frontpage hit counter

CAP - 420

Misionaris Belanda dapat Penghargaan Setingkat Pahlawan Nasional Indonesia [1]

Bagi muslim Indonesia, sosok van Lith dikenang sebagai tokoh misionaris Belanda yang berhasil memurtadkan begitu banyak orang muslim di Jawa

Misionaris Belanda dapat Penghargaan Setingkat Pahlawan Nasional Indonesia [1]
hidupkatolik.com
Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ

Terkait

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Pada 23 September 2016, laman Gereja Katolik www.parokisantahelena.or.id, memuat tulisan tentang penghargaan pemerintah Indonesia terhadap tokoh Katolik Frans van Lith. Berikut sejumlah petikannya:

“Kabar sukacita! Jumat, 23 September 2016, almarhum Romo Fransiskus Gregorius Van Lith (meninggal tahun 1926 pada umur 62 tahun) akan menerima satya lencana setingkat Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta. Romo Van Lith adalah imam Yesuit yang meletakkan dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Pada 14 Desember 1904 Romo Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo. Ke-171 orang tersebut adalah pribumi pertama yang memeluk Katolik. Selain itu, masih banyak lagi kiprah beliau untuk Indonesia tercinta. Ya, meski kelahiran Belanda, Romo Van Lith selalu memperjuangkan kepentingan kaum pribumi. Sungguh, seorang tokoh yang sangat inspiratif!”  (http://www.parokisantahelena.or.id/2016/09/franciscus-georgius-josephus-van-lith/)

Sementara itu, laman Koran The Jakarta Post, 21 September 2016, menulis berita berjudul: “Ismail Marzuki, Van Lith, Martha Tilaar on cultural award winners list.”

“Renowned poet Ismail Marzuki, cosmetic mogul Martha Tilaar and Dutch-born Javanese culture promoter Franciscus Georgius J van Lith are recipients of one of this year’s prestigious culture awards for their outstanding contributions to the promotion of arts and culture in Indonesia.”

Jadi, menurut berita The Jakarta Post tersebut, van Lith mendapat penghargaan bidang budaya karena sumbangannya yang luar biasa dalam bidang  budaya di Indonesia. Sejak tahun 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan kepada 54 orang bentuk apresiasi pemerintah terhadap penguatan karakter bangsa.  

“It is expected that the honor of receiving an award will spark narratives concerning the preservation of our culture and in turn inspire other people to contribute to arts and culture in Indonesia,” Hilmar Farid, the ministry’s director general of culture, said on Tuesday. (http://www.thejakartapost.com/news/2016/09/21/ismail-marzuki-van-lith-martha-tilaar-on-cultural-award-winners-list.html).

Penghargaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI terhadap Fransiskus Gregorius Van Lith ini menarik untuk kita cermati. Sebab, bagi muslim Indonesia, sosok van Lith dikenang sebagai tokoh misionaris Belanda yang berhasil memurtadkan begitu banyak orang muslim di Jawa.  Mengkafirkan atau memurtadkan orang muslim, bukanlah perkara kecil.  Maka, ada baiknya kita menengok kembali kisah perjalanan Frans van Lith dalam misi pemurtadan kaum muslim di Jawa, sebagaimana pernah kita tulis dalam beberapa Catatan Akhir Pekan.

Seperti ditulis situs Gereja Paroki Santahelena, van Lith disebut sebagai “peletak dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah.”  Artinya, van Lith dianggap sebagai peletak dasar misi Katolik di Jawa.  Sebuah kisah yang dianggap monumental oleh kaum Katolik adalah ketika pada 14 Desember 1904 Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang yang merupakan kaum pribumi pertama yang memeluk Katolik.

Penyebaran agama Kristen dengan strategi budaya Jawa pada dekade pertama abad XX, misalnya, terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit dan juga misi Katolik pada umumnya.  Kiprah van Lith dalam soal budaya Jawa pun terkait dengan kiprahnya sebagai misionaris.   Salah satu murid van Lith yang kemudian diangkat sebagai Uskup pribumi pertama adalah Albertus Soegijapranata.

“150 Tahun Frans Van Lith”

Dalam bukunya, Katolik di Masa Revolusi Indonesia (Jakarta: PT Grasindo,  1999, hal. 40-41), Jan Bank menceritakan, bahwa Soegija – panggilan Albertus Soegijapranata — lahir di Solo, 25 November 1896.  Ia masuk agama Katolik saat belajar di sekolah guru di Muntilan yang didirikan oleh Pater Van Lith. Tahun 1919 ia dikirim ke Belanda dan tahun 1922 memasuki Ordo Yesuit. Di sana ia menjadi murid Rektor Willekens. Pada 15 Agustus 1931, Soegija ditahbiskan sebagai pastor oleh Uskup Van Roermond di Maastrict. Tahun 1933, Soegija kembali ke Indonesia dan pada 1934,  ia diangkat menjadi kapelan (pastor pembantu) di Bintaran, sebuah kampung di Yogyakarta. Dua tahun kemudian, ia diangkat mejadi pastor. Tahun 1940, ia diangkat menjadi Uskup.

Buku “Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an sampai Sekarang”  karya Dr. Th. Van den End dan Dr. J. Weitjens SJ (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hal. 440)  menuliskan sekilas kisah Soegija bersekolah guru dan mengubah agamanya menjadi Katolik di bawah asuhan van Lith: “Ada beberapa hal yang diutamakan Pastur van Lith: murid-murid Muntilan hidup dalam  internaat-asrama supaya pendidikan sungguh-sungguh membina orang dewasa berkeribadian. Pastur sendiri kerap kali pergi ke Yogya, Solo, dan tempat-tempat lain untuk mencari murid: Kasimo dan Soegija adalah di antara murid-muridnya yang terkenal. Waktu masuk Muntilan, Soegija menyatakan dia ingin sekolah, tak mau jadi Katolik, tetapi pada tanggal 24 Desember 1909 Albertus Soegijapranata dibaptis.”

“Soegija, Van Lith dan Misi Kristen”

Posisi sekolah guru (kweekschool) asuhan van Lith diuntungkan oleh kebijakan pemerintah penjajah Belanda, khususnya di bawah Gubernur Jenderal AF van Idenburg (1909-1916) yang sangat berpihak kepada misi Kristen di Hindia Belanda (Indonesia). Lulusan sekolah ini diberi hak yang sama dengan sekolah milik Belanda untuk menjadi guru di sekolah-sekolah negeri. Perlu dicatat, bahwa bagi masyarakat pada umumnya, saat itu merupakan suatu yang bergengsi jika seseorang dapat diangkat sebagai guru di sekolah-sekolah milik pemerintahan penjajah Belanda.  Dalam buku “Ragi Carita” disebutkan, bahwa lulusan kweekschool Muntilan  “harus berani berkecimpung di seluruh masyarakat Indonesia, menjadi ragi di mana pun mereka bekerja.” (Ibid).

Perkembangan Katolik di Jawa lumayan pesat. Pada tahun 1940 sudah ada sekitar 500 sekolah Katolik, dengan sekitar 56.000 murid dan lebih dari 1.300 guru pribumi.  Pada situasi seperti itulah, pada 4 Agustus 1940, Paus Pius XII mengangkat Albertus Soegijapranata SJ, sebagai Vikaris Apostolik Semarang, sebagai uskup pribumi pertama. Pada 1939, Soegija diangkat sebagai consultor (penasehat) pribumi pertama bagi Superior Serikat Yesus (SJ). (Ibid, hal. 442).

Tentang strategi misi dalam membawa orang-orang Jawa kepada Katolik, Frans van Lith menekankan perlunya para misionaris mempelajari bahasa dan budaya lokal:

Jika para misionaris ingin membawa orang non-Kristen kepada Kristus, mereka  harus menemukan titik awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah  terletak hati dari orang-orang ini. Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka. Di Pulau Jawa, khususnya, di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.”  (Lihat buku “Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia” oleh Fl. Hasto Rosariyanto SJ,  Yogya: Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2009, hal. 151-152).

Untuk meminta dukungan pemerintah Belanda, Pastor van Lith harus pergi ke Bogor menemui Gubernur Jenderal  van Idenburg.  Kerja kerasnya berhasil, sehingga pada 11 Oktober 1911, Kweekschool-B di Muntilan menerima kunjungan resmi dari Gubernur Jenderal. Setahun kemudian, sekolah ini menerima status disamakan dari pemerintah Belanda. Buku “van Lith” menceritakan bahwa sekolah di Muntilan dan Mendut menjadi tujuan para pelajar dari berbagai daerah. Mereka datang dengan satu hasrat: “mendapatkan pendidikan yang berkualitas agar nantinya memperoleh sebuah pekerjaan yang lebih baik.” (Ibid, hal. 162).

Digambarkan, bahwa saat itu, di Muntilan ada 350 siswa non-asrama dan 150 siswa asrama.  Pola kristenisasi melalui pendidikan, sebagaimana dilakukan van Lith, ternyata cukup efektif. Diceritakan dalam surat Pater I. Vogels kepada para Pater Jesuit di Oudenbosch, tertanggal 24 Oktober 1910:  “Jumat lalu ada 53 siswa yang mengikuti ujian masuk, tetapi yang diterima hanya 28 karena kapasitasnya memang tidak bisa lebih dari 115 orang. Sampai sekarang para siswa ini datang sebagai Moslem dan hampir semua dari mereka di kemudian hari menjadi Katolik. Juga 28 siswa yang baru saja diterima itu sebagian besar masih Moslem.” (Ibid, hal. 162).

Pater van Lith  sangat menekankan pentingnya misi Katolik melalui pendidikan. Bahkan, ia berpendapat,  masa depan Gereja Katolik di Indonesia akan ditentukan oleh sumbangannya terhadap pendidikan pribumi. Kata van Lith: “Karya misi mana pun yang tidak mulai dengan atau yang tidak berakar pada pendidikan akan menemui kegagalan.” (Ibid, hal. 206).* (bersambung)

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !