allah mana..?
  
   
  Dhanie , Senin, 21 Februari 2011
la nabi ya ba\'dahu,,,,,,,,,,,,,,,,,,
  
   
  Abu Hanif , Kamis, 03 Maret 2011
alatif jgn diladeni.. dia ini selalu bikin kacau. entah intel entah apa
  
   
  Nurim , Kamis, 03 Maret 2011
ahmadiyah bilang, hadist itu menyatakan ada 30 pendusta yang mengaku nabi. nah jadi bila yang 30 nabi palsu itu sudah muncul, berarti bila ada yang mengaku nabi setelah yang 30 itu, bukanlah termasuk pendusta, jadi benar-benar nabi. nah bagaimana komentar anda mengenai kata-kata yang dilontarkan ahmadiyah itu. ada yang bisa memberi pencerahan?
  
   
  Sugeng , Jum'at, 04 Maret 2011
benar pak abu hanif, jangan diladeni alatif, karena dia penghamba HAM,tempo hari menulis komentar" HAM adalah inti ajaran islam dgn mengutip QS 90:10 " padahal kutipan surat tsb tdk ada hubungannya dgn HAM, sedangkan sekarang nabi palsu atau tdk palsu adalah urusan Allah dgn mengutip QS 6:159 , apakah alatif ini tdk membaca Allah sdh berfirman srt Al-Ahzab (QS 33:40) bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi, jadi selain Nabi Muhammad SAW adalah nabi palsu, makanya kalau belajar Al Qur'an jangan ditafsir sendiri nanti bisa keblinger.
  
   
  Aziz , Sabtu, 05 Maret 2011
iya emang ga usah diladeni.. buat apa ngladnin alatif..percuma kyk ngladnin kerbau aja..
  
   
  Usiam. Zuhir Syahrial , Selasa, 08 Maret 2011
Manusia di jaman edan ini aneh2. Maunya ingin jadi menteri, ingin jadi jendral, ingin jadi presiden, tapi tidak pernah jadi-jadi, karena ingin terkenal akhirnya memproklamirkan diri sebagai Nabinya Syetan2. Ualah manusia di jaman edan, banyak yang sakit jiwa pingin ngetop dan ingin punya banyak pengikutnya.
  
   
  Lilik4jkt , Selasa, 08 Maret 2011
@nurmin : difirmankan Allah SWT, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40) DISINI SUDAH JELAS TIDAK PERLU DI KOMENTARI LAGI PENDAPAT AHMADIYAH
  
   
  Aryo , Jum'at, 11 Maret 2011
yang jelas ahmadiyah itu AGAMA SYETAN buatan inggris, sama sekali gak ada hubunganya dengan islam...mirza ghulam si penipu terkutuk ...ini ujian buat orang2 yang beriman. berpeganglah pada alqur'an dan sunnah,,,insya Alloh selamat...
  
   
  Ndeboost , Jum'at, 11 Maret 2011
Kalau dibaca hadist yg terpapar, Rasulullah saw dan para Khalifah dst menjawab tantangan nabi palsu. Jadi menurut sdr Alatif, adakah Rasulullah saw dan para Khalifah dst mengingkari Al Qur'an?
  
   
  Ibrahim , Kamis, 17 Maret 2011
alatif itu bukan intel... tp setan yg d susupkan
  
   
  Dodi , Senin, 11 April 2011
hati -hati dengan tuduhan anda terhadap seseorang tuan, lebih arif kalau diselidiki dulu dan andaikata pun salah tidak dihujat, saya kwatir yg dituduh itu lebih baik dari pada yang menuduh... aman kan
  
   
  Abey , Jum'at, 10 Juni 2011
sangat mengherankan mengapa mereka mau menjadi nabi padahal sudah ada hadis dan firman yang menentangnya ???? sungguh mereka telah sesat se sesat-sesatnya
  
   
  Medi Agusman , Sabtu, 02 Juli 2011
kok ndak boleh beda pendapat sih.... suka2 dia komentar apa yangpenting kita cerdas menanggapinya... buktikan kalau dia salah. kalau dak bisa buktikan mending dak usah berdebat... orang baik itu adalah tidak berdebat meskipun dia berada dalam kebenaran... nah soal nabi palsu bukan hanya Allah yang tahu. orang yang beriman pada Allah dan rajin bacasurat cinta Allah juga tahu mana yang asli dan mana yang palsu....
  
   
  Tejo , Jum'at, 22 Juli 2011
Kalau kita menilai seseorang itu hanya dengan pikir maka hasil yang didapatkan tidak bisa maksimal, karena kita hanya bisa mengklaim orang salah, mengaku nabilah dll, tapi kita tidak pernah sadar dan menyadari bahwa ternyata kalau kita kembalikan didalam diri kita, kita ini juga hampir setiap saat mengaku jadi nabi palsu, kenapa!, mari kita tanya pada diri kita nabi dan Rosul menjalankan Alquran (artinya Kitab suci), orang mau mengaku nabi saya yakin tidak mungkin akan ngomong saya nabi/rosul, tapi secara Amaliah dia ingkar terhadap yang dijalankan nabi ayo kita cari bersama, kalau kita mengikuti Nab Muhammad, Nabi Muhammad adalah Sidiq, tablig, Amanah, Fatonah,, Kita sering tidak jujur, tidak bisa menyampaikan, tidak amanah, tidak cerdas(bukan pinter) cerdas itu pandai yg didasari dengan kejujuran dan amanah; tapi kadang kadang kita njawabnya itu kan Rosul, jawabku gampang yg namanya mengikuti itu ya nggak sama tapi paling tidak setiap saat kita kan bertobat mengadakan perbaikan ya nggak. mudah2an kita tergolong orang yg berakal. amin...
  
   
  Aelfizon , Jum'at, 17 Februari 2012
BEDA NABI DENGAN RASUL karena belum ada yang mencoba menjawab pertanyaan di atas, maka menurut pendapat saya kira-kira sbb.: Kalau kita teliti dan kaji di dalam Al Quran maka untuk tokoh rasul nampaknya tidak saja hanya dianugerahkan kepada 'manusia pilihan'-Nya ...semata, tetapi bisa juga kepada makhluk-Nya selain manusia, yang utama makhluk-Nya yang bernama malaikat dan ada juga jin, bahkan bisa juga makhluk-Nya yang lain seperti hewan. Rasul yang disandang oleh malaikat seperti termuat dalam QS. 22:75; 11:81 dan QS. 6:130). Sementara tokoh nabi, tidak ada yang diberikan kepada malaikat dan jin, hanya kepada 'manusia' saja. Lalu, terbukti dalam QS. 33:40 dengan tegas kenabian yang hanya berasal dari manusia ini tertutup bagi manusia lain setelah Nabi Muhammad SAW. Otomatis pula untuk jabatan kerasulan bagi ‘anak’ manusia juga tertutup karena umumnya manusia yang diangkat Allah SWT menjadi rasul yang berasal dari manusia adalah manusia yang sudah berkedudukan sebagai nabi. Sebaliknya, jabatan kerasulan untuk yang bukan dari manusia dan khususnya dari malaikat tidak tertutup, kan malaikat sampai akhir zaman tetap saja melaksanakan missi-Nya seperti diutus untuk mencabut nyawa 'anak manusia', memberi rezeki dll. Jika demikian, ya kalau ada 'manusia' ingin mengaku menjadi 'rasul', maka dia harus terlebih dahulu menjadi malaikat atau jin. Selanjutnya, tidak juga tepat jika kita katakan bahwa Muhammad SAW adalah rasul dan nabi terakhir, hal ini tidak sesuai dengan QS. 33:40 ini.
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

 
Info Anda
 
Aqiqah 40 Barokah

Aqiqah | Aqiqah Siap Saji | Melayani Syukuran | Khitanan | Gule Spesial | Sate | Kambing Guling

| (031) 7090 6075 | 40 Barokah

 
Nabiku Idolaku

Selamatkan anak anak kita dari krisis Idola dan krisis Akhlaq. Ajak mereka mengenal Idola terbaik sepanjang jaman melalui buku "Nabiku Idolaku"

bukuanakmuslim.com

 
Indo Islamic Store

Peluang Usaha Islami Terbaik 2012, menerima grosir dan eceran.

Indo Islamic Store

 
 
   Berita Sejarah Lainnya
  Sejarah dan Interpretasi Aliran yang Men...
  Kila dan Mimpinya tentang “Patani Daruss...
  Syeikh Jamil Jambek, Sang Penentang Huku...
  Shuhaib bin Sinan, Sang Pendamping Setia...
  Ulama Berjuluk “Penghidup Agama”
  Antara Menteri Saifuddin Zuhri Sampai Be...
  Al-Qadhi al-Fadhil, Sosok Penting dalam ...
  Al-Qadhi al-Fadhil, Sosok Penting dalam ...
  Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa
  Orientalisme dan Usaha Kudeta Kebudayaan
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved