|
29 September 2009
Wanita Mesir Boleh Pakai Celana Panjang
Hidayatullah.com--Berbeda dengan keputusan pengadilan tinggi di negara Sudan yang memvonis hukuman cambuk terhadap perempuan yang memakai celana panjang, otoritas tertinggi Islam di Mesir menghalalkan perempuan untuk mengenakan celana panjang di depan umum. Menurut Grand Mufti, Ali Jumaa, dalam sebuah kuliah umum (25/9), celana yang menutupi tubuh perempuan diperbolehkan, namun harus longgar dan tidak mencetak bentuk tubuh. Dia menegaskan, celana panjang ketat tidak dapat diterima. Mesir memang memiliki hukum “ketidaksenonohan” yang diterapkan secara samar-samar. Tetapi perempuan Mesir lebih diberi sedikit kelonggaran dalam cara berpakaian mereka. Sementara di Sudan, ada polisi moral yang dipercayakan untuk penerapan hukum tersebut. Walau sebagian besar perempuan Mesir mengenakan jilbab dan memakai jubah, namun gaun gaya ala Barat, termasuk celana panjang, merupakan pemandangan yang sangat umum di negeri Piramida itu. [ap/sumer/ www.hidayatullah.com] |
| |
 |
29 September 2009
70.000 Taksi di Beijing Dipasangi Penyadap
Hidayatullah.com--Monitor tersembunyi ini bisa menyadap pembicaraan penumpang melalui satelit, dan telah dipasang di 70.000 taksi di Beijing, menurut pengemudi taksi pejabat perusahaan.
Dikhawatirkan hal ini akan melanggar kebebasan pribadi dan tindakan ini berhubungan dengan peringatan Hari Nasional 1 Oktober mendatang. Kebijakan memasang monitor pada taksi dimulai selama persiapan Olimpiade Beijing. Pemerintah mengatakan tujuannya adalah untuk melindungi pengemudi.  Zhao seorang pengemudi taksi di Beijing mengatakan kepada Epoch Times, pemasangan monitor terdahulu pada aksi bersignal analog yang bisa mengirimkan data ke pusat penngiriman data hanya dengan menekan tombol. Tetapi Beijing sekarang memasang sistem baru pada taksi. "Saya tidak punya masalah kalau kegunaannya untuk keamanan kendaraan," kata Zhao. "Jika dipakai untuk mengintip pembicaraan penumpang saya kira tidak benar. Orang yang berada disana bisa mendengar pembicaraan penumpang begitu saya menekan tombol."
Wang sopir taksi yang lain di Beijing, mengatakan monitor sudah terpasang pada semua mobil taksi baru. "Mereka menggunakan sistem untuk memonitor seseorang yang melawan hukum," kata Wang.
Lewat penyadapan dengan sistem GPS ini, petugas bisa menentukan lokasi taksi lewat satelit. Pabrik pembuat sistem ini mengatakan monitor bisa dihidupkan dari jarak jauh tanpa sepengetahuan pengemudi. Monitor juga bisa di kontrol dari jarak jauh untuk mematikan mobil. Seorang warga Beijing tidak mengira akan penyadapan ini. "Saya khawatir kita tidak punya rahasia lagi." Kata Wu
Peng Dingding, seorang penulis paruh waktu di Beijing, percaya akan adanya isu hukum yang dimasukkan. Setelah penumpang membayar biaya taksi. Taksi menjadi tempat pribadi, dia menjelaskan. Ini sama seperti membayar kamar hotel-kamar itu menjadi pribadi selama masa tinggal kita.
Peng mengatakan, penguasa bisa mengawasi pembicaraan pengemudi taksi dengan persetujuan pengemudi. Tetapi kalau menyadap pembicaraan penumpang adalah melanggar hak-hak pribadi.
Banyak yang memandang isu ini berhubungan dengan rezim Komunis yang ingin tetap mengontol rakyat dalam peringatan Hari Nasional, tidak masuk akal yang di lakukan Beijing untuk membentengi diri dari musuh. Seperti yang di lihat Wu polisi membawa senjata dengan bayonet, polisi khusus dan tentara berpatroli di sepanjang perempatan. "Itu membuat masyarakat tegang," katanya. "Saya tidak mengerti pengamanan bisa seperti ini?" [ET/erb/ www.hidayatullah.com] |
| |
 |
28 September 2009
Umat Kristen Anggap Shalat Jumat di Capitol Hill Ancaman
Hidayatullah.com--Tak banyak yang tahu, dibalik kesuksesan kaum Muslim menyelenggarakan shalat Jumat 25 September di Cpitol Hill lalu ternyata ada sikap pertentangan dari berbagai kelompok. Acara yang bertujuan mengajak Muslim "berdoa untuk perdamaian dan pengertian antara Amerika dengan komunitas Muslim di sana" itu rupanya mendapat keberatan dari kalangan Kristen. Menurut sebagian orang Kristen, acara itu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai kristiani. Dalam sebuah pernyataan, pendeta Canon Julian Dobbs, pemimpin Convocation of Anglicans in North America's Church and Islam Project, menyebut acara itu merupakan "bagian dari strategi yang diatur dengan baik untuk mengislamkan masyarakat Amerika dan menganti bibel dengan Al-Quran, salib denga n bulan sabit dan lonceng gereja dengan Adzan."
Sementara itu ada pernyataan yang lebih lunak, tapi sinis dan sama maknanya dari Lou Engle, seorang penginjil. Ia mengatakan bahwa acara Jumat itu "lebih dari sekedar acara kumpul-kumpul Muslim yang menyenangkan. Acara itu merupakan permohonan doa untuk kekuatan spiritual dan ideologi." Yang menurutnya, "tidak sama dengan serangkaian nilai yang dimiliki oleh bangsa kita (Amerika)."
Ketika acara digelar ada umat Kristen yang "berdakwah" melalui kaos. Dengan mengenakan kaos bertuliskan "Jesus is the standard", mereka menunjukkannya maksud mereka kepada Muslim yang berlalu-lalang di sana. Sebagian lainnya ada yang menghina ajaran Islam dengan berteriak dengan pengeras suara. Dan di dekat Sam Rayburn House Office kelompok yang bernama "Stop Islamization of America" mengadakan panel diskusi yang mengkritik acara shalat Jumat itu.
"Mereka bilang itu merupakan acara doa, tapi itu merupakan tindakan politik," kata Daniel L. Adams, pemimpin kelompok SIOA. Orang punya tempat sendiri untuk beribadah. Namanya masjid, sinagog atau gereja. Tapi jika Anda datang ke US Capitol, kegiatan itu menjadi politis, karena itu merupakan sebuah demonstrasi."
Ketika Muslim laki-laki dan perempuan sedang melaksanakan shalat dan mendengarkan ceramah, orang-orang Kristen berteriak-teriak mengatakan, "Tobat!"
Sementara di bagian lain, di seberang jalan tempat acara berlangsung, orang-orang Kristen yang berunjuk rasa berkumpul sambil membawa spanduk, salib dan pesan anti-Islam. Sekelompok orang lain yang dipimpin pendeta Flip Benham dari kota Concord North Carolina, berdiri di samping salib kayu setinggi 10 kaki dan dua papan kayu yang bertuliskan "10 Perintah Tuhan."
"Saya menyarankan Anda untuk memeluk agama Kristen!" teriak Benham melalui pengeras suara. "Islam memaksakan dogmanya ke dalam tenggorokanmu," tambahnya.
Dengan berteriak seperti itu, kelihatan sekali pendeta Benham tidak pandai memahami arti kata-kata yang diucapkannya sendiri.
Di sisi lain pada saat yang sama, sebagian umat Kristen berkumpul di belakang barisan umat Islam. Mereka membawa bibel dan mengucapkan doa-doa.
Orang-orang Amerika yang mengaku sebagai bangsa terpelajar itu ternyata tidak mempelajari sejarah bangsa mereka sendiri. Capitol Hill dalam sejarah Amerika memang biasa menjadi tempat yang digunakan orang dari berbagai kalangan dan dengan tujuan yang beragam. Martin Luther King Jr. seorang tokoh Kristen pernah berkumpul di sana bersama dengan pendukungnya. Demikian pula kelompok yang lain. Baca Shalat Jumat 25/9 Menjadi Bagian "Tradisi Capitol Hill"
Amat disayangkan, mereka yang melakukan protes adalah umat dari sebuah agama yang seringkali mengajarkan toleransi dan kasih sayang terhadap orang lain. Dan mereka sepertinya lupa, bahwa Amerika Serikat bukanlah sebuah negara Kristen, melainkan negara federasi yang terbentuk berdasarkan kesepakatan dari beberapa koloni bekas jajahan bangsa Eropa. Baca Mengintip Jejak Langkah Freemason Amerika [2]. [di/berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
|
| |
 |
28 September 2009
Arab Saudi Tampik Normalisasi dengan Israel
Hidayatullah.com--Seperti dilaporkan Kantor Berita Fars, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud Al-Faisal dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-64 di New York, menolak normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan rezim zionis Israel sebelum mundurnya rezim ini dari wilayah pendudukan tahun 1967.  Menlu Arab Saudi ini juga menekankan kembali implementasi Peta Jalan penyelesaian konflik di Timur Tengah. Berdasarkan peta jalan tersebut, sebagai kompensasi dari perdamaian menyeluruh dengan Arab, rezim zionis harus keluar dari wilayah perbatasan 1967, mengakui pembentukan negara merdeka Palestina yang beribu kota di Baitul Maqdis dan membolehkan para pengungsi Palestina kembali ke tanah airnya. Sementara itu, Khaled Meshaal, pemimpin gerakan Islam Palestina Hamas di pengasingan, tiba di Kairo, Ahad, untuk pembicaraan baru mengenai persatuan Palestina, kata seorang pejabat bandara.
Satu delegasi pemimpin Hamas di Gaza telah tiba di Mesir, Ahad dini hari, melalui perlintasan Rafah dari wilayah kantung miskin yang kelompok tersebut perintah sejak Juni 2007 itu, lapor seorang wartawan AFP.
Meshaal yang bermardas di Damaskus akan bertemu dengan kepala intelijen Mesir Omar Suleiman, dan "memberikan jawaban pada usulan tertulis Mesir mengenai rekonsiliasi dengan Fatah", ujar jurubicara Hamas Sami Abu Zuhri, Kamis. Pertemuan itu dijadwalkan besok. [irb/ www.hidayatullah.com] |
| |
 |
26 September 2009
Shalat Jumat 25/9 Menjadi Bagian "Tradisi Capitol Hill"
Hidayatullah.com--Kemarin, 25 September 2009, pukul 13.00 waktu setempat, untuk pertama kalinya Muslim di Amerika mengikuti shalat Jumat di Capitol Hill. Ditengarai, sebanyak 50.000 orang datang ke sana. Menurut penyelenggara non-Muslim diperbolehkan ikut serta.
Acara tersebut diselenggarakan oleh Masjid Darul Islam Elizabeth New Jersey, dan didukung oleh beberapa masjid lainnya.
Menurut situs yang dibuat khusus untuk acara ini, islamoncapitol.com, tujuan diadakannya shalat Jumat di itu adalah untuk mengundang komunitas Muslim dan teman-teman Islam untuk mengekspresikan dan mengilustrasikan indahnya keanekaragaman dalam Islam. Mewujudkan prinsip ajaran Islam yang agung sebagaimana yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam dari Arab. Di samping itu untuk mengilhami generasi muda Islam agar bekerja lebih giat untuk kebaikan semua orang dan berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang ras, agama atau bangsa.
Capitol Hill atau lengkapnya Capitol Hill History District merupakan salah satu distrik di Washington D.C. Nama itu diambil dari gedung US Capitol yang dibangun di puncak bukit dengan menghadap ke arah kota. Di samping gedung Capitol, di Capitol Hill terdapat bangunan penting lainnya seperti gedung senat, mahkamah agung, perpustakaan kongres dan National Mall.
Karena latar belakangnya yang penuh jejak sejarah dan selalu menjadi pusat perhatian, maka tempat itu sering digunakan orang dari berbagai macam kalangan untuk berkumpul dengan tujuan yang beragam pula, termasuk melakukan protes, demonstrasi, pawai, acara-acara politik, acara amal, festival dan sebagainya.
Sebagai contoh, pada tahun 1963 Martin Luther King Jr. pernah menyampaikan pidato bersejarahnya "I have a dream" di sana.
Protes terhadap perang Vietnam dan perang Irak dilangsungkan di National Mall. Pawai Million Man March dan Million Mom March juga dilakukan di Capitol Hill. Acara tahunan Susan G. Komen Global Race for the Cure dimulai dan berakhir di National Mall.
Agustus 2008, sebuah pelayanan doa Kristen menyelenggarakan acara guna menyeru umat Kristiani berkumpul di Mall untuk menangis memohon sambil puasa dan berdoa agar mimpi Tuhan untuk negara AS segera dipenuhi. Tahun 2000, juga di National Mall diadakan doa awal tahun baru.
Kaum atheis tidak ketinggalan memanfaatkan Capitol Hill. Pada tanggal 2 Nopember 2002 mereka melakukan pawai "Godless Americans March on Washington." Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa berbagai komunitas atheis, freethinker (pemikir bebas), humanis sekular, dan komunitas orang Amerika tak beragama lainnya, adalah bebas dan mereka bangga dengan sikap dan gerakan mereka.
Jika sekarang umat Islam menyelenggarakan shalat Jumat di Capitol Hill, maka sepertinya melanjutkan tradisi di tempat bersejarah itu.[di/ex/www.hidayatullah.com] |
| |
 |
25 September 2009
Masjid Yesus Kristus Akan Dibangun di Turki
Hidayatullah.com--Di wilayah tenggara semenanjung Anatolia, Turki, tepatnya di kota Diyarbakir akan dibangun sebuah masjid yang diberi nama Nabi Isa. Dengan itu diharapkan komunitas Muslim bisa menjalin hubungan baik dengan komunitas agama lainnya. Demikian dikabarkan oleh media massa Turki.
Di masa lalu ada komunitas Kristen yang cukup besar di Diyarbakir, terutama mereka yang merupakan jemaat Gereja Armenia dan Gereja Ortodoks Suriah. Pada tahun 1915 terjadi kekerasan terhadap penduduknya dan mereka pun lambat laun menghilang.
"Isa dianggap sebagai nabi oleh agama Islam maupun Kristen," kata Mustafa Uzun penanggung jawab pembangunan. "Merupakan kehormatan besar bagi kami untuk membangun masjid yang diberi nama seperti namanya."
Sekarang ini ada beberapa masjid yang diberi nama dengan Isa di Turki, tapi semuanya merujuk pada tokoh agama di Turki yang namanya sama, bukan Nabi Isa.
Menurut mufti setempat Abdulkerim Melik-oglu, reaksi masyarakat terhadap pembangunan masjid itu agak kontroversial, tapi kebanyakan memberi respon positif. Mufti itu menggarisbawahi bahwa nama Isa disebutkan di dalam Al-Qur'an, oleh karenanya tidak ada alasan mengapa masjid tersebut tidak bisa diberi nama Nabi Isa.
Tokoh Kristen Protestan, Akhmet Gyuvener memandang pembangunan masjid itu sebagai tanda toleransi terhadap umat Kristen.
Sementara pendeta dari Gereja Ortodoks Suriah di Diyarbakir menyebut hal itu sebagai "revolusioner." Ia mengatakan, "Ini pertama kalinya dalam sejarah sebuah masjid diberi nama Yesus Kristus (Nabi Isa)."
Namun sebenarnya masjid seperti itu sudah ada di Yordania. Masjid yang diberi nama Nabi Isa itu ada di kota Madaba, dibangun pada tahun 2008.[di/ir/www.hidayatullah.com] Foto: Masjid Nabi Isa, Madaba-Yordania |
| |
 |
24 September 2009
Pecah Rekor Jamaah Shalat Id Masjid Moskow [FOTO]
Hidayatullah.com--Tahun ini jumlah kaum Muslim yang mengikuti shalat Idul Fitri di Masjid Jami Moskow lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Menurut pejabat keamanan setempat, shalat Idul Fitri pada 20 September 2009 itu diikuti oleh lebih dari 50.000 jamaah.
Semuanya sujud kepada Allah Bukan mau demonstrasi, tapi mau shalat Idul Fitri  Tak bisa bumi dipijak, jadilah pagar gereja dipanjat, yang penting shalat  Shalat di depan McDonalds  Sejauh mata memandang, terlihat ribuan manusia  Hiasan sekeliling bukan kaligrafi, tapi papan reklame Terpaksa memamerkan diri karena tidak dapat tempat  Selesai shalat pemulung beraksi  Kejadian langka ada puluhan ribu orang Muslim shalat di negara komunis, patut didokumentasikan  Alhamdulillah, ada tukang kue  Ya Allah ampunilah mereka, lindungilah mereka, murahkanlah rejeki yang halal untuk mereka. Ya Allah, berikanlah mereka kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Amin[di/ir/ www.hidayatullah.com] |
| |
 |
24 September 2009
Muslim Rusia Kekurangan Masjid
Hidayatullah.com--Muslim yang tinggal di Moskow kekurangan masjid, demikian dikatakan oleh ketua dewan mufti Rusia. Menurutnya, hal tersebut dapat menimbulkan gejolak sosial.
"Di moskow, di mana sekarang ini terdapat sekitar 2 juta Muslim, hanya ada 5 masjid," katanya. Menurut Gainutdin jumlah tersebut terlalu sedikit dan tidak dapat memenuhi kebutuhan umat Muslim akan tempat ibadah.
Merujuk pada lawatannya ke China, Ravil Gainutdin mengatakan, "Di Beijing, di mana hanya ada 250 ribu Muslim, terdapat 70 masjid."
Ia juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan ijin untuk mendirikan masjid, tidak hanya di Moskow dan wilayah sekitarnya, tapi juga di kota-kota lain di Rusia.
Untuk wilayah Moskow, ia berencana akan kembali menemui walikota guna membicarakan ijin pembangunan masjid. Selama ini kaum Muslim harus shalat di jalan sekitar masjid ketika hari raya.
Ia menekankan perlunya menciptakan iklim beragama yang kondusif bagi Muslim di sana. "Jika orang-orang dipaksa untuk shalat di trotoar ketika hujan dan salju turun, maka bisa menimbulkan gejolak sosial," katanya mengingatkan.
Pada hari raya Idul Fitri tahun ini Masjid Jami Moskow dipenuhi para jamaah, sebagian di antara mereka harus shalat di pelataran McDonalds.
Mungkin sebaiknya masjid Indonesia sebagian "dihibahkan" kepada Muslim Rusia, toh banyak masjid indah di negeri ini yang sepi meskipun waktu shalat sudah tiba.[di/ir/www.hidayatullah.com]
|
| |
 |
24 September 2009
Thantawi Luruskan Fatwanya tentang Bolehnya Muslim Bangun Gereja
Hidayatullah.com--Adalah Najib Jibrail, utusan Persatuan Mesir untuk Hak Asasi Manusia mengklaim bahwa Dr. Thanthawi menyatakan bahwa dirinya membolehkan bagi Muslim berderma untuk membangun gereja. Ia juga mengklaim memiliki rekaman yang berisi pernyataan itu.
Akan tetapi, sebagaiman dilansir situs Jabhah Ulama Al Azhar (Front Ulama Al Azhar) bahwa bahwa sebelumnya, Syeikh Thanthawi menyatakan bahwa ada yang salah dalam memahami pernyataan beliau, maksudnya adalah boleh bagi Nasrani membangun gereja, bukan Muslim, sebagaimana diberitakan dalam koran Ad Dustur (23/9).
Beliau mengatakan, bahwa dalam pertemuannya dengan utusan Persatuan Mesir untuk Hak Asasi Manusia beberapa waktu lalu, beliau tidak mengkritik fatwa yang telah dikeluarkan Darul Ifta Al Mishriyah (Lembaga Fatwa Mesir), yang menyebutkan bahwa orang Muslim tidak boleh berderma untuk membangun gereja, dan beliau tidak membantah fatwa ini. Hanya saja beliau berbicara mengenai bolehnya orang Nasrani berderma untuk membangun gereja, bukan orang Muslim. Sebagaimana orang Muslim dibolehkan berderma untuk membangun masjid. Dan saat itu pula beliau menjelaskan, bagi siapa saja dilarang berderma untuk membangun industri minuman keras dan klub-klub malam, atau tempat maksiat lainnya. [tho/jbh/www.hidayatullah.com]
|
| |
 |
24 September 2009
Neo-Nazi Jerman Ingin Mengusir Para Imigran
Hidayatullah.com--Jaksa di Jerman mengatakan bahwa mereka telah mulai melakukan penyelidikan atas kasus pengiriman surat dari sebuah partai neo-Nazi kepada para kandidat dalam pemilu yang berlatar belakang imigran, yang isinya menyuruh mereka pergi meninggalkan negara itu.
Surat yang bertanda tangan "petugas deportasi orang asing" itu dimaksudkan sebagai "peringatan" bagi beberapa calon keturunan Turki yang akan ikut serta dalam pemilu 27 September.
Menurut salah seorang yang mendapat surat, politikus dari partai Hijau Ozcan Mutlu, dua lembar surat itu berisi "lima poin rencana" untuk "memulangkan secara bertahap orang asing ke negara asal mereka."
Para petugas sedang menyelidiki apakah kasus itu dapat dianggap sebagai menyulut kebencian rasial, demikian kata Michael von Hagen dari kejaksaan Berlin kepada harian Tagesspiegel.
Mutlu yang dilahirkan di Turki, mengambil kewarganegaraan Jerman pada tahun 1990. "Mereka tidak paham bahwa Jerman adalah negara saya. Saya tidak memiliki, tidak memiliki kewarganegaraan lain," katanya.
"Otak mereka sakit. Mereka tidak belajar apapun dari sejarah. Kami merupakan bagian dari negara ini. Jika semua orang Turki hengkang, maka akan terjadi krisis ekonomi," katanya menambahkan.
Ia mengatakan ada 800.000 imigran Turki yang berhak memberikan suara dalam pemilu, dari total 62 juta orang.
Secara keseluruhan, ada 5,6 juta imigran yang terdaftar untuk memberikan suaranya pada hari Ahad mendatang, atau sekitar 9 persen dari jumlah pemilih.
Partai neo-Nazi Jerman, NPD, tidak termasuk dalam Bundestag, parlemen Jerman. Tapi mereka mempunyai perwakilan di dua dewan regional yang kuat di Jerman.
Partai itu sekarang sedang dalam kesulitan keuangan yang parah, karena baru-baru ini mendapat tamparan berupa denda besar akibat melakukan penyimpangan akuntansi keuangan.[di/meo/www.hidayatullah.com]
|
| |
 |
24 September 2009
Barzat, Tradisi Makkah Selama Idul Fitri
Hidayatullah.com--Idul Fitri kerap dijadikan momen untuk saling bertemu baik itu dengan anggota keluarga maupun masyarakat secara luas. Di kota suci Makkah ada sebuah tradisi yang dikenal dengan barzat, yang diselenggarakan oleh para umdah atau pemimpin distrik.
Mahmud Baitar, umdah untuk distrik Hejla Makkah bercerita tentang barzat, sebuah tradisi yang diwarisi secara turun-temurun oleh penduduk setempat dari bapak-bapak mereka.
Pada acara barzat ditampilkan tarian rakyat, pertandingan olahraga dan pembacaan puisi. Acara ini biasa diselenggarakan dekat kantor umdah. Para sesepuh diberikan tempat khusus untuk duduk.
"Acara ini memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk saling berkelakar," katanya.
Barzat diselenggarakan pada tiga hari pertama Idul Fitri. Acaranya dimulai setelah shalat maghrib dan diteruskan hingga tengah malam. "Saya telah menyelenggarakan acara ini selama 15 tahun, sejak saya menjabat kepala distrik Hejla," kata Baitar.
"Kami melakukan persiapan untuk barzat di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, mengumpulkan uang dari masyarakat umum."
Para tamu disuguhi hidangan makan malam, jus dan kopi Arab.
"Acara ini berperan penting untuk mewujudkan hubungan yang lebih baik antar penduduk distrik, menyelesaikan konflik," katanya menjelaskan. "Sebagai contoh, ada dua orang penduduk yang selalu bertengkar sepanjang tahun. Banyak cara dilakukan untuk mendamaikan mereka, tapi semuanya gagal. Selama acara barzat tahun ini saya berhasil mendamaikan mereka dengan bantuan anggota masyarakat lainnya. Ini pencapaian besar."
Baitar mengatakan, sebagian penduduk yang terpaksa harus meninggalkan distrik itu karena tergusur perluasan Masjidil Haram dan proyek pembangunan lainnya, juga hadir dalam acara itu.
"Ini menunjukkan bahwa orang-orang menghargai peran penting acara ini untuk mempererat ikatan sosial," kata Baitar, seraya menambahkan bahwa jamaah umrah dari luar daerah, terutama orang Arab, juga ikut serta dalam acara itu guna mempelajari lebih banyak warisan tradisi dan budaya Makkah.
"Di masa lalu, orang-orang biasa melakukan persiapan matang selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk menggelar acara ini," kata kepala distrik itu. "Para ibu rumah tangga membersihkan furnitur dan tirai-tirai. Aneka macam budaya dan olahraga digelar, beserta makan malam untuk umum."
Orang-orang datang ke acara barzat untuk menyaksikan pertunjukan dan mengikuti aktivitas lainnya. Semua orang yang menunjukkan kebolehannya adalah anggota masyarakat setempat.
Para raja dan pangeran juga sering menghadiri acara barzat di Makkah. Seringkali mereka membagi-bagikan uang dalam rangka sedekah atau menjaga tradisi diwan, di mana para pemimpin yang berasal dari kalangan raja, pangeran dan kepala suku menerima rakyatnya untuk mendengarkan keluhan dan memberikan bantuan kepada mereka. Selama Idul Fitri, tradisi ini biasanya dilakukan para raja atau pangeran yang berpangkat tinggi dengan memberikan bantuan dana untuk proyek pembangunan di lingkungan setempat dan bukan memberikan bantuan kepada setiap orang yang membutuhkan secara langsung.
Penduduk setempat biasanya bekerja giat untuk menyelenggarakan barzat sebaik mungkin, terutama jika mereka akan mendapat kunjungan dari anggota kerajaan, sambil berharap pemimpin mereka berkenan memberikan bantuan untuk pembangunan distrik dan penduduk setempat.
"Selama hari-hari itu raja dan pangeran seringkali mendatangi acara barzat," kata Baitar. "Raja Saud, Faisal dan Khalid mengunjungi Makkah untuk mengucapkan selamat hari raya kepada masyarakat luas. Menerima penghargaan dari raja merupakan sebuah kehormatan besar dan bisa jadi bahan pembicaraan sepajang tahun."
Baitar juga menceritakan sumbangsih para kepala distrik.
"Para umdah di masa lalu biasanya juga memberikan bantuan untuk orang-orang yang berada dalam wilayah kekuasaannya, baik secara langsung maupun melalui anak-anak dan istri-istri mereka."
Para umdah itu katanya, berhati-hati dalam memberikan bantuan kepada setiap keluarga, agar kekurangan mereka tidak diketahui umum dan agar sedekah itu tidak diketahui masyarakat. "Mereka melakukan itu secara diam-diam tanpa menyakiti perasaan orang yang menerima bantuan tersebut."[di/an/www.hidayatullah.com]
|
| |
 |
|
|
|
 |
| |
Berita Terkini
|
|
|