Cover Story

18 Oktober 2010
Aksi “Pemakan Bangkai” Marak Kembali
Padahal, sebelum ini, beberapa ormas keagamaan dan ulama menegaskan fatwa haramnya infotainmen. Khususnya yang memuat berita-berita ghibah.
 
18 Oktober 2010
Geliat Aksi Para “Pemakan Bangkai”
 
 
Hidayatullah.com—Seorang gadis jelita, diwawancarai sebuah stasiun TV dengan wajah berkaca-kaca, seolah ingin menangis. Wanita bernama Aida Saskia itu mengaku telah diperkosa Zainuddin MZ. Tidak main-main, ia menuduh diperlakukan tak senonoh pria yang pernah dijuluki sebagai “dai sejuta umat”.
 
Seolah tanpa meminta bukti dengan tuduhan berat itu, awak media percaya saja berita ini. Bahkan si wanita menuntut dai sejuta umat itu minta maaf dan memenuhi semua janji-janjinya.  
 
Sebelum ini, pada awal malam, pertengahan Januari 2010 di Bioskop 21 Theatre Planet Hollywod Jakarta terjadi sesi tanya-jawab  saat peluncuran sebuah film ber-genre komedi.
 
“Biasanya, jika jumpa pers dilakukan sebelum pemutaran film, tandanya film komedi ini nggak lucu. Saya ragu film ini lucu,” ujar seorang wartawan infotainmen kepada pengarah acara.
 
Tidak hanya mengkritik, pertanyaan yang diajukan sang wartawan kepada salah seorang aktris film tersebut, Julia Perez,  juga jauh dari tema film. Sang wartawan justru bertanya apakah Julia ingin mengikuti jejak Ayu Azhari yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Sukabumi, Jawa Barat.
 
Agaknya, sang wartawan mencoba mengorek-ngorek sudut pandang lain dari sosok Julia selain film terbarunya itu.
 
“Jika Anda ikut mencalonkan diri, itu akan menambah jumlah bintang esek-esek yang jadi calon bupati,” tanya wartawan.
Ditanya demikian, aktris ini sama sekali tidak marah. Dia cuma bilang kepada sang wartawan, “pikiran Anda saja yang begitu”.
 
Memang, buat wartawan infotainmen, acara-acara seremonial seperti peluncuran film bukan hal yang menarik untuk diberitakan. Ini diakui Aris – nama samaran – seorang mantan wartawan infotainmen Kroscek yang tayang di stasiun televisi swasta Trans TV.
 
“Itu nggak seru. Hanya berita biasa. Kurang greget. Paling satu spot selesai,” kata Aris yang mengaku keluar dari dunia infotainmen sejak dinasihati kakaknya yang seorang ustadz di sebuah pesantren di Malang, Jawa Timur ini.
 
Untuk membuat laku sebuah album lagu, sinetron, ataupun film, kata Aris kepada Hidayatullah.com, tak jarang terjadi persekongkolan antara pihak artis dengan oknum wartawan infotainmen. Misalnya, dengan merekayasa berita skandal hubungan percintaan artis yang bersangkutan.
 
“Dengan begitu, pemberitaanya terus menerus ada. Kan promosi juga nih!” ungkap Aris.          
 
Berita Settingan
 
Pernyataan Aris dikuatkan oleh seorang sumber hidayatullah.com, seorang redaktur salah satu tabloid infotainmen yang berkantor di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sebut saja namanya Hendra.
 
Berita rekayasa atau berita settingan, kata Hendra, biasanya dilakukan untuk mengangkat pamor artis-artis pendatang baru. Artis sangat  membutuhkan pemberitaan. Sering-tidaknya seorang artis diberitakan oleh media massa berpengaruh terhadap tawaran kerja (jobs order) mereka. “Produser hiburan tidak mau memakai artis yang tidak populer,” jelas Hendra.
 
Maka tak heran jika pada acara jumpa pers tadi sang pengarah acara merasa perlu mengatakan Julia sudah dikontrak untuk bermain tujuh film pada tahun ini.
 
Imbalan jutaan rupiah untuk media infotainmen dari pihak sang artis jelas ada. Namun, Hendra enggan menyebut angka pastinya. Uang itu kadang dibayar di muka, kadang juga dibayar setengah di awal, dan dilunasi ketika berita sudah ditayangkan. 
 
Namun, tidak semua permintaan berita settingan artis pendatang baru mereka terima. “Kita juga melihat bakat dan penampilan sang artis. Kalau tidak berbakat dan tidak menarik, untuk apa diberitakan?” tukas dia.
 
Picu Angka Perceraian
 
Hal senada juga diungkap Prima Gerda Pratiwi, mantan koordinator liputan infotainmen Potret Selebriti Terkini (Poster). Pratiwi mengaku terganggu dengan jurnalisme gosip yang selama ini dilakoninya.
 
"Berita infotainmen terkadang membuat pasangan yang harmonis jadi bercerai dan pasangan yang awalnya putus baik-baik jadi saling bermusuhan," keluh Pratiwi seperti dikutip situs berita detik.com.
 
Itu sebabnya hingga saat ini Pratiwi tidak lagi mau bekerja di infotainmen atau media gosip. Namun diakuinya, tayangan
seputar gosip memang sangat diminati pemirsa. Hal ini terlihat dari rating yang dikeluarkan lembaga survei AC Nielsen setiap hari Rabu. Menurutnya, hasil survei AC Nielsen tersebut menjadi pijakan dalam setiap rapat redaksi infotainmen untuk menggarap tayangan berikutnya.
 
Terkadang, ujar Pertiwi, bila tidak ada gosip yang dianggap menarik, redaksi melakukan berita settingan terhadap salah satu artis supaya beritanya bisa menjual dan diminati pemirsa. Ini dilakukan untuk meningkatkan perolehan rating yang tinggi.
 
"Kalau ratingnya jeblok, PH (rumah produksi) yang menggarap infotainmen nggak akan dikontrak lagi (oleh) stasiun televisi. Makanya infotainmen berlomba menyajikan berita-berita yang berbau gosip atau skandal artis. Kalau tidak ada gosip yang panas, redaksi akan menyettingnya," ujar Pratiwi membeberkan.
 
Menteri Agama, Suryadharma Ali, mencoba menghubungkan maraknya infotainmen ghibah dengan angka perceraian di Indonesia. Katanya, pada tahun 1980-an, angka perceraian berkisar 60 ribu per tahun. Namun dalam lima tahun terakhir, angka itu menanjak tajam.
 
Dari rata-rata dua juta perkawinan setiap tahun, tercatat 200 ribu angka perceraian per tahunnya. “Bahkan pada tahun 2005 terjadi 500 ribu perceraian,” ungkap Suryadharma saat menjadi pembicara dalam diskusi  bertajuk Infotainmen = Gibah? di Jakarta tengah bulan lalu. 
 
Korelasi antara tayangan infotainmen gibah dan perceraian, menurut Suryadharma, cukup jelas. Sebab, tokoh publik yang diberitakan infotainmen ghibah adalah idola masyarakat. Perilaku negatif sebagian kalangan artis, seperti selingkuh, konsumerisme, kehidupan glamor dan bebas, menjadi hal yang biasa akibat tayangan infotainmen.
 
Untuk itu, Suryadharma mengajak semua pihak agar berlaku jujur dalam melihat isi tayangan infotainmen. Ini harus mendapat perhatian khusus.  Sayangnya, penertiban tayangan infotainmen bukanlah wewenangnya.
 
Suryadharma mengatakan, pihaknya akan bekerjasama dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, untuk mengatasi masalah ini.  “Ini membutuhkan kerja kolektif semua pihak.”
 
Perihal kaitan infotainmen dengan perceraian artis dan masyarakat, disanggah oleh Hendra. Menurutnya, yang memicu perceraian seorang artis adalah kuasa hukum atau pengacara sang artis sendiri, bukan pihak infotainmen.
 
Bahkan, kata Hendra, dengan mengetahui nama kuasa hukum seorang artis, pihak infotainmen bisa menebak dengan tepat perihal kasus dan vonisnya.
 
“Bila kuasa hukumnya si A, ujungnya adalah cerai. Atau, jika pengacaranya si B, maka kasusnya adalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga),” kata Hendra mengungkapkan.
 
Ketika seorang artis masuk ke dalam bisnis dunia hiburan, jelas Hendra lagi, tidak ada istilah privasi bagi orang tersebut. Semua gerak-gerik sang artis akan dipantau oleh para wartawan infotainmen. Hampir tidak ada ruang sembunyi, karena relasi wartawan infotainmen meliputi seluruh lokasi syuting, tempat hiburan, stasiun TV, bahkan para panitera pengadilan agama.
 
Karena itu tak heran bila tidak ada artis yang bisa melakukan cerai secara diam-diam. Sebab, pihak infotainmen mengenal seluruh panitera di pengadilan agama, khususnya kawasan Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi, Depok, dan Bandung.
 
Bikin Stress
 
Sementara itu, pengamat media massa Sirikit Syah mengatakan, banyak media dan wartawan kebingungan memahami konsep infotainmen. Ia menyebut contoh di luar negeri yang disebut "entertainment news", yaitu berita-berita dari dunia hiburan. Isinya tentang proses kreatif para seniman. Sementara di Indonesia, isinya hanya bikin stress.
 
“Misalnya, bagaimana memproduksi (film) Avatar, berapa biaya produksi (film) Lord of the Ring, siapa artis berbayaran paling mahal, peluncuran album atau single baru, perolehan box office, pakai baju apa Jenifer Lopez di ajang Grammy, siapa paling keren di karpet merah, dan seterusnya. Betul-betul tentang dunia hiburan dan tidak bikin stres. “
 
Ketika ditanya, apakah masyarakat terhibur dengan infotainmen bernilai gosip, ia justru menampik.
 
“Terhibur? Tidak. Siapa terhibur dengan berita artis A dan artis B mau cerai sampai tiga kali? Siapa terhibur dengan kabar ada artis yang punya istri simpanan lagi?” tambahnya.
 
Memakan bangkai
 
Hendra mengakui, jika infotainmen dikaitkan dengan agama memang tidak akan bertemu. “Itu memang ghibah dan namimah. Tapi itu sudah menjadi aturan main di dunia hiburan.”
 
Ahli fikih lulusan Universitas al-Azhar, Mesir, Dr Ahmad Zain an-Najah mengatakan, infotainmen ghibah jelas haram. Maka, mendapatkan rezeki dengan cara menyebarkan berita ghibah juga haram.
 
Mengutip Surat al-Hujurat (49) ayat 12,  Zain mengatakan, pelaku ghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.  “... dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”
 
“Tentunya yang mendengar dan menyetujui sama dosanya dengan orang yang melakukannya,” pungkas Zain.  [Ainuddin Chalik, Kukuh Santoso, Ibnu Syafaat, Surya Fachrizal /hidayatullah.com]
 
18 Oktober 2010
Bagai Dua Sisi Mata Uang
 
Hidayatullah.com--Nada suara pria di ujung sambungan telepon itu meninggi saat Hidayatullah.com sampai pada pertanyaan, “Apakah infotainmen bisa terlepas dari berita-berita ghibah dan gosip?”
 
Ilham Bintang, pelopor infotainmen Indonesia yang juga menjabat Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, balik bertanya kepada Hidayatullah.com dalam wawancara via telepon itu.
 
“Anda pernah nonton infotainmen, nggak?   
 
Bukan kali ini saja Ilham bersikap demikian. Saat Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, menegaskan kembali fatwa haramnya infotainmen ghibah akhir tahun 2009 lalu, Ilham juga tegas menolaknya.
 
Bahkan, pria berkumis tebal kelahiran Makassar 1955 ini balik meminta PBNU agar memberikan data infotainmen mana yang melakukan ghibah.
 
Ilham mengaku setuju jika ghibah adalah haram dan tidak boleh dilakukan pekerja infotainmen. “Tapi, kalau tidak menyebut siapa yang ghibah, akan menjadi ghibah tersendiri,” ujarnya.
 
Dua hari setelah pernyataan Ilham tersebut, 30 Desember 2009, PWI dan PBNU mengadakan pertemuan dan membuat pernyataan bersama perihal infotainmen. Berbicara kepada pers usai pertemuan, Ilham mengatakan, “infotainmen diberi jalan terang untuk hijrah”.
 
Ketua PBNU, Said Aqil Siradj, yang turut berbicara saat itu mengatakan, infotainmen yang diharamkan oleh NU adalah infotainmen yang bermuatan ghibah dan fitnah.
 
Ghibah, kata Said, adalah fakta mengenai aib seseorang yang jika diberitakan akan menyebabkan orang yang bersangkutan merasa tersinggung dan jatuh martabatnya, seperti masalah perselingkuhan. Sedangkan fitnah adalah menceritakan aib seseorang namun tidak ada faktanya.
 
Said juga menjelaskan, jika menceritakan tentang pejabat yang korupsi, siapa yang terlibat, asal-usul uang, dan ke mana larinya uang, hal itu justru diwajibkan dan merupakan tugas suci.
 
Di tempat lain, jika Ilham sibuk membantah kaitan infotainmen dengan berita ghibah dan gosip, kebanyakan wartawan infotainmen justru mengakuinya. Seperti halnya Nafiz Qurtubi, wartawan infotainmen Expose yang ditayangkan di TVOne.
 
Nafiz, yang sudah tujuh tahun meliput berita hiburan, mengakui berita ghibah dan rekayasa berita kerap terjadi di infotainmen. Namun, bukan berarti seluruh berita infotainmen adalah ghibah. Selain itu, tidak hanya infotainmen yang merekayasa berita untuk menaikkan atau menjatuhkan pamor seseorang. Berita politik dan olah raga pun bisa.
 
Bahaya Ghibah
 
Menurut Dr Ahmad Zain an-Najah, ahli fikih yang juga Wakil Majelis Fatwa Dewan Fatwa, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, jika ghibah menyebar dan menjadi tren di masyarakat, kehidupan tidak akan tenang. Namun, masih ada pengecualian tentang haramnya ghibah.
 
Setidaknya ada tiga kondisi dibolehkannya ghibah. Pertama, ketika dimintai pendapat untuk urusan penting dan besar seperti seorang wanita yang dilamar oleh laki-laki yang tidak dikenalnya. Bila dia meminta pertimbangan dari orang tuanya atau tokoh masyarakat, maka orangtuanya atau tokoh tersebut harus memberitahu secara jujur tentang kelebihan dan kekurangan orang tersebut agar dia bisa menolak atau menertima lamaran.
 
Ini berdasarkan Hadist Fatimah binti Qais yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengatakan bahwa dirinya dilamar oleh dua orang, yaitu Mu'awiyah dan Abu Jahm, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kekurangan dari kedua orang tersebut.
 
Kedua, untuk mengungkap sebuah kasus, seperti dugaan korupsi. Karena kejahatan dan kesalahan orang yang didakwa harus diselidiki maka keburukannya perlu diungkap. Hanya saja, keburukan yang diungkap tersebut harus berkaitan dengan kejahatan yang didakwakan kepada orang tersebut. 
 
Ketiga, dalam periwayatan hadist seseorang boleh menyebutkan kejelekan seseorang. Umpamanya dengan mengatakan bahwa si fulan adalan pembohong atau suka menipu. Tujuannya agar hadist yang diriwayatkan oleh orang yang suka menipu ditolak. Karena secara logika, orang yang suka berbohong dan menipu, punya potensi besar untuk berbohong dengan membuat hadits palsu.
 
“Ghibah dalam hal seperti ini dibolehkan, bahkan harus dilakukan untuk menyelamatkan hadist Rasulullah,” kata Zain. [Ainuddin Chalik, Ibnu Syafaat, Surya Fachrizal/hidayatullah.com]
 
18 Oktober 2010
“Ya Betul, Memang Tidak Ada Privasi”
 
18 Oktober 2010
Gaji “Wartawan Ghibah” dan Gosip Haram!

Hidayatullah.com—Belum berselang lama ormas Islam keberatan berita gossip alias “ghibahtainment”, kini  marak lagi jenis pemberitaan semacam itu. Ghibah terbaru adalah kasus dai sejuta umat, Zainuddin MZ.

Sejumlah pakar fikih meminta media dan wartawan berhat-hati memberitakan berita yang bernilai ghibah. Sebab, dampaknya apa yang ia makan dan kelak menjadi daging. Jangan sampai harta dari ghibah akan menghambatnya di akhirat kelak.

Menurut Prof Dr. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA, Imam Masjid Istiqlal, hukum uang (gaji) yang dipakai wartawan infotainment sangat dekat dengan haram.

Menurutnya, ada juga yang bernilai positif dan itu tidak termasuk haram. Namun jika beritanya bernilai aib, meski benar, gaji yang dimakan menurut hukum fikih adalah haram.

“Kita tidak bisa memutlakkan infotainment itu haram atau tidak. Jika infotainment itu memfitnah atau memberitakan aib seseorang, yang orang bersangkutan tidak suka jika itu diberitakan, maka ini haram. Dan, wartawan infotainment yang demikian tentu tidak boleh menerima uang imbalan,” ujarnya.

“Kita lihat isi infotainment itu sendiri. Kalau isinya haram maka gaji wartawannya pun haram,” ujar guru besar Ilmu Hadis IIQ (Institut Ilmu Alquran) Jakarta ini.

Menurut pakar hukum Islam ini, ada juga infotainment yang tidak haram dan bernilai positif. Ia menyebut contoh, berita tentang pernikahan, umroh, dan publik figur yang melahirkan.

“Tetapi jika ada infotainment yang isinya berita haram, sementara yang bersangkutan tidak keberatan, maka hukum infotainment tersebut tetap haram, dan gaji wartawan infotainment tersebut jelas haram,” ujarnya.

Menurutnya, hukum keharaman infotainment yang memfitnah dan mengumpat ini terang terdapat dalam Al-Qur’an, bahwasannya itu haram. QS. Al-Hujarat:12, bunyinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Ganti pekerjaan

Sementara itu pakar Fikih Dr Zain Al-Najah meminta wartawan tak menjadikannya kegiatan infotainment sebagai alternatif mencari rezeki. Karena di dalamnya banyak terdapat hal-hal syubhat yang melampaui ajaran agama.

“Sebaiknya mencari rezeki yang lain yang lebih jelas kehalalannya,” terang pria lulusan Al Azhar, Mesir ini.

Menurutnya, berita ghibah yang kini sering dikejar wartawan pasti hanya akan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Hal seperti ini tak lain  dari motif infotainment itu sendiri yang berbasis pada kepentingan materi (bisnis), tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kelayakan.

Karena sifatnya bisnis, yang tidak dalam upaya menjalankan perintah agama, maka hal-hal yang dilarang agama, seperti mengumbar aurat, membuka aib orang lain, dan mengorek-ngorek kesalahan orang untuk dikonsumsi publik, menjadi satu hal yang harus dieksploitasi. Padahal hal ini tentu merusak dan sangat dilarang agama.

“Membuka aib orang lain itu haram! Apalagi semua itu dilakukan tanpa ada maksud yang jelas atau tidak ada keuntungannya,” terang Dr. Zain Al-Najah kepada hidayatullah.com.

Zain mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagaimana dalam Kitab Arba’in Nawawi, “Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”

Herannya,  aib orang yang seharusnya ditutupi, kok sekarang malah dibuka-buka. Andaipun kasus itu benar, aib orang tetaplah ghibah. [mam/cha/hidayatullah.com]
 
17 Juni 2010
Kafilah Freedom Flotilla Dibajak di Tengah Jalan

Hidayatullah.com--Kafilah Freedom Flotilla yang telah lama direncanakan untuk menyampaikan bantuan kepada rakyat Gaza, akhirnya betul-betul tidak sampai ke Gaza. Setelah sekian hari berlayar dari Pelabuhan Antalya, Turki, mendapat serangan dari pasukan komando barbar Zionis Israel di Lautan Internasional Mediterania pada subuh hari 31 Mei. Dalam serangan ini, 9 orang relawan kemanusiaan tewas dan puluhan luka-luka, termasuk dua relawan dari Indonesia.

Para relawan yang berjumlah 600 orang itu pun menjadi tawanan Zionis Israel di Pelabuhan Ashdod, sebelum akhirnya dideportasi ke luar. Dalam proses menjadi tawanan itu, banyak yang mengalami penyiksaan oleh aparat Israel. Bahkan ada yang mengalami penyiksaan lebih berat dibanding kondisi saat pasukan komando menyerbu Kapal Mavi Marmara.

Tindakan Zionis Israel ini tentu mendapat kecaman dunia. Tetapi alih-alih mendapat sanksi dari Dewan Keamanan PBB atau kecaman dari Amerika Serikat. Tindakan Israel melakukan pembantaian pada para aktivis justru direstui Amerika Serikat. Satu faktor tindakan Amerika Serikat tersebut disebabkan dorongan dari kelompok fundamentalis AS. Namun juga ada faktor ekonomi di balik itu. Baca selengkapnya pada tulisan berikut:

  1. “Gaza Kecil” Pun Hadir di Mavi Marmara
  2. Gaza, Benteng “Nafas Jihad” Palestina
  3. Israel Membakar, AS Ikut Mengobarkan
 
17 Juni 2010
Gaza, Benteng “Nafas Jihad” Palestina

Hidayatullah.com--Jalur Gaza, adalah sebuah tempat yang menyiratkan kepedihan, namun juga semangat perjuangan bagi banyak rakyat Palestina. Wilayah ini luasnya  hanya 360 km² --separuh wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta-- dengan jumlah penduduknya sekitar 1.225.911 (2002).

Jalur Gaza hanya sepetak tanah tandus di Palestina. Agak berbeda dengan Gaza City, yang kini dijadikan sebagai ibu kotanya. Di Gaza City, sebagaimana daerah Yerusalem, subur luar biasa. Gaza kumuh dan semrawut. Dokar, mobil, motor dan kendaraan lainnya campur aduk.

Sudah miskin teraniaya pula. Selain lokasinya yang berada di ujung dekat perbatasan Mesir dan diapit oleh laut Mediterania, Israel menempatkan balok-balok cor setinggi 9 meter (lebih tinggi dari tembok Berlin), meliputi Jalur Gaza dari selatan, utara dan timur untuk membatasi ruang gerak warga.  Tembok ini dilengkapi dengan sarana keamanan, alat penyergapan, tempat pengintai, alat-alat komunikasi, deteksi peringatan, alat perekam, dan alat-alat elektronik lainnya. Gaza ibarat akuarium hidup dan penjara besar banga Palestina.

Daerah miskin ini semakin menderita tatkala berbagai tekanan militer Israel terus diarahkan ke Gaza. Karena itulah, Jalur Gaza hingga sampai saat ini tetap menjadi daerah berbahaya bagi kalangan jurnalis. Di kota kecil yang kumuh inilah Presiden Mahmoud Abbas pernah berkantor, sebelum Gaza dikuasai Hamas.

Gaza merupakan wilayah yang masih belum terjamah oleh pendudukan Israel. Keberadaannya sebagai akibat dari  perang Arab-Israel tahun 1948 dan Perang Enam Hari pada 1967, yang efeknya berakhir pembagian batas-batas wilayah antara Israel dan Palestina, yakni; Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur, akibat dari pencaplokan Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur  oleh Israel. Sejak itu, Israel membangun dan memperluas koloni Yahudi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta menguasai lebih dari 50% teritori yang diduduki. Zionis-Israel juga meluaskan aneksasinya ke wilayah Yerusalem Timur dan Al-Aqsa, tempat suci yang pernah menjadi kiblat umat Islam sedunia.

Kini, Gaza lebih dikenal sebagai tempat jutaan orang melarikan diri dan tempat mengungsi. Anak-anak berlomba membantu orangtua mereka mengumpulkan makanan dari pusat distribusi bantuan PBB, sementara para perempuan berkumpul di dekat truk-truk, menunggu nama mereka di panggil untuk menerima jatah makanan.

Sejak Hamas berhasil menguasai Gaza, Israel dibantu Fatah langsung mengisolasi wilayah itu. Israel, selain menyatakan perang terhadap Hamas, juga telah menutup penyeberangan kunci perbatasan, menghentikan perdagangan, dan memaksa ribuan warga Palestina mencari tempat perlindungan ke lembaga-lembaga bantuan PBB.

Badan bantuan PBB untuk para pengungsi Palestina mengatakan, hampir 825.000 orang dari 1,5 juta warga Gaza termasuk kategori pengungsi.

Namun kondisi ini, sesungguhnya bukanlah mencerminkan keadaan sebenarnya. Sebab, jika warga Palestina di Gaza diberi kesempatan seperti yang lain, mereka bisa hidup secara baik. Israel dan negara-negara Barat, adalah bagian tak terpisahkan sebagai pencipta kekacauan ini.

Kesimpulan ini disampaikan oleh Shami Shafi, seorang konsultan perusahaan di Jalur Gaza. "Penduduk di Gaza punya peluang dan potensi untuk membangun perekonomian yang sukses, bila mereka diperlakukan sebagai manusia. Bila mereka diizinkan untuk bergerak. Kami bisa berkembang, tetapi kami harus bebas, bebas bergerak dan dapat memanfaatkan peluang yang ada," ujar Shafi yang tahun lalu mendirikan perusahaan untuk memajukan perkembangan ekonomi di Gaza, sebagaimana dikutip Islamonline.

Janji Syeikh Yasin

Gaza adalah saksi hidup berbagai peristiwa, termasuk berbagai luka bangsa Palestina. Banyak pejuang Islam lahir dari kota kecil ini, seperti  Dr. Mahmud el Zehhar dan Ismail Haniyah, Perdana Menteri Palestina yang dipecat Presiden Mahmoud Abbas (meski tetap bekerja sebagaimana biasa). Termasuk di antaranya adalah Muhammad bin Idris al-Syafi‘e atau yang kita kenal dengan Imam Syafii.  

PBB pernah menyampaikan, Gaza adalah tempat paling  dilematik. Lokasi ini, katanya, sebagai lokasi paling rawan nomor lima sedunia. Namun di tempat ini pula,  ”Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah” (Gerakan Perlawanan Islam) atau Hamas didirikan pertama kali.

Gaza, adalah sisa dari tempat untuk mengumpulkan semangat perlawanan para pejuang Palestina melawan penjajah. Khalid Mishaal,  Kepala Biro Politik Hamas kepada pers, pernah mengatakan, strategi Hamas di Gaza sebagai ”Strategi Nafas Panjang”.

“Nafas panjang” itulah yang kini sedang diperlihatkan Hamas di saat sudah mulai tak mempercayai Presiden Mahmoud Abbas dan gerakan Al-Fatah, yang kini, justru lebih memilih dekat dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).  

Almarhum Syeikh Yasin, yang juga pendiri Hamas pernah berjanji akan menjaga Gaza. ”Saya tegaskan kepada penjajah Israel bahwa memasuki wilayah Jalur Gaza tidaklah mudah seperti pergi ber-rekreasi; militer Israel harus membayar mahal dan akan menderita kerugian yang sulit dibayangkan,” ujarnya suatu hari, dikutip Palestine Information Center pada tahun 2002.

Gaza, Sesudah Hamas Berkuasa

Dunia terperanjat ketika Hamas secara tiba-tiba menduduki kantor Kepresidenan Mahmoud Abbas di Gaza, awal 14 Juni 2007 lalu. Hamas telah menguasai sepenuhnya Jalur Gaza, beberapa jam setelah Presiden Mahmoud Abbas membubarkan parlemen dan menyatakan keadaan darurat.

Kisah ini, adalah akhir dari gesekan antara dua pejuang pembebasan Palestina, Hamas dan Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas. Kabarnya, akibat konflik tak ada ujungnya itu, sedikitnya telah menewaskan 100 warga Palestina.

Sehari Hamas berkuasa, sepanjang malam, bendera Hijau (bendera Hamas) berkibar sebagian wilayah Gaza. Para pendukung Hamas merayakannya di jalan-jalan. Sementara itu, serdadu Fatah terlihat diikat dan dibawa dengan mobil.

"Semua markas di layanan keamanan Jalur Gaza berada di bawah kontrol Brigade Izuddin al-Qassam, termasuk kompleks presiden," kata seorang jurubicara sayap bersenjata Hamas kepada kantor berita AFP. Brigade Izuddin al-Qassam adalah sayap militer bentukan Hamas paling ditakuti Israel.

Keputusan Hamas menguasai markas presiden adalah cara terakhir mencari konsilisasi dengan Fatah, setelah beberapa kali usaha menyatukan pandangan tak berhasil. Namun Ismail Haniyah menolak anggapan terpisahnya Gaza dan Tepi Barat. "Jalur Gaza merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan bagian integral dari ibu pertiwi rakyat Palestina," tuturnya.

Liputan media massa asing kontan seragam. Bahkan, media massa Indonesia –yang sering hanya mengutip pers Barat—lebih membela Mahmoud Abbas dan kelompok Fatah yang justru berlindung pada Amerika dan Israel.

Karena Jalur Gaza adalah tempat paling rawan bagi wartawan, tempat ini nyaris tak terberitakan secara fair oleh banyak media. Di antara media lokal yang secara baik memberitakan kondisi tempat itu adalah Mafkarah Al Islam, yang memiliki koresponden di Gaza dan Palestina.

Sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam, kondisi Gaza pascapertempuran jauh berbalik 180 derajat. Sebelum pecahnya pertempuran antara Fatah dan Hamas yang berakhir dengan menyingkirnya Fatah dan pasukannya, kondisi jalur Gaza amat parah untuk bisa diceritakan. Kevakuman keamanan, rasa takut, dan serangkaian kekacauan terjadi di mana-mana. Kecemasan dirasakan sepanjang waktu, tatkala Fatah berkuasa.

Aktivitas kejahatan seperti perampokan, aksi penculikan terhadap para ulama, dan imam masjid penghafal Al Qur’an, serta pecahnya baku tembak karena masalah-masalah remeh --yang terjadi antarkelompok, pribadi, atau antarkeluarga—setiap saat terjadi.

Kekacauan merembet pada ketiadaan hukum. Termasuk permusuhan terhadap pengadilan, yaitu dengan cara membebaskan para tertuduh dengan paksa dari tuduhan, serta melepaskan orang-orang yang telah divonis kurungan dan pengintimidasian terhadap para hakim supaya mau melepaskan pekerjaanya.

Dr. Shalih Raqab, Wakil Kementerian Wakaf dari jalur Gaza menyatakan, sembilan ulama terbunuh di tangan sempalan revolusi. Biasanya, mereka menjadikan orang-orang berjenggot dan mereka yang terlihat sebagai aktivis Islam sebagai sasaran.

Puluhan kaum muslim yang berjenggot telah menjadi korban penyiksaan sempalan pengikut Ahmad Dahlan, salah satu pengikut Fatah. Dan kekejaman yang paling buruk dari pengikut Mahmoud Abbas ketika menculik Hisam Abu Qainash, kemudian melemparkannya dari lantai lima belas. Namun situasi itu terhenti tatkala Hamas menguasa Gaza.

Minuman Keras dan Prostitusi

Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil yang padat ini nyaris terkendali.

Sejumlah pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun.  Adalah Syakir Ashfur dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa di Universitas Islam Gaza, bisa aktif kembali untuk pergi ke universitas setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia berjenggot. Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza sendiri berada di tengah-tengah titik konflik.

"Aku menghadapi kesulitan yang amat sangat ketika pergi untuk melaksanakan shalat Subuh dan isya di masjid. Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan hidup setelah shalat, kami merasa tidak aman sama sekali."

Namun kekhawatiran itu ternyata tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya kelompok Dahlani. Yang dimaksud dengan Dahlani adalah pengikut setia pasukan Ahmad Dahlan, kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmoud Abbas.

Menurut Ashfur, hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap mereka karena pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama, dan para imam masjid.

Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk Palestina dalam data statistiknya pada tahun 2007 menunjukan bahwa dalam satu bulan rata-rata 54 orang tewas di jalur Gaza karena perselisihan keluarga, pencurian, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya rasa aman.

Setelah dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam, beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah sakit yang berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun yang sakit atau terluka akibat hilangnya kontrol keamanan.

Pagi hari, setelah al-Qasam mengumumkan menguasai jalur Gaza, Milisi al-Qasam mendatangi pusat-pusat penjualan minuman keras. Di antaranya, tempat  terkenal  At Tahliyah di daerah Khan Yunis, Gaza selatan. Tempat itu bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga “dedengkot” penjual dan produsen obat-obatan terlarang, kemudian memusnahkan barang haram ini dengan jumlah yang amat besar.

Al-Qasam juga mendatangi rumah-rumah bordir dan tempat praktik prostitusi yang sebelumnya dilegalkan oleh pihak yang bertanggung jawab. Sekarang sudah tidak ditemukan lagi di Jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa di tempat inilah Israel menciptakan “tentara” dengan jumlah amat besar dari orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika mereka melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu jika ia enggan membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam gambarnya ini lantas diperas agar bersedia menjadi ”mata-mata” Israel.

Mudah-mudahan ketaatan pada agama ini bisa menjadi sumber kekuatan tidak terputus bagi pejuang Palestina di Gaza.  [Thoriq/cha/www.hidayatullah.com]

Baca juga:

“Gaza Kecil” Pun Hadir di Mavi Marmara
Israel Membakar, AS Ikut Mengobarkan

 

 
16 Juni 2010
“Gaza Kecil” Pun Hadir di Mavi Marmara

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqshamilik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yangbutuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudahmenjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.


Demikian renungan ruhani Santi Soekanto, salah satu dari 12 orang relawan Indonesia yang ada di kapal Mavi Marmara untuk misi Freedom Flotilla. Di atas kapal itu ia bersama suaminya, Dzikrullah W. Pramudya,  wartawan Hidayatullah Media Group yang juga pernah memimpin majalah Suara Hidayatullah. Seorang lainnya dari Hidayatullah Media Group adalah Surya Fachrizal.

Santi menuliskan renungannya ini saat kapal Mavi Marmara sedang berhenti bergerak di Laut Mediterania untuk menanti datangnya satu lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Sementara pada saat itu berbagai ancaman Israel terus disebarkan untuk menghadang kafilah Freedom Flotilla.

Kapal Mavi Marmara berikut Kafilah Freedom Flotilla berangkat dari Pelabuhan Antalya, Turki, pada Kamis 27 Mei. Tujuan perjalanan ini untuk menembus pengepungan Israel demi mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, kawasan Palestina, yang sudah hampir 4 tahun terakhir ini diembargo secara militer, politik, dan ekonomi oleh Israel, Amerika Serikat, Mesir, dan lain-lain. Dalam kafilah ini terdapat 600 orang aktivis kemanusiaan dari lebih 50 negara.

Kafilah terdiri dari 9 kapal yang digerakkan oleh 6 organisasi non-pemerintah dari Turki, Inggris, Swedia, Yunani, Aljazair, dan Malaysia, di bawah kordinasi IHH (Insani Yardim Fakvi, organisasi kemanusiaan terbesar di Turki). “Dengan membersihkan hati dan meluruskan niat, hanya untuk mencari ridha Allah, Bismillahirrahmaanirrahiim… kami berdua belas mewakili 220 juta rakyat Indonesia, ikut dalam kafilah ini membantu saudara-saudara kita di Gaza yang sedang dizalimi sekaligus menyatakan 'tidak' kepada kebiadaban penjajahan Israel selama 63 tahun terakhir ini,” kata Ust. Ferry Nur, Ketua delegasi Indonesia yang juga Ketua Umum KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), menjelang keberangkatan.

Fahmi Bulent Yildirim, Presiden IHH, menyatakan, kafilah Freedom Flotilla, akan berlayar dari perairan internasional langsung ke perairan Gaza yang jauhnya lebih 80 mil dari perairan yang dikuasai Israel. “Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi Israel untuk menghalangi masuknya kapal-kapal ini ke Gaza,” tegas Bulent.

Namun apa yang terjadi? Sesaat setelah kafilah Freedom Flotilla bergerak kembali menuju Gaza, Zionis Israel yang dikenal dengan perilaku barbarnya menyerang pada Senin pagi 31 Mei seusai salat Subuh. Penyerangan dilakukan saat kapal Mavi Marmara berada di perairan internasional. Kantor berita BBC mengatakan, Israel melakukan serangan dan penangkapan terhadap kafilah di perairan internasional, yang jaraknya lebih dari 150 km (90 mil) di lepas pantai Gaza.

Akibat serangan mematikan Angkatan Laut Zionis Israel tersebut, 9 orang syuhadah dan 40 orang lainnya luka-luka akibat tertembak. Dua di antara korban tembakan tentara Israel adalah Oktavianto Emil Baharudin dari KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) dan Surya Fachrizal, wartawan Hidayatullah Media Group.

Menggambarkan saat penyerangan dan sesudahnya Dzikrullah W. Pramudya, wartawan Hidayatullah Media Group dan pendiri Sahabat Al-Aqsha.com mengatakan, "Saya bersama 11 orang saudara Indonesia lain ditaqdirkan Allah berada di kapal Mavi Marmara, kapal utama kafilah kemanusiaan Armada Kebebasan (Freedom Flotilla). Kapal itu menuju Gaza, tapi sebagaimana Anda ketahui, kapal itu diserbu dan dibajak oleh tentara komando Israel. Sembilan orang relawan syahid. Dari sekitar 40 orang yang luka-luka, ada 2 orang dari Indonesia. Yang satu Oktavianto dari KISPA, tangan kanannya patah kena peluru sampai tulangnya terlihat. Yang satu lagi Surya, wartawan Majalah Suara Hidayatullah, peluru menghantam dada kanannya terus bersarang di perut kanan dan sekarang sudah dikeluarkan. Lalu kami ditangkap dan sempat dipenjara. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah…

Ketika sekitar 600 orang relawan kemanusiaan di kapal itu diborgol, ditodong senjata, dibentak, dipukul, ditendang, dan dijemur di terik matahari Laut Tengah oleh tentara komando Israel bersenjata lengkap dan bertutup muka…

 

Kekejian di “Gaza Kecil”

Setelah serangan barbar pasukan Zionis Israel itu, enam dari delapan kapal Freedom Flotilla, termasuk Mavi Marmara, berlabuh di Pelabuhan Ashdod yang dikuasai Israel. Status kapal-kapal tersebut seluruhnya berada dalam kontrol tentara Israel. Pemerintah Israel menahan dan memenjarakan para aktivis yang ikut dalam rombongan misi kemanusiaan tersebut jika mereka tidak mau dideportasi ke negara asalnya. Sedikitnya 600 orang aktivis yang berada di atas kapal ditahan Israel.

Yang menarik, aparat Israel membuat tipu daya kepada aktivis yang ditahan saat mereka diinterogasi. Mereka disebutkan memasuki Israel secara ilegal. Pengalaman Edward Peck dari AS contohnya. Mantan Dubes AS untuk Mauritania, Edward Peck, yang ikut dalam rombongan kapal Mavi Marmara, mengungkapkan pengalamannya saat diinterogasi.

"Israel secara illegal menguasai Gaza, seperti yang dipahami oleh dunia. Malah Israel mengatakan, 'Anda tidak bisa masuk ke wilayah ini karena kami sedang mempertahankan diri.' Ketika kami ditangkap dan diarahkan ke Ashdod, salah seorang pejabat Israel bertanya kepada saya bahwa saya akan dideportasi. Saya jawab, Ok. Lalu dia berkata, 'Anda telah melanggar hukum Israel.' Lalu saya jawab, 'maaf, saya diarahkan ke sini, hukum Israel apa yang saya langgar?'"

"Dan dia menjawab, 'Anda masuk ke wilayah Israel secara illegal. Saya bilang, 'OK, kapal ditangkap secara paksa dan saya dibawa kemari dengan paksa, di bawah tekanan, dan terpaksa masuk ke negara Anda yang bertolak belakang dengan keinginan saya, dan Anda sebut saya masuk secara illegal’ Lalu kita berbicara dengan bahasa dan pijakan yang berbeda. Namun itulah mengapa mereka mendeportasi saya, karena saya dianggap masuk secara illegal (padahal) saya tidak ingin masuk ke sana."

Sementara  Santi di hadapan petugas imigrasi dipaksa membubuhkan sidik jarinya pada sebuah mesin dalam suatu interogasi. Namun Santi menolak melakukannya. "Anda telah memasuki negara Israel, sehingga Anda harus melakukannya!" kata petugas imigrasi Israel.

"Aku tidak masuk Israel. Aku tidak datang ke sini dengan pilihan. Prajurit Anda menculik dan membawa aku ke sini dengan paksa, "jawab Santi.

"Apakah Anda menolak untuk melakukan ini?"

"Saya menolak."

"Anda harus melakukannya!" Pria itu sekarang mulai berteriak dengan pembuluh darah di leher menggembung.

Dia kemudian beralih ke orang lain, kemungkinan atasannya, dan berbicara cepat dalam bahasa Ibrani. Orang kedua itu lantas mendekati Santi, masih berdiri di depan sebuah kamera digital yang terpasang pada bagian atas mesin.

"Dengar, ini hanya untuk tujuan ID. Letakkan saja jari Anda di sana." Orang kedua itu mencoba memberi alasan pada Santi.

"Anda mengambil gambar saya, Anda telah mengambil paspor saya, apa lagi yang Anda butuhkan? Bagaimana saya tahu bahwa Anda tidak akan menggunakan sidik jari saya untuk beberapa tujuan lain, mungkin untuk mengikuti gerakan saya," ucap Santi tetap menolak.

"Saya berjanji kepada Anda bahwa kami tidak akan menggunakannya untuk mengikuti aktivitas Anda ..."

Santi tertawa mendengarnya. "Tentara Anda telah membunuh orang , sekarang Anda membuat janji..."

"Saya baru saja bepergian ke beberapa negara seperti Thailand, dan saya juga harus memberikan sidik jari saya ada di sana," kata pria itu lagi, suaranya sekarang meningkat.

"Anda bepergian, aku diculik…"  ucap Santi.

Lain lagi dengan yang dialami Ken O'Keefe, relawan asal Amerika Serikat keturunan Irlandia. Dia mengalami luka berat justru ketika berada di Israel.

Pada hari Sabtu (5/6), Ken mengatakan, dia diserang secara brutal oleh tentara Israel di bandara sebelum diberangkatkan ke Turki. Akibatnya Ken harus dirawat akibat kekerasan fisik minimal tiga kali lipat lebih berat dibandingkan ketika ia turun dari kapal. Dia dirawat inap di rumah sakit akibat luka-luka pukulan tersebut.

"Pada insiden penyerangan tentara Israel di kapal Mavri Marmara, saya ditanya, 'apakah saya menggunakan kamera atau mempertahankan kapal?'" kata Ken.

“Saya secara antusias berkomitmen untuk mempertahankan kapal. Meskipun saya termasuk orang yang tidak suka kekerasan, kenyataannya saya percaya cara tanpa kekerasan harus jadi pilihan pertama. Meski demikian, saya bergabung dengan usaha pertahanan Mavri Marmarra karena memahami kekerasan bisa saja dilakukan terhadap kami dan kemungkinan kami juga terpaksa untuk menggunakan kekerasan dalam bela diri. Saya mengatakan hal itu langsung kepara agen Israel, mungkin dari Mossad atau Shin Bet. Dan saya katakan, pada serangan yang dilakukan pagi hari itu, saya secara langsung terlibat dengan usaha pelucutan senjata atas dua pasukan komando Israel.”

“Hal itu harus dilakukan atas pasukan komando yang sudah membunuh dua orang saudara relawan yang saya lihat hari itu. Satu relawan ditembak dengan peluru bersarang di dahinya, tampak jelas sebagai eksekusi. Saya tahu pasukan komando berusaha membunuh ketika saya berhasil merebut pistol ukuran 9 mm dari salah satu anggotanya. Saya memegang senjata itu di tangan saya dan sebagai mantan Angkatan Laut AS dengan pelatihan senjata yang cukup, saya sangat mampu menggunakan senjata tersebut ke arah pasukan komando yang mungkin telah membunuh salah satu relawan.
Namun, saya tidak melakukan itu. Saya mengambil senjata itu, mengeluarkan peluru yang merupakan peluru tajam asli, kemudian memisahkannya dan menyembunyikan senjata itu. Saya melakukan hal itu dengan harapan kami dapat mengatasi serangan tersebut dan mengajukan senjata itu sebagai bukti dari percobaan kriminal pihak Israel untuk suatu pembunuhan massal.”

“Saya juga membantu secara fisik memisahkan satu anggota komando dari serangan senapan, ketika relawan lain dilemparkan ke laut. Kami pun menguasai tiga orang pasukan komando tanpa senjata dan tak berdaya. Mereka hidup karena belas kasihan kami. Mereka sangat jauh dari jangkauan anggota komando lain yang berniat membunuh. Mereka di dalam kapal dan dikelilingi oleh sekitar 100 relawan atau lebih. Saya melihat ke arah mata tiga pria tersebut dan saya yakin mereka memiliki rasa takut terhadap Tuhan di dalam diri mereka. Mereka juga memandang ke arah kami dan berharap kami memahami jika sedang berada di posisi mereka. Saya tidak ragu, mereka tidak percaya akan ada jalan mereka bisa selamat hari itu. Mereka tampak seperti anak kecil yang ketakutan di hadapan ayah yang kejam. Namun, mereka tidak menghadapi musuh yang tak berperasaan hari itu. Bahkan, relawan wanita menyediakan pertolongan pertama dan kemudian mereka dibebaskan dengan memar, tapi hidup. Mereka dapat hidup di hari esok. Dapat merasakan matahari di atas kepala dan memeluk orang tercinta. Tak seperti para relawan yang dibunuh. Meskipun kami berduka atas kehilangan saudara-saudara yang meninggal, merasa marah terhadap para tentara itu, namun kami melepas mereka…”

Sedang bagi Dzikrullah, apa yang dialaminya tertuang dalam suratnya, “Ya Allah… Kami berniat pergi ke Gaza untuk menengok saudara-saudara kami yang sedang diembargo, dikepung, diancam, Alhamdulillah, belum lagi sampai kami di Gaza, sudah Engkau hadirkan “Gaza” ke dalam kapal ini. Rupanya inilah suasana yang setiap hari dirasakan saudara-saudara kami di Gaza, di Masjidil Aqsha, di Palestina…”

“Ya Allah… Kami merasakan penjajahan dan penindasan yang menjijikkan ini beberapa belas jam, paling lama berpuluh jam, tapi saudara-saudara kami merasakannya setiap hari selama embargo 3 tahun ini. Bahkan saudara-saudara kami di seluruh Palestina dan Masjidil Aqsha merasakannya setiap hari selama 63 tahun dijajah Israel…”

Memang Gaza hanya membutuhkan pertolongan Allah, karena Gaza milik Allah, tetapi perjuangan para relawan niscaya tidak akan sia-sia. [SI, dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]


 
16 Juni 2010
Israel Membakar, AS Ikut Mengobarkan

Hidayatullah.com—Dalam tragedi penyerangan pasukan komando teroris Zionis Israel terhadap Kafilah Freedom Flotilla, lagi-lagi negara itu mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Sebagaimana disebutkan kantor berita IRNA, AS mengeluarkan pernyataan membenarkan serangan terhadap aktivis Freedom Flotilla. Senat AS mendukung pembantaian para aktivis kemanusiaan Freedom Flotilla oleh Israel dan mengutuk para aktivis.

John Cornyn, Senator dari kubu Republik yang pro Israel, terpilih sebagai penyusun draf resolusi ini. Resolusi ini membenarkan tindakan Israel menyatroni kapal Freedom Flotilla dan membantai para aktivis di dalamnya. Tak hanya itu, AS dalam resolusi ini meminta Israel untuk mempertahankan diri.

Media AS hari Kamis (10/6) juga melaporkan, mayoritas senator dan anggota parlemen AS mendukung aksi brutal Israel terhadap kapal Freedom Flotilla. Resolusi garapan John Cornyn ini juga mengutuk segala bentuk upaya pemutusan blokade Gaza dan penyelamatan 1,5 juta warga di wilayah ini, karena upaya tersebut akan mengancam serta melemahkan keamanan Israel.

Selain mengenai Gaza, resolusi ini juga mengecam Iran karena bangsa ini mendukung warga Gaza. Di bagian lain resolusi disebutkan, AS meminta Turki untuk memperkokoh hubungannya dengan Israel.

Resolusi ini semakin ekstrim dengan menyebut tindakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merilis resolusi atau pernyataan anti-Israel sebagai tindakan yang tidak tepat.

Agaknya tidak perlu heran jika AS dan para senator yang diwakili John Cornyn sangat membela Israel. Kehadiran John Cornyn di Senat AS memakili para fundamentalis Kristen yang terdapat di sejumlah negara bagian AS. Tindak tanduk John Cornyn ini tidak jauh berbeda dengan George Walker Bush, mantan Presiden AS dan pernah menjadi Gubernur di negara bagian tempat asal John Cornyn.

John Cornyn III adalah Senator dari Negara Bagian Texas. Berasal dari Partai Republik, terpilih sebagai Senator pertama kali pada tahun 2002, mengalahkan calon dari Partai Demokrat, Ron Kirk, mantan Walikota Dallas, Texas. Pada pemilu November 2008, kembali duduk di Senat untuk kedua kalinya mengalahkan calon dari Demokrat, Rick Noriega. Saat ini Cornyn menjabat Ketua Komite Senat Partai Republik.

Texas bersama 10 negara bagian lainnya –Alabama, Arkansas, Florida, Georgia, Louisiana, Mississippi, North Carolina, South Carolina, Tennessee, dan Virginia—adalah negara-negara bagian yang berlokasi di wilayah selatan Amerika Serikat. Wilayah ini dikenal sebagai Bible Belt (Sabuk Bible) dan Sun Belt (Sabuk Matahari). Kedua wilayah ini secara tradisional pendukung kelompok konservatif, sekaligus merupakan pusat kaum fundamentalis dan penginjilan ajaran Protestan.

Pembela Israel


Secara umum kaum fundamentalis Kristen yang ada di negara-negara bagian itu berketetapan untuk menyebarkan “… keimanan mereka ke seluruh penjuru dunia.” Menurut buku The Cross and the Crescent: The Rise of American Evangelicalism and the Future of Muslims karya Muhammad Arif Zakaullah, tujuan utama mereka membangun Kerajaan Tuhan di muka bumi. Cara pandang mereka adalah gabungan antara keyakinan agama dan pemahaman pada nubuwah zaman akhir (apocalyptic).

Kaum fundamentalis Kristen percaya bahwa Kerajaan Tuhan akan dibangun di Israel. Para millennialis (kaum yang menanti-nantikan kedatangan Yesus setiap 1000 tahun) yakin bahwa kerajaan ini akan dibentuk Yesus Kristus pada kedatangannya yang kedua.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Tengah, berawal dari terbentuknya negara Israel pada tahun 1948, perang enam hari pada tahun 1967, Perang Yom Kippur tahun 1973, Perang Sipil Libanon 1981-1983, penghancuran reaktor nuklir Irak oleh Israel (1981), bahkan peristiwa 11 September 2001 yang berlanjut dengan penyerbuan ke Irak, adalah menuju perang Armageddon (kekacauan dunia) sebagai pertanda pasti kembalinya Kristus.

Itu sebabnya kelompok Kristen konservatif di Amerika Serikat saat ini menjadi pendukung paling kuat kepada Israel. Dukungan ini harus diwujudkan: 1. Dalam kebijakan luar negeri Amerika, 2. Israel harus mampu mengalahkan musuh-musuhnya (sekarang maupun masa mendatang, termasuk dalam perang Armageddon), sehingga Israel mampu bertindak sebagai kerajaan Tuhan dengan Yerusalem sebagai ibukotanya setelah kedatangan kedua Yesus, 3. Berdasarkan penafsiran Perjanjian Lama, melawan Yahudi berarti menentang Tuhan.

Lebih jauh dari itu, kelompok Kristen konservatif memiliki penafsiran, dengan kembalinya Yesus ke bumi, orang-orang Yahudi akan berpindah menjadi Kristen. Yesus akan menang dan memerintah selama 1000 tahun.

Hegemoni ekonomi


Terlepas dari kepercayaan kelompok fundamentalis Kristen di AS, sesungguhnya bangsa Yahudi memiliki kekuatan besar di dalam dunia bisnis, bahkan lebih kuat lagi ketimbang Cina. Yahudi bisa dikatakan merajai bisnis seluruh dunia.

Menurut buku Rahasia Bisnis Yahudi yang ditulis Anton A. Ramdan, Pasca-Perang Dunia II, sepak terjang para pebisnis Yahudi sudah sedemikian kuatnya. Perusahaan demi perusahaan mereka bangun hingga menjadi kerajaan bisnis yang luas ke setiap negara di dunia. Berbagai bidang bisnis mereka kuasai, dari bisnis retail, barang tambang, industri, perbankan, hingga teknologi mutakhir.

Setelah menguasai setiap bidang bisnis, para pebisnis Yahudi juga mengendalikan berbagai institusi pendukung bisnis, seperti IMF dan Bank Dunia. Lebih jauh, mereka pun mempengaruhi institusi politik, antara lain lembaga-lembaga politik di Amerika Serikat.

Kaum Yahudi dapat melakukan itu semua karena mereka memiliki satu sistem bisnis dan ikatan kebangsaan yang lebih kuat dari bangsa mana pun. Mereka memiliki suatu sistem bisnis buatan mereka sendiri, yang kemudian mereka sebarkan ke seluruh negara di dunia, dengan harapan bangsa-bangsa lain tunduk di bawah sistem tersebut.

Secara nalar, bangsa Yahudi sejak dulu memang paling jago menjalankan sistem keuangan, antara lain sistem perbankan dengan riba (bunga). Sistem riba merupakan sistem bisnis terkuat yang dimiliki oleh tangan-tangan bisnis bangsa Yahudi. Sistem itu diperkuat dengan adanya ikatan kuat di antara mereka, berdasarkan ras atau etnis yang telah terjalin sejak dahulu kala sejak peradaban mereka terbentuk.

Di antara perusahaan-perusahaan milik Yahudi, yaitu: General Electric, Carrefour, Nestle, Caltex, Exxon, Coca-Cola Company, dan McDonalds. Tidak lupa pula dengan perusahaan telepon genggam terlaris, Nokia, yang didirikan oleh keturunan Yahudi, Fredrik Idestam.

Dalam media massa, Yahudi menguasai American Broadcasting Companies (ABC), Columbia Broadcasting System (CBS), National Broadcasting Company (NBC), The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post. Dunia hiburan nomor satu sejagat, Hollywood juga dikuasai oleh mereka. Sebut saja produser dan sutradara film seperti Steven Spielberg, William Selig, Jesse Lasky, Samuel Goldwyn, dan Adolph Zukor.

Di dalam bisnis penerbitan, Yahudi juga menunjukkan dominasinya, seperti Random House, Simon & Schuster, dan Time Book, inc. Ketiga penerbit ini mempunyai jaringan yang luas dan kuat. Dengan penguasaan media, Yahudi dapat mengendalikan opini publik di media cetak maupun elektronik.

Kaum Zionis Israel mempunyai kekuatan ke lingkaran elite negara AS. Zionis memiliki tim lobi khusus yang dikenal dengan sebutan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). AIPAC sangat berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan di Kongres Amerika. Di lembaga inilah John Cornyn, Senator dari kubu Republik, menyusun pembelaan atas Israel yang membantai aktivis kemanusiaan di Kapal Mavi Marmara.

Agaknya api di Timur Tengah yang disulut Israel dan Amerika Serikat akan sulit padam dalam jangka waktu pendek. Ada negara yang mengobarkan, ada negara yang berkepentingan, dan ada pula negara yang memetik keuntungan di tengah kemelut itu.

Jika saja negara-negara muslim bisa melepaskan diri dari permainan kotor negara-negara itu, niscaya kekuatan akan bisa dicapai. Sejauh ini, hanya bermodal kekuatan akidah, telah menunjukkan sebuah bangsa bisa bertahan. Hal ini telah ditunjukkan oleh rakyat yang ada di Gaza. Tetap kuat di tengah keterjepitan. [si/www.hidayatullah.com]
 
12 Mei 2010
Mossad, Tak Sehebat yang Dibayangkan

Hidayatullah.com--M Stansfield Turner, Kepala CIA 1977-1981, menggambarkan bahwa Mossad memiliki kemampuan sedang-sedang saja. Mereka hanya unggul dalam publikasi. Singkat kata, Stansfield memberi nilai ’lumayan’ kepada Mossad.

Berbeda dengan penilaian Khalid Misy’al, aktivis Hamas yang pernah menjadi target pembunuhan Mossad. Dia malah menilai Mossad adalah intelijen yang berantakan.

Tidak ada yang salah dari penilaian di atas. Mossad memang tak sehebat yang dibayangkan. Dinas intelijen ini pernah berbuat ceroboh ketika memalsu paspor. Beberapa kali juga tertangkap oleh otoritas negara lain karena usaha ini. Beberapa kali salah sasaran. Bahkan dua agen Mossad pernah mengalami nasib seperti pelaku kriminal jalanan. Mereka ditangkap masa di Yordania.

Bagaimana gambaran selengkapnya? Silakan simak Cover Story edisi ini. [Thoriq/Sahid/hidayatullah.com]

 

  1. Datang untuk Jadi Pecundang
  2. Intel dengan Visa Turis
  3. Abu Saif  Permalukan Mossad di Jalanan Amman

Foto: Reuters Pictures

 
12 Mei 2010
Datang untuk Jadi Pecundang

Hidayatullah.com--Hari naas itu tak bisa dihindari Ahmad Buchiki. Dia lagi berjalan-jalan bersama istrinya yang sedang mengandung. Namun, siapa sangka bila hari itu adalah saat terakhir dia bersama orang yang dicintainya.

Tiba-tiba tubuh pria berusia 30 tahun keturunan Aljazair itu diberondong senapan. Pria yang bekerja sebagai pelayan di Lillehammer akhirnya tewas seketika.

Keesokan harinya, 22 Juli 1973, pihak kepolisian Norwegia berhasil mengungkap pelaku pembunuhan itu. Mereka para agen Mossad. Dua di antara  mereka, Dan Ert dan Marianne Gladnikoff, tertangkap saat berada di bandara Oslo. Pelaku lainnya digrebek saat berada di sebuah rumah persembunyian.

Mereka datang ke Norwegia sebenarnya untuk menghabisi Hassan Salamah, Kepala Intelijen PLO yang dituduh sebagai otak pembunuhan 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich tahun 1972.

Namun, mereka salah mengidentifikasi. Pria yang mereka berondong itu bukan orang yang mereka cari. Akibatnya, pada tahun 1996, pemerintah Israel membayar kompensasi sebesar 283.000 US dollar kepada istri dan anak-anak Buchiki.

Para agen Mossad itu tidak lama mendekam di penjara, karena mendapat pengampunan. Sementara kepala operasinya, Mike Harari, tidak ditangkap dan ia kemudian berpetualang sebagai penjual senjata internasional. Kejadian yang dikenal dengan Peristiwa Lillehammer ini merupakan satu dari rentetan kegagalan Mossad.

Masih ada beberapa kegagalan fatal lainnya. Padahal, Mossad biasa digambarkan sebagai badan intelijen yang hebat dan seakan-akan tidak mengenal kegagalan. Berikut ini beberapa peristiwa yang memaksa Mossad menjadi pecundang:

1954:

Saat musim panas, pelaku Operasi  Susannah tertangkap oleh pemerintah Mesir. Mereka meledakkan beberapa fasilitas Amerika dan Inggris di Kairo dan Iskandaria. Tujuan mereka agar pemerintah Mesir menuding Al Ikhwan Al Muslimun sebagai pelakunya.

18 Mei 1965:


Eli Cohen, seorang mata-mata Mossad dihukum gantung di Damaskus Square, setelah dua tahun menjalankan aksinya. Dia membocorkan rahasia militer Syiria kepada Israel.

24 April 1991:

Empat agen Mossad ditangkap karena berusaha memasang alat penyadap di Kedutaan Iran di Nicosia, Siprus. Mereka dibebaskan setelah disidang, karena membayar uang tebusan sebesar USD 1.000.

15 November 1995:

Tidak hanya gagal menjalankan tugas, bahkan Mossad gagal melindungi Perdana Menteri mereka sendiri, Yitzak Rabin dari pembunuhan yang dilakukan Yigal Amir, seorang warga Israel. Menyusul peristiwa itu, Shabtai Shavit didesak mundur dari jabatannya sebagai Direktur Mossad. Kemudian Shimon Peres menunjuk Danny Yatom sebagai pengganti.

24 September 1997:

Dua agen Mossad yang membawa paspor Kanada masuk ke Yordania tertangkap setelah melakukan percobaan pembunuhan terhadap salah satu aktivis Hamas, Khalid Misy’al. Banyak kerugian yang harus dibayar atas kegagalan operasi ini.

Kegagalan intelijen Israel selama perang di Libanon tahun 2006, juga telah mencederai citra Mossad di mata Arab. Lebih konyol lagi saat perang berlangsung, Mossad mengklaim bahwa mereka berhasil menahan seorang tentara Iran di Libanon Selatan. Padahal, yang mereka tangkap hanyalah seorang petani miskin yang kebetulan bernama Hasan Nashrallah.

Untuk menggambarkan kegagalan Mosaad itu, cukuplah kita meminjam ungkapan Julius Kaisar dengan sedikit ’modifikasi’. “Kami datang, kami perang, dan kami menjadi pecundang.” [Thoriq/Dija/Sahid/hidayatullah.com]

ilustrasi:Gary D. Landsman/CORBIS

 
12 Mei 2010
Intel dengan Visa Turis

Hidayatullah.com--Senin, 19 Januari 2010, Mahmud Al Mabhuh tiba di Dubai. Ia langsung menuju ke Hotel Al Bustan Rotana. Keesokan harinya, pria ini ditemukan terbaring tanpa nyawa di dalam kamar. Berdasarkan pemeriksaan, komandan militer Hamas itu meninggal sekitar lima jam setelah menjejakkan kakinya di Dubai.

Al Mabhuh disuntik Suxamethonium chloride dalam jumlah cukup banyak. Meskipun obat yang dijual dengan nama Anectine dan Scoline itu sulit dideteksi jika sudah memasuki masa postmortem, namun polisi berhasil mendeteksinya dari bercak cairan yang ada di kulit.

Setelah disuntik dengan cairan, yang juga digunakan Mossad untuk membunuh beberapa aktivis senior Palestina di Kuwait pada tahun 2001 itu, Al Mabhuh dicekik hingga menghembuskan nafas terakhir.

Dalam waktu 24 jam, polisi Dubai yang dipimpin Letjen Dhahi Khalfan Tamim berhasil mengidentifikasi 26 orang asing sebagai tersangka pelaku. Dua belas orang menggunakan paspor Inggris, enam paspor Irlandia, empat Prancis, tiga Australia dan satu Jerman. Selain itu, ada dua orang Palestina yang diduga 'mengkhianati' Al Mabhuh terlibat dalam kasus tersebut.

Ketiga negara Eropa tersebut langsung memanggil Dubes Israel, karena mereka menilai Mossad telah melakukan pemalsuan paspor. Tidak hanya itu, pihak Uni Eropa pun ikut berang atas pemalsuan itu. Respon mereka muncul setelah Dubai mempublikasikan foto 11 tersangka.

Paspor Palsu Sudah Biasa

Pemalsuan paspor memang bukan hal yang asing bagi Mossad. Mereka memiliki rentetan sejarah hitam mengenai hal ini.

Victor Ostrovsky, mantan anggota Mossad yang telah menulis dua buku tentang Mossad dan beberapa buku lain seputar aksi intelijen, dalam wawancaranya dengan radio publik Australia, ABC, pada 26 Februari 2010 mengatakan, "Mereka tidak mungkin bepergian dengan paspor Israel... Jadi kebanyakan operasi (Mossad) dilakukan dengan cara 'false flag'. Artinya, Anda berpura-pura menjadi orang yang berasal dari negara lain, yang  tidak terlalu bermusuhan dengan negara yang ingin Anda masuki."

Israel, kata Ostrovsky, memiliki khusus alat memproduksi dokumen-dokumen palsu dengan menggunakan beragam jenis kertas dan tinta.

Agen-agen Israel sudah biasa menggunakan paspor negara lain dalam menjalankan aksinya. Paspor Kanada bahkan disebut-sebut sebagai salah satu paspor favorit, karena negara itu tidak dikenal sebagai negara imperialis atau memiliki musuh dan motif politik yang agresif seperti negara Barat lainnya.

Hampir di semua operasi yang mereka lakukan di luar negeri, menggunakan paspor negara lain. Berikut ini beberapa operasi yang melibatkan paspor ”aspal”:

Agen-agen Mossad menggunakan paspor Kanada ketika menjalankan misi pembunuhan Khalid Misy’al tahun 1997 di Amman, Yordania. Mereka berhasil menyemprotkan racun ke telinga Misy’al, namun operasi gagal karena ketahuan penjaga.

Surat kabar The Australian, pernah mengutip perkataan Ali Kazak, mantan wakil Palestina untuk Australia. Ali memperingatkan bahwa pada 2004, agen Mossad di Sydney telah memperoleh 25 paspor Australia.

Pada Maret 2004, dua agen Mossad diduga ditahan di Selandia Baru dan kemudian dihukum karena menipu untuk mendapatkan paspor dari negara tersebut. Kejadian itu memicu sanksi diplomatik.

Operasi pembunuhan terhadap Fathi As Shikaki, pendiri Jihad Islam pada Oktober 1995 di Malta, Mossad juga ditengarai menggunakan paspor palsu.

Pada 1987, Inggris juga pernah memprotes Israel mengenai pemalsuan paspor Inggris dan mengingatkan agar peristiwa itu tidak terjadi lagi pada masa mendatang.

Kegagalan Mossad pada 1997 dalam usaha membunuh Khalid Misy’al, juga ditengarai menggunakan paspor Kanada. Hal itu diketahui setelah Menteri Penerangan Yordania mencoba menutup-nutupi kasus itu dengan mengatakan bahwa peristiwa percobaan pembunuhan itu merupakan “bentrokan kecil” antara Khalid dan beberapa turis Kanada.

Sebelumnya, pada 1973, Mossad juga “apes.” Selain enam agennya tertangkap pasca kegagalan operasi pembunuhan di Norwegia, Israel juga menerima kemarahan dari pemerintah Kanada, karena telah menggunakan paspor dari negara tersebut.

Senjata Makan Tuan

Kebiasaan Mossad yang seenaknya sendiri memalsu paspor negara lain mungkin bisa menguntungkan pihak mereka dalam beberapa operasi sebelumnya. Namun, dalam kasus pembunuhan Al Mabhuh, kebiasaan buruk itu bisa menimbulkan blunder bagi pihak Mossad sendiri.

Di samping berhadapan dengan beberapa negara Eropa yang telah “dipinjam” paspornya, mereka akan berhadapan dengan masalah internal Israel. Bagaimana tidak? Identitas yang digunakan dalam lima paspor aspal yang berhasil diungkap pihak kepolisian Dubai adalah identitas mereka yang bermukim di Israel sendiri. Mereka adalah beberapa Yahudi Inggris yang telah pindah ke tanah jajahan tersebut. Salah seorang di antara mereka adalah Adam Melvyn Mildiner, laki-laki yang tinggal di dekat Al Quds. Ia terkejut setelah identitasnya muncul di koran sebagai buronan. "Saya tidak tahu bagaimana ini terjadi? Siapa yang memilih nama saya? Kenapa? Tapi mudah-mudahan kita akan segera mengetahuinya. " Kutip Koran Haaretz (26/2/2010).

Merespon kejadian ini, para jenderal dan komentator Israel berlomba-lomba mengutuk Mossad. Ben Kasbit, komentator koran Maarev menyebutkan bahwa pembunuhan Al Mabhuh sebagai salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah Mossad dan aparat intelijen Israel. Di samping karena menyabotase hubungan Israel denga Eropa, warganya sendiri tahu bahwa Mossad menggunakan identitas mereka.

Amir Oren, komentator militer di surat kabar Haaretz, menyalahkan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu karena mempertahankan kepemimpinan Meir Dagan atas Mossad. Ia menilai, dampak operasi pembunuhan itu bisa menimbulkan komplikasi politik.

Dan Israel harus “membayar” dengan harga yang tidak murah atas operasi pembunuhan yang dilakukan terhadap pejuang Palestina tersebut, yakni dengan diusirnya diplomat negeri penjajah itu dari Inggris pada akhir Maret lalu. [Thoriq/Dija/Sahid/hidayatullah.com]

Foto: Reuters Pictures

 

◄ previous1234next ►
 
   Berita Terkini
  Segarkan Keharmonisan dengan Mengajak Pa...
  Menag: Sejarah Membuktikan Al Quran Terp...
  Yaman Selatan Menuntut Merdeka
  Saudi Tanggkap 10 Tersangka Mata-Mata Ir...
  Sidang Pra-Peradilan Bradley Manning Dim...
  Rafsanjani dan Jago Ahmadinejad Dicoret ...
  Kontrak Para Pemimpin dengan Allah Azza ...
  Martabat dan Keterwakilan Perempuan
  FLP Hadhramout Sukses Gelar Diklat Kepen...
  Sidang Lanjut 10 Oktober, Perintah Penah...
  Surya dan Syeikh Raid Shalah Batal Bersa...
  LGBT Kampanye di Kampus, Civitas Akadem...
  Gubernur Kaltim: Hidayatullah Mitra Peme...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved