Tazkiyatun Nafs – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/16/140553/bertawakal-setelah-berdoa-jangan-tergesa-pengabulan-nya.html Sun, 15 Apr 2018 23:11:12 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140553

Seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa untuk meminta agar doanya segera dikabulkan. Allah lebih mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya

The post Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

APABILA kita sudah mengetahui bahwasanya doa adalah inti dari ibadah, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, hendaklah kita juga mengetahui bahwa doa adalah inti dari isti’anah (permintaan tolong kepada Allah).

Tidak masuk akal jika kita meminta pertolongan kepada seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tetapi dengan tidak mengucapkan satu kalimat permintaan sedikit pun. Namun, antara permintaan kepada manusia dan permohonan kepada Allah terdapat perbedaan yang sangat jauh.

Terkadang manusia menolak satu permintaan, terkadang pula ia mau memberi suatu permintaan. Akan tetapi, ketika kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia akan senantiasa memenuhi permintaan Anda, dan memberikan apa yang diinginkan melebihi apa yang diminta.

Sungguh benar perkataan seorang penyair:

Jangan sekali-kali Anda meminta dari anak Adam untuk satu keperluan

Mintalah kepada Dzat yang pintu-Nya senantiasa terbuka

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan marah jika Anda tidak meminta kepada-Nya

Sementara anak Adam akan marah ketika diminta

Di berbagai tempat dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, di antaranya firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Al-Mu’min [40]: 60)

Baca: Doa “Ampuh” Imam Ahmad

Firman Allah yang lain:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf [7]: 55)

Berdoa tidak hanya dilakukan di saat genting saja. Karena hal tersebut adalah sesuatu yang wajib bagi setiap muslim, baik dalam keadaan senang maupun susah. Rasulullah pernah bersabda:

“Kenalilah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di kala senang, niscaya Dia pasti akan mengetahuimu ketika susah.” (HR Ahmad).

Seorang hamba hendaknya banyak berdoa kepada Allah dan selalu mengulang-ulang (baca; mendesak) doanya, karena Allah menyukai hamba-Nya yang mengulang-ulang dalam doanya sebagaimana firman-Nya:

فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“…Maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (Al-Baqarah[2]: 186).

Lafazh ‘idza’ (diterjemahkan dengan apabila-edt) berfungsi sebagai tahqiq (benar-benar melakukannya) dan katsrah (sering mengulang-ulang). Berbeda dengan lafazh `in‘ yang berfungsi mewakili perasaan syak (keraguan) dan menunjukkan bahwa tindakan tersebut jarang dilakukan.

Dengan demikian, Allah menyeru hamba-Nya untuk ilhah (mengulang-ulang/mendesak) ketika berdoa dan Dia menjanjikan mereka jawaban yang baik. Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa doanya tidak akan pernah sia-sia.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada seorang muslim pun di bumi ini yang berdoa kepada Allah  kecuali Allah akan memenuhi permohonannya, atau Dia akan memalingkannya dari kejelekan yang setimpal dengan doanya, selama dia tidak berdoa untuk kesalahan (dosa) atau memutuskan silaturrahim.” Seorang laki-laki berkata, ‘Kalau begitu, kami akan banyak melakukannya (berdoa).’ Beliau bersabda, ‘Allah akan lebih banyak lagi (mengabulkannya)’.” (HR At-Tirmidzi).

Oleh sebab itu, jika seorang muslim berputus asa dari dikabulkannya doanya, niscaya doanya juga tidak akan dikabulkan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yaitu) ia berkata, Aku telah berdoa kepada Rabb-ku, namun doaku belum juga dikabulkan’.”

Allah tidak tergesa-gesa sebagaimana ketergesaan anak Adam, namun setiap keputusan (takdir) yang ada di sisi-Nya mempunyai waktu tertentu. Alangkah indahnya perkataan Imam Syafi’i:

Apakah engkau menyepelekan dan meremehkan doa

Sementara engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh doa

Panah di waktu malam tidak akan salah sasaran

Namun dia memiliki jarak, dan ia mesti ditempuh

Telah disebutkan dalam sebuah atsar bahwa Nabi Musa alaihis salam ketika berdoa untuk kecelakaan pengikut Fir’aun, beliau berdoa:

رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ

“… Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka. Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus [10]: 88)

Kemudian Allah berfirman kepada beliau:

قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا

“…Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua…” (Yunus [10]: 89)

Allah baru mewujudkan doa beliau setelah empat puluh tahun kemudian, dengan ditenggelamkannya pengikut Fir’aun dan diberikannya kekuasaan kepada Bani Israil.

Apakah Nabi Allah, Musa, menganggap doanya terlambat dikabulkan? Tidak, beliau mengetahui bahwa keputusan Allah mempunyai waktu tertentu. Dengan itu, beliau memberikan kabar gembira kepada kaumnya:

رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“…Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya). Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (Al-A’ raf [7]: 129)

Sesungguhnya hakikat isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) tampak pada sikap hamba ketika meminta kepada Rabbnya. Dia meyakini bahwa semua kebaikan berada di tangan Allah,  Dia Maha Pemurah yang memberi tanpa menghitung.

Baca: Mengikis Iman, Amalan Tertolak, Doa Tak Terkabul

Dengan meminta kepada Allah, ia tidak perlu lagi meminta kepada sesama manusia. Dia menjadi mulia karena Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Para shahabat –semoga Allah meridhai mereka semua–memohon semua keperluan mereka kepada Allah sampai pada urusan tentang makanan ternaknya.

Apa yang menarik dari hal ini? Benar, di dalam jiwa mereka telah tertanam kuat hakikat yang besar bahwasanya Allah adalah Raja Yang Maha Pemurah, Dia tidak pernah menolak orang yang meminta kepada-Nya. Tidak pernah seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit untuk meminta kepada Rabb-nya, kecuali Dia akan memberikannya.

Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2]: 186)

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghadap (meminta) kepada Allah dalam segala hajat yang kita perlukan, baik keperluan itu datangnya dari Allah atau dari seorang makhluk-Nya, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat.

Namun, seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa untuk meminta agar doanya segera dikabulkan. Allah lebih mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya. Dia mengetahui kapan memberinya dan kapan menahannya. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah:

“Barang siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya kemudian dia shalat dua rakaat dengan sempurna, Allah akan memberikan apa yang dia minta, baik dengan segera atau ditunda.” (Al-Bukhari, Ahmad, dan Ath-Thabrani dari Abu Darda’).*/Dr. Hani Kisyik, dari bukunya Kunci Sukses Hidup Bahagia

The post Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
140553
Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/06/139820/rezeki-mesti-dicari-bukan-hanya-duduk-bertawakal.html Fri, 06 Apr 2018 01:00:43 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139820

Allah Subhanahu Wa Ta'ala menakdirkan rezeki berkaitan dengan sebabnya. Karena sebab dan akibatnya juga telah ditakdirkan

The post Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

ADA satu hal dalam masalah takdir yang membuat orang sering keliru dalam memahami. Ia adalah masalah yang berkaitan dengan rezeki.

Yang dimaksud dengan rezeki adalah suatu keberuntungan yang diperoleh manusia dalam hidupnya, baik itu berupa nikmat makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, harta, istri, anak, dan berbagai kenikmatan lain yang biasa diharapkan oleh manusia pada umumnya. Itu semua masuk dalam terminologi rezeki.

Rezeki ini ditakdirkan dan dibagikan Allah Ta’ala kepada manusia. Di antara mereka ada yang ditakdirkan lapang dalam rezekinya, ada yang rezekinya ditakdirkan sempit, dan ada pula yang rezekinya ditakdirkan berada di tengah-tengah. Semuanya, yang memberi rezeki adalah Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ (٥٨)

“Sesungguhnya Allah, Dia adalah Maha Pemberi Rezeki yang memiliki kekuatan amat kokoh.” (QS: Adz-Dzariyat: 58).

Allah jugalah yang mengatur pembagian rezeki ini kepada seluruh makhluk. Dikatakan dalam firman-Nya;

وَمَا مِن دَآبَّةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا

“Dan tidak ada seekor binatang melata pun di muka bumi, melainkan Allah yang memberikan rezeki kepadanya.” (QS: Hud: 6).

وَڪَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ۬ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mencari) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberikan rezeki kepadanya juga kepada kalian. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Ankabut: 60).

Baca: Carilah Keberkahan dalam Hidup

Mayoritas orang memahami perkataan, “Bahwa rezeki ditakdirkan dan dibagikan oleh Allah Ta’ala,” sebagai tidak adanya faedah dalam berusaha mencari rezeki. Mereka. menganggap bahwa orang yang telah ditakdirkan kaya oleh Allah, maka dia pun akan kaya kendati dia hanya duduk-duduk saja di rumah. Dan orang yang ditakdirkan miskin oleh Allah, maka dia pun akan miskin sekalipun dia orang yang cerdas, rajin bekerja dan ulet berusaha.

Yang benar, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menakdirkan rezeki berkaitan dengan sebabnya. Karena sebab-sebabnya pasti juga telah ditakdirkan, sebagaimana akibat-akibatnya. Sekiranya Allah menakdirkan si Fulan menggunakan akal dan kecerdasannya, serta sungguh-sungguh bekerja dan berusaha dalam rangka mencari penghidupan, maka Allah pasti akan meluaskan rezeki kepadanya. Adapun orang lain yang senantiasa hidup dalam kemalasan, pasrah dalam ketidakpunyaan, dan lebih memilih hidup dalam kehinaan, maka Allah pun akan menyempitkan rezekinya.

Itulah makanya Allah berfirman;

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولاً۬ فَٱمۡشُواْ فِى مَنَاكِبِہَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦ‌ۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ (١٥)

“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah kalian dari rezeki-Nya.” (QS: Al-Mulk: 15).

Makna ayat di atas bahwa orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berusaha serta menyusuri pelosok bumi demi mencari rezeki di kisi-kisinya, maka dia akan makan dari rezeki Allah. Sedangkan orang yang malas-malasan dan enggan menyisir muka bumi untuk mencari rezeki, maka dia tidak berhak makan dari rezeki Allah.

Yang dimaksud jaminan Allah Ta’ala untuk memberikan rezeki kepada orang-orang yang hidup, termasuk jaminan rezeki-Nya terhadap seluruh binatang melata di muka bumi, adalah bahwa Allah menyediakan sebab-sebab dan sarana-sarana untuk mengais rezeki di bumi, baik di darat ataupun di lautan. Karena ketika Allah menciptakan bumi, Dia “Memberikan berkah di dalamnya dan telah menentukan makanan-makanannya.” (Fushshilat: 10).

Sebelum menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi, Allah telah memberikan penghidupan terlebih dahulu untuk mereka di sana. Seperti firman-Nya, “Dan sungguh Kami telah menempatkan kalian di bumi dan membuat penghidupan di dalamnya untuk kalian, (namun) sedikit sekali kalian bersyukur.” (Al-A’raf: 10).

Baca:   Beginilah Sikap Mukmin dalam Melihat Persoalan Hidup

Selanjutnya Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, kemudian Kami bentuk kalian (menjadi manusia), lalu Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam’.” (Al-A’raf: 11). Artinya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa penghidupan dan rezeki untuk manusia di bumi telah disediakn sebelumnya oleh Allah sebelum Dia menciptakan mereka.

Akan tetapi, sudah menjadi sunnah Allah bahwa rezeki tidak akan dapat diraih kecuali oleh orang yang bekerja dan berusaha. Dan, syariat juga memerintahkan yang seperti ini. Sebab, sunnah-sunnah Allah yang berlaku pada makhluk-Nya serta tata aturan-Nya dalam syariat, mengharuskan manusia agar dia bekerja untuk mencari sendiri rezekinya. Barangsiapa yang cuma duduk-duduk saja tidak mau bekerja, berarti dia menyalahi hukum alam dan hukum syariat secara bersama-sama.

Manakala Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu melihat sekelompok orang duduk-duduk di masjid selepas shalat Jumat, sementara orang-orang sudah pada pulang, dia bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?”

Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal!” Kata Umar lagi, “Justru kalian adalah orang-orang yang sok bertawakal! Jangan sampai salah seorang dari kalian cuma duduk-duduk saja tidak mau mencari rezeki, lalu berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku,’ padahal dia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak! Sesungguhnya Allah Ta’ala mengaruniakan rezeki kepada mereka yang berusaha dan bekerja. Apa kalian tidak membaca firman Allah, ‘Apabila shalat (Jumat) telah selesai dilaksanakan, maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah kemurahan (rezeki) dari Allah’.” (Al-Jumu’ah: 10).

Inilah logika sahabat dalam memahami makna rezeki; berusaha, menyebar ke bumi, dan mencari kemurahan Allah. Bukan cuma duduk-duduk dan pasrah saja dengan alasan tawakal, kemudian hanya diam mengandalkan rezeki yang sudah dibagi oleh Allah. Padahal, rezeki tidak akan datang dengan cara seperti ini.**/Dr. Yusuf Al Qaradhawi, dikutip dari bukunya Takdir

The post Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139820
Meraih Kehormatan Muslim dengan Menjauhi Cinta Platonis http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/05/139780/meraih-kehormatan-muslim-dengan-menjauhi-cinta-platonis.html Thu, 05 Apr 2018 14:45:03 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139780

Termasuk contoh dari kerealistisan Islam adalah bahwa Islam tidak memposisikan masalah perasaan suka terhadap lawan jenis pada posisi pandangan yang serba menekan atau memusuhi.

The post Meraih Kehormatan Muslim dengan Menjauhi Cinta Platonis appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com– Seorang Muslim adalah seorang yang selalu istiqamah dengan petunjuk Allah, baik dalam ucapan maupun tingkah laku dan orang yang selalu mengambil hikmah yang Islami.

Prinsip Islam dalam meraih kehormatan adalah dengan membersihkan diri dari fitnah wanita, yaitu dengan mengarahkan diri sepenuhnya kepada Sang Khalik dan bukan kepada makhluk, sehingga tidak dihanyutkan oleh keindahan wanita cantik, apalagi sampai dapat merenggut hati dan akalnya.

Sementara para pecinta suci (platonic love) tidak lepas dari hal-hal yang dilarang. Mereka benar-benar telah terfitnah dan terpikat dengan perempuan serta telah hanyut seluruhnya kepada makhluk, bukan kepada Sang Khalik. Mereka dikendalikan di belakang kecantikan dan keayuan. Wanita benar-benar telah merenggut akal dan hatinya.

Baca: Merawat Amanah Cinta

Mereka kasmaran dengan kekasih-kekasihnya tanpa rasa malu dan rikuh sedikit pun. Mereka berdua-duaan dengan wanita yang bukan muhrimnya tanpa tameng dari agama atau peredam yang berupa ketakwaan.

Memang benar kalau dikatakan bahwa dari para pencinta sejati ada yang dapat menjaga diri mereka dari kenistaan dengan tameng keimanan dan terhindar dari keharaman karena sekat ketakwaan. Mereka benar-benar berwatak shiddiq dan ikhlas yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam keadaan sunyi maupun ketika di muka umum, serta senantiasa khawatir akan masalah hati yang senantiasa bergejolak dan niat buruk yang kadang terpendam dalam hati. Hal-hal seperti inilah yang merupakan hal paling mulia yang dapat meningkatkan derajat mereka pada tingkat yang paling suci dan mulia.

Seorang Muslim yang benar-benar Muslim adalah seorang yang selalu istiqamah dengan petunjuk Allah, baik dalam ucapan maupun tingkah laku dan orang yang selalu mengambil hikmah yang Islami; baik secara global maupun terperinci. Juga orang yang berjalan sesuai dengan syariah Islam; baik secara metodologis maupun hukum, teori dan juga praktik.

Baca: Bahaya Mencintai Kehormatan dan Harta (1)

Sama halnya apakah seorang Mukmin itu berprofesi sebagai pekerja, pegawai, sastrawan, pengacara, atau hakim; baik yang kampungan maupun yang berbudaya, mereka semua adalah orang yang paling bertakwa selama dia tetap dalam petunjuk Allah dan di jalan yang benar.

Sedang para pengikut cinta platonis yang ceritanya banyak tersebar dalam berbagai kumpulan syair dan novel sastra; seperti kisah Qais dan Laila, Jamil dan Butsainah, Kutsayyir dan Izzah, serta yang lainnya, mereka semua dalam pandangan saya telah terjerumus –entah mereka sengaja atau tidak– dalam berbagai larangan syariah, khususnya pada cara mereka berhubungan dengan kekasihnya dan pada cara mereka berhubungan dengan wanita lain sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Dari mereka telah diterbitkan karya-karya yang muncul dari kelainan perasaan (sense) dan hilangnya keseimbangan dalam diri mereka. Mereka semua telah menderita penyakit kurus. Mereka telah mengambil jalan melawan kematian dan berbagai ancaman siksa dan penganiayaan.

Baca: Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari

Mereka telah melepas kesatriaan dan kehormatannya sebagai anak Adam. Mereka telah berpaling dari cinta luhur yang tercermin dalam cinta kepada Allah, Rasul, dan jihad, untuk menuju kepada cinta murahan yang tercermin dalam kecantikan wanita yang tidak halal baginya.

Mereka telah mencampakkan potensi kemanusiaannya sehingga tidak mungkin sama sekali bagi mereka untuk merambah jalan menuju kehormatan yang berharga, keunggulan yang kokoh, dan peradaban yang gilang gemilang. Saat mereka berada dalam keadaan seperti ini syaraf-syarafnya kendur, jiwanya terserang penyakit, dan keberadaan dirinya menguap.

Padahal sesungguhnya Islam adalah agama yang realistis dan merupakan syariah kehidupan (way of life) sampai Allah mengguncangkan bumi dan seisinya (kiamat).

Termasuk contoh dari kerealistisan Islam adalah bahwa Islam tidak memposisikan masalah perasaan suka terhadap lawan jenis pada posisi pandangan yang serba menekan atau memusuhi. Bahkan disyariatkannya pernikahan bertujuan untuk merespons watak tersebut dan agar dapat sejalan dengan kecenderungan hasrat biologis yang telah dibentuk oleh Allah dalam diri manusia.

Baca: Inilah Empat Profil Pemuda Muslim Unggulan [1]

Untuk hal ini telah disampaikan beberapa hadits, di antaranya Al Baihaqi telah meriwayatkan Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqash Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengganti kita kerahiban dengan kerahiban yang halus dan toleran.”

Demikian juga Ath-Thabari dan Al Baihaqi meriwayatkan Hadits dari Rasulullah, sabdanya, “Barangsiapa yang menjadi kaya karena agar bisa menikah, kemudian (setelah kaya) tidak mau menikah, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Rasulullah juga berkata kepada tiga orang yang datang bertanya tentang bagaimana ibadah Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Kalian semua yang telah bilang begini…dan begitu. Sungguh demi Allah, aku adalah orang yang paling takut terhadap Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, meskipun begitu aku berpuasa dan juga makan (berbuka), aku shalat juga tidur dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku (perbuatanku), ia bukanlah golonganku.”*/ Muhammad Ibrahim Mabrouk, dalam bukunya Cinta dalam Perspektif Islam

The post Meraih Kehormatan Muslim dengan Menjauhi Cinta Platonis appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139780
Berzikir Mengingat Allah untuk Meredakan Marah http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/03/139557/berzikir-mengingat-allah-untuk-meredakan-marah.html Tue, 03 Apr 2018 11:22:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139557

Dan jika kamu mendapat godaan dari setan, maka berlindunglah kepada Allah

The post Berzikir Mengingat Allah untuk Meredakan Marah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DI SAMPING bersikap sabar, terdapat berapa hal yang bisa dilakukan untuk meredakan marah. Di antaranya adalah berzikir mengingat Allah. Hal itu bisa memberikan rasa takut kepada-Nya.

Rasa takut tadi membuat kita menjadi taat sehingga kembali kepada adab yang diajarkan-Nya. Ketika itulah, amarah tersebut akan hilang. Allah berfirman; وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ “Ingatlah kepada Tuhanmu ketika engkau lupa.” (QS: al-Kahfi: 24).

Menurut Ikrimah, maksudnya adalah ketika engkau marah.

Allah berfirman;

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ

“Dan jika kamu mendapat godaan dari setan, maka berlindunglah kepada Allah.” (QS: al-A’raf: 200).

Baca: Mudah Memaafkan dan Cepat Reda Ketika Marah

Makna dari mendapat godaan di atas adalah membuatmu marah. Maka, ketika itu hendaknya meminta perlindungan kepada Allah. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Artinya, Dia mendengar ucapan bodoh orang yang bertindak bodoh, serta mengetahui apa yang bisa melenyapkan amarahmu.

Diceritakan bahwa Raja Persia menulis sebuah catatan lalu memberikan kepada menterinya seraya berkata, “Jika aku marah berikan catatan tersebut kepadaku!” Isi catatan itu adalah: “mengapa harus marah? Engkau hanya seorang manusia. Sayangi yang dibumi, pasti yang di langit menyayangi-Mu.”

Ahli hikmah berkata, “Siapa yang mengingat kekuasaan Allah tentu tidak akan mempergunakan kekuasaannya dalam berbuat zalim kepada hamba.” Abdullah bin Muslim bin Muharib berkata kepada Harun ar-Rasyid, “Wahai Amirul Mukminin, aku memohon kepadamu agar memaafkanku berkat Zat yang di hadapan-Nya engkau lebih hina daripada diriku di hadapanmu. Serta berkat Zat yang lebih kuasa menghukummu daripada dirimu dalam menghukumku.” Maka Harun ar-Rasyid memaafkannya saat diingatkan kepada kekuasaan Allah.

Baca: Marah Tak Hilang, Berbaringlah di Tempat Asalmu

Cara lain untuk meredakan marah adalah mengingat mati. Diceritakan bahwa seseorang mengadukan kekesatan hatinya kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Maka, beliau bersabda: “Lihatlah kubur dan ambil pelajaran dengan pengumpulan makhluk di hari akhir.” (HR Baihaqi)

Ada penguasa kabilah yang apabila marah diberi kunci kubur para raja. Dengan begitu, marahnya hilang. Karena itu, Umar bin Khaththab radiyallahu anhu berkata, “Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan ridha dengan dunia yang sedikit.”

Di antara cara lainnya adalah dengan berpindah dari kondisi saat marah kepada kondisi lain hingga amarah tersebut hilang. Ini adalah cara Khalifah Ma’mun saat marah.

Orang Persia berkata, “Jika orang yang sedang berdiri marah, hendaknya ia duduk. Jika orang yang sedang duduk, hendaknya ia berdiri.”*/dikutip Dr. Aidh al-Qarni, dari bukunya Laa Taghdhab-Jangan Marah.*

The post Berzikir Mengingat Allah untuk Meredakan Marah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139557
Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/02/139444/cinta-kasih-ibu-dapat-tumbuhkan-kecerdasan-emosional-anak.html Mon, 02 Apr 2018 08:00:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139444

Pendidikan anak yang baik dan benar adalah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan keSholehan pada diri anak

The post Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

PENDIDIKAN yang baik dan benar adalah pendidikan yang mampu membentuk kepribadian anak dengan ciri-ciri, di antaranya, sebagai berikut:

  • Pemberani
  • Penyabar
  • Penyantun
  • Hormat, tunduk, dan patuh kepada kebenaran
  • Menjauhi kezaliman dan mengembangkan keadilan
  • Berbakti kepada orang tua
  • Tunduk dan patuh kepada perintah Allah Subhanalah Wa Ta’ala
  • Mencintai sesama makhluk Allah Subhanalah Wa Ta’ala

Pendeknya, pendidikan anak yang baik dan benar adalah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan kesholehan pada diri anak. Pertanyaan yang muncul dari sini adalah: pendidikan yang berlandaskan apakah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan keSholehan pada diri anak?

Saya tidak memiliki jawaban yang lain untuk menjawab pertanyaan di atas, kecuali jawaban Islam. Hanya paradigma. Islamlah yang akan mampu membentuk pribadi anak menjadi cerdas dan sholeh. Saya tidak menemukan konsep lain, ideologi lain, isme lain, atau teologi lain yang dapat membentuk kepribadian anak itu menjadi cerdas dan sholeh. Sebaliknya, konsep, ideologi, isme, atau teologi lain justru seringkali membentuk kepribadian anak yang timpang:

  • Anak menjadi cerdas tetapi sekaligus rusak akhlaknya.
  • Atau anak menjadi sholeh tetapi bodoh.
  • Atau anak menjadi tidak sholeh sekaligus menjadi tidak

Pendidikan model Barat, misalnya, adalah pendidikan yang menghasilkan anak cerdas tetapi rusak akhlak atau moralitasnya sehingga Anda jangan heran apabila melihat anak-anak Barat demikian brilian otaknya, tetapi sekaligus demikian ‘brilian’ dalam mengumbar nafsu syahwat. Model yang seperti ini tidak akan pernah terjadi apabila orang tua menerapkan pendidikan berparadigma Islam sebab tujuan pendidikan Islam adalah membentuk anak menjadi cerdas sekaligus sholeh.

Pertanyaannya, bagaimana wujud pendidikan yang demikian itu pada anak, khususnya yang harus dilakukan oleh seorang ibu? Di sini, saya hanya akan memfokuskan pembahasan pada tanggung jawab dan kewajiban seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Islam mengajarkan bahwa tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak itu terbagi menjadi empat, yakni:

  • merawat
  • mengasuh
  • mendidik
  • membelajarkan

Karena ibu adalah perempuan, sedangkan perempuan memiliki kecenderungan yang amat besar dalam cinta, kasih, dan sayang, dan kecenderungan yang demikian ini sudah sepantasnya diberikan kepada anak-anaknya, maka tugas pendidikan yang paling penting dan pokok dilakukan oleh ibu adalah merawat dan mengasuh anak-anaknya. Tugas ini paling sesuai dengan eksistensi ibu sebagai seorang perempuan. Tugas ini pula yang paling sesuai dengan unsur kedekatan kepada anak-anaknya.

Lihatlah hubungan seorang ibu dan anaknya. Ibu memiliki rahim. Dalam rahim tersebut ibu mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari. Selama itu, si ibu tidak pernah berpisah sedikit pun dengan anak yang dikandungnya. Lalu si ibu ini melahirkan dan menyusui. Semua ini telah membawa hubungan dan ikatan eimosional, spiritual, dan intelektual yang amat dekat dengan anaknya. Oleh karena itu, dalam masa-masa seperti ini, si ibu haruslah memberikan perawatan dan pengasuhan kepada anak-anaknya.

Saya mengatakan kepada Anda bahwa hanya ibu yang mampu memberikan perawatan dan pengasuhan yang baik kepada anak-anaknya. Seorang ayah pun sesungguhnya bisa melakukan hal ini. Namun, seorang ayah terlalu lemah dalam masalah-masalah yang seperti ini jika dibandingkan dengan seorang ibu. Dengan kata lain, kelebihan yang dimiliki oleh semua ibu jika dibandingkan dengan kelebihan yang dimiliki oleh seorang ayah adalah dalam memberikan perawatan dan pengasuhan terhadap anak-anaknya.

Sebagai seorang ibu, Anda haruslah memberikan rawatan dan asuhan yang sebaik-baiknya kepada putra dan putri Anda. Perhatikanlah pertumbuhan dan perkembangan anak Anda. Jaga kesehatan fisiknya. Jaga pula kesehatan mental dan spiritualnya.

Dalam masa-masa melaksanakan tanggung jawab pendidikan ini, Anda harus terus mengembangkan sifat-sifat khas Anda sebagai seorang perempuan:

  • sabar
  • lembut
  • penyayang
  • santun
  • cinta kasih

Anda harus mengembangkan sifat-sifat ini, sebab sifat-sifat ini akan membuahkan kecerdasan emosional pada anak Anda sebagai ladang yang akan ditanami oleh nilai-nilai spiritual. Anda tidak usah mencontoh ibu-ibu yang bersikap keras, kasar dan tidak sabar yang seringkali banyak kita jumpai.*/Muhammad Muhyidin, dikutip dari bukunya Bangga Menjadi Muslimah

The post Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139444
Bangunkan Sikap Positif Diri untuk Hilangkan Keresahan http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/03/31/139308/bangunkan-sikap-positif-diri-untuk-hilangkan-keresahan.html Sat, 31 Mar 2018 10:11:08 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139308

Fokuslah terhadap unsur-unsur positif dalam hidup Anda. Jika Anda melihat keadaan hidup dan kondisi yang mengelilingi Anda, pasti akan mendapatkan banyak sekali unsur positif.

The post Bangunkan Sikap Positif Diri untuk Hilangkan Keresahan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

ZIYAD adalah direktur utama sebuah perusahaan besar. Akhir-akhir ini beban tugas dan masalah keluarganya semakin bertambah. Dia tampak seperti mulai kehilangan keseimbangan dan berkembang ke arah negatif.

Ia tenggelam dalam reaksi-reaksi negatif yang mengganggu perasaan dan merusak kerjanya. Tetapi setelah mengikuti pelatihan tentang bagaimana unsur positif dalam kehidupan, akhirnya dia mendapatkan keseimbangan. Ia kemudian menambah waktu khusus untuk keluarganya, bisa duduk dan bermain-main dengan putrinya yang masih kecil. Ia juga bisa bebas membaca, berekreasi akhir pekan, dan sebagainya.

Seakan-akan keadaannya mengatakan, “Fokuslah terhadap unsur-unsur positif dalam hidup Anda. Jika Anda berpikir tentang diri Anda dan melihat keadaan hidup dan kondisi yang mengelilingi Anda, pasti Anda akan mendapatkan banyak sekali unsur positif.”

Tidak diragukan bahwa unsur-unsur positif bukanlah satu-satunya dalam hidup Anda, karena dalam hidup Anda juga ada unsur-unsur negatif. Unsur-unsur negatif tersebut akan menghilangkan sikap positif Anda, merampas kebahagiaan dan ketenangan batin Anda.

Bagi Anda yang bekerja dalam sebuah pekerjaan yang Anda senangi dan posisi Anda bagus di antara pekerja yang lain, tapi ada seorang teman yang tidak senang dengan posisi yang Anda raih dan selalu mengganggu Anda serta memburuk-burukkan Anda, apakah Anda akan membiarkan orang ini merampas sikap positif Anda terhadap pekerjaan Anda?

Jika Anda mengeluhkan penyakit yang sudah lama tidak mau hilang dari diri Anda, apakah Anda akan menyerah kepada penyakit ini, ataukah Anda akan berjuang melawannya dengan doa dan pengobatan, beradaptasi dengan penyakit tersebut, dan berusaha menjalani hidup Anda secara normal?

Bila Anda memiliki seorang anak yang tidak lancar dalam pelajaranya, kemudian Anda membimbing dan mendorongnya untuk meningkatkan prestasinya, tapi Anda melihat tidak ada perubahan yang lebih baik, apa yang akan Anda lakukan ? Apakah Anda akan membiarkan kekhawatiran Anda dan mengganggu kondisi psikologi Anda? Ataukah Anda akan menjaga sikap positif Anda dan berusaha dengan segenap kemampuan untuk meningkatkan prestasi anak Anda?

Carilah unsur-unsur positif dalam hidup Anda dan berusahalah untuk fokus. Di antara unsur-unsur tersebut adalah menyenangi kebaikan dan membantu orang lain, menjalankan ibadah pada waktunya, menjalankan kerja sebaik-baiknya dan fokus terhadap pekerjaan tersebut, meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga, melakukan hobi yang disenangi, berdiskusi dengan orang yang disenangi, dan sebagainya.*/Sudirman STAIL

Sumber buku: 10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas. Penulis: Dr. Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid.

The post Bangunkan Sikap Positif Diri untuk Hilangkan Keresahan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139308
Bertakwalah dalam Segala Kondisi http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/03/26/138859/bertakwalah-dalam-segala-kondisi.html Mon, 26 Mar 2018 06:28:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138859

Orang bertakwa selalu melibatkan pikiran dalam setiap tindakannya, sehingga semua yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.

The post Bertakwalah dalam Segala Kondisi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TAKWA dan sikap kehati-hatian bisa memiliki muara yang sama. Ini terungkap dalam percakapan antara Umar bin Khathab dan Ubay bin Ka’ab. Ketika itu Ubay bertanya kepada Umar tentang makna takwa. Khalifah kedua ini malah balik bertanya, “ Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri?”

Ubay bin Ka’ab menjawab, “Ya pernah.” “Apakah yang engkau lakukan?” tanya Umar kembali.

“Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay bin Ka’ab. “Itulah yang dinamakan takwa,” tegas Umar.

Jadi orang bertakwa adalah orang yang berhati-hati dalam bertindak. Semua yang dilakukannya penuh perhitungan.

Pemahaman, emosi, dan gerak fisiknya benar-benar dipandu aturan Ilahi agar seiring sejalan. Sebagai contoh mereka tidak mau menerima uang kecuali uang tersebut didapat dengan cara yang diridhahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mereka tidak mau makan kecuali makanan tersebut terjamin kehalalannya, baik zatnya atau cara mendapatkannya. Mereka tidak mau berbicara, kecuali pembicaraannya benar dan tidak menyakiti.

Mereka tidak berdua-dua dengan lawan jenis, kecuali yang telah dihalalkan Allah. Mereka tidak mau berbisnis, kecuali bisnis yang tidak merugikan orang banyak, barang yang dijual terjamin kehalalannya, tidak melanggar undang-undang, dan tidak tersentuh unsur riba.

Intinya, dalam hal apa pun, orang bertakwa selalu menyertakan sikap hati-hati yang bersumber dari rasa takut melanggar aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Orang bertakwa adalah orang yang proaktif. Ia mampu memanfaatkan ruang antara stimulus (rangsangan) dan respons (tindakan) untuk berpikir sesuai prinsip. Sederhananya, orang bertakwa itu selalu melibatkan pikiran dalam setiap tindakannya, sehingga semua yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Semuanya didasarkan pada prinsip-prinsip yang telah digariskan Yang Mahakuasa.

Saat seorang pejabat publik menerima cek sebesar dua puluh juta rupiah misalnya, ini stimulus atau rangsangan? Apa respon pejabat ini? Kalau ia orang bertakwa, ia tidak akan menerima cek tersebut begitu saja. Ia akan bertanya, “Ini uang dari siapa? Untuk apa? Apakah sesuai dengan prosedur yang dibenarkan? Apakah terjamin kehalalannya? Apakah tidak menyalahi nilai-nilai kejujuran yang dicontohkan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam?“, dan sebagainya.

Kalau memang uang tersebut benar-benar haknya, terjamin kehalalannya, dan benar proses pendapatannya, ia akan menerima dengan penuh syukur. Namun jika tidak, ia akan menolak apa pun konsekuensinya. Itulah respons yang didahului proses “berhenti sejenak” untuk berpikir dan menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip Ilahi.

Dalam hal apa pun, tidak hanya berkaitan dengan uang, ucapannya benar-benar terkendali dan penuh kehati-hatian. Sesungguhnya, sikap seperti ini akan menjamin keselamatan seseorang di dunia dan akhirat, juga akan mengundang datangnya pertolongan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Bahwa siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Siapa yang bertakwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan baginya dalam urusannya. Dan siapa pun bertakwa kepada Allah nicaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.“ (QS. ath-Thalaaq: 2-5).*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Haram Bikin Seram. Penulis buku: Tauhid Nur Azhar.

The post Bertakwalah dalam Segala Kondisi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138859
Menciptakan Kebiasaan Bermanfaat dalam Kehidupan Kita http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/03/19/138229/menciptakan-kebiasaan-bermanfaat-dalam-kehidupan-kita.html Mon, 19 Mar 2018 06:36:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138229

Kita dapat melestarikan kebiasaan-kebiasaan bermanfaat, sebagaimana kita juga dapat menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan.

The post Menciptakan Kebiasaan Bermanfaat dalam Kehidupan Kita appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DALAM kehidupan manusia, kebiasaan memiliki pengaruh yang besar. Tahukah Anda bahwa setiap orang dari kita selalu digerakkan oleh kebiasaan?

Jika Anda ragu dalam hal tersebut, ambillah satu contoh dalam kehidupan Anda yang Anda ketahui dengan baik. Biasanya ketika datang bulan Ramadhan, kehidupan seorang muslim mengalami perubahan, seperti kebiasaan makannya atau kebiasaan shalatnya di malam hari.

Puasa wajib di bulan Ramadhan yang datang sekali dalam setahun, dapat dijalani oleh setiap orang dari kita yang sebelumnya telah terbiasa dengan rutinitas keseharian dalam hidupnya, seperti berkaitan dengan makan, minum, tidur, maupun shalat. Akan tetapi dengan adanya bulan Ramadhan kebiasaan-kebiasaan tersebut diubah dan diganti dengan kebiasaan-kebiasaan baru.

Melakukan kebiasaan-kebiasaan baru merupakan suatu yang sulit dan membutuhkan kesabaran, maka tidaklah heran jika hari-hari pertama dari bulan tersebut dianggap paling sulit dan berat oleh mayoritas orang yang berpuasa

Setelah berlalunya hari-hari pertama, kita mulai terbiasa melakukan shalat malam. Rutinitas keseharian kita pun berubah. Kita dapat merasakan kemudahan dan tidak lagi merasa berat melakukan rutinitas di bulan Ramadhan.

Ketika datang akhir bulan Ramadhan pun, salah seorang di antara kita mungkin telah terbiasa untuk menjalani kehidupan yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Dia tidak lagi merasa berat menjalani puasa dan memperpanjang shalat malamnya, bahkan mungkin dirinya telah siap untuk terus menjalani kehidupannya dengan cara samacam itu.

Mengapa hal itu dapat terjadi? Itu karena dia telah terbiasa melakukannya dan dia telah mengubah kebiasaan-kebiasaan lamanya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru.

Apa yang kita perolah di bulan Ramadhan merupakan pelajaran penting dari Allah yang mengajarkan kepada kita bahwa mengubah kebiasaan sebenarnya adalah sesuatu yang mudah dan dapat dilakukan oleh setiap orang, baik lelaki maupun perempuan, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Oleh karena itu, puasa pun diwajibkan kepada setiap orang dewasa, dengan syarat tidak membahayakan keselamatannya

Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kehidupan kita ini diatur oleh berbagai macam kebiasaan. Di antara kebiasaan-kebiasaan itu ada yang bermanfaat dan ada pula yang tidak bermanfaat. Dalam hal ini, kita dapat melestarikan kebiasaan-kebiasaan bermanfaat, sebagaimana kita juga dapat menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan.*/Sudirman STAIL

Sumber buku: 10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas. Penulis buku: Dr. Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid.

The post Menciptakan Kebiasaan Bermanfaat dalam Kehidupan Kita appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138229
Marah Tak Hilang, Berbaringlah di Tempat Asalmu yang Hina http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/03/16/138026/marah-tak-hilang-berbaringlah-di-tempat-asalmu-yang-hina.html Thu, 15 Mar 2018 23:34:20 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138026

Hendaknya kita takut dengan hukuman Allah seraya berkata, kekuasaaan Allah atasku lebih besar daripada kekuasaanku atas orang akan yang akan kumarahi.

The post Marah Tak Hilang, Berbaringlah di Tempat Asalmu yang Hina appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

KETIKA amarah muncul dan semakin meningkat, maka harus segera diobati dengan ilmu dan perbuatan. Ilmu yang dimaksud ada enam, sebagai berikut:

Pertama, hendaknya orang yang marah mengetahui keutamaan menahan amarah, memaafkan, dan bersikap sabar sehingga mengharapkan pahala-Nya. Dengan demikian, keinginan yang besar untuk meraih pahala menahan amarah, bisa menghentikan dari upaya membalas dendam dan membuat emosi reda.

Malik bin Aus bin al-Hadtsan meriwayatkan, “Umar pernah marah kepada seseorang dan menyuruh seseorang untuk memukulnya. Seketika aku berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raf: 199).

Mendengar hal itu, Umar membaca ayat tersebut kembali. Ia menyimak ayat tersebut. Ia memang selalu merenungkan ayat Al-Qur’an yang dibacakan kepadanya. Ia terus mentadabburinya, kemudian membebaskan orang tadi.

Umar bin Abdul Aziz pernah menyuruh memukul seseorang. Lalu ia membaca firman-Nya, “Yang bisa menahan amarah.” (Ali Imran: 134). Seketika ia berkata kepada pembantunya, “Lepaskanlah orang tersebut!”

Kedua, hendaknya kita takut dengan hukuman Allah seraya berkata, “Kekuasaaan Allah atasku lebih besar daripada kekuasaanku atas orang ini. Kalau aku melampiaskan amarah kepadanya, aku tidak aman dari amarah Allah pada hari kiamat nanti, sementara aku sangat membutuhkan maaf-Nya.”

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seorang pembantu untuk sebuah keperluan. Namun, jalannya sangat lambat. Ketika tiba, beliau berkata, “Kalau bukan karena takut kepada qishash, tentu aku sudah menghukummu.” Yakni, beliau takut dengan qishash di hari kiamat.

Diriwayatkan bahwa setiap raja dari Bani Israil selalu disertai oleh orang bijak. Setiap kali marah, sang raja diberi secarik kertas bertuliskan, “Kasihi kaum miskin, takutlah pada kematian, dan ingatlah pada akhirat.” Ia membacanya hingga amarahnya reda.

Ketiga, hendaknya kita takut terhadap akibat dari permusuhan, pembalasan dendam, keinginan musuh untuk menemui, serta upaya untuk menjatuhkan kehormatan, dan rasa senang mereka dengan musibah yang diterima, sementara kita pasti terkena musibah. Jadi, kita harus takut dengan berbagai akibat buruk dari amarah di dunia selain di akhirat.

Keempat, hendaknya kita merenungkan buruk wajah kita di saat marah dengan mengingat wajah orang lain ketika ia marah. Hendaknya kita membayangkan buruknya amarah serta bagaimana pemiliknya menyerupai anjing dan binatang buas, sementara orang pemaaf yang tenang dan tidak marah menyerupai para nabi, wali, ulama, dan ahli hikmah.

Kita bisa memilih; apakah ingin seperti anjing, binatang buas, dan orang-orang hina, atau ingin seperti para ulama dan nabi agar memiliki keinginan meneladani mereka jika masih memiliki akal.

Kelima, hendaknya kita merenungkan sebab yang mengantarkan kita melakukan balas dendam dan membuat kita tidak bisa menahan amarah. Pastilah sebabnya seperti ucapan setan kepada kita, “Orang ini telah membuatmu lemah, hina, kecil, dan hina di mata manusia.”

Dalam kondisi seperti itu, hendaknya kita berkata dalam hati, “Sungguh aneh saya ini. Saya tidak mau bersabar sekarang dan membiarkan diri hina pada hari kiamat, yaitu saat orang itu menuntut balas kepada saya.”

Keenam, hendaknya kita sadar bahwa amarah kita muncul karena tidak terima dengan sesuatu yang sebenarnya terjadi sesuai keinginan Allah. Lalu, apakah kita mesti berkata, “Keinginanku lebih utama daripada keinginan Allah!”

Maka hendaknya kita mengucap, “A’udzu billahi minasy-syaithanir rajiim.” Begitulah yang diperintahkan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pada saat seseorang sedang marah. Ketika Aisyah radiyallahu anha marah, Rasulullah memegang hidungnya seraya berkata, “Wahai Aisyah ucapkan,

Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkan amarah di hatiku, dan lindungi aku dari ujian yang menyesatkan.” (HR Baihaqi).

Itulah yang dianjurkan untuk dibaca. Jika masih marah, hendaknya kita duduk jika sebelumnya berdiri, dan berbaring jika sebelumnya duduk. Dekatilah tanah yang merupakan asal penciptaan kita untuk mengetahui hinanya diri kita.

Apabila masih tetap marah, hendaknya berwudhu dengan air dingin atau mandi. Sebab, api hanya bisa dipadamkan dengan air. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Jika salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu. Sebab, marah bersumber dari api.” (HR Ahmad).

Ibnu Abbas radiyallahu anhu mendengar Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika engkau marah, hendaknya diam.” Abu Hurairah radiyallahu anhu meriwayatkan bahwa jika marah dalam kondisi berdiri, Rasulullah duduk. Jika marah dalam kondisi duduk, Rasulullah berbaring hingga marahnya hilang.*Dr. Aidh al-Qarni, dari bukunya Laa Taghdhab-Jangan Marah.

The post Marah Tak Hilang, Berbaringlah di Tempat Asalmu yang Hina appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138026
Wasiat Bersikap Baik Terhadap Ibu http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/03/15/137972/wasiat-bersikap-baik-terhadap-ibu.html Thu, 15 Mar 2018 04:30:46 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=137972

Jika kita berlemah lembut dalam perkataan kepada ibu, memberinya makan, pasti kita masuk surga selama kita menjauhi dosa besar.

The post Wasiat Bersikap Baik Terhadap Ibu appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DIRIWAYATKAN dari al-Miqdam bin Ma’dikarib, sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewasiatkan kepada kalian terhadap ibu-ibu kalian sebanyak tiga kali, dan Dia telah mewasiatkan kepada kalian terhadap bapak-bapak kalian sebanyak satu kali. Sesungguhnya Allah telah mewasiatkan kepada kalian terhadap yang lebih dekat, maka yang lebih dekat.” (HR. Ibnu Majah No. 3661, hadits shahih).

Hadits di atas menunjukkan perintah berbuat baik kepada ibu. Sebagaimana dimaklumi dalam pedoman Ibnu Abbas dalam berfatwa yang berkaitan dengan Bab Kafarat, beliau berfatwa jika tidak ada nash yang menunjukkan kafarat-kafarat yang setara dengan dosa yang diperbuat atau melebihinya guna menghapus bekas dosa tersebut, seperti fatwa beliau tentang datangnya haid, orang yang meninggalkan salah satu kewajiban haji, dan lain sebagainya.

Berikut ini contoh fatwa Ibnu Abbas. Lihatlah betapa agungnya kedudukan berbuat baik kepada ibu beserta kafaratnya.

Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Bab Adab Mufrad dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang kepadanya seraya berkata, ‘Sesungguhnya aku telah meminang seorang wanita, kemudian ia menolak untuk menikahiku. Dan laki-laki yang lain meminangnya, kemudian wanita tersebut senang untuk menikahinya. Aku cemburu kepada wanita itu dan aku pun membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertobat?’

Ibnu Abbas bertanya, ‘Apakah ibumu masih hidup?’ Ia menjawab, ‘Tidak…’ Beliau berkata, ‘Bertobatlah kepada Allah, mendekatlah kepada-Nya semampumu.’

Kemudian aku kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakan mengapa beliau bertanya tentang ibuku, ‘Akah ia masih hidup?’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak mengetahui amalan yang lebih dekat kepada Allah selain berbuat baik kepada ibu’.”

Berikut ini juga merupakan atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dengan sanad shahih. Atsar tersebut juga terdapat dalam kitab Imam Bukhari pada Bab Adabul Mufrad dari jalan Thaisalah bin Mayyas, ia berkata, “Aku pernah bersama teman-teman Najdah (teman-temannya Najdah bin Amir al-Khariji. Ini adalah pendapat al-Jailani), kemudian aku melakukan dosa besar. Setelah itu aku memberitahukannya kepada Ibnu Umar, lalu beliau bertanya, ‘Dosa apa itu?’ Aku menjawab, ‘Dosa itu dan itu.’

Beliau menjawab, ‘Ini bukan dosa besar yang terdiri atas sembilan macam, yaitu menyekutukan Allah, membunuh, lari dari peperangan, menuduh berzina terhadap wanita shalihah, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, ilhad (menghina Allah) di masjid, menghina orang lain, mendurhakai ibu sampai menangis.’

Kemudian Ibnu Umar berkata kepadaku, ’Apakah kamu ingin jauh dari neraka dan masuk surga?’ Aku menjawab, ‘Ya, demi Allah.’ Beliau bertanya, ‘Apakah orang tuamu masih hidup?’

Aku menjawab, ‘Hanya ibuku.’Beliau berkata, ‘Demi Allah, jika kamu lemah lembut dalam perkataan, kamu memberinya makan, pasti kamu masuk surga selama kamu menjauhi dosa besar.”.*Sudirman STAIL

Sumber buku: Wasiat Luqman Al-Hakim Mendidik Buah Hati dengan Hikmah. Penulis: Syeikh Mustafah Al-Adawi.

The post Wasiat Bersikap Baik Terhadap Ibu appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
137972