Wawancara

09 Februari 2011
Kasus Ahmadiyah:
Jend (Purn) Ali Baz Khan: Ahmadiyah Tak Ada Masalah di Pakistan
Di Pakistan, Ahmadiyah mendapat tempat di pemerintahan, bahkan menempati posisi yang cukup tinggi
 

28 Januari 2011
Yaacov Baruch, Ketua Indonesian Jewish Community (IJC)
Yahudi Indonesia : Lebih Baik Diskusi dengan FPI dari pada dengan Liberal
Curahan hari seorang Yahudi Indonesia. Mengaku tidak pro-Israel, mendukung syariat Islam, dan enggan berhubungan dengan Islam liberal
 

31 Desember 2010
Wawancara
“Dalam Kekristenan ada Zionisme Kristen”
Tentu kita mendukung segala upaya konstruktif permdamaian. Tapi perdamaian pun harus diimbangi dengan keadilan. Sebab damai saja tapi tidak adil adalah non sense. Wujud keadilan bagi orang orang Palestina adalah harus memperoleh kembali tanah air mekeka. Mereka harus punya negara.
 

22 November 2010
Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care
”Ini Sindikat Perdagangan Manusia!”
Selama ini ada pembiaran yang dilakukan pemerintah, ujar Anis Hidayah
 
02 November 2010
Para Pemimpin Harus Jadikan Bencana Sebagai Pelajaran

Hidayatullah.com—Bencana bertubi-tubi di bumi pertiwi membuat banyak pihak bertanya-tanya. Ada apa gerangan di bumi tercinta ini? Pertanyaan serupa juga dirasakan Dr Musthafa Umar, doktor dari University Malaya Malaysia. Pria yang setiap bulan melakukan perjalanan dakwah ke Malaysia sering bertanya dalam hati. Apa yang salah dengan kita sehingga bencana sering terjadi.

Menurut pakar tafsir yang aktif berdakwah di Riau dan Malaysia ini, para pemimpin Indonesia mesti mengambil pelajaran dari bencana agarselamat dan sampai ke tujuan yakni ridho Allah SWT.

’’Pemimpin bangsa semestinya sensitif dengan musibah-musibah seperti ini. Mesti lebih sensitif dibanding rakyat biasa,’’ ujar alumni doktoral tafsir dari Universitas Malaya Malaysia Dr Musthafa Umar Lc, MA kepada hidayatullah.com, Jumat (29/10) di Pekanbaru. Inilah petikan wawancara dengan pendakwah yang telah menulis 26 judul buku dan kini sedang menyelesaikan “Tafsir Makrifah” itu dengan koresponden Hidayatullah Riau.

Bagaimana kita harus memahami bencana yang datang dalam waktu yang berdekatan?

Apabila musibah terjadi silih berganti bermakna berkaitan dengan waktu. Allah yang memilih waktunya, Allah tidak letakkan dalam rentang waktu yang jauh, tapi Allah letakkan dalam rentang waktu yang dekat. Pasti ada hikmah di sebaliknya.

Hikmah yang paling besar dari musibah adalah memberikan peringatan kepada manusia. Apabila ditetapkan musibah dalam rentang waktu yang singkat, bermakna  peringatan Allah itu bertubi-tubi. Apabila peringatan Allah itu bertubi-tubi, berkesinambungan, maka sepatutnya manusia segera kembali sadar apa yang telah dilakukan selama ini.

Mungkin kita telah melakukan kesilapan yang besar, mungkin juga kesalahan yang fatal, maka Allah ingatkan. Supaya tidak terus berlanjutan kepada kebinasaan yang lebih besar. Akhirnya kita akan menderita semua. Maka semua mesti melihat (bencana) ini sebagai peringatan yang keras dari sisi Allah SWT. Ada pesan yang jelas sehingga kita mengambil sikap yang benar dan tepat dalam menghadapi musibah.

Kalau kita lihat untuk Indonesia. Umpamanya tsunami di Mentawai, Gunung Merapi yang Meletus di Yogjakarta, banjir di Jakarta,  kita bisa melihat arah dari musibah itu: tsunami dari bawah ke atas, air laut yang di bawah naik ke atas, yang satu lagi dari atas ke bawah yaitu dari puncak gunung turun ke bawah, yang satu lagi adalah berada di tengah-tengah dan air itu terkurung, ia tidak turun ke muka bumi.

Sepatutnya kita merasa aman dengan alam semesta  yang telah Allah tetapkan aturannya, tapi sekarang Allah takdirkan ia menjadi musibah bagi kita. Maka mungkin kita telah banyak melakukan pengrusakan terhadap sistem yang telah Allah tetapkan, maka mestilah kita kembali ke aturan yang asas, supaya kita dapat menjalani semua ini dengan baik. Sekarang kita sudah dikepung. Dari bawah sudah diingatkan, dari atas sudah diingatkan, di tengah-tengah juga sudah diingatkan.  Maka kalau tidak juga menerima peringatan, sungguh ini suatu keangkuhan dan kesombongan.

Belajar dari musibah yang dDiceritakan dalam al-Quran, bagaimana kita menyikapi musibah yang terjadi sekarang Ini?

Dalam kisah-kisah kaum terdahulu, Allah tetapkan atas mereka musibah yang bermacam-macam. Ada musibah untuk menguji mereka, ada musibah untuk menyiksa dan mengazab  mereka. 

Jika berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan, maka ia adalah musibah yang menyiksa, menyengsarakan mereka. Penyelesaiannya adalah dengan bertaubat, memohon ampun, meminta maaf kepada Allah SWT.

Dalam ayat al-Quran disebutkan, karena kesombongan manusia dan karena perbuatan mereka yang selalu merencanakan yang jahat terhadap kebenaran, karena mereka lebih suka mengikuti hawa nafsu daripada mengikuti kehendak Allah, maka tidaklah yang melakukan perbuatan tercela itu melainkan mereka sendiri yang akan menanggung akibatnya. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan berlakunya ketetapan Allah sebagaimana berlaku ketetapan Allah atas kaum-kaum terdahulu.’’

Jadi, jika kita melihat ayat al-Quran kita akan menjumpai bagaimana orang yang dahulu dibinasakan, diazab dengan berbagai macam siksaan. Maka yang sekarang juga begitu, akan dibinasakan dengan tsunami, dengan gempa bumi, dengan gunung meletus, dengan terbenamnya di dalam banjir yang besar. (Itu terjadi) Apabila melakukan perbuatan yang tercela, kemaksiatan dan pelanggaran.

Tapi Allah menyebut ini dengan sunnatullah, ketetapan Allah. Ketetapan Allah itu akan diberlakukan kepada orang terdahulu atau kepada orang sekarang serta akan berlanjut sampai hari kiamat.

Allah tutup dengan menyebut berulang dua kali, berkaitan dengan sunnatullah. “Yang demikian adalah sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.” [QS Al-Fath: 23] Pasti  (sunnatullah) itu akan dijalankan seperti itu. Karena yang menjalankannya adalah Allah yang menciptakan alam semesta ini.

Apa pelajaran lain yang kita dapatkan dari bencana yang berturut-turut  Ini?

Pelajaran  yang paling berharga sebenarnya adalah mengambilnya menjadi peringatan. Apabila kita tidak menjadikannya sebagai peringatan untuk memperbaiki diri maka semua ini menjadi sia-sia. Sebenarnya peringatan itu adalah yang paling berharga. Ada yang mengingatkan kita.

Umpamanya ada alat yang mendeteksi -- untuk keselamatan kita -- berkaitan dengan kecepatan. Umpamanya  bus tidak boleh melebihi kecepatan 80 Km/jam. Apabila bus ini melebihi kecepatan itu maka alat tersebut akan berbunyi, dia memberikan alarm peringatan.

Maka peringatan ketika itu sangat penting, karena peringatan itu yang akan menyelematkan bus ini dengan penumpang yang ramai di dalamnya. Tapi di saat pemimpin bus, yang menentukan jalan bus ini yaitu supirnya tidak mengambil pengajaran, tidak peduli dengan peringatan yang keluar dari alarm ini, maka dialah yang akan mungkin mencampakkan bus ini ke jurang kebinasaan. Dan dia yang mesti dipersalahkan. Sebab dia yang bertanggungjawab atas keselamatan bus.

Apabila kita kaitkan kepada masyarakat, kepada bangsa, maka pemimpin bangsa semestinya mengetahui perkara ini, pemimpin bangsa semestinya sensitif dengan musibah-musibah seperti ini. Mesti lebih sensitif dibanding rakyat biasa.

Tidaklah perkara di alam ini berlaku begitu saja. Sebab yang mengurus alam ini adalah Yang Maha Bijaksana. Pasti dibalik penetapan waktu musibah, pemilihan tempat musibah, pemilihan jenis musibah adalah dengan kebijaksanaan dari Allah.

Ini pengajaran yang sangat berharga. Kalau tidak juga mengambilnya sebagai pengajaran sama seperti supir yang tidak mengambil pelajaran dari alarm yang sudah dibunyikan.

Itu yang harus disikapi?

Ini yang harus disikapi, kalau tidak sama dengan membawa bus ini ke dalam jurang  kebinasaan. Sama dengan membawa negara ini kedalam jurang kebinasaan.

Sudah tercatatn, dibinasakannya Kaum nabi Nuh dahulu, Firaun dan tentaranya dahulu, Qorun dan pengikutnya dahulu dan berkelanjutan sampai pada masa Rasulullah seperti kafir Quraisy yang juga dibinasakan. Semua itu, kita tidak mau berlaku pada diri kita, keluarga kita dan bangsa kita.

Ini pelaran sangat berharga dari apa yang berlaku, apabila kita melihat nilai-nilai yang ada dalam agama kita.

Setelah pemimpin dan masyarakat mengambil pelajaran dari peristiwa ini, selanjutnya apa?

Sama seperti bus tadi, setelah berbunyi alarm, tanda ia telah melebihi batas yang dibenarkan. Maka, pertama,  ia harus turunkan batas tersebut. Yang Kedua, ia mesti pastikan bahwasanya mungkin jalan itu baik, biasa saja, tidak ada belok. Tetapi satu ketika, mungkin secara tiba-tiba ia menyadari ada yang melintas umpamanya, mungkin ada lubang di hadapannya yang ia tidak tahu, ia mesti berjaga-jaga terhadap kemungkinan yang akan berlaku.

Setelah kita mengambil pengajaran dari musibah, maka kita harus waspada. Untuk waspada, pastikan kita selalu mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, syariat yang telah diturunkan. Memastikan ini bukanlah kerja mudah,  sebab memerlukan kesabaran, istiqomah (tetap pendirian). Bukan hanya melipatkan satu-dua golongan tapi melibatkan semua lapisan masyarakat.

Yang kita harapkan adalah tujuan bersama tercapai, seperti bus tadi, tujuan bersama penumpang yang berada di dalamnya adalah selamat dan sampai ke tujuan. Maka begitu juga kita, keinginan kita bersama adalah selamat dan sampai ke tujuan yakni ridho Allah SWT.

Apa yang membedakan orang kafir dan orang beriman dalam memahami suatu Bencana?

Baik, bagi orang kafir mereka tidak melihat hidup ini melalui pandangan keimanan. Kafir disebut kafir karena mereka menutupi yakni menutupi kebenaran. Kebenaran yang paling besar yang mereka tutupi adalah kebenaran Allah sebagai Tuhan yang mengatur dan menguruskan alam semesta.

Kita (orang beriman) menyakini Allah SWT yang mengatur alam semesta. Bahkan ketika apa-apa yang berlaku di alam ini kita kaitkan dengan Allah. Tapi orang kafir, karena keimanan mereka yang tidak ada kepada Allah, mereka tidak kaitkan kepada Allah. Maka apapun yang berlaku tidak menjadi perigatan dan pengajaran.

Tapi bagi kita, ini adalah suatu peringatan dan pengajaran. Bagi orang kafir, (bencana) ini adalah fenomena alam biasa. Hukum alam biasa, memang gunung itu akan meletus, memang gempa bumi itu apabila ia menggegarkan lapisan laut kemudian itu akan tumpah ke darat, memang kalau kita tidak buat saluran yang  bagus, maka kita akan terperangkap dalam  banjir. Mereka melihatnya hanya sebagai hukum sebab akibat begitu saja.

Memang di alam ini berjalan hukum sebab akibat, tapi kita mesti memahami ada satu hukum selain hukum sebab akibat yaitu hukum kuasa mutlak Allah SWT. Dalam Islam, hukum sebab akibat itupun berjalan dengan kuasa mutlak Allah. Ada yang sudah ada sebabnya tapi tidak berakibat apa-apa.  Malah ada yang tidak punya sebab apa-apa, tapi akibatnya ada. Karena yang sebenarnya berkuasa di alam ini adalah Allah SWT, bukan alam itu sendiri dengan hukum yang ada saja.

Jika kita mengambil pelajaran dari musibah ini, perubahan apa yang akan dilakukan untuk keselamatan Bangsa?

Sebenarnya telah disebut dalam ayat Quran dengan sangat jelas: yang membuat alam di darat dan di laut ini binasa adalah manusia. Telah tampak kerusakan di darat dan laut karena tangan-tangan manusia. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [QS. Ar-Rum (30): 41]

Maka falsafah yang mudah adalah apabila kita tidak mau ada kerusakan di darat dan laut dengan musibah-musibah yang kita lihat sekarang ini, maka tahan tangan-tangan ini dari melakukan kerusakan. Dengan cara pastikan setiap apa yang kita buat sesuai dengan Syariah Allah SWT. Hanya itu, tidak ada yang lain. Perubahan yang kita harapkan adalah perubahan yang bersifat sejati, bukan perubahan yang palsu.

Musibah hari ini, bukan musibah untuk kelompok tertentu. Musibah ini sudah musibah nasional untuk satu bangsa. Maka sepatutnya perubahan yang diharapkan adalah perubahan satu bangsa, bukan perubahan kelompok tertentu. Dan baru akan selesai musibah ini apabila yang berubah adalah bangsa secara keseluruhan.

Perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang sebenarnya yaitu perubahan dalam diri masing-masing yaitu kembali ke jalan yang benar, mengikuti petunjuk dan tidak lagi melakukan kerusakan di muka bumi.  

Apakah ada hubungannya perubahan dengan aturan suatu bangsa?

Sebenarnya aturan yang sudah ada bisa untuk meyelamatkan, hanya saja sekarang masalah yang muncul adalah adanya suatu kesengajaan untuk tidak menjalankan aturan. Maka di sini kesalahan bukan lagi pada aturan, tetapi pada pelaksanaan dalam menjalan aturan, akhirnya kerusakan berlaku.

Yang kita harapkan sekarang adalah: pertama, aturan yang sudah ada pastikan seperti yang Allah tetapkan, supaya tidak ada perselelisihan antara aturan yang kita tetap dengan aturan yang telah Allah tetapkan. Sebab aturan yang telah Allah tetapkan pasti baik benarnya, pasti ada faedah dan manfaatnya.

Kedua, setelah kita menetapkan aturan, maka kita jalankan aturan tersebut. Tidak ada maknanya aturan yang kita tetapkan di jalan raya, tapi kita sendiri tidak mengikutinya. Kita katakan  mesti berhenti di sini, kemudian kita lewat saja, mesti kecepatan tidak boleh lebih dari 70 km/jam, tapi kita melampaui batas. Tidak boleh parkir di sini, kita justru letakkan mobil di situ.  Dengan tidak mengikuti aturan, maka kita telah melakukan ketidaknyamanan di jalan raya dan bisa membawa kecelakaan dan akan mengorbankan orang lain. [a.idris/hidayatullah.com]
 
01 Oktober 2010
Non-Muslim Indonesia Menikmati Kebebasan Luar Biasa!

Hidayatullah.com--Kasus HKBP Bekasi beberapa waktu lalu benar-benar mendapat keprihatinan dari banyak pihak. Menurut Ardiansyah SH MA MH, kasus itu terjadi  karena tidak adanya sikap dalam mentaati peraturan yang berlaku. Ketidaktaatan inilah yang memicu timbulnya konflik (pertikaian).

Berikut wawancara hidayatullah.com dengan pengamat hukum yang kini sedang menyelesaikan Program Doktor Bidang kajian Hukum Konstitusi dan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Kebangsaaan Malaysia (UKM) itu.

Dari aspek hukum, apa pandangan terkait kasus HKBP Bekasi?

Kasus HKBP harus dilihat dari dua hal. Pertama, adanya korban penusukan. Penusukan itu berarti tindak pidana. Penyelesaiannya dengan cara menangkap pelaku dan memproses pelakunya secara hukum.

Kedua, ada praktik keagamaan yang dilakukan penganut agama tertentu yang tidak mengacu peraturan yang berlaku. Memang, negara ini menjamin kebebasan beragama dan menjamin kebebasan beribadah.

Untuk mengawal kebebasan beribadah maka perlu dibuat peraturan bersama antarpemeluk agama. Keluarnya SKB 2 Menteri (Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri  Dalam Negeri No 8 dan No 9 Tahun 2006) bertujuan untuk menjaga kerukunan umat beragama.

Dengan keluarnya peraturan tersebut maka setiap warga negara Indonesia, dalam hal ini para pemeluk agama wajib terikat dan mentaati peraturan tersebut.

Dalam kasus HKBP, akibat adanya praktik keagamaan (ritual) yang dilakukan penganut agama tertentu tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku maka di sinilah awal munculnya masalah.

Kasus HKBP itu tidak bisa dilihat dari aspek SKB 2 Menteri, tidak bisa pula dilihat dari aspek penusukan (tindak pidana), akan tetapi harus dilihat dari aspek adanya sekelompok penganut agama tertentu yang tidak mentaati  peraturan yang berlaku. Ketidak-taatan inilah yang memicu timbulnya konflik (pertikaian). Kasus HKBP sejalan dengan kaedah kausalitas. Tidak akan mungkin muncul akibat, tanpa adanya sebab.

Bagaimana solusi terbaik agar kasus serupa tidak terulang?

SKB 2 Menteri merupakan dasar kebijakan bersama antarpara tokoh berbagai agama yang difasilitasi oleh pemerintah. Peraturan ini dirumuskan bersama-sama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan para tokoh agama.

Dengan logika sederhana, jika peraturan yang telah disepakati itu ditaati maka tentu tidak akan memunculkan  masalah. Sebaliknya, jika peraturan yang telah disepakati itu dilanggar maka tentu  akan memunculkan masalah.

Insiden Ciketing (Bekasi) terjadi karena jemaah HKBP tidak mentaati peraturan tersebut. Mereka bukannya mentaati peraturan untuk mencegah terjadinya konflik antarumat berbeda agama tersebut, malah tokoh HKBP dan para pendukungnya berulangkali melanggar bahkan mewacanakan pencabutan SKB 2 Menteri yang mensyaratkan pendirian tempat ibadah harus disertai dengan persetujuan 90 orang yang akan beribadah dan 60 warga sekitar, dengan memanipulasi data persetujuan sehingga menimbulkan keresahan sehingga berbuah konflik. Oleh karena itu, agar kasus serupa tidak terulang maka tokoh agama harus mentaati peraturan ini.

Bagaimana analisa hukum kemungkinan ditingkatkannya status SKB menjadi Undang-Undang?

Mungkin saja status SKB meningkat menjadi Undang-Undang. Namun, upaya peningkatan status SKB menjadi Undang-Undang bukanlah perkara mudah. Akan banyak pernyataan ketidaksetujuan dari berbagai tokoh agama, kelompok liberal, pegiat HAM, bahkan  intervensi asing.

Untuk meningkatkan status tersebut tentu melalui peran pemerintah, dalam hal ini  Menteri Agama. Pemerintah melalui Menteri Agama bisa merancang atau menyusun draft  RUU.

Selanjutnya draft RUU diserahkan kepada legislatif (DPR RI). Tentu ada pembahasan yang alot diantara sesama anggota legislatif (DPR RI). Untuk mencapai kata sepakat (disahkan atau ditolak suatu RUU) maka bisa ditempuh dengan berbagai cara termasuk voting. Jika DPR RI sepakat dengan RUU maka disahkanlah RUU menjadi  UU.

Langkah apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan Undang-Undang tersebut?


Untuk mewujudkan undang-undang memerlukan waktu yang panjang. Meskipun mayoritas  parlemen dikuasai wakil rakyat yang beragama Islam. Tidak ada jaminan undang-undang  tersebut akan terwujud.

Hal ini disebabkan Undang-Undang merupakan produk politik. Pembahasan Rancangan Undang-Undang tersebut tentu akan berjalan alot. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Masih segar ingatan kita betapa alotnya pengesahan UU Pornografi. Untuk sampai pada  tahap pengesahan UU Pornografi maka telah terjadi lima kali perubahan draft RUU  Pornografi.

Awalnya Draft RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi, lalu berubah dengan hilangnya kata Anti Pornoaksi.

Peraturan perundangan di negara manapun selalu dibuat manusia dengan suatu mindset (pemikiran mendasar) di dalam benaknya. Pemikiran mendasar ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keyakinan (ideologi/agama), pengalaman, pengetahuan, literatur, dan kepentingan. Kepentingan ini pun bisa bermacam-macam: kepentingan  pribadi, keluarga, kelompok atau partai, rakyat luar, atau kepentingan asing.

Dari semua faktor di atas, yang paling berbahaya adalah ketika kepentingan asing. Secara umum, ada lima metode intervensi asing. Pertama, intervensi G2G (Government  to Government), yakni pemerintah asing langsung menekan pemerintah suatu negara.

Kedua, intervensi W2G (World to Government), yakni lembaga internasional (PBB, WTO,  IMF) menekan suatu negara.

Ketiga, intervensi B2G (Business to Government), yakni  dunia bisnis internasional maupun domestik menekan pemerintah agar meluluskan kepentingannya dalam undang-undang.

Keempat, intervensi N2G (Non Government Organization to Government), yakni LSM  asing atau lokal menjadi kelompok penekan yang efektif terhadap eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kelima, intervensi I2G (Intelectual to Government), yakni kaum intelektual menekan pemerintah agar meloloskan suatu agenda dalam perundangannya.

Dari sisi politik hukum, sebenarnya apa yang sedang terjadi terkait kasus tersebut?

Politik determinan atas hukum. Politik dan kekuasaan sangat menentukan keberlakuan hukum. Menurut Mahfud MD, politik hukum harus diletakkan pada legal  policy (kebijaksanaan hukum) pemerintah dalam bidang pembentukan hukum dan pelaksanaan hukum.

Sebenarnya, jika politik dan kekuasaan committed dalam penegakan hukum, maka seharusnya pemerintah tidak perlu merespon pernyataan berbagai kalangan seputar pencabutan SKB 2 Menteri. Sebaliknya, pemerintah harus konsisten mempertahankan SKB 2 Menteri, bahkan bila perlu meningkatkan statusnya menjadi  undang-undang.

Menurut Anda, bagaimana sebenarnya toleransi umat beragama di Indonesia?


Indonesia merupakan negara yang sangat toleran terhadap non-Muslim. Kalau  tidak toleran, mana mungkin non-Muslim berkembang seperti sekarang ini. Tengoklah  di negara-negara Eropa dan Amerika yang mayoritas Kristen yang katanya paling  demokratis dan menjunjung HAM. Kasus terbaru, rencana pendirian masjid saja di New York itu, bukan di Ground Zero.

Jaraknya pendirian masjid kira-kira sekitar satu kilometer dari Ground Zero. Itu saja sudah dipersoalkan. Jelas membuktikan ada hambatan dalam kebebasan beribadah. Di Prancis, ada undang-undang pelarangan mengenakan cadar. Cadar itu kan bagian dari kebebasan beribadah. Kalau masjid  mungkin dianggap mengganggu, tapi apakah memakai cadar mengganggu? Itu tubuhnya sendiri dan pakaiannya sendiri.

Di Indonesia, warga non-Muslim itu betul-betul menikmati kebebasan luar biasa. Bahkan hampir-hampir tidak ada hambatan. Justru orang Islam di Indonesia, di  negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, yang sering tertindas. Silakanlah  lihat di Ambon, Bali, Papua, dan di wilayah-wilayah Indonesia lain yang Muslimnya  minoritas, warga Muslim justru tertindas. [idris/cha/hidayatullah.com]
 

05 September 2010
Dr. Anis Malik Thoha
Barat Paling Diuntungkan Stigma Wahabi
istilah Wahabi tiba-tiba muncul menjadi stigma baru untuk meneror banyak organisasi Islam.
 
28 Juli 2010
Sirikit: “Apa Anda Mau Makan Bangkai Tiap Hari?”

Hidayatullah.com--Program infotainment kembali menjadi sorotan. Banyak pihak menilai infotainment tidak mendidik, asosial, dan meresahkan. Apalagi belakangan kian menderasnya pemberitaan tentang 3 artis populer yang diduga melakukan aksi abnormal, yakni melakukan hubungan intim selayaknya suami istri.

Parahnya, ada oknum yang mengaku sebagai ahli berpendapat bahwa pelaku video mesum adalah korban. Bagaimana dengan anak-anak remaja atau yang di bawah umur menjadi korban? Tidak sedikit dari mereka yang menyimpan copy-an video tersebut di handphone mereka.

Melihat dahsyatnya bahaya infotainment yang menyajikan ghibah dan asosial, pada Selasa (27/07) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram menonton infotainment.

Hasil keputusan yang dikeluarkan Komisi C, Komisi yang membidani fatwa ini mengatakan, menonton tayangan ghibah alias gosip hukumnya haram.

“Menonton, membaca, dan atau mendengarkan berita yang berisi tentang aib, kejelekan orang lain, gosip dan hal-hal lain sejenis terkait hukumnya haram," ujar Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Asrorun Ni'am di arena Musyawarah Nasional VIII Majelis Ulama Indonesia, di Jakarta, Selasa (27/7).

Bagaimana sesungguhnya melihat infotaiment dari sudut pandang jurnalisme? Seperti apa bahaya pemberitaan infotainment yang memberikan pencitraan? Apa harapan-harapan yang bisa dicapai dari pemberitaan infotainment? Hidayatullah.com melakukan wawancara dengan pengamat media Dra. Sirikit Syah, MA, untuk membahas persoalan ini. Untuk kepentingan informasi dan penyampaian fakta, petikan wawancara ini kami muat dengan beberapa penyaduran. Berikut petikannya:

Menurut amatan Anda, masalah apa yang ditimbulkan pemberitaan infotainment, baik dari sisi kode etik pers maupun nilai sosial?

Dari sisi kode etik pers, persoalannya apakah infotainment termasuk produk pers. Ini masih menjadi perdebatan. Kalau dianggap iya, seharusnya etika jurnalistik diajarkan dan ditegakkan. Kalau bukan, cuma sekadar hiburan, bukan pemberitaan, isi program mesti lebih menghibur. Tidak menambah stres dengan berbagai aib perselingkuhan, konflik ibu-anak, suami-istri, perceraian, dan lainnya. Ini kan tidak menghibur?

Dari sudut pandang sosial, ini dapat mempengaruhi gaya hidup dan cara pandang masyarakat. Misalnya, kawin cerai itu biasa, hamil tanpa nikah itu tren yang keren. Artis A yang mempertahankan kehamilan tanpa suami adalah idola baru karena ‘tegar’, punya suami tapi hamil dengan laki-laki lain seperti banyak dilakoni artis sekarang ini. Itu malah disebut “hak asasi” dan “privasi”.

Apakah masalah itu murni timbul dari dari infotainment sendiri atau dari tokoh publik yang telah mendesainnya?

Bisa dari kehausan pekerja infotainment untuk mengisi program kejar tayangnya, bisa juga didesain oleh para agen atau manager artis yang ingin artis-artisnya terus populer agar banyak tawaran main.

Apakah masalah itu memang “cacat bawaan” dari infotainment?

Tidak ada cacat bawaan infotainment. Yang ada kesalahan memahami konsep infotainment. Di luar negeri ada yang disebut “entertainment news”, yaitu berita-berita dari dunia hiburan. Isinya tentang proses kreatif para seniman. Misalnya, bagaimana memproduksi (film) Avatar, berapa biaya produksi (film) Lord of the Ring, peluncuran album atau single baru, tentang perolehan box office, dan seterusnya. Betul-betul tentang dunia hiburan dan tidak bikin stres.

Apakah masyarakat menjadi terhibur dengan infotainment di negara kita?

Terhibur? Tidak. Siapa terhibur dengan berita artis A dan artis B mau cerai sampai tiga kali? Siapa terhibur dengan kabar ada artis yang punya istri simpanan lagi?

Dapatkah infotainment terlepas dari ghibah, gosip, atau rumor?

Sulit. Saya kira rumor dan gosip juga sumber berita. Memang harus diverifikasi (cover multy sides). Tetapi ghibah jelas bukan termasuk informasi yang patut diverifikasi atau disebarluaskan. Menyebarkan aib itu seperti makan bangkai saudaramu sendiri, bukan? Kalau Anda pekerja infotainment, apakah Anda mau tiap hari makan bangkai saudaramu sendiri?

Apa sebetulnya target idiil pemberitaan infotainment?

Targetnya tentu seharusnya memperkaya pemirsa dengan informasi dari dunia hiburan, terutama proses produksi dan pencapaian-pencapaian (prestasi). Yang kedua, informasi yang sifatnya menghibur: kabar positif, menyenangkan.

Apakah hal itu bisa diperbaiki?

Saya berharap dengan ditampungnya infotainment di PWI Seksi Hiburan, kinerja para awak liputannya bisa diperbaiki. Masih ada harapan. Mesti banyak dilakukan pelatihan dan penambahan wawasan tentang pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran (P3-SPS), dan kode etik jurnalistik, kalau mau disebut jurnalis; atau kode etik programming, kalau dianggap program hiburan. Hiburan pun ada etikanya.

Dalam keadaan seperti apa privasi publik figur penting untuk dibongkar kepada orang lain atau umum?

Hanya bila sang artis mengizinkan dan hanya bila dirasa perlu diketahui publik. Misalnya, artis nyalon bupati atau DPR, tapi dia sebetulnya tukang selingkuh dan bandar narkoba. Silakan diungkap.  [Ainuddin Chalik/Hidayatullah.com]

 


 
12 Juli 2010
Syeikh Wahbah Zuhaili: “Orang-orang Liberal Tidak Punya Agama”

Hidayatullah.com--Siang itu, Ma’had Baitul Mughni yang terletak di bilangan Kuningan, Jakarta, kedatangan tamu spesial: Syeikh Wahbah Zuhaili, seorang ulama kaliber dunia yang telah menelurkan puluhan judul buku. Salah satunya yang paling terkenal adalah Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu (Fiqh Islam dan Dalil-dalilnya). Buku ini tersebar di dunia Islam dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Gelar sarjana ia gondol dari Fakultas Syariah Universitas al-Azhar pada tahun 1956 M dengan predikat istimewa. Ayah lima anak ini juga memperoleh ijazah izin mengajar dari Fakultas Bahasa Arab Al-Azhar. Di sela-sela kuliah di Al-Azhar ia juga belajar Ilmu Hukum dan menamatkan S1-nya dari Universitas ‘Ain Syams dengan predikat magna cum laude pada tahun 1957. Lalu pada tahun 1959, ia meraih master bidang syariah dari Fakultas Hukum Universitas Kairo. Gelar doktor di bidang hukum ia peroleh pada tahun 1963 dengan predikat summa cum laude.

Kedatangannya ke Indonesia atas undangan sebuah penerbit Islam untuk menghadiri launching bukunya berjudul Fiqh Imam Syafi’i dalam acara Islamic Book Fair, di Istora Senayan Jakarta awal Maret lalu. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, hidayatullah.com meminta waktu wawancara. Obrolan berkisar masalah penjajahan di Palestina, masalah hukum dan paham liberal. Inilah petikan wawancaranya.

Banyak persoalan dihadapi dunia Islam saat ini, diantaranya Palestina, Afghanistan, Iraq dan lainnya, apa peran ulama dan umara dalam masalah ini?


Ulama wajib secara kontinyu memperingatkan tentang bahaya perbuatan orang-orang Yahudi tersebut yang keji, tindakan kejam mereka dan upaya mereka mengyahudikan Al-Quds, menghancurkan Al-Aqsa dan masjid-masjid lainnya.

Mereka pada hakikatnya tidak menginginkan perdamaian, tapi ingin menguasai seluruh tanah Palestina dan mengusir bangsa Arab dari sana, Muslim maupun non-Muslim.

Adapun peran umara dan penguasa—jika pun kita berbaik sangka pada mereka—maka  mereka adalah orang-orang lemah atau merasa lemah. Mereka tidak punya apa-apa, karena mereka tidak mempersiapkan umat untuk melawan musuh yang menghancurkan masa depan, mencuri kekayaan dan menjajah tanah-tanah mereka. Seharusnya mereka mempersiapkan umat ini untuk hal ini. Tapi Anda lihat, sebagian mereka diam. Mereka tidak bisa bicara apa-apa, karena takut kepada Amerika dan para pengikutnya. Semua itu adalah konspirasi Israel dan Mossad.

Dengan kata lain…


Sayangnya kita tidak mengambil ibroh (pelajaran) dari berbagai sikap ini, yang menghinakan dan berbahaya bagi bangsa Arab dan Islam. Mereka semestinya mengambil pelajaran dari berbagai kejadian ini dan waspada terhadap masa depan lebih baik. Semoga Allah mewujudkan kemenangan kita terhadap para perampok itu (Zionis Israel, red), bahkan walaupun mereka dibantu oleh AS dan Eropa.

Problem kita adalah kelemahan atau merasa lemah. Padahal Sayyidina Umar berkata, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan orang tsiqah (terpercaya) dan ketakberdaaayan orang kuat.”

Banyak pemimpin Arab yang bisa berbuat sesuatu, melakukan perlawanan, tapi mereka belum melakukan hal itu. Ini adalah kealpaan para pemimpin umat Islam dan Arab terhadap persoalan Palestina, demikian pula di Iraq dan Afghanistan.

Mereka juga berupaya mengekspor “terorisme” ke negeri kalian (Indonesia), sebagaimana mereka lakukan di Aljazair dan Mesir. Mereka gampang mengkafirkan. Mereka itu pada hakikatnya, menurut saya, adalah buatan Amerika. Amerika-lah yang menciptakan “terorisme”. Modus mereka sama dengan modus Israel. Mereka mendukung satu pihak untuk menghancurkan pihak lain, sehingga terpecah belah dan jatuh pada berbagai krisis.

Terorisme itu tidak muncul kecuali dari AS, didukung dan dibuat di AS. Kemudian, ia berkata di sisi lain bahwa mereka ingin menghancurkan terorisme. AS bermain dua kaki,  agar umat berpecah-belah dan saling berperang. Ini tidak dipahami oleh para teroris karena hanya pemimpin merekalah yang mengetahui. Adapun para pengikut mereka mengira telah melakukan amal shalih untuk Islam, tapi sebaliknya melakukan bahaya terbesar kepada Islam.

Anda membenarkan bahwa realitas terorisme memang ada dalam tubuh umat Islam?

Ada, tetapi siapa yang membuatnya? Bagaimana saya tidak mengakui, sementara realitanya begitu. Dan realita adalah bukti terbaik. Islam tidak mengenal kekerasan, ekstrimisme ataupun terorisme. Ini adalah buatan mereka, agar kita saling berperang. Ada, tetapi saya menenangnya dengan keras. Mereka itu menuju neraka, bukan ke surga sebagaimana mereka sangka.

Karena itu, ini adalah kekeliruan dari pemimpin mereka, dimana mereka bersepakat dengan negara-negara yang ingin menyalakan api terorisme. Adapun para pengikut mereka adalah orang-orang bodoh. Semua pemikiran mereka itu keliru dan tidak berasal dari Islam. Bahkan Tragedi 11 September 2001 adalah buatan fundamentalis kanan AS dengan bekerja sama dengan Mossad Israel berdasarkan banyak bukti.

Saya punya buku-buku yang menjelaskan bahwa ini adalah tipuan yang sangat besar. Semua kejadian ini dimaksudkan sebagai alasan untuk menyerang dunia Islam, tak ubahnya baju gamis Utsman ra (khalifah Utsman yang dibunuh oleh para pemberontak lalu pakaiannya yang bersimbah darah dijadikan alasan untuk menentang khalifah Ali bin Abi Thalib—red), yang mereka jadikan jembatan untuk ikut campur dalam urusan negara arab dan Islam.

Terdapat juga buku-buku yang menjelaskan bagaimana pada hari kejadian terdapat lima ribu pekerja Yahudi tidak masuk kerja di kantor mereka di WTC. Karena itu, mereka tahu siapa berada di balik itu. Bahkan Bush (George W. Bush—red) pun tahu hal ini sebelumnya. Mereka tahu bahwa ini adalah konspirasi dari konservatif kanan AS, Salibis Barat dan Zionis, dengan bekerjasama dengan Israel. Kita harus pahami ini dan mengambil satu sikap bersama terhadap terorisme bahwa ini adalah buatan non-Islam. Islam berlepas diri dari tindakan-tindakan kriminal seperti ini.

Bagaimana dengan prediksi adanya  benturan peradaban seperti pernah dipaparkan Samuel Hutington itu?


Mereka berupaya meneriakkan konflik peradaban, bahwa kita tidak bisa saling bertemu. Kita mengajak pada dialog, tapi mereka mengajak pada konflik. Ini seperti ajakan kepada “terorisme” secara tersirat. Mereka terus berupaya menyodorkan upaya agar Islam tidak bertemu dengan dunia modern. Semua ini adalah konspirasi yang harus kita ketahui hakikatnya dan harus kita hancurkan.

Apa pesan Anda untuk kaum Muslimin di Indonesia?

Pertama, hendaknya umat Islam Indonesia melawan apa yang dinamakan “Islam Amerika”, sekularisme atau liberalisme, melawan setiap pemikiran yang menjadikan Islam mengikuti jalan Amerika. Ini konspirasi terbesar terhadap Islam.

Sekarang di tengah kalian ada George Soros. Dia telah menghancurkan ekonomi Malaysia pada tahun 1998, dan kini berada di tengah kalian dan membeli sejumlah perusahaan, dan berupaya masuk ke dalam ekonomi Indonesia dan menghancurkannya, sebagaimana yang ia lakukan terhadap ekonomi Malaysia. Kalian harus mewaspadainya dan tindak-tanduknya. Hindari membeli saham pasar modal atau bursa. Lewat tipuan ini, dia tarik modal dari para orang-orang kaya, sehingga menghancurkan ekonomi dan mata uang.

Bisa Anda ceritakan tentang buku monumental Anda: Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu?

Kitab ini alhamdillah diterima luas luas dari Amerika hingga Jepang, tersebar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diamalkan oleh setiap Muslim di rumahnya. Saya memberikan informasi di dalamnya dimana orang tidak perlu bertanya lagi kepada orang. Sebab, banyak orang sibuk hari ini. Saya lengkapi buku ini dengan daftar isi, saya membantunya menjelaskan tentang hukum-hukum halal dan haram. Buku ini alhamdulillah diterima karena hukum Islam disajikan menurut mazhab empat dengan dalil-dalilnya serta memperkuat isinya dengan berbagai referensi terpercaya, alhamdulillah. Sekarang Darul Fikr mencetak buku ini untuk ke-32 kalinya. Ini dalam bahasa Arab.

Buku ini juga dicetak banyak dalam bahasa lain. Misalnya di Turki, dicetak sejak 20 tahun lalu, diterbitkan dalam bahasa Turki dan dibagikan lewat koran Zaman. Sebanyak  350 ribu kopi dicetak dan dibagikan gratis ke setiap rumah yang berlangganan koran ini. Tidak ada buku di dunia tersebar seperti ini. Ini baru dalam bahasa Turki. Segala puji hanya milik Allah. Maka kitab ini, insya Allah, saya niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk membantu ikhwan dan akhwat di seluruh dunia, dan semoga tujuan ini terwujud alhamdulillah. Dalam cetakan ke-32 ini ditambahkan enam buku lain sehingga menjadi 15 jilid.

Dunia Islam kini—termasuk Indonesia—tengah didera oleh bahaya liberalisme agama. Komentar Syeikh?

Kaum Liberal itu, menurut saya tidak punya nilai sama sekali. Kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Ketika Nabi Muhammad saw datang, umatnya menyembah berhala. Lalu beliau membebaskan Makkah Al-Mukarramah. Itu adalah kemenangan yang agung dengan mengumumkan tauhidullah dan membatalkan penyembahan terhadap berhala.

Ketika menaklukkan Mekah pada abad ke-8 Hijriyah beliau menegaskan: “Kebenaran telah datang dan kebatilan pun kalah. Sesungguhnya kebatilan itu kalah.” Mereka (kaum Liberal, red) itu seperti katak. Saya menyamakan mereka dengan katak, karena mereka berteriak tanpa memahami apa yang mereka lakukan.

Mereka memiliki karakter sebagai agen pemikiran dan politik amerika, serta memusuhi Islam. Mereka itu sebetulnya adalah para agen suruhan. Agen suruhan itu seperti lazimnya sangat terhina, pikirannya lemah dan kegiatannya tidak mendatangkan kebaikan. Insya Allah dalam muktamar ini kita akan bicara tentang mereka, lalu kita letakkan  garis pemisah antara Islam yang benar dan yang bukan.

Saya berharap pemikiran liberal itu tidak punya pengaruh bagi pemikiran Indonesia. Realitanya, mereka ingin mewujudkan “Islam Amerika” di Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Makna Islam Amerika adalah melucuti, memusuhi, menolak dan membatalkan Islam. Umat Islam Indonesi harus waspada terhadap makar ini.

Sayangnya, sebagian umat yang loyal terhadap Islam berpikir untuk mengikuti mereka  yang bertentangan dengan agama dan kemuliaan umat. Mereka itu pada hakikatnya adalah agen kolonialisme dan pemikiran barat. Dengan tegas, bangsa Indonesia takkan terpengaruh dengan kegiatan dan tingkah laku mereka yang menghancurkan dan berbahaya.

Sekularisme dimaksudkan untuk memisahkan agama dan politik. Ini bahaya pertama terhadap Islam. Orang-orang liberal itu berlepas diri dari agama manapun juga. Mereka tidak punya agama. Mereka itu pantas dijuluki dengan “mereka itu pada hari itu lebih dekat pada kekufuran daripada iman.”

Kita berdoa kepada Allah agar mereka mendapat hidayah dan petunjuk. Saya percaya bahwa saudaraku di Indonesia, tidak peduli terhadap pemikiran susupan dari para agen yang berupaya memasarkan ide ini. Mereka menyangka telah membantu umat,  tapi hakikatnya mereka mengikuti musuh. [M. Nurkholis Ridwan/www.hidayatullah.com]
 
07 Juni 2010
Surya: “Saya Mungkin Belum Pantas Syahid”

Hidayatullah.com & Sahabat al-Aqsha—Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Rambam, Haifa, Israel, Ahad (6/6) pukul 11.30 waktu Yordania, seorang dari dua WNI yang cedera saat militer Israel menyerbu kapal Mavi Marmara, Surya Fachrizal akhirnya dideportasi ke Amman, Yordania.

Surya terkena timah panas tentara Israel ini, langsung dilarikan ke Royal Medical Services (King Hussein Medical Center), Amman.

Surya dikeluarkan dari Israel atas kerja sama Kedutaan Besar RI di Amman dengan pemerintah Yordania. Ia  sempat dirawat di RS Rambam, Haifa City, Israel, sejak 31 Mei  untuk menjalankan operasi pengeluaran peluru.  

Salah satu jurnalis hidayatullah.com yang ikut rombongan di Kapal Mavi Marmara dalam Armada Pembebasan (Freedom Flotila) ini sempat bicara panjang lebar dengan hidayatullah.com melalui sambungan telpon, termasuk bagaimana ceritanya sampai ditembak Israel. Berikut ceritanya.

Hidayatullah.com (HD): Assalamualaikum.

Surya (SY): Waalaikumsalam.

HD: Apa kabar Surya?

SY: Alhamdulillah mas, saya baik-baik saja.

HD: Jam berapa sampai di Yordan?

SY: Jam satu tadi.  Sekitar jam 12.30 waktu Yordania. Sekarang saya di Royal Medical Services, kayaknya rumah sakit militer nih.

HD: Bagimana kondisimu sekarang, Sur?

SY: Baik-baik saja, Alhamdulillah. Bahkan tadi sudah sempat menelepon bapak, ibu, dan istri saya.

HD: Siapa yang mengantarmu dari Israel menuju Amman?

SY: Hanya pihak petugas imigrasi Israel saja. Tapi sebelum berangkat, kayaknya  ada telepon dari putrinya Gus Dur, Yenny Wahid, kayaknya untuk lobi-lobi ke pihak Israel.

HD: Bagaimana kamu tahu itu Yenny Wahid?

SY: Ya pas orang Israel bicara, dia sebut-sebut Yenny Wahid. Lantas saya tanya, “Who is she? Katanya, ”She is Yenny Wahid from Indonesia.“ Tapi yang saya tahu, pihak Embassy  of Jordan   luar biasa membantu.

HD: Apa yang kamu keluhkan sekarang, Sur?

SY: Ini, di dada bagian kanan, di bekas operasi. Kadang terasa masih nyeri.

HD: Ya mudah-mudahan segera sembuh dan segera pulih kembali. Semua orang mendoakanmu.

SY: Memang saya menjadi berita, mas?

HD: Ya iyalah, semua orang di Indonesia –termasuk pihak pemerintah—sibuk mencari keberadaanmu. Bapakmu bahkan sering muncul di TV.

SY: Oh ya? Apa katanya?

HD: Ya, beliau mendoakanmu segera pulih dan kembali. Yang penting, semua mendukung langkah-langkahmu.

SY: Gitu ya? Subhanallah, Allahu Akbar!

HD: Siapa yang membantumu pas sendirian di sana?

SY: Teman-teman dari IHH dan beberapa LSM dari Turki, termasuk dari Free Gaza Movement (FGM), namanya Adalah. Dialah yang ikut merawat saya, termasuk membelikan baju-baju dan pakaian untuk saya.

HD:  Memang bagaimana ceritanya kamu bisa tertembak, kamu melawan ya?

SY: Nggak, kan serangan itu habis Subuh, pas aku selesai shalat. Saat itu aku lihat sudah banyak kapal-kapal kecil (speed boat) mengepung Mavi Marmara. Nah, aku langsung jeprat-jeptret dengan kamera untuk mengabadikan momen penting tersebut.

HD: Memang kameramu menggunakan blitz?

SY: Ya. Nah, mungkin itu menarik perhatian. Tapi pas aku sedang ingin menolong orang yang tertembak dan berdarah akibat luka, tiba-tiba saya ditembak. Nah, sejak itu aku sudah nggak ingat lagi, sampai di bawah naik helikopter Israel menuju Haifa. Nah, nggak tahu tuh nasib peralatan jurnalistikku sekarang, termasuk laptop, hp, dan kamera pinjaman.

HD: Ya, tidak usah memikir yang berat-berat dulu.

SY: Wah, tapi banyak momen penting di sana. 

HD: Apa kesan Surya atas peristiwa ini?

SY: Nggak tahu nih mas. Saya hanya berfikir, apa pelajaran bagi saya atas peristiwa ini? Mengapa Allah masih menyelamatkan saya? Jangan-jangan, saya mungkin belum pantas syahid. Tapi dari semua itu, saya akan jaga amanah Allah atas keselamatan dan kesehatan ini, insya Allah. [Cholis Akbar/hidayatullah.com]

Surya saat baru tiba di King Hussein Bridge check point, perbatasan antara Yordania dan Palestina yang dijajah Israel. [foto hidayatullah.com & Sahabat Al-Aqsha] 
 
09 Mei 2010
"Jika Masih Ada yang Merokok, Bisa Dipecat dari Anggota Muhammadiyah"

Hidayatullah.com--AHAD, 21 Maret lalu, ratusan petani tembakau di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah berdemo. Tapi bukan pada kantor pemerintahan, mereka berdemo pada organisasi Muhammadiyah.  

Selain orasi, mereka meneriakkan yel-yel 'rokok tidak haram'. Juga membawa beberapa poster  bertuliskan “Yang mengharamkan rokok musuh kami”, “Silakan rokok haram tapi kami akan menghalalkan segala cara.”

Semua bermula dari keputusan Majelis Tarjih dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengeluarkan fatwa haram merokok. Fatwa yang dikeluarkan Selasa, 9 Maret 2010 itu tak urung membuat sesak dada beberapa kalangan. Khususnya industri rokok dan para pecandu asap maut ini.

Meski ada yang menentang, tak sedikit yang mendukung langkah berani Muhammadiyah ini. Beberapa kelompok, seolah pasang badan mendukung Muhammadiyah. Diantaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), organisasi kesehatan hingga Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI.  Hanya saja, yang terkesan masih malu-malu terhadap masalah ini adalah sikap Nahdlatul Ulama (NU).

Bagaimana sikap Muhammadiyah menghadapi aksi demo petani ini? Muhammadiyah punya jawabannya. Benarkah Muhammadiyah mendapat uang dari filantropis New York Bloomberg Initiative (BI) sebesar Rp 39 miliar untuk mendukung gerakan antirokok? Lebih lengkapnya simak wawancara wartawan Majalah Suara Hidayatullah Bahrul Ulum dan Masjidi dengan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih, Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, M.A.

Bagaimana proses keluarnya fatwa haram merokok ini?

Masalah rokok ini sudah dibicarakan cukup ramai sewaktu ijtima’ ulama di Padang Panjang, pada Januari 2009. Hanya pembicaraan ini kembali ramai dibicarakan karena akan diadakannya Muktamar Muhammadiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sudah empat tahun menyatakan sebagai kampus bebas asap rokok. Panitia mencanangkan Muktamar kali ini harus bebas asap rokok termasuk melarang rokok di semua unit organisasi milik Muhammadiyah.

Sampai suatu saat di kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang mempertanyakan kenapa di Muktamar tidak boleh  merokok, padahal berdasarkan fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid tahun 2005 dan 2007, merokok itu hukumnya mubah.

Akhirnya, Prof Dr Syamsul Anwar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengemukakan tentang rokok yang banyak menimbulkan mudharat. Barangkali, dulu, fatwa tarjih merokok itu mubah keluar karena belum cukup masukan kepada tim fatwa tentang bahaya rokok, sekarang sudah cukup banyak sehingga fatwa itu akan kita tinjau lagi. Akhirnya, tanggal 7 Maret Tarjih Pusat bersama Muhamadiyah wilayah mengadakan halaqah, dengan mengundang ahli-ahli tentang bahaya rokok.

Bukankah rokok mampu meningkatkan taraf hidup petani?

Industri rokok Indonesia itu sudah dikuasai asing. Sebut saja; Sampoerna, Phillip Morris, Bentoel dibeli British American Tobbaco. Artinya, uang dibawa keluar, sampah dan penyakitnya di tinggal di sini. Dengan data-data yang ada, ditambah pandangan Ketua Majelis Tarjih sebagai Guru Besar Fiqh yang kemudian mengemukakan argumen-argumennya, hingga sampai pada kesimpulan rokok itu haram. Dan pada saat itu tidak ada seorang pun peserta halaqah yang menolak.

Tapi biasalah, yang menentang yang punya kepentingan langsung,  industri rokok.

Apa kesimpulan halaqah ketika itu?

Kesimpulan rapat Tarjih adalah; Pertama, karena merokok merusak kesehatan bahkan bisa sampai ke tingkat membunuh pelan-pelan. Ini bertentangan dengan firman Allah. Kedua, asap perokok membahayakan orang lain.  Ketiga, merokok itu mubazir karena sama saja membakar uang. Keempat, merokok itu bertentangan dengan sabda Nabi untuk meninggalkan yang memabukkan dan melemahkan, sementara merokok itu adalah bagian dari yang melemahkan. Kelima, secara umum merokok bertentangan dengan tujuan syariat yaitu perlindungan diri dan akal. Atas dasar itu dan dilengkapi dengan data-data emipiris,  maka Majelis Tarjih berkeyakinan bahwa merokok hukumnya haram untuk siapa saja dan kapan saja.

Apa dasar syar’i pelarangannya?

Al-Quran Surat Al Baqarah yang berbunyi,

??????????? ??? ??????? ????? ????? ???????? ????????????? ????? ????????????? ???????????? ????? ????? ??????? ?????????????? 


“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah [2]: 195]


Tapi bukan hal mudah dalam aplikasinya. Bagaimana jika ada warga Muhammadiyah yang mengabaikan fatwa ini?

Majelis Tarjih mengemukakan tiga prinsip. Pertama, Bi Attadriij, secara bertahap. Artinya yang belum merokok jangan mencoba merokok, yang sudah merokok berniat sekuat tenaga untuk berhenti merokok hari ini, besok, atau lusa. Yang jualannya hanya barang rokok,  dia harus berpikir untuk mencari uang, dan dengan uang itu mencari alih usaha. Kalau dia punya pabrik rokok tentu tidak mungkin langsung tutup, mesti dia punya perencanaan sampai tahun kapan untuk membuka pabrik baru. Kedua, Prinsip taysir, memudahkan. Kalau dia kecanduan merokok, rumah sakit Muhammadiyah akan membuat klinik bagi mereka yang kecanduan rokok dengan terapi khusus. Ketiga, Prinsip adamul kharaj, tidak boleh menyulitkan. Dengan prinsip ini, lalu apa yang dikhawatirkan, khususnya oleh petani tembakau?.

Apakah fatwa ini mengikat?

Fatwa ini sudah final. Kalau nanti fatwa ini dibawa ke Munas Tarjih dan seluruh peserta Munas menyetujui karena tidak ada argumen yang lebih kuat, maka fatwa ini bisa meningkat menjadi keputusan Tarjih, yang kedudukannya lebih tinggi karena mengikat secara organisasi. Jadi, fatwa ini pegangan bagi seluruh warga Muhammadiyah. Kalau sudah keputusan Tarjih masih ada yang merokok, bisa dipecat (dari anggota Muhammadiyah, red). Jadi, begitu dikeluarkan langsung berlaku secara hukum bagi warga Muhammadiyah.

Apa benar Muhammadiyah mendapat sponsor hingga keluar fatwa ini?

Pandangan itu tidak benar. Mereka mungkin tidak paham bahwa bukan wataknya Muhammadiyah yang kini berusia satu Abad. Disebut-sebut uang Rp 3, 6 miliar itu bagi Muhamadiyah bukan uang yang banyak. UMY saja membangun Sportorium  senilai Rp 25 miliar. Jadi tidak mungkin lah Muhammadiyah merusak reputasi hanya karena uang 3,6 miliar itu. Itu tidak logis. Lebih logis kalau Muhammadiyah dituduh mengeluarkan fatwa membolehkan merokok lalu dibayar oleh industri rokok Rp 3 triliun.  

Memang Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (MMKM) punya kerjasama dengan pihak asing. Tepatnya dengan Union Paris, bukan Bloomberg Amerika. Tapi itu bersama jaringan lainnya dalam rangka mencegah penyakit paru dan menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas polusi, penanganan flu burung dan bencana alam.  Salah satu program MMKM adalah kampanye anti rokok. Di saat yang sama,  Majelis Tarjih juga membahas soal rokok. Tetapi Tarjih independen dan tidak ada hubungan dengan MKKM. Majelis Tarjih punya wilayah sendiri dan tidak memiliki sponsor. Sponsor kita PP Muhammadiyah. Biayanya paling hanya untuk snack, tidak membutuhkan biaya lain-lain. Nah, mungkin karena sinkron antara MKKM dengan Majelis Tarjih maka keluarlah tuduhan seperti itu.

Tapi, jika masyarakat menganggap kerjasama dengan Union Paris dianggap bermasalah, demi nama baik, Muhammadiyah siap menghentikan dana sponsor tersebut dan mengembalikan uangnya.  Kalau mereka (Union Paris, red) mau minta uangnya kembali, akan dibayar oleh PP Muhammadiyah. Kasihan Majelis Tarjih yang tidak berbuat apa-apa malah dituduh seperti itu.[www.hidayatullah.com]
 

13 April 2010
"Alhamdulillah, Suamiku Mati Syahid..."
Sebuah kisah yang ditulis dari penuturan istri seorang Mujahid Palestina yang dibunuh musuh dengan meledakkan mobilnya, hampir enam tahun yang silam
 

 
   Berita Terkini
  Yaman Selatan Menuntut Merdeka
  Saudi Tanggkap 10 Tersangka Mata-Mata Ir...
  Sidang Pra-Peradilan Bradley Manning Dim...
  Rafsanjani dan Jago Ahmadinejad Dicoret ...
  Kontrak Para Pemimpin dengan Allah Azza ...
  Martabat dan Keterwakilan Perempuan
  FLP Hadhramout Sukses Gelar Diklat Kepen...
  Sidang Lanjut 10 Oktober, Perintah Penah...
  Surya dan Syeikh Raid Shalah Batal Bersa...
  LGBT Kampanye di Kampus, Civitas Akadem...
  Gubernur Kaltim: Hidayatullah Mitra Peme...
  LDK Universitas Pasundan Gelar Seminar T...
  PKS Usulkan Integrasi Nilai Agama dalam ...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved