Hidayatullah.com - Situs Islam Pembela Umat

Bookmark and Share

Istriku pacaran dengan teman kuliahnya

E-mail Print PDF
Assalamu'alaikum Pak Ustadz.

Saya baru  13 bulan menikah. Pada bulan Oktober 2008, istri saya (memakai jilbab) berangkat melanjutkan studi di luar negeri. Di sana karena tergoda, dia telah berpacaran dengan orang Bolivia (non muslim). Saya baru mengetahui dia berpacaran sejak Mei 2009 dengan membongkar email dia. Sejak mei ketika saya mengkonfirmasi ke dia (tanpa memberitahu saya sudah membongkar emailnya), dia bungkam dan berbohong. Akhir bulan juni dia pulang untuk mencari data tesis. Namun, beberapa hari sebelum dia sampai Indonesia, karena saya sudah tidak kuat menahan, saya tidak terkendali sehingga informasi dan surat-surat cinta email dia diketahui oleh orang tua dan keluarga saya. Mereka dengan keras meminta saya untuk menceraikan istri saya.
 
Satu malam sebelum istri saya pulang, saya membeberkan semuanya pada orang tuanya. Dan lusanya, saya mengkonfirmasi dia dan akhirnya dia mengakui. Dia telah menyesal dan telah mengatakan bahwa orang Bolivia itu akan menikah dan rasa cinta itu karena tergoda dan saya kurang bisa mengekspresikan cinta dan kasih sayang kepada istri saya. Saat itu saya telah memutuskan berpisah rumah dengan istri saya sementara hingga sekarang. Yang mana keputusan akhirnya menunggu setelah istri saya menyelesaikan studinya.

Sekarang istri saya masih di Indonesia. Yang mau saya tanyakan kepada pa ustadz. Apa yang sebaiknya harus saya lakukan apakah harus bercerai atau melanjutkan ikatan pernikahan (dengan risiko trauma atau dibohongi lagi, dan adanya ultimatum orang tua saya utk tidak merestui). Sebagai keterangan, tingkat pacaran istri saya hingga melayani layaknya kepada suami (memasakan dan menemani orang bolivia itu bepergian) dan sampai taraf (maaf) mencium. Namun tidak sampai melakukan perbuatan zina. Adapun jika menanyakan rasa cinta dan sayang. Hingga saat ini saya masih memiliki perasaan cinta dan sayang kepada dia namun sudah mulai agak luntur karena pengkhianatan tersebut. Saya mohon jawaban pa ustadz.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Dd

Jakarta


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mas DD yang dirahmati Allah…, saya bisa memahami perasaan anda sebagai seorang suami yang sangat mencintainya.

Istri anda memang telah melakukan kesalahan. Yaitu berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Tetapi bukan hanya istri anda yang bersalah; andapun sesungguhnya juga ikut andil dalam kesalahan tersebut. Yaitu mengizinkan istri bepergian sendiri dalam waktu yang lama tanpa disertai mahram. Apalagi tinggal sendiri di tempat yang jauh (luar negeri) dalam waktu yang lama.

Sesungguhnya agama Islam telah memberikan rambu-rambu kepada kaum muslimin, agar kaum wanita terjaga kehormatan diri dan agamanya. Diantaranya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Hadits diatas menunjukkan keharaman seorang wanita mulimah bepergian lebih dari sehari semalam tanpa diserta mahramnya. Ketentuan tersebut berlaku umum, bahkan termasuk pergi untuk menunaikan ibadah haji.

Istri anda telah mengakui kesalahannya dengan jujur, dan ingin memperbaiki diri. Dalam pengakuannya juga menyatakan masih mencintai anda. Begitupun dengan anda anda sendiri yang merasa masih mencintainya. Walaupun masih tersimpan perasaan terluka dan trauma jika nantinya akan terulang lagi.

Memperhatikan keadaan anda berdua diatas, menurut saya akan lebih baik jika anda mengajak istri anda untuk bertaubat kepada Allah; yaitu dengan menyesali kekeliruan yang dilakukan, meminta ampunan-Nya, berjanji untuk tidak mengulanginya, berkomitmen untuk mengganti dengan amal yang lebih baik. Sesudah itu anda saling memaafkan dan melupakan apa yang sudah terjadi. Walaupun memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka hati anda.Tetapi jika anda berdua dapat mengganti kesalahan tadi dengan sikap dan perilaku yang diridhai oleh Allah, insya-Allah cinta dan kasih sayang itu akan kembali anda raih. Seiring dengan diraihnya kecintaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Ultimatum dari keluarga andapun akan mereda seiring dengan perubahan sikap dan perilaku anda berdua.

Untuk meminimalisir kesalahan yang sama dikemudian hari, akan lebih baik jika anda mendampingi istri ke luar negeri anda untuk menyelesaikan studinya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melapangkan anda berdua untuk meniti jalan yang diridhai-Nya.

Wassalam,

Ainur Rofiq
(Pengasuh)

 
Kamis, 02 September 2010
Banner
Banner
Banner
Banner

Iklan Baris

tokoherbalonline.com
Sedia Jus Noni Javanony cocok untuk
hipertensi, kolesterol, diabetes dll.
www.metromediaenterprise.com/
Pertama di Indonesia!
Metode Belajar Haji & Umrah Spektakuler Plus 14 VCD Belajar Manasik Terbaru
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.busanabajumuslim.com
Busana Muslim Istimewa.
Istimewa kualitasnya.
Istimewa Murahnya.
Istimewa Hadiahnya

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved