frontpage hit counter

Akhirnya Genderan Perang Ditabuh

Genderang perang telah ditabuh oleh negara-negara besar untuk suatu peperangan yang menentukan bagi solusi militer atau sekedar sebagai alat penekan untuk tercapainya solusi politis yang diterima semua pihak

Akhirnya Genderan Perang Ditabuh
Pejuang oposisi Suriah

Terkait

Oleh: Musthafa Luthfi

BELUM bisa dipastikan apakah seruan jihad dari Persatuan Ulama Muslim Dunia yang dipimpin Dr. Yusuf Al-Qardawi untuk menyelamatkan rakyat Suriah dari pembantaian rezim dengan bantuan Iran dan Hizbullah, secara kebetulan bertepatan waktunya dengan pengumuman persetujuan Presiden Barack Obama untuk mempersenjatai oposisi Suriah dari kelompok moderat dengan senjata canggih, sebagai lampau hijau bahwa negeri Syam itu bakal menjadi arena perang besar mewakili kepentingan pihak-pihak tertentu dalam waktu dekat.

Sejumlah analis Arab melihat bahwa seruan jihad dan pengumuman persetujuan Presiden Obama untuk menyalurkan senjata ke pihak oposisi, bukanlah suatu yang terjadi secara kebetulan. Sikap Obama yang dalam dua tahun belakngan ini esktra hati-hati untuk “terjerumus“ konflik di negeri Syam itu, nampaknya telah mendapatkan alasan yang cukup kuat untuk terlibat dalam konflik yang telah menelan korban hampir 100 ribu warga Suriah itu.

Alasan yang cukup kuat itu terutama yang terkait dengan tuduhan rezim Assad telah menggunakan senjata kimia dari gas Sarin sehingga dianggap telah melampui “garis merah“ yang diperingatkan Barat sejak dini. Seruan persatuan ulama dunia itu, boleh jadi dapat sebagai alasan tambahan yang memperkuat keinginan AS untuk segera mengirim persenjataan kepada oposisi meskipun sejauh ini belum dipastikan jadwal waktunya.

Sebelumnya Obama tidak bergeming dari sikapnya yang tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam konflik Suriah meskipun mendapat tekanan dari sekutunya di Arab seperti Arab Saudi dan Qatar, juga Turki disamping Senator John Mccain dari partai Republik dan mantan Presiden Bill Clinton. Diperkirakan juga, salah satu sebab akhirnya Obama mengubah sikapnya tersebut adalah kemenangan rezim di daerah Quseir sekitar sepekan lalu atas bantuan Iran dan Hizbullah.

Dua negara besar Eropa yakni Inggris dan Perancis disamping Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) juga memperkuat tuduhan Washington. Kesamaan sikap Barat itu menjelang pelaksanaan KTT negara-negara industri maju yang tergabung dalam G-8 memastikan bahwa masalah konflik berkelanjutan di Suriah itu akan menjadi salah satu agenda politik utama dalam KTT G-8 tersebut di Irlandia Utara selama dua hari pada 17-18 Juni ini dan Barat nampaknya tetap tidak akan mengubah rencana mempersenjatai oposisi.

Sejumlah pejabat AS mengatakan Jum`at (14/6/2013) bahwa keputusan Presiden Barack Obama mempersenjatai pemberontak Suriah “sudah final” dan tidak akan diubah oleh pembicaraan pekan depan dengan sesama kepala negara dalam G-8 negara-negara industri terkemuka. Deputi Penasehat Keamanan Nasional Presiden Obama, Ben Rhodes, kepada wartawan hari Jum`at mengatakan AS memiliki “berbagai bukti” terkait penggunaan senjata kimia, termasuk gas saraf.

Tetapi Kementerian Luar Negeri Suriah hari Jumat mengatakan, tuduhan Amerika yang didapat dari laporan intelijen, didasarkan pada “informasi palsu” dan menyebut klaim tersebut sebagai “kebohongan.” Sekjen PBB, Ban Ki-moon juga menyatakan keberatan atas tuduhan tersebut karena ia menilai tidak ada kepastian soal penggunaan senjata kimia di Suriah tanpa penyelidikan di lapangan.

Presiden Obama sebagaimana diungkapkan sejumlah pejabat negeri itu untuk pertama kalinya memberikan kuasa untuk mempersenjatai pemberontak Suriah pada Kamis (13/6/2013) setelah mereka memiliki “bukti kuat“ penggunakan senjata kimia oleh rezim Assad menghadapi oposisi. Obama berulang kali mengingatkan bahwa penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad akan menjadi “garis merah” bagi AS.

Sejumlah analis militer Arab menyebutkan bahwa senjata yang akan dikirim AS kepada oposisi diperkirakan senjata yang sangat mematikan seperti roket anti kendaran lapis baja dan roket anti pesawat tempur. Negeri ini juga disebutkan akan menangani langsung sampainya senjata tersebut ke pihak yang diinginkan yaitu Al-Jeish Al-Hurr (Tentara Kebebasan) terutama Mayjen Salim Idris, Kepala Staf Al-Jeish Al-Hurr yang mendapat dukungan kuat negara-negara Arab dan Barat.

Lebih jauh dari pengiriman senjata tersebut adalah rencana AS dan sekutunya di Eropa untuk memberlakukan zona larangan terbang dengan kedalaman 40 km di wilayah Suriah dari tapal batas Yordania. Diprediksi pesawat-pesawat tempur canggih dari tiga negara yakni AS (F-16), Inggris (Harrier) dan Perancis (Euro Fighter) yang ikutserta dalam latihan perang-perangan di Yordania pekan lalu, bakal menjalani tugas melalukan zona larangan terbang bagi pesawat-pesawat tempur rezim Assad.

Skenario Libya

Dengan perkembangan “mengejutkan” terutama terkait sikap Presiden Obama itu, boleh dikatakan bahwa Konferensi Jenewa ke-2 yang sedianya akan dihadiri oleh semua pihak yang bertikai termasuk delegasi dari rezim Assad ibaratnya sudah diaborsi sebelum lahir alias gagal sebelum terlaksana. Pihak-pihak terkait semakin jauh dari target Konferensi Jenewa ke-2 yakni mencari sosuli politis dan krisis Suriah pun oleh banyak analis Arab dinilai semakin dekat ke skenario Libya.

“Perubahan sikap Presiden Barack Obama yang mengejutkan itu hampir mendekati pengumuman perang meskipun pihak oposisi menyebutnya sebagai perubahan sikap yang datangnya sangat terlambat, namun lebih baik dibandingkan tidak sama sekali. Dengan demikian, kita samakin jauh dari target Konferensi Jenewa ke-2 mendatang dan semakin dekat menuju skenario Libya,” papar sejumlah analias Arab.

Dengan dikeluarkannya tuduhan resmi Barat bahwa rezim Assad telah menggunakan senjata kimia sebagai “garis merah” yang tidak bisa lagi ditolerir sebagai sinyal kesediaan Barat untuk melakukan intervensi lebih jauh dalam krisis Suriah. Cara yang ditempuh adalah gabungan antara intervensi langsung dan dukungan persenjataan kepada kubu revolusi terutama Al-Jeish Al-Hurr yang selama ini mengeluh kurangnya pasokan senjata.

Meskipun adanya perubahan penting sikap AS tersebut, pertempuran mendatang sulit diprediksi pemenangnya karena konflik di negeri Syam semakin kompleks yang setiap saat dapat memunculkan kejutan-kejutan baru. Bisa saja konflik ini dapat diatasi dalam dua bulan ke depan dengan kejatuhan rezim dan tidak menutup kemungkinan juga dapat berlarut hingga dua tahun ke depan.

Pasalnya, sekutu-sekutu Assad juga tidak akan tinggal diam melihat aksi-aksi AS terakhir seperti Moskow kemungkinan tidak akan cukup hanya melihat dari jauh, bisa saja melakukan intervensi secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan Teheran yang sering mengingatkan melalui beberapa pejabat tinggi Iran, juga tidak akan membiarkan rezim Assad jatuh.

Menanggapi tuduhan Barat tentang penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad, Rusia menilai tuduhan tersebut tidak meyakinkan dan terkesan dibuat-buat. Tanggapan ini boleh-boleh saja mengingat AS dan sekutu utamanya di Eropa, Inggris telah melakukan tuduhan serupa atas rezim Irak dan tudahan tersebut terbukti tidak benar setelah jutaan jiwa warga Irak menjadi korban invasi negeri adidaya itu.

Terlepas dari benar tidaknya tuduhan tersebut, pengumuan persetujuan AS untuk mengirim persenjataan ke pihak oposisi dan rencana memberlakukan zona larangan terbang, oleh sebagian analis Arab awal dari perang regional sengit yang tidak hanya terbatas di Suriah saja. Prediksi ini didasari oleh penempatan rudal-rudal patriot di perbatasan antara Suriah dengan Turki dan Yordania.

Beberapa analis lainnya memperkirakan perang besar regional dapat saja terjadi pada musim panas ini dan perhitungan mundur menuju perang besar telah dimulai dengan melihat perubahan sikap AS tersebut. Negeri adikuasa itu juga dinilai telah mempersiapkan strateginya lewat latihan perang-perangan belum lama ini di Yordania untuk mempersiapakan segala kemungkinan di Suriah dan negara-negara sekitar terutama Israel, Turki serta Yordania disamping juga negara-negara kawasan Teluk.

Sementara sebagian pengamat Arab lainnya melihat bahwa perkembangan saat ini tidak akan mengarah kepada perang regional namun menunjukkan bahwa krisis Suriah sedang menuju kepada upaya internasional untuk menciptakan wilayah protektorat internasional. Wilayah protektorat ini dilakukan oleh NATO bekerjasama dengan negara-negara kaya minyak di Teluk.

Dengan kondisi seperti itu, Barat bersama negara-negara Arab terutama Teluk dapat dengan mudah dan secara terang-terangan mengirim senjata canggih kepada Tentara Kebebasan disamping informasi intelijen untuk keunggulannya secara militer di lapangan. Cara tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk menekan rezim agar segera mengumumkan pemilu dini tanpa menunggu masa jabatan Assad berakhir pada musim panas 2014 seperti yang sering didengungkan salama ini.

Bila target tersebut tercapai, diharapkan akan terwujud kompromi politis yang dapat diterima semua pihak termasuk kesediaan Assad untuk tidak mencalonkan diri lagi pada Pilpres mendatang disusul pula dengan penarikan pasukan Iran dan Hizbullah dari Suriah. Namun target tersebut nampaknya akan sulit terwujud bila Iran dan Hizbullah bersikeras mempertahankan rezim Assad, sehingga opsi penyelesaian akan lebih mengarah kepada skenario Libya.

Perimbangan kekuatan

Kembali ke pelaksanaan KTT Jenewa ke-2 tentang Suriah dibawah bayang-bayang perkembangan terakhir krisis negeri Syam itu, sudah menjadi tidak penting lagi terlaksana atau tidaknya. Yang lebih utama adalah perimbangan kekuatan antara oposisi dengan rezim untuk mencapai target ideal yang diinginkan konferensi tersebut yakni solusi politis yang diterima semua pihak.

Di atas kertas, bila konferensi terlaksana maka keputusannya untuk masa depan Suriah hanya ada dua opsi yaitu pertama adalah berlanjutnya perang saudara hingga negara tersebut terpecah menjadi negara-negara kecil, dan opsi kedua adalah solusi politis sebagai target ideal dengan hengkangnya Bashar Assad untuk selanjutnya pembentukan pemerintahan transisi. Opsi yang kedua ini hampir tidak mungkin dilakukan tanpa perimbangan kekuatan.

Tanpa perimbangan kekuatan, rezim Assad yang belum mendapat ultimatum batas waktu untuk segera melakukan alihkekuasaan dengan kompromi sebagaimana target ideal dimaksud, akan melakukan upaya dengan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya dengan bantuan langsung Iran, Hizbullah dan milisi Syiah Iraq yang siap melakukan pembantaian lebih besar terhadap lawan-lawannya.

Dalam upaya menciptakan perimbangan tersebut, sebagian pengamat Arab melihat, selain pasokan senjata kepada oposisi juga perlunya dilakukan serangan kilat untuk melumpuhkan kemampuan pasukan Assad dan sekutu-sekutunya. “AS dan sekutunya harus melakukan aksi nyata diantaranya dengan melakukan serangan kilat dan memberlakukan zona larangan terbang…Alasan etika, hukum dan keamanan sudah cukup untuk segera bergerak di luar DK PBB seperti kejadian di Yugoslavia,“ papar Tareq Al-Hamied, seorang analis Arab.

Intinya genderang perang telah ditabuh oleh negara-negara besar untuk suatu peperangan yang menentukan bagi solusi militer atau sekedar sebagai alat penekan untuk tercapainya solusi politis yang diterima semua pihak. Hari-hari mendatang akan membuktikan kemana arah penyelesaian krisis negeri Syam itu yang telah memasuki tahun ketiga namun masih sulit diprediksi arah angin penyelesainnya.*/Sana`a, 6 Sha`ban 1434 H

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !