Home Tsaqafah

 
Share |
Solusi Problem Ahmadiyah


 

Kamis, 17 Februari 2011

Oleh: Dr Syamsuddin Arif 

“Saya tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid [pembaharu]”, tulis Ir. Soekarno dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi, jilid 1, cetakan ke-2, Gunung Agung Jakarta, 1963, hlm. 345.

Mantan Presiden RI pertama itu bukan pertama dan bukan pula satu-satunya yang berpendapat demikian. Jauh sebelumnya, filsuf dan pujangga terkenal Sir Muhammad Iqbal ketika ditanya oleh Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India waktu itu, perihal Ahmadiyah dengan tegas menjawab bahwa wahyu kenabian sudah final dan siapapun yang mengaku dirinya nabi penerima wahyu setelah Muhammad saw adalah pengkhianat kepada Islam: “No revelation the denial of which entails heresy is possible after Muhammad. He who claims such a revelation is a traitor to Islam” (Islam and Ahmadism, cetakanDa‘wah Academy Islamabad, 1990hlm. 8).

Iqbal menangkap banyak kemiripan antara gerakan Ahmadiyah di India dengan Babiyah di Persia (Iran), yang pendirinya juga mengklaim dapat wahyu sebagai nabi. Menurut Iqbal, tokoh-tokoh kedua aliran sesat ini merupakan alat politik ‘belahbambu’ kolonialis Inggris -yang waktu itu masih bercokol di India- dan wayang imperialis Russia –yang sempat menjajah Asia Tengah dan sebagian Persia. Akidah mereka adalah ‘kepasrahan pada penguasa’ (political servility), jelas Iqbal (hlm. 13).

Jika pemerintah Russia mengijinkan Babiyah membuka markas mereka di Ishqabad, Turkmenistan, maka pemerintah Inggris merestui Ahmadiyah mendirikan pusat misi mereka di Woking, wilayah tenggara England. Bag iIqbal, doktrin-doktrin Ahmadiyah hanya akan mengembalikan orang kepada kebodohan. Inti dari Ahmadisme atau Qadianisme –demikian Iqbal lebih suka menyebutnya- adalah rekayasa mencipta sebuah umat baru bagi nabi India (sebagai tandingan nabi Arabia): “to carve out, from the Ummat of the Arabian Prophet, a new ummat for the Indian prophet.”(hlm. 2).

Seorang ulama India yang paling disegani pada zamannya, Syed Abul Hasan Ali an-Nadwi telah meneliti secara intensif dan objektif riwayat hidup Mirza Ghulam Ahmad, bagaimana MGA berubah dari seorang santri sederhana menjadi pembela agama (1880) lalumengklaim dirinya imam mahdi alias masihmaw‘ud (1891) dan akhirnya mengaku jadi nabi (1901).

Kesimpulannya, gerakan Ahmadiyah ini hanya menambah beban pekerjaan-rumah umat Islam, memecah-belah mereka, dan membikin masalah umat kian rumit (Lihat: Qadianism: A Critical Study, cetakan Lucknow 1980, hlm. 155).

Ajaran sesat Ahmadiyah dibawa masuk ke Indonesia sekitar tahun 1925 oleh beberapa pemuda asal Sumatera yang pernah dididik di Qadian, India selama beberapa tahun. Demi menyebarkan pahamnya, misionaris Ahmadiyah telah menerbitkan majalah “Sinar Islam” (sic!), Studi Islam dan Fathi Islam. Keresahan yang ditimbulkan oleh gerakan penyesatan umat ini sempat menyeret mereka beberapa kali ke dalam debat terbuka pada 1933 di Bandung (Lihat: Fawzy S. Thaha, Ahmadiyah dalam Persoalan, cetakan Singapura, 1982).

Meski telah dinyatakan sesat dan kafir (murtad) oleh tokoh-tokoh Islam pada Muktamar ke-5 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1930 di Pekalongan dan musyawarah Ulama Sumatera Timur tahun 1935 serta oleh Lajnah Radd as-Syubuhat Madrasah Indonesia Islamiyah Mekah yang dipimpin oleh Syekh Janan Muhammad Tayyib asal Minangkabau, kasus Ahmadiyah kembali mencuat pada 1974 setelah parlemen Pakistan dengan tegas menyatakan penganut Ahmadiyah bukan orang Islam (not Muslim) di mata hukum dan undang-undang negara. 

Pada tahun 1980 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang waktu itu dipimpin Buya Hamka telah pun menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat lagi menyesatkan, dan orang Islam yang menganutnya adalah murtad alias keluar dari Islam (No.05/Kep/Munas/II/MUI/1980).

Ketetapan tersebut ditegaskan kembali pada bulan Juli 2005 dalam fatwa resmi MUI yang ditandatangani oleh Prof. Dr. H. Umar Shihab dan Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin. Kemudian DirjenBimas Islam Departemen Agama melalui surat edarannya tahun 1984 telah menyeru seluruh umat Islam agar mewaspadai gerakan Ahmadiyah. 

Terakhir, 16 April 2008 lalu Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) menyatakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai kelompok sesat dan oleh karenanya merekomendasikan perlunya diberi peringatan keras lewat suatu keputusan bersama Menteri Agama, JaksaAgung, dan Menteri Dalam Negeri (sesuai dengan UU No 1/PNPS/1965) agar Ahmadiyah menghentikan segala aktivitasnya.

Menurut Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag, Atho Mudzhar, yang juga Ketua Tim Pemantau, selama tiga bulan Bakorpakem memantau 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten. Sebanyak 35 anggota tim pemantau bertemu 277 warga Ahmadiyah. Ternyata, ajaran Ahmadiyah masih menyimpang. Di seluruh cabang, Mirza Ghulam Ahmad (MGA) tetap dipercayai sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw. Selain itu, penganut Ahmadiyah meyakini kitab Tadzkirah sebagai kumpulan wahyu kepada MGA.

Para penganut dan penyokong Ahmadiyah kerap berkelit dengan tiga dalih mengelirukan.

Pertama, dalih bahwa orang Ahmadiyah itu sama dengan orang Islam karena syahadat mereka sama. Padahal, yang esensial bukanlah kesamaan, akan tetapi perbedaan. Orang Ahmadiyah itu berbeda dengan orang Islam bukan karena syahadat atau cara ibadahnya, tetapi karena akidahnya yang meyakini kenabian Mirza Ghulam Ahmad.

Sebagaimana disimpulkan olehYohanan Friedman, peneliti dari Hebrew University of Jerusalem: “The core of Ahmadi[yah] thought is its prophetology” (Lihat Prophecy Continous: Aspects of Ahmadi Religious Thought and Its Medieval Background, terbitan University of California Press Berkeley 1989, hlm. 131 dan 181).

Dengan begitu, Ahmadiyah tidak sama dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama atau Persatuan Islam yang tokoh-tokohnya sejak KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan A. Hassan tidak satupun pernah mengaku dirinya nabi.

Kedua, dalih bahwa sebagai warga negara penganut Ahmadiyah dijamin kebebasannya oleh konstitusi, dan melarang Ahmadiyah sama dengan melanggar hak asasi manusia (HAM) dan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945.

Di sini terselip kealpaan dan ketidakmengertian. Alpa dan tidak paham bahwa dalam ‘menikmati’ kebebasannya setiap warganegara wajib tunduk kepada batasan undang-undang demi terjaminnya penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan demi memenuhi tuntutan keadilan sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Artinya, penyalahgunaan kebebasan (abuse of freedom) ataupun tindakan merusak tata susila, agama, dan lain sebagainya walau atas nama HAM sekalipun tidak bisa dibenarkan. Apa yang diperbuat MGA dengan Ahmadiyahnya ibarat membangun rumah baru di dalam rumah orang lain. Yang dipersoalkan bukanlah hak dan kebebasannya mendirikan rumah, akan tetapi lokasi (di dalam rumah orang lain) dan konsekuensinya (merusak rumah yang sedia ada).

Dengan mengakui Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi, warga Ahmadiyah telah melakukan penodaan, penghinaan dan perusakan terhadap agama Islam, dimana tidak ada nabi dan rasul lagi pasca wafatnya Muhammad Rasulullah saw. 

Lebih dari itu, propaganda Ahmadiyah terbukti menimbulkan keresahan dan perpecahan tidak hanya di dunia Islam, seperti temuan Dr Tony P.Chi dalam disertasinya tentang misi mereka di Amerika (1973), hlm. 134-5: “Ahmadiyya preaching and propagation have instigated unrest and dissension in the Muslim World.”

Oleh karena itu, solusinya ialah melarang Ahmadiyah atau mengeluarkannya dari ‘rumah Islam’. Hanya dengan jalan itu Ahmadisme dengan nabinya (MGA) bisa bebas dan menjadi agama baru seperti halnya ajaran Mormon di Utah, Amerika.

Ketiga, dalih bahwa kaum Muslim harus mengedepankan kasih sayang daripada kekerasan dalam menyikapi Ahmadiyah. Saran ini lebih tepat disampaikan kepada Pemerintah Amerika dan Israel agar menunjukkan kasih-sayang dan menghentikan kekerasan (violence) terhadap kaum Muslim di Iraq dan Palestina.

“Abu Bakr as-Shiddiq ra adalah orang yang paling penyayang di kalangan umatku (arhamu ummati),” sabda Rasulullah saw. Namun manakala muncul sekelompok orang yang durhaka kepada Allah dan Rasulullah, beliau tidak segan-segan bertindak atas mereka. ”Muhammad utusan Allah dan orang-orang beriman bersamanya bersikap tegas terhadap orang kafir tetapi berkasih-sayang kepada sesama,” firman Allah dalam al-Qur’an (48:29).

Perkara Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama. Islam menjamin kebebasan setiap individu untuk memeluk –bukan merusak- agama apapun, sesuai dengan firman Allah: ‘Tidak ada paksaan dalam urusan agama.’ (al-Baqarah 256) serta ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.’ (al-Kāfirūn 6). Ayat-ayat ini ditujukan kepada agama lain di luar Islam, bukan terhadap agama dalam agama.

Oleh karena itu, Rasulullah saw sebagai kepala negara bersikap tegas kepada para nabi palsu semacam Musaylamah dan Tulayhah: bertobat atau diperangi (Lihat: Imam al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, 13:109).

Nah, Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya telah durhaka kepada Allah dan RasulNya serta melukai Umat Islam.

Jika statusnya Muslim, maka sudah semestinya tunduk pada ketetapan hukum Islam yang berlaku. Namun jika statusnya non-Muslim, maka terpulang kepada negara apakah akan mengakui dan melindungi keberadaannya sebagai sebuah agama baru –selain Hindu, Buddha, Islam, Katholik dan Protestan– ataukah sebaliknya. *

Penulis  pakar orientalis dari International Islamic University (IIU), Malaysia. Tulisan diambil dari INSISTNET


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Kang Sejo , Kamis, 17 Februari 2011
Wah, tulisan yang mantaaaapppp.... baru tau, Soekarno saja gak setuju paham Ahmadiyah atau Ahmadisme
  
   
  Nurim , Kamis, 17 Februari 2011
makanya islam mainstream, bersatulah dalam kebenaran. hormati pendapat sesama muslim sepanjang pendapat tsb layak dihormati. jangan senang bertengkar utk perkara-perkara yang sudah ratusan tahun pun ternyata tidak pernah disepakati. Musuh ahlusunnah wal jamaah itu banyak, jangan melemahkan diri sendiri dengan saling bertengkar dg kawan sendiri
  
   
  Mahendra , Kamis, 17 Februari 2011
yang disayangkan kenapa ya pemimpin negara kita tidak tegas menghadapi persoalan ahmadiyah...!!! takut citranya rusak atau memang gak ngerti konsep Islam dan ahmadiyah yang sesungguhnya???
  
   
  Abu Syifa , Kamis, 17 Februari 2011
Alhamdulillah.. ada tulisan yg secara tegas, lugas, dan sangat ilmiah yg menangkis subhat2 yg dilontarkan ahmadiah. Sehingga umat menjadi lebih tercerahkan dan bisa menghalau subhat2 dari bala tentaranya setan gol manusia.
  
   
  Bimo , Kamis, 17 Februari 2011
Ass,kang mohon pencerahannya sikap rasulullah yang tidak memerangi musailamah al kazab saat itu? apakah dapat dikemukakan alasannya....pertanyaan ini terinspirasi dari artikel di koran tempo kemaren...
  
   
  Yuning , Kamis, 17 Februari 2011
kereeeen...harusnya pemerintah kita baca artikel ini. keterlaluan kalau dah dibaca masih gak ngerti...diragukan tuh keislamannya.... jangan-jangan banyak dari pejabat kita yang islamnya cuma di ktp aja...
  
   
  Phutut Dharmawan , Jum'at, 18 Februari 2011
Alhamdulillah, semoga banyak rekan rekan yg membacanya,.. yg mana dalam menghadapi setiap masalah,.. kita sbg umat Islam wajib menyikapinya dg bijak,.. dan jgn gampang terbawa emosi,.. bukankah pengendalian diri juga termasuk JIHAD,. Insya Allah
  
   
  Cibinong Network , Jum'at, 18 Februari 2011
Antek2 Ahmadiyah memang sengaja mencari korban orang orang yang berpendidikan rendah untuk di rekrut. orang2 yang tidak mengerti AlQuran dijejali dengan kitab editan Tadzkirah. MIRZA memang TUKANG COPAS, COPY PASTE, Wahyunya pasti bukan dari Malaikat, tapi dari Lia Eden,..
  
   
  Jenal Mutakin , Jum'at, 18 Februari 2011
sebagai perluasan wawasan keislaman dalam tataran aqidah, ada baiknya diterangkan konsep dialog dalam islam dan mujadalah.sebuah ayat Al-Qur'an dibacakanoleh bp prof. azumardi azhra '....wajadilhum billati hiya ahsan. bagaimana terminologi Jidal dan Mubahalah?
  
   
  Fauzan , Sabtu, 19 Februari 2011
@Bimo : setahu saya ikrar musailamah al kadzab sebagai nabi itu ketika Rasulullah SAW sudah meninggal, makanya saiyyidina Abubakar Ash-shiddiq lah yang memeranginya, wallahua'lam kalau ada referensi lain.
  
   
  Tiren Makmun , Ahad, 20 Februari 2011
”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” apakah ahmadiyah itu,,,sebuah minoritas yg selalu didebatkan..but ni artikel bagus banget...siiip maju terus
  
   
  Alatif , Selasa, 22 Februari 2011
solusi yg efektif dan adil adalah MUI harus menarik kembali Fatwa Haram kpd Ahmadiyah dan pluralism. Umat Islam akan bersatu kembali dlm berbeda beda. ,Binikha Tunggal Ika. Masalah keykinan bukan hak manusia atau ulama2 tapi hak ALLAH yang Maha Tahu.
  
   
  Pandu , Selasa, 22 Februari 2011
Biarlah mrk menjlnkan apa yg mrk yakini bukankah diahir jaman akan ada 76 golongan umat islam itupun alirannya beda2 lho .... jadi daripada menghabiskan energy buat sesuatu yg sudah digariskan, mending kerja keras jadi muslim yang kaya seperti Rasullulah aja.
  
   
  Alatif , Selasa, 22 Februari 2011
akhlak Rasulullah saw yg asli dr al quran
  
   
  Edis , Rabu, 23 Februari 2011
banyaknya berita yang membahas ahmadiyah tentunya kita sebagai anak bangsa jgn mudah terbawa. penilaian kebenaran bukan melihat siapa yang menatakan akan tetapi apa yang dikatakan. teori kebenaran harus dilihat dari alquran dan hadits bukan disampaikan oleh siapa. anak bangsa yang baik mereka cendrung mendiskusikan permasalahan yang muncul bukan menghujat tanpa pertimbangan yang masak
  
   
  Perry Aspan , Rabu, 23 Februari 2011
para pengikut MGA [Ahmadiyah] termasuk kategori TERORIS AGAMA, dan layak dihukum seberat-beratnya. Semoga Negara mengeluarkan UU Teroris Agama.
  
   
  Muhammad , Senin, 28 Februari 2011
Ahmadiyah pinter sedikitlah jangan pura pura bodoh "apa bodoh beneran" , masa belum ngerti maksud umat islam kalau ngaku muslim ikuti ajaran Islam "mudah kan" kalau tidak sepaham JANGAN ngaku muslim bikin agama baru di luar muslim. bikin kiblat sendiri, jadi enak.
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

 
Info Anda
 
Aqiqah 40 Barokah

Aqiqah | Aqiqah Siap Saji | Melayani Syukuran | Khitanan | Gule Spesial | Sate | Kambing Guling

| (031) 7090 6075 | 40 Barokah

 
Nabiku Idolaku

Selamatkan anak anak kita dari krisis Idola dan krisis Akhlaq. Ajak mereka mengenal Idola terbaik sepanjang jaman melalui buku "Nabiku Idolaku"

bukuanakmuslim.com

 
Indo Islamic Store

Peluang Usaha Islami Terbaik 2012, menerima grosir dan eceran.

Indo Islamic Store

 
 
   Berita Tsaqafah Lainnya
  Antara Ilmuwan Islam dan Sekuler
  Tantangan Aktual Ahlusunnah Wal Jama’ah
  Sunni-Syiah: Perbedaan Aqidah!
  Sunni-Syiah: Perbedaan Aqidah!
  Orientalisme dan Hujatan terhadap Rasulu...
  Orientalisme dan Hujatan Terhadap Rasulu...
  Syiah dan Kitab-Kitab Perusak Kehormatan...
  “10 Logika Dasar Penangkal Syiah”
  “10 Logika Dasar Penangkal Syiah”
  Syiah dan Kesalahpahaman “Pembelanya”
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved