Kekejian di “Gaza Kecil”
Setelah serangan barbar pasukan Zionis Israel itu, enam dari delapan kapal Freedom Flotilla, termasuk Mavi Marmara, berlabuh di Pelabuhan Ashdod yang dikuasai Israel. Status kapal-kapal tersebut seluruhnya berada dalam kontrol tentara Israel. Pemerintah Israel menahan dan memenjarakan para aktivis yang ikut dalam rombongan misi kemanusiaan tersebut jika mereka tidak mau dideportasi ke negara asalnya. Sedikitnya 600 orang aktivis yang berada di atas kapal ditahan Israel.
Yang menarik, aparat Israel membuat tipu daya kepada aktivis yang ditahan saat mereka diinterogasi. Mereka disebutkan memasuki Israel secara ilegal. Pengalaman Edward Peck dari AS contohnya. Mantan Dubes AS untuk Mauritania, Edward Peck, yang ikut dalam rombongan kapal Mavi Marmara, mengungkapkan pengalamannya saat diinterogasi.
"Israel secara illegal menguasai Gaza, seperti yang dipahami oleh dunia. Malah Israel mengatakan, 'Anda tidak bisa masuk ke wilayah ini karena kami sedang mempertahankan diri.' Ketika kami ditangkap dan diarahkan ke Ashdod, salah seorang pejabat Israel bertanya kepada saya bahwa saya akan dideportasi. Saya jawab, Ok. Lalu dia berkata, 'Anda telah melanggar hukum Israel.' Lalu saya jawab, 'maaf, saya diarahkan ke sini, hukum Israel apa yang saya langgar?'"
"Dan dia menjawab, 'Anda masuk ke wilayah Israel secara illegal. Saya bilang, 'OK, kapal ditangkap secara paksa dan saya dibawa kemari dengan paksa, di bawah tekanan, dan terpaksa masuk ke negara Anda yang bertolak belakang dengan keinginan saya, dan Anda sebut saya masuk secara illegal’ Lalu kita berbicara dengan bahasa dan pijakan yang berbeda. Namun itulah mengapa mereka mendeportasi saya, karena saya dianggap masuk secara illegal (padahal) saya tidak ingin masuk ke sana."
Sementara Santi di hadapan petugas imigrasi dipaksa membubuhkan sidik jarinya pada sebuah mesin dalam suatu interogasi. Namun Santi menolak melakukannya. "Anda telah memasuki negara Israel, sehingga Anda harus melakukannya!" kata petugas imigrasi Israel.
"Aku tidak masuk Israel. Aku tidak datang ke sini dengan pilihan. Prajurit Anda menculik dan membawa aku ke sini dengan paksa, "jawab Santi.
"Apakah Anda menolak untuk melakukan ini?"
"Saya menolak."
"Anda harus melakukannya!" Pria itu sekarang mulai berteriak dengan pembuluh darah di leher menggembung.
Dia kemudian beralih ke orang lain, kemungkinan atasannya, dan berbicara cepat dalam bahasa Ibrani. Orang kedua itu lantas mendekati Santi, masih berdiri di depan sebuah kamera digital yang terpasang pada bagian atas mesin.
"Dengar, ini hanya untuk tujuan ID. Letakkan saja jari Anda di sana." Orang kedua itu mencoba memberi alasan pada Santi.
"Anda mengambil gambar saya, Anda telah mengambil paspor saya, apa lagi yang Anda butuhkan? Bagaimana saya tahu bahwa Anda tidak akan menggunakan sidik jari saya untuk beberapa tujuan lain, mungkin untuk mengikuti gerakan saya," ucap Santi tetap menolak.
"Saya berjanji kepada Anda bahwa kami tidak akan menggunakannya untuk mengikuti aktivitas Anda ..."
Santi tertawa mendengarnya. "Tentara Anda telah membunuh orang , sekarang Anda membuat janji..."
"Saya baru saja bepergian ke beberapa negara seperti Thailand, dan saya juga harus memberikan sidik jari saya ada di sana," kata pria itu lagi, suaranya sekarang meningkat.
"Anda bepergian, aku diculik…" ucap Santi.
Lain lagi dengan yang dialami Ken O'Keefe, relawan asal Amerika Serikat keturunan Irlandia. Dia mengalami luka berat justru ketika berada di Israel.
Pada hari Sabtu (5/6), Ken mengatakan, dia diserang secara brutal oleh tentara Israel di bandara sebelum diberangkatkan ke Turki. Akibatnya Ken harus dirawat akibat kekerasan fisik minimal tiga kali lipat lebih berat dibandingkan ketika ia turun dari kapal. Dia dirawat inap di rumah sakit akibat luka-luka pukulan tersebut.
"Pada insiden penyerangan tentara Israel di kapal Mavri Marmara, saya ditanya, 'apakah saya menggunakan kamera atau mempertahankan kapal?'" kata Ken.
“Saya secara antusias berkomitmen untuk mempertahankan kapal. Meskipun saya termasuk orang yang tidak suka kekerasan, kenyataannya saya percaya cara tanpa kekerasan harus jadi pilihan pertama. Meski demikian, saya bergabung dengan usaha pertahanan Mavri Marmarra karena memahami kekerasan bisa saja dilakukan terhadap kami dan kemungkinan kami juga terpaksa untuk menggunakan kekerasan dalam bela diri. Saya mengatakan hal itu langsung kepara agen Israel, mungkin dari Mossad atau Shin Bet. Dan saya katakan, pada serangan yang dilakukan pagi hari itu, saya secara langsung terlibat dengan usaha pelucutan senjata atas dua pasukan komando Israel.”
“Hal itu harus dilakukan atas pasukan komando yang sudah membunuh dua orang saudara relawan yang saya lihat hari itu. Satu relawan ditembak dengan peluru bersarang di dahinya, tampak jelas sebagai eksekusi. Saya tahu pasukan komando berusaha membunuh ketika saya berhasil merebut pistol ukuran 9 mm dari salah satu anggotanya. Saya memegang senjata itu di tangan saya dan sebagai mantan Angkatan Laut AS dengan pelatihan senjata yang cukup, saya sangat mampu menggunakan senjata tersebut ke arah pasukan komando yang mungkin telah membunuh salah satu relawan.
Namun, saya tidak melakukan itu. Saya mengambil senjata itu, mengeluarkan peluru yang merupakan peluru tajam asli, kemudian memisahkannya dan menyembunyikan senjata itu. Saya melakukan hal itu dengan harapan kami dapat mengatasi serangan tersebut dan mengajukan senjata itu sebagai bukti dari percobaan kriminal pihak Israel untuk suatu pembunuhan massal.”
“Saya juga membantu secara fisik memisahkan satu anggota komando dari serangan senapan, ketika relawan lain dilemparkan ke laut. Kami pun menguasai tiga orang pasukan komando tanpa senjata dan tak berdaya. Mereka hidup karena belas kasihan kami. Mereka sangat jauh dari jangkauan anggota komando lain yang berniat membunuh. Mereka di dalam kapal dan dikelilingi oleh sekitar 100 relawan atau lebih. Saya melihat ke arah mata tiga pria tersebut dan saya yakin mereka memiliki rasa takut terhadap Tuhan di dalam diri mereka. Mereka juga memandang ke arah kami dan berharap kami memahami jika sedang berada di posisi mereka. Saya tidak ragu, mereka tidak percaya akan ada jalan mereka bisa selamat hari itu. Mereka tampak seperti anak kecil yang ketakutan di hadapan ayah yang kejam. Namun, mereka tidak menghadapi musuh yang tak berperasaan hari itu. Bahkan, relawan wanita menyediakan pertolongan pertama dan kemudian mereka dibebaskan dengan memar, tapi hidup. Mereka dapat hidup di hari esok. Dapat merasakan matahari di atas kepala dan memeluk orang tercinta. Tak seperti para relawan yang dibunuh. Meskipun kami berduka atas kehilangan saudara-saudara yang meninggal, merasa marah terhadap para tentara itu, namun kami melepas mereka…”
Sedang bagi Dzikrullah, apa yang dialaminya tertuang dalam suratnya, “Ya Allah… Kami berniat pergi ke Gaza untuk menengok saudara-saudara kami yang sedang diembargo, dikepung, diancam, Alhamdulillah, belum lagi sampai kami di Gaza, sudah Engkau hadirkan “Gaza” ke dalam kapal ini. Rupanya inilah suasana yang setiap hari dirasakan saudara-saudara kami di Gaza, di Masjidil Aqsha, di Palestina…”
“Ya Allah… Kami merasakan penjajahan dan penindasan yang menjijikkan ini beberapa belas jam, paling lama berpuluh jam, tapi saudara-saudara kami merasakannya setiap hari selama embargo 3 tahun ini. Bahkan saudara-saudara kami di seluruh Palestina dan Masjidil Aqsha merasakannya setiap hari selama 63 tahun dijajah Israel…”
Memang Gaza hanya membutuhkan pertolongan Allah, karena Gaza milik Allah, tetapi perjuangan para relawan niscaya tidak akan sia-sia. [SI, dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
|