Banner

Hidayatullah.com - Situs Islam Pembela Umat

Ekspektasi suami

E-mail Print PDF

Assalamu'alaikum Ustadz,

Saya seorang istri, umur 27 tahun dan baru 1 tahu menikah. Dua hari yang lalu saya dan suami bertengkar hebat, pendapat suami tentang saya adalah bahwa "saya tidak bisa memposisikan sebagai seorang istri yang baik yang punya kewajiban terhadap suami".

Hal itu yang suami katakan ketika kami bertengkar karena alasan saya tidak bisa mendahului suami saya bangun di pagi hari. Sebagai info, saya juga seorang wanita karir dan kantor saya sekitar 35 km jaraknya dari rumah. Saya merasa pendapat suami saya agak berlebihan karena saya sudah berusaha untuk melayani suami baik lahir maupun bathin.

Sebagai contoh; memasak, mengurus pakaiannya, menjadi teman curhat dan diskusinya pada saat sedang menghadapi masalah. Sampai saat ini kami masih saling diam dan tidak berbicara satu sama lain. Terus terang ustadz, saya kecewa dengan pernyataan suami saya. Pada kesempatan ini mohon dapat diberikan bimbingan dan saran terhadap rumah tangga kami agar dapat menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.

Wassalamu'alaikum WR.WB

Puri

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Mbak Puri yang dirahmati Allah

Saya bisa memahami jika anda merasa tersinggung dengan ucapan suami yang mengatakan bahwa anda tidak bisa memposisikan sebagai seorang istri yang baik. Walaupun selama ini anda sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk suami.

Sebagai keluarga baru, bisa dimaklumi apabila banyak ditemukan perbedaaan-perbedaan dalam kehidupan keluarga, baik dalam hal kebutuhan, keinginan, hal-hal yang disukai maupun yang dibenci.  Perbedaan-perbedaan tersebut adalah suatu hal yang wajar; karena anda dan suami anda dilahirkan dengan karakteristik yang berbeda, tumbuh dari keluarga dan lingkungan yang berbeda pula.     

Untuk sampai kepada kecocokan dalam kehidupan suami istri memerlukan suatu proses perjuangan dari anda dan suami anda. Proses tersebut antara lain; dengan berusaha saling menerima kekuarangannya, menghargai pendapatnya, saling membantu dalam hal-hal yang baik, saling menasehati,  mencari kesefahaman dalam hal-hal yang berbeda.

Semua itu perlu dilakukan dengan cara membangun komunikasi yang baik. Tanpa anda komunikasikan, maka anda tidak akan memperoleh penjelasan yang cukup apa sebenarnya yang ia maksudkan, mengapa ia mengatakan hal itu? Apa sesungguhnya yang ia inginkan dari anda, dan sebagainya. Suamipun tidak akan pernah mengerti perasaan yang ada didalam hati anda jika tidakdi komunikasikan.

Tentu saja anda harus memilih waktu yang tepat dan bahasa yang lemah lembut, agar tidak menimbulkan ketegangan baru. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan; antara lain:

1.    Awali dengan permohonan maaf kepada suami anda, apabila selama ini ada sikap, ucapan dan perilaku anda yang belum sesuai harapan nya.
2.    Sampaikan, bahwa selama ini anda sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik dengan melakukan apa yang menjadi kewajiban anda.
3.    Jelaskan pula bahwa perasaan anda sangat terluka ketika suami anda mengatakan bahwa anda tidak bisa memposisikan sebagai seorang istri yang baik.  Mintalah penjelasan dari suami anda, mengapa ia berpendapat  seperti itu?   Adakah hal-hal yang seharusnya anda lakukan yang belum bisa anda lakukan? Mintalah suami anda untuk bisa memahami keadaan anda jika ada hal yang berada diluar kemampuan anda.
4.    Selanjutnya diskusikanlah bagaimana sebaiknya agar tugas dan kewajiban sebagai suami istri dapat diselesaikan dengan baik, di tengah-tengah beban tugas masing-masing. Musyawarahkan pula bagaimana caranya saling mengingatkan dan menasehati yang baik, agar tidak menimbuklan perasaan saling menyakiti?

Insya-Allah jika komunikasi yang baik diantara anda dan suami anda terjaga dengan baik, maka salahfaham dan ketersinggungan itu dapat diminimalisir. Demikan, semoga Allah selalu merahmati mbak puri sekeluarga.  

Wassalam

Pengasuh:
Ust. Ainur Rofiq
      

 
Banner
Selasa, 16 Maret 2010
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved    
Banner