frontpage hit counter

Bahagiakan Perut

lebih dominan mana, makanan yang kita makan sehari-hari, yang masih ada “nyawa” nya atau sudah hilang semua

Terkait

SEBUAH kajian terbaru menyebutkan salah satu satu hormon kebahagiaan yaitu “serotonin” ternyata banyak dan sebagian besar di produksi di perut, sebuah fakta mengejutkan dan juga sekaligus membuat kita semua harus bertanya-tanya apakah kita sudah membahagiakan perut kita.

Perut merupakan tempat berkumpulnya segala jenis reaksi dan notabene salah satu yang penting adalah Enzim, hampir 5000 enzim yang terdapat di tubuh kita, jika enzim ini baik maka otomatis tubuh juga akan mengikuti.

lalu bagaimana hubungan antara enzim tersebut dengan kebahagiaan, sebenarnya penjelasannya sederhana,sebagaimana tadi dikatakan bahwa serotonin banyak diproduksi di perut, tentunya bagaimana agar perut kita “bahagia” ?

Jika ingin perut bahagia dan ia senantiasa terus memancarkan kebahagiaan, maka mulailah memberi suplemen kebahagiaan kepada perut.

Perut yang sangat sensitif terhadap apapun yang masuk, sejatinya sangat bahagia ketika yang masuk ke dalam perut tersebut adalah produk yang alami dan segar.

Kenapa harus alami dan segar? Karena “nyawa” suatu produk baik itu makanan atau minuman terletak jika ia masih alami dan segar, dan disitulah berperan enzim yang membantu proses reaksi dan metabolisme makanan tersebut, jika enzim tersebut tidak ada, maka hilanglah nyawa makanan itu dan tubuh tak mampu mengolahnya.

Dan semua orang sangat membutuhkan dan sangat menginginkan enzim tersebut dan kita memang meminta nya, sebaik-baiknya produk jus jeruk kemasan, tetap saja lebih baik jus jeruk yang alami dan segar tanpa menggunakan bahan apapun kecuali jeruk.

Bahkan, jika pembaca sekalian ingin pesan makanan, bukankah pembaca inginnya yang masih segar dan masih “hangat”, itulah tanda bahwa tubuh kita menginginkan yang alami dan segar.

Maka, pertanyaan selanjutnya adalah lebih dominan mana, makanan yang kita makan sehari-hari, yang masih ada “nyawa” nya atau sudah hilang semua? Dan “nyawa” disini bukanlah produk yang berasal dari hewan saja.

Jika lebih banyak yang tidak ber”nyawa” maka apakah yang terjadi? Tunggu artikel berikutnya.

Salam inspirasi sehat.*

@zaidulakbar

Rep: -

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !