Banner

Hidayatullah.com - Situs Islam Pembela Umat

Penghasilan Lebih Besar, Istri Semena-mena

E-mail Print PDF
Assalamu'alaikum wr wb

Ustadz yang dirahmati Allah. Perkenalkan, saya –panggil saja—Tampan. Saat ini saya bekerja sebagai PNS. Sewaktu kuliah aktif di dakwah kampus, yang saya teruskan sampai sekarang. Saya menikah dengan sesama aktivis dakwah.

Awalnya saya bekerja di perusahaan swasta, demikian juga istri. Tahun 2005 saya ikut tes CPNS dan diterima di departemen, sedangkan istri diterima di perusahaan swasta lain. Sewaktu awal sebagai CPNS, saya merasa tidak cocok dan ingin keluar. Tetapi dilarang oleh mertua dengan alasan menjadi PNS makin lama makin baik penghasilannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, sebagai PNS penghasilan saya lebih kecil dari istri sehingga sebagian besar kebutuhan hidup ditopang oleh istri saya. Mulanya hal ini berjalan biasa saja. Lama kelamaan, istri jadi suka melawan dan tak mau taat pada saya. Selain itu dia terkadang suka menghina dan melecehkan saya dengan kata-kata yang tidak senonoh. Seolah-olah semua pembinaan yang didapat dari tarbiyah selama di kampus hingga sekarang, hilang tak berbekas. Dia juga terkadang membanding-bandingkan saya dengan suami lain yang dianggapnya lebih baik. Hal ini sungguh menyakitkan dan menyedihkan saya.

Saya hanya bisa mengadukan hal ini kepada Allah saja. Saya sedih dan heran dengan kelakuannya, padahal dulu saya mengambil CPNS ini atas kesepakatan bersama. Karena kelakuannya itu pula, pekerjaan saya jadi tidak optimal. Selama 4 tahun ini, saya juga berusaha keras supaya ada perubahan penghasilan, mulai dari mencari pekerjaan lain yang lebih baik, berbisnis, mengajar privat, dan lain-lain. Namun semua itu masih belum berhasil.

Ustadz apa yang harus saya lakukan? Saat ini saya depresi oleh kelakuan dan kedurhakaan istri saya? Hanya anak kami yang bisa membuat saya bertahan atas kondisi ini. Saat ini saya merasa rendah, terhina, tak berharga, dan tak berguna. Apa yang harus saya lakukan ustadz?

Saya menunggu jawaban ustadz segera. Jazakallah.

Wassalamu'alaikum wr wb
 
Yang merasa lemah tak berdaya,
Tampan

 

Jawaban:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudaraku yang dirahmati Allah.

Kebahagiaan memang tidak dapat digapai dengan memenuhi kebutuhan yang bersifat materiil saja. Buktinya, walaupun Anda berdua sama-sama bekerja dan punya penghasilan, ternyata masih belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga Anda.

Keinginan kita kadang lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan kita yang sebenarnya, sehingga pendapatan kita pun selalu tidak cukup untuk memenuhinya. Saya tidak yakin bahwa masalah Anda yang sebenarnya adalah karena gaji Anda lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan istri.

Dalam rumah tangga, antara suami istri membutuhkan saling menyayangi, saling menghargai, dan menghormati. Tanpa itu semua, berapapun penghasilan Anda maupun istri, keharmonisan dan kebahagian hanya menjadi impian belaka.

Saya bisa memahami bagaimana sedih dan kecewanya Anda sebagai seorang suami yang merasa tidak lagi ditaati dan dihargai oleh istri Anda sebagai kepala rumah tangga.

Saudaraku,

Saya kira Anda berdua merupakan keluarga yang beruntung dan selayaknya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Anda berdua memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang tidak semua orang bisa memperolehnya. Bahkan masih banyak saudara kita yang tidak memiliki sumber penghasilan yang jelas untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika kita mengikuti keinginan, maka kita tidak akan pernah merasa cukup berapa pun penghasilan yang Anda terima.

Cobalah membangun komunikasi yang lebih intensif dengan istri Anda, agar Anda bisa mengetahui lebih dalam apa yang menyebabkan istri Anda bersikap seperti itu? Ini sangat penting, agar Anda tidak salah dalam menemukan solusi yang tepat.

Carilah waktu dan kesempatan yang tepat untuk Anda berbicara dari hati ke hati. Ajaklah istri Anda mendiskusikan, bagaimana agar Anda berdua bisa menggapai kehidupan keluarga yang berbahagia, yang pernah Anda cita-citakan berdua. Ajaklah untuk mengingat kembali idealisme-idealisme yang pernah Anda miliki di awal pernikahan Anda dulu.

Jika ada hal-hal yang mungkin membuat Anda berdua mengalami kekecewaan pada kekurangan masing-masing, Anda dapat saling memaafkan. Kemudian  membuat komitmen untuk memperbaiki kekeliruan masing-masing, dan saling mengingatkan di antara suami istri agar tidak ada masalah yang tidak terkomunikasikan di masa mendatang. Jika Anda dapati perbedaan pandangan, Anda dapat mendiskusikannya dengan kasih sayang. Jika Anda tidak dapat memecahkannya sendiri, Anda dapat mengajak istri Anda berkonsultasi kepada orang yang lebih memahami (misalnya ustadz), sehingga Anda dan istri mendapatkan penjelasan yang benar.

Saya yakin, dengan latar belakang Anda berdua sebagai aktifis dakwah di kampus, Anda berdua memiliki bekal pemahaman agama yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat umum. Dengan kembali kepada nilai-nilai ajaran Islam, insya-Allah masalah Anda dengan mudah bisa diselesaikan.

Semoga Bulan Ramadhan ini menjadi wasilah untuk Anda bersama istri kembali kembali kepada Allah dan Rasul-Nya

Wassalam

Pengasuh:

Ainur Rofiq
 
Banner

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved    
Banner