Tazkiyatun Nafs – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Buruknya Hidup dalam Keserakahan http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/10/30/126770/buruknya-hidup-dalam-keserakahan.html Mon, 30 Oct 2017 05:48:50 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126770

Penyakit serakah itu dapat disembuhkan dengan merenungkan keburukan dan akibat-akibatnya yang merugikan.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SERAKAH ialah suatu keadaan jiwa yang membuat manusia tidak puas dengan apa yang dimilikinya dan berusaha ingin memiliki yang lebih banyak lagi. Keserakahan ini tidak hanya pada pemilikan harta, tetapi juga terhadap makanan, minuman, kegiatan seksual, dan sebagainya.

Ini termasuk penyakit hati yang tercela dan tidak sehat, karena hati orang serakah tidak pernah tenang, puas, dan selalu merasa kekurangan. Karena itu, bisa terdorong berbuat buruk, misalnya menipu, mencuri, manipulasi, korupsi, dan sebagainya, untuk memenuhi nafsu serakahnya terhadap harta dan kedudukan. Itulah sebabnya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan bahaya sifat serakah:

“Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Segala keperluannya akan Allah kumpulkan dan keperluan dunia akan datang. Barangsiapa menjadikan (motivasi) dunia sebagai cita-citanya Allah akan menjadikan kefakiran di hadapan matanya dan akan menjadikan kacau segala urusannya. Sedangkan dunia (yang dicarinya sungguh-sungguh) tak ada yang datang menghampirinya melainkan sesuai dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah atas dirinya, pada sore dan pagi harinya dia selalu dalam kefakiran.” (H.R. Tirmizi).

Rasulullah juga mengingatkan:

1. “Setiap anak Adam akan mengalami masa tua, kecuali dua hal, yaitu kerakusan terhadap harta benda dan panjangnya umur.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

2. “Seandainya seorang anak Adam telah memiliki dua lembah, maka dia akan mencari lembah yang ketiga, dan perutnya tidak akan merasa puas sampai dimasukkan ke dalam tanah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah itu menjelaskan bahwa nafsu untuk menumpuk harta dan mencapai kedudukan yang setinggi-tingginya dalam kehidupan dunia itu sebenarnya manusiawi dan dapat menjadi motivasi untuk meraih kemajuan dalam kehidupan dunia, seperti kekayaan, kedudukan, dan ilmu pengetahuan, tetapi nafsu itu harus dikontrol agar tidak menimbulkan ekses negatif, yaitu mencari kekayaan dan kedudukan dengan cara yang tidak benar, seperti sogok-menyogok dan sebagainya. Tetapi, kalau mencari harta dan kedudukan yang setinggi-tingginya sekalipun dengan cara yang benar, tentu saja boleh.

Lawan dari serakah ialah merasa cukup (kanaah). Hal ini dapat membuat orang mengendalikan keinginan-keinginan yang tidak baik dan merasa cukup dengan mempunyai harta yang dimiliki. Orang yang berbuat kebajikan itu selalu hidup terhormat, terpandang, dan merdeka; ia kebal terhadap penyakit yang ditimbulkan kelimpahan harta di dunia serta hukuman di akhirat.

Penyakit serakah itu dapat disembuhkan dengan merenungkan keburukan dan akibat-akibatnya yang merugikan, dan menyadari bahwa serakah merupakan perangai hewan yang tidak mengenal batas dan kepuasan, serta menggunakan segala cara, termasuk yang haram sekalipun, dalam memenuhi tuntutan nafsu serakahnya.*/Sudirman Tebba, dari bukunya Sehat Lahir Batin.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Amalan Saleh Membela Orang-Orang Mukmin di Dalam Kuburnya http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/10/23/126250/amalan-saleh-membela-orang-orang-mukmin-di-dalam-kuburnya.html Mon, 23 Oct 2017 08:33:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126250

Alam kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta. Ia mendapat cahaya di sana, lalu tubuhnya dikembalikan kepada asal mulanya.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

DARI Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya bila seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya, ia mendengarkan suara sandal saudara-saudaranya saat mereka meninggalkannya. Jika ia seseorang mukmin maka shalat akan berada di atas kepalanya, puasa berada di samping kanannya, zakat di samping kirinya, perbuatan baik berupa sedekah, shalat sunnah, perbuatan makruf dan berbuat baik kepada manusia berada di ujung kakinya.

Lalu ia didatangi dari sisi atas, maka shalatnya berkata, “Tidak ada jalan dari arahku.” Lalu ia didatangi dari sisi kanan maka puasanya berkata, “Tidak ada jalan dari arahku.” Lalu ia didatangi dari sisi kiri, maka zakatnya berkata, ”Tidak ada jalan dari arahku.” Lalu ia didatangi dari sisi bawah maka perbuatan baiknya yang berupa sedekah, shalat sunnah, perbuatan makruf dan berbuat baik kepada manusia berkata, ”Tidak ada jalan dari arahku.”

Kemudian dikatakan kepadanya, “Duduklah! Ia pun duduk dan matahari telah dinampakkan kepadanya seakan-akan hampir terbenam, lalu ditanya, ’Tahukah kamu siapakah orang yang bersama kamu itu?Apa pendapatmu mengenai dirinya? Apa kesaksianmu atas dirinya? Orang itu menjawab, “Biarkanlah aku mendirikan shalat.” Mereka menjawab, ”Sesungguhnya kamu akan mendirikannya, akan tetapi jawablah pertanyaan kami, tahukah kamu siapakah orang yang bersama kamu itu? Apa pendapatmu mengenai orang itu? Dan apa kesaksianmu atas orang itu?’

Ia menjawab, “Ia adalah Muhammad, Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia telah datang dengan kebenaran dari Allah.” Kemudian dikatakan kepada orang itu, “Atas hal itu kamu hidup, atas hal itu kamu mati dan dengan itu Insya Allah kamu akan dibangkitkan.” Seraya dibukakan satu pintu dari pintu-pintu surga, ia diberitahu, “Inilah tempatmu di dalam surga, dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu.”

Ia pun senang dan gembira. Lalu dibukakan untuknya satu pintu dari pintu-pintu neraka dan ia diberitahu, “Inilah tempatmu dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu jika engkau bermaksiat kepada Allah.” Ia pun bertambah senang dan gembira.

Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta. Ia mendapat cahaya di sana, lalu tubuhnya dikembalikan kepada asal mulanya, bentuknya dijadikan bentuk yang indah, yaitu burung yang memakan tanaman surga, dan itulah yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan,

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

Sedangkan orang kafir jika ia didatangi dari sisi atas, di sana tidak ada apa-apa. Ketika didatangi dari sisi kanan, di sana tidak ada apa-apa. Ketika didatangi dari sisi kiri, di sana tidak ada apa-apa. Dan ketika didatangi dari sisi kaki, di sana tidak ada apa-apa.

Kemudian ia diperintahkan, “Duduklah! Ia pun duduk dengan gemetar ketakutan, kemudian ia ditanya, ”Apakah kamu tahu orang yang ada sebelum kalian itu (Nabi Muhammad SAW)? Ia balik bertanya, ”Orang yang mana? Bahkan ia tidak tahu namanya. Kemudian ia diberitahu, ”(Namanya) Muhammad.” Orang itu menjawab, ”Aku tidak tahu, aku hanya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, aku pun mengatakan hal serupa.”

Dikatakan kepada orang itu, “Atas hal itu kamu hidup, atas hal itu kamu mati dan dengan itu insya Allah kamu akan dibangkitkan.” Seraya dibukakan satu pintu dari pintu-pintu neraka, ia diberitahu, ”Inilah tempatmu di dalam neraka, dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu.” Ia pun sedih dan menyesal.

Lalu dibukakan untuknya satu pintu dari pintu-pintu surga dan ia diberitahu, “Inilah tempatmu dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu jika engkau taat kepada Allah.” Ia pun bertambah sedih dan menyesal. Kemudian kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilang. Itulah kehidupan yang sempit yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya,

Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghidupkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)

Dalam riwayat lain terhadap orang saleh disebutkan, “Orang itu akan didatangi di dalam kuburnya, ketika ia didatangi dari sisi kepala, bacaan Al-Qur’annya membelanya. Ketika didatangi dari arah tangan, sedekah membelanya dan ketika didatangi dari sisi kaki, perjalanannya ke masjid membelanya.”*/Sudirman STAIL (Sumber buku: Ada Apa Setelah Mati, penulis: Husain bin Audah Al-Awayisyah)

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Berlaku Adil dengan Sikap Pertengahan http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/10/11/125445/berlaku-adil-dengan-sikap-pertengahan.html Wed, 11 Oct 2017 06:00:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125445

Sikap seorang muslim dalam segala bidang adalah pertengahan, tidak kurang dan tidak berlebihan.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEBAGIAN dari buah sikap adil dalam memutuskan hukum adalah ketenangan dalam jiwa. Diriwayatkan bahwa Kaisar (Raja) Romawi mengutus seorang utusan untuk melihat keadaan dan aktivitas Umar bin Al-Khattab.

Ketika masuk kota Madinah, utusan itu menanyakan tentang Umar. Ia berkata, “Di mana Raja kalian?” Orang-orang menjawab, “Kami tidak memiliki Raja, tapi kami memiliki pemimpin dan beliau pergi ke daerah pinggir Madinah.“

Lalu utusan itu pergi mencarinya dan mendapati beliau sedang tidur di atas pasir dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang selalu dibawanya untuk mengubah kemungkaran. Ketika orang itu melihat beliau dalam keadaan seperti itu, maka hatinya pun merasakan ketenangan dan ia berkata, “Orang yang ditakuti semua raja karena kewibawaannya, tetapi keadaannya seperti ini? Namun, wahai Umar, engkau telah berlaku adil, sehingga engkau pun bisa tidur. Sedangkan raja kami berbuat zalim, maka tidak diragukan lagi bahwa dia senantiasa tidak bisa tidur karena merasa takut!”

Memang sikap pertengahan itu mengarah ke sifat adil. Karena dengan sikap itu, seluruh urusan kaum muslimin dalam kehidupan ini akan menjadi teratur. Sikap lurus adalah jalan tengah antara menyepelekan dan tidak juga kikir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Sikap pertengahan itu pun harus ada dalam hal berpakaian. Adapun dalam hal berjalan, adalah batas tengah antara sombong dan menghinakan diri. Sikap seorang muslim dalam segala bidang adalah pertengahan, tidak kurang dan tidak berlebihan.

Sikap pertengahan adalah saudara kembar sikap istikamah. Keduanya akhlak yang paling mulia dan luhur, karena keduanya menahan seseorang dari melanggar batasan-batasan Allah dan memotivasi diri untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya. Sehingga, dia tidak bermalas-malasan dan tidak berlebihan pada salah satu yang dilakukannya.

Istikamah itulah yang mengajarkan seorang muslim untuk menjaga kesucian diri sehingga dia merasa cukup dengan apa yang telah dihalalkan baginya. Juga menjauh dari apa yang telah diharamkan baginya. Cukuplah pelakunya itu mulia dan bangga dengan firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istikamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14).*/Sudirman STAIL (sumber buku: Minhajul Muslim-Pedoman Hidup Ideal Seorang Muslim, penulis: Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mewaspadai Keburukan di Sekitar Kita http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/10/05/124952/mewaspadai-keburukan-di-sekitar-kita.html Thu, 05 Oct 2017 09:26:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124952

Barangkali orang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat sehingga ia mengira bahwa ia tidak disiksa, padahal kelalaiannya terhadap siksaan yang akan diperolehnya itu sebenarnya adalah suatu siksaan.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEGALA sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan yang terjadi padanya merupakan contoh peristiwa yang ada di akhirat. Adapun mengenai makhluk di dunia, Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada sesuatu di surga yang menyerupai apa yang ada di dunia kecuali dari segi nama-namanya.”

Ini karena Allah menghadirkan kerinduan kenikmatan kepada kenikmatan yang lainnya dan menakut-nakuti dengan berbagai bentuk azab. Adapun yang terjadi di dunia ini maka setiap orang yang zalim disiksa di dunia atas kezalimannya, sebelum ia mendapatkan siksaan di akhirat. Demikian pula dengan setiap orang yang berbuat dosa.

Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. an-Nisa: 123)

Barangkali orang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat sehingga ia mengira bahwa ia tidak disiksa, padahal kelalaiannya terhadap siksaan yang akan diperolehnya itu sebenarnya adalah suatu siksaan.

Orang bijak berkata, “Kemaksiatan itu merupakan siksaan bagi kemaksiatan lainnya, sedang kebaikan setelah kebaikan adalah balasan bagi kebaikan.”

Barangkali pula siksaan di dunia itu berupa sesuatu yang tidak kasat mata, sebagaimana dikatakan oleh sebagian dari rahib Bani Israil, “Hai Tuhan, aku berbuat durhaka kepada-Mu, namun kenapa Engkau tidak menyiksaku ?” Maka dikatakan kepadanya, “Betapa banyak siksaan yang Aku berikan, tapi engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah menghalangimu memperoleh manisnya bermunajat dengan-Ku ?”

Barang siapa yang memperhatikan siksaan jenis ini maka ia akan selalu waspada. Wuhaib bin Al-Ward berkata ketika ia ditanya, “Apakah orang yang berbuat maksiat itu mendapatkan lezatnya ketaatan?” Maka ia menjawab, “Tidak pula orang yang ingin melakukannya.”

Tidak jarang orang yang melepaskan pandangannya dengan bebas, lantaran itu Allah menghalanginya dari melakukan iktibar atas penglihatannya atau lidahnya sehingga ia pun terhalang memperoleh kejernihan hati. Barangkali juga ia memilih makanan yang syubhat maka batinnya menjadi gelap, dihalangi dari shalat malam dan manisnya munajat dan lain-lainnya.

Perkara seperti ini diketahui oleh orang yang terbiasa mengintrospeksi diri (muhasabah). Adapun orang yang bertakwa kepada Allah, maka akan mendapatkan balasan atas ketakwaannya dengan sangat cepat. Ini sebagaimana dinyatakan dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Melihat kepada wanita (bukan mahram) itu merupakan panah beracun daripada panah-panah setan. Barang siapa yang meninggalkannya karena mengharapkan ridha-Ku maka Aku berikan kepadanya keimanan, yang rasa manisnya akan ia dapatkan di dalam hatinya.”

Ini adalah sekelumit dari bentuk yang banyak melalaikan seseorang. Adapun jika berhadap-hadapan dengan perempuan secara nyata maka jarang sekali pandangan bisa tertahankan. Di antaranya seperti yang disabdakan Nabi berikut,

“Tidur di pagi hari itu menghalangi rezeki dan sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan oleh mufasir bahwa setiap orang dari kaum Asbath memiliki 12 anak, sedangkan Nabi Yusuf datang dengan 11 keinginan (godaan). Melihat kondisi tersebut maka orang yang memiliki pandangan batin dapat melihat balasan itu dan memahaminya. Ini seperti yang diucapkan Fudhail bin Iyad , “Sesungguhnya aku telah durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, aku mengetahuinya dari sikap binatang tungganganku dan budak perempuanku.”

Utsman an-Nisaburi mengatakan bahwa tali sandalnya terputus ketika ia pergi ke shalat Jumat, kemudian ia berhenti sebentar untuk memperbaikinya seraya berkata, “Ia tidak terputus kecuali karena aku tidak mandi sunnah (sebelum) shalat Jumat.”

Di antara keajaiban balasan di dunia itu adalah tatkala tangan saudara-saudara Nabi Yusuf telah berbuat zalim, yaitu ketika mereka menjualnya dengan harga yang murah. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja.” (QS. Yusuf: 20)

Dan ketika Yusuf telah bersabar menahan diri dari godaan nafsu maka akhirnya ia pun mendapatkan wanita tersebut secara halal. Padahal sebelumnya ketika wanita itu menginginkannya, telah menuduhnya dengan mengatakan (seperti disebutkan dalam firman Allah):

Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu.” (QS. Yusuf: 25) Maka kebenaran pun terungkap dengan pengakuannya sendiri, sebagaimana firman Allah berikut, “Akulah yang menggoda dan merayunya.” (QS. Yusuf: 51).

Jika ada seseorang yang meninggalkan maksiat karena Allah maka ia benar-benar akan melihat buah dari itu. Demikian pula, jika ia melakukan ketaatan, sebagaimana disebutkan dalam hadist, “Apabila kalian merasakan kemiskinan maka berniagalah bersama Allah dengan bersedekah!” Yakin berhubunganlah dengan-Nya untuk menambah keuntungan-keuntungan yang segera (di dunia).*/Sudirman STAIL (sumber buku: Be a Winner, Petuah-Petuah untuk Para Pemenang, penulis: Ibnul Jauzi)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Membangun Rasa Sepenanggungan di Dalam Masyarakat Muslim http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/10/03/124823/membangun-rasa-sepenanggungan-di-dalam-masyarakat-muslim.html Tue, 03 Oct 2017 09:04:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124823

Sejarah membuktikan, masyarakat yang menerapkan syariat Islam, memegang teguh ukhuwah, dan berasaskan takwa, mampu melenyapkan kefakiran, menyebarkan rasa cinta, dan tegar menghadapi musuh.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEORANG muslim menyadari bahwa saudaranya sesama muslim tidak boleh dizalimi, dibiarkan, atau ditinggalkan begitu saja. Dia sadar, tidak dikatakan beriman bagi mereka yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Juga tidak dikatakan beriman apabila ia kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia tahu. Dia menyadari bahwa dalam bersaudara harus seperti satu tubuh, satu cita-cita, dan sepenanggungan.

Seorang muslim, jika sudah timbul rasa ukhuwah di dalam dirinya, maka segenap tubuhnya akan terdorong untuk mewujudkan sifat tolong-menolong, sepenanggungan, saling menyayangi, dan mengutamakan saudaranya terhadap orang yang terikat dengan ukhuwah islamiyah dan seakidah, terutama jika mereka memerlukan bantuan. Orang yang berukhuwah akan menyenangkan mereka yang kesusahan, menolong mereka yang ditimpa musibah, dan menjamin kaum lemah dan fakir miskin.

Itulah hak-hak ukhuwah yang paling luas dan merupakan salah satu konsekuensi syahadatain yang paling menonjol. Contoh historis tersebut menunjukkan bahwa setiap muslim menyadari hak ukhuwah dan bangkit dengan rasa tanggung jawab, menjamin orang yang perlu mendapat jaminan, mencintai, mempersaudarakan, menyayangi sesama saudara tanpa menyebut-nyebut kebaikannya. Tidak menyakiti, tidak merasa lebih tinggi, dan tidak merasa hebat.

Terhapusnya kefakiran dan terhentinya kejahatan dalam masyarakat Islam disebabkan hilangnya sumber dan penyebab kefakiran dan kejahatan. Ini suatu aksiomatika. Sejarah telah membuktikan, masyarakat yang menerapkan syariat Islam, memegang teguh ukhuwah islamiyah, dan berasaskan takwa kepada Allah, akan mampu melenyapkan kefakiran, menyebarkan rasa cinta, tolong-menolong, saling menjamin, menyayangi, membentuk satu barisan yang rapi, tegar menghadapi musuh, berhasil mencetak kemenangan, kekuatan, dan kehebatan dalam berhadapan dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Hal ini terjadi karena Islam menata bangunan ukhuwah, menancapkan tiang-tiang mahabbah ‘kecintaan’, memantapkan prinsip saling sepenanggungan, memperdalam makna kasih sayang, dan mengutamakan sesama saudara.

Itulah hasil terpenting yang dipetik umat Islam dalam naungan ukhuwah islamiyah yang dilandasi niat ikhlas dan di bawah syiar akidah Rabbaniyah yang terpimpin. Dengan naungan ukhuwah, pemuda Islam dapat menciptakan kesatuan Islam yang tak tergoyahkan, menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia, membangkitkan peradaban Islam yang indah dan damai, memperoleh hubungan antara negara Islam, dan mengibarkan bendera Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah di muka bumi.

Oleh karena itu, pereratlah tali ukhuwah islamiyah, agar umat Islam dapat mewujudkan kesatuan umat yang menyeluruh, menyebarkan agama Allah yang abadi ke pelosok dunia, menyinari dunia dengan petunjuk, dan menyemarakkannya dengan peradaban Islam yang cemerlang dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam sebenarnya.

Betapa perlunya masyarakat memiliki pribadi-pribadi mukmin yang saling menyayangi dan saling mencintai. Juga saling setia, jujur, dan ikhlas, yang dalam dirinya tertanam makna cinta yang hakiki. Semua itu bertujuan untuk mengembalikan kedaulatan Islam yang telah hilang dan kemenangan yang tertunda. Bagi Allah tidak ada yang sukar untuk mewujudkannya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Persaudaraan Islam, penulis: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Bila Sakit Menyapa, Jangan Bersedih http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/09/26/124445/bila-sakit-menyapa-jangan-bersedih.html Tue, 26 Sep 2017 08:52:52 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124445

Musibah adalah sunnatullah bagi semua manusia, bahkan sampai orang yang paling mulia pun merasakannya. Para nabi dan rasul, merekalah orang yang paling berat cobaannya.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KITA semua tentu tidak ingin sakit. Akan tetapi, ingatlah bahwa segala yang terjadi di dalam fana ini telah digariskan oleh Rabb yang Maha Bijaksana. Adanya bencana, musibah, dan sakit, semuanya adalah ketentuan Allah. Allah berfirman:

Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22).

Musibah adalah sunnatullah bagi semua manusia, bahkan sampai orang yang paling mulia pun merasakannya. Para nabi dan rasul, merekalah orang yang paling berat cobaannya. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan:

“Sesungguhnya manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi. Kemudian yang setelahnya, yang setelahnya, dan yang setelahnya.”

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa semakin kuat keimanan seseorang maka akan semakin bertambah pula cobaannya. Dan hadits ini sebagai bantahan yang jelas terhadap anggapan orang-orang yang lemah akalnya bahwa seorang mukmin apabila diberi cobaan, maka hal itu pertanda bahwa dia tidak diridhai di sisi Allah. Ini adalah persangkaan yang salah! Rasulullah saja sebagai manusia paling mulia diberi cobaan. Cobaan secara umum adalah isyarat kebaikan, bukan pertanda kejelekan.

Akan tetapi, rasa sakit yang kita rasakan, kesedihan yang merana dalam hati, janganlah membawa kita berburuk sangka kepada Allah. Berbaik sangkalah kepada-Nya, insya Allah segala yang sulit akan menjadi mudah, rasa sakit akan terasa ringan.

Ingatlah selalu hadits qudsi yang berbunyi: “Aku (Allah) menuruti prasangka baik para hamba kepada-Ku. Hendaklah ia berprasangka sekehendaknya. Apabila ia berprasangka baik maka akan baik, apabila ia berprasangka buruk maka akan buruk pula.

Renungi hadits di atas wahai saudaraku, semoga Allah memberi pemahaman kepada Anda bahwa Allah akan menuruti prasangka seorang hamba. Berbaik sangkalah jika Anda sakit, karena apabila Allah mengetahui ketulusan dan kejujuran niat Anda dalam berprasangka baik, maka engkau akan merasakan ketenangan jiwa dan ketentraman.

Sebaliknya, apabila engkau menuduh bahwa Allah tidak mengasihimu, tidak kasihan, maka tidak mustahil sakitmu bertambah parah. Pahamilah wahai hamba Allah.

Engkau berbaring di atas ranjang merasakan sakit. Engkau melihat orang-orang di sekitarmu berjalan hilir mudik lagi sehat badannya. Tentu engkau pun ingin seperti mereka bukan, kembali sehat lagi! Harapan seperti itu adalah wajar, karena kita semua ingin selalu sehat.

Janganlah engkau bersedih dengan penyakit yang menimpamu. Bersabarlah dan carilah pahala dengan sakit yang engkau derita.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Bila Sakit Menyapa, penulis: Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Jalan Mendapatkan Husnul Khatimah http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/09/22/124158/jalan-mendapatkan-husnul-khatimah.html Fri, 22 Sep 2017 09:15:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124158

Buah mulia dihasilkan dari pohon yang mulia. Barangsiapa yang diawali perjalanannya bersusah payah, maka berbahagia di akhir perjalanannya.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

PARA guru mengajarkan bahwa orang yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan mati di atasnya. Barangsiapa mati dalam suatu keadaan, maka dia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut. Barangsiapa merampingkan tubuhnya selama dalam perjalanan, maka dia akan mendapatkan kemuliaan saat dia sampai.

Barangsiapa yang berlemah lembut kepada binatang tunggangan serta tidak menyusahkannya, akan terus berlalu hingga diterima. Barangsiapa gigih berusaha seperti usaha seorang budak di awal perjalanannya, maka dia akan menikmati orang yang bebas di akhir perjalanannya. Ketahuilah, buah yang mulia dihasilkan dari pohon yang mulia. Barangsiapa yang diawali perjalanannya bersusah payah, maka berbahagia di akhir perjalanannya.

Inilah akhir yang membahagiakan. Inilah harapan bagi setiap orang yang menyuruh kepada kebenaran, walaupun harus dibayar dengan nyawanya. Abu Bakar An-Nablisi adalah seorang imam dalam ilmu hadits dan fiqih, serta merupakan kiblat masyarakat tempat mereka belajar dan mengikutinya. Ketika Banu ‘Abid memimpin Mesir, mereka mengubah syariat Allah, menghalalkan yang diharamkan, meminum-minuman keras secara terang-terangan di bulan Ramadhan dan menghalalkan seseorang menikah dengan mahramnya, serta melakukan kerusakan sampai kepada klimaksnya.

Tindakan mereka ditentang oleh singa penjaga sunnah yang menyeru kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dia menerangkan kebenaran dan membasmi kemaksiatan, dia mewarisi tugas kenabian dalam hidupnya, dan memainkan perannya sebagai utusan Allah kepada kaumnya. Namun mereka memenjarakannya, menyalibnya, dan memerintahkan orang Yahudi untuk mengulitinya. Orang Yahudi itu pun mengulitinya. Sedangkan sang ulama tetap berdzikir kepada Allah dan bersabar. Ketika sayatan sampai ke dadanya, orang Yahudi tersebut menusukkan pisau tepat di jantungnya dan dia pun mati syahid.

Ketika Ad-Daraqhuthni mengingat peristiwa itu, dia selalu menangis dan berkata, ”Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Allah).” (QS. Al-Ahzab: 6).

Bayangkanlah, bagaimana dia tetap berdzikir kepada Allah, padahal dirinya dikuliti. Karena kesibukannya yang paling utama adalah berdzikir kepada Allah, mengajarkan dan menyuruh untuk selalu berdzikir kepada Allah, bahkan raut mukanya terlihat menyeru kepada manusia untuk selalu berdzikir, maka dia pun ditenangkan dengan berdzikir ketika ruhnya dicabut untuk dapat meraih surga Firdaus dan mendapatkan bidadarinya.

Kematian dalam kondisi seperti itu merupakan khutbah teragung yang pernah dilakukannya semenjak dirinya naik ke atas mimbar, namun mimbar yang digunakannya sekarang adalah kayu yang digunakan untuk menyalibnya. Kata-kata yang disampaikan adalah darah yang mengalir setetes demi setetes. Adapun waktu yang digunakan untuk berkhubah adalah saat dirinya tergantung di atas salib, sambil melihat para musuhnya dari atas. Sandal yang digunakannya tepat di atas kepala mereka, darah yang mereka tumpahkan darinya adalah penyebab kesedihan mereka dan sekaligus menjadi simbol kenikmatannya.

Oleh karena itu bukanlah hal yang aneh, bila saat menjelang kematiannya dia masih tetap berdzikir kepada Allah dan memohon kepada-Nya. Yang lebih aneh dari itu adalah, setelah nyawanya keluar dari tubuhnya, Abu Bakar masih tetap berdoa kepada Allah. Orang-orang pun melintas di depan jasadnya dan mereka mendengar darinya suara orang yang membaca Al-Qur’an.

Inilah salah satu karamah yang dianugerahkan Allah kepadanya, yang diraih dari pijakan nyawanya yang di jalan Allah. Maka Allah pun memberikan ganjaran atas pengorbanan yang dilakukan di jalan-Nya, memberikan pahala bagi setiap kepala yang syahid, dan mengangkat orang-orang yang selalu berdoa kepada Allah dalam hidup dan mati.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Investasi Akhirat, penulis: Dr. Khalid Abu Syadi)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Tinggalkan Maksiat Karena Allah, Rasakan Manisnya Kenikmatan http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/09/18/123930/tinggalkan-maksiat-karena-allah-rasakan-manisnya-kenikmatan.html Mon, 18 Sep 2017 13:52:06 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123930

Barangkali orang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat sehingga mengira tidak disiksa, padahal sebenarnya hal itu merupakan siksaan pula.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEGALA sesuatu yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan apa-apa terjadi padanya, merupakan contoh peristiwa yang ada di akhirat. Ada pun mengenai makhluk di dunia, Ibnu Abbas r.a berkata, “Tidak ada sesuatu di surga yang menyerupai apa ada di dunia, kecuali dari segi nama-namanya.”

Ini karena Allah menghadirkan kerinduan dengan kenikmatan dan menakut-nakuti dengan berbagai bentuk azab. Ada pun yang terjadi di dunia ini, maka setiap orang yang zalim disiksa di dunia atas kezalimannya, sebelum ia mendapatkan siksaan di akhirat. Demikian pula dengan setiap orang yang berbuat dosa.

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. an-Nisa: 123).

Barangkali orang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat sehingga ia mengira tidak disiksa, padahal kelalaiannya terhadap siksaan yang seharusnya diperolehnya itu sebenarnya adalah suatu siksaan.

Orang bijak berkata, “Kemaksiatan itu merupakan siksaan bagi kemaksiatan lainnya, sedang kebaikan setelah kebaikan adalah balasan bagi kebaikan.”

Barangkali pula siksaan di dunia itu berupa sesuatu yang tidak kasat mata, sebagaimana dikatakan oleh sebagian rahib Bani Israil, “Hai Tuhan, aku berbuat durhaka kepada-Mu, namun kenapa Engkau tidak menyiksaku ?” Maka dikatakan kepadanya, “Betapa banyak siksaan yang Aku berikan, tapi engkau tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah menghalangimu memperoleh manisnya bermunajat dengan-Ku?”

Barangsiapa yang memperhatikan siksaan jenis ini, maka ia akan selalu waspada. Wuhaib bin Al-Ward berkata ketika ia ditanya, “Apakah orang yang berbuat maksiat itu mendapatkan lezatnya ketaatan?” Maka ia menjawab, “Tidak pula orang yang ingin melakukannya.”

Tidak jarang orang melepaskan pandangannya dengan bebas, lantaran itu Allah menghalanginya dari melakukan iktibar atas penglihatannya atau lidahnya sehingga ia pun terhalang memperoleh kejernihan hati. Barangkali juga ia memilih makanan yang syubhat, maka batinnya menjadi gelap, dihalangi dari shalat malam dan manisnya munajat, serta lain-lainnya.

Perkara seperti ini diketahui oleh orang yang terbiasa menginstropeksi diri (muhasabah). Ada pun orang yang bertakwa kepada Allah maka akan mendapatkan balasan atas ketakwaannya dengan sangat cepat. Ini sebagaimana dinyatakan dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Melihat kepada wanita (bukan mahram) itu merupakan panah beracun daripada panah-panah setan. Barang siapa yang meninggalkannya karena mengharapkan ridha-Ku maka Aku berikan kepadanya keimanan, yang rasa manisnya akan ia dapatkan di dalam hatinya.”

Ini adalah sekelumit dari bentuk yang banyak melalaikan seseorang. Ada pun jika berhadap-hadapan dengan perempuan secara nyata maka jarang sekali pandangan bisa tertahankan, di antaranya seperti yang disabdakan Nabi berikut,

“Tidur di pagi hari itu menghalangi rezeki dan sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad).

Diriwayatkan oleh mufasir bahwa setiap orang dari kaum Asbath memiliki 12 anak, sedangkan Nabi Yusuf datang dengan 11 keinginan (godaan). Melihat kondisi tersebut maka orang yang memiliki pandangan batin dapat melihat balasan itu dan memahaminya. Ini seperti yang diucapkan Fudhail bin Iyad,

“Sesungguhnya aku telah durhaka kepada Allah, aku mengetahuinya dari sikap binatang tungganganku dan budak perempuanku.”

Dari Utsman an-Nisaburi, dikatakan bahwa tali sandalnya terputus ketika ia pergi ke shalat Jumat, kemudian ia berhenti sebentar untuk memperbaikinya seraya berkata, “Ia tidak terputus kecuali karena aku tidak mandi sunnah (sebelum) shalat Jumat.”

Di antara keajaiban balasan di dunia itu adalah tatkala tangan saudara-saudara Nabi Yusuf telah berbuat zalim, yaitu ketika mereka menjualnya dengan harga yang murah, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja.” (QS. Yusuf: 20)

Dan ketika ia telah bersabar dan menahan diri dari godaan nafsu maka akhirnya ia pun mendapatkan wanita tersebut secara halal. Sebelum itu wanita itu menginginkannya dan berbalik menuduh dengan mengatakan (seperti disebutkan dalam firman Allah),

Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu.” (QS. Yusuf: 25). Maka kebenaran pun terungkap dengan pengakuannya, sebagaimana firman Allah,

Akulah yang menggoda dan merayunya.” (QS. Yusuf: 51)

Jika ada seseorang meninggalkan maksiat karena Allah, maka ia benar-benar akan melihat buah dari itu. Demikian pula, jika ia melakukan ketaatan, sebagaimana disebutkan dalam hadist,

“Apabila kalian merasakan kemiskinan maka berniagalah bersama Allah dengan bersedekah!” Maka yakinlah berhubungan dengan-Nya untuk menambah keuntungan-keuntungan yang segera (di dunia).*/Sudirman STAIL (sumber buku: Be A Winner- Petuah-Petuah untuk Para Pemenang, penulis: Ibnul Jauzi)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sikap Muslim dalam Menyantuni dan Memberi Maaf http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/09/13/123575/sikap-muslim-dalam-menyantuni-dan-memberi-maaf.html Wed, 13 Sep 2017 09:42:27 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123575

Para sahabat dan sesudahnya senantiasa berpegang teguh pada Kitabullah untuk mudah memberi maaf dan ringan tangan membantu orang lain.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

DALAM kitab Asbab An-Nuzul diceritakan bahwa saudara Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bernama Misthah, hidupnya dalam tanggungan kebaikan Abu Bakar. Tetapi, Misthah tidak dapat menahan diri untuk turut merusak kehormatan Aisyah saat orang-orang munafik melancarkan gosip terhadap Aisyah yang terkenal dengan peristiwa Hadits Ifk.

Misthah lupa terhadap hak seorang muslim, kerabat, dan hak ihsan ‘kebaikan’ dari Abu Bakar. Kemudian, Abu Bakar bersumpah tidak akan bertegur sapa dengan saudarinya ini dan akan memutus hubungan tali keluarga. Sehubungan dengan hal ini, turun firman Allah berikut,

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22).

Kemudian Abu Bakar memaafkannya dan melupakan kejadian tersebut, serta memberi bantuan lagi seperti semula. Ia berkata, “Aku lebih suka Allah mengampuniku.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Tatkala datang Uyainah bin Husen, ia singgah di rumah kemenakannya, Hirri bin Qais. Ia termasuk orang yang dekat dengan Umar, karena ia ahli qira’at dan anggota Majelis Syura yang terdiri dari orang tua dan muda.

Uyainah berkata, ‘Bolehkah aku menemui Amirul Mukminin?’ Tatkala ia masuk dan berkata, ‘Wahai anak Khathab, demi Allah, engkau tidak memberikan pemberian yang menjadi hak kami dan engkau tidak menghukum di antara kami dengan adil.’ Kemudian Umar marah dan ingin memukulnya. Kemudian Hirri bin Qais berkata, “Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya Allah telah berfirman, ‘Berilah maaf, dan suruhlah (manusia) berbuat kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ Sesungguhnya dia adalah termasuk orang yang bodoh. Maka demi Allah, Umar tidak melanggar ayat tersebut ketika dibacakannya. Dia adalah orang yang sangat memperhatikan Kitabullah.”

Suatu ketika Zainal Abidin keluar menuju masjid. Tiba-tiba ia dimaki oleh seseorang. Lalu, anak-anaknya mendatangi orang tersebut dan akan memukulinya. Zainal Abidin lalu mencegahnya dan berkata kepada anak-anaknya, “Tahanlah tanganmu darinya.”

Kemudian ia menoleh kepada orang tersebut dan berkata, “Hai, aku lebih banyak berbuat kebaikan dan aku lebih banyak tahu daripada kamu. Jika kamu mempunyai keperluan untuk menyebutkannya, maka aku akan menyebutkan untukmu.”

Lalu orang tersebut merasa enggan dan malu. Kemudian Zainal Abidin meninggalkan bajunya dan memberikan kepadanya seribu dirham. Maka berlalulah orang tersebut seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa pemuda ini adalah anak cucu Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam.”

Suatu ketika pembantu Zainal Abidin menuangkan air untuknya dari teko yang terbuat dari tanah liat. Akan tetapi, teko tersebut jatuh dan menimpa kaki Zainal Abidin, dan teko itu pun pecah, menyebabkan kaki Zainal Abidin terluka. Lalu, pembantunya cepat-cepat berkata, “Wahai sahabatku, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (QS. Ali-Imran: 134).

Zainal Abidin berkata, “Sesungguhnya kamu telah menahan kemarahanku.” Lalu ia membaca ayat, “Dan orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia.” (QS. Ali-Imran: 134).

Kemudian Zainal Abidin berkata, “Sungguh aku telah memaafkan kamu.” Pembantunya berkata lagi, “Allah berfirman, “Allah mengasihi kepada mereka yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran: 134).

Akhirnya Zainal Abidin berkata, “Kamu sekarang merdeka karena Allah.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Persaudaraan Islam, penulis: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Besar Kasih Sayang Allah pada Manusia http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2017/09/11/123421/besar-kasih-sayang-allah-pada-manusia.html Mon, 11 Sep 2017 13:22:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123421

Allah senantiasa memberi kasih sayang pada manusia. Dia Maha Penerima Taubat dari segala keburukan yang pernah dilakukan manusia.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

DALAM sebuah hadits, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tatkala Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan nasib makhluk-Nya, Dia menetapkan, ‘Rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda, “Tatkala Allah menetapkan nasib makhluk-Nya, Dia menetapkan bagi diri-Nya di atas Arsy-Nya, ‘Sesungguhnya, rahmat-Ku lebih cepat daripada amarah-Ku.”

Apabila kita perhatikan kalimat “Rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku” dan “Sesungguhnya, rahmat-Ku lebih cepat daripada amarah-Ku”, mengandung makna yang sama, yaitu Allah Yang Maha Kuasa ingin menunjukkan bahwa kasih sayang-Nya lebih luas, besar, dan lebih cepat daripada amarah-Nya. Sebab, kasih sayang merupakan konsekuensi langsung dari sifat yang melekat pada diri-Nya, yakni ar-Rahman dan ar-Rahim. Sedangkan amarah-Nya berasal dari perbuatan hamba-Nya. Ini artinya, Allah ingin menegaskan bahwa rahmat-Nya tak akan pernah habis dan selalu ada bagi setiap hamba yang sangat membutuhkan-Nya.

Setiap saat, Allah Yang Maha Kuasa mencontohkan dan mengajarkan sifat kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk, baik yang berada di langit, bumi, laut, sungai, dan lain sebagainya, dengan cara memperlihatkan kebebasan absolut yang diberikan kepada Adam dan seluruh keturunannya.

Akan tetapi, setelah mendapatkan banyak kebebasan, manusia lupa dan tidak sadar bahwa setiap kebebasan itu berbatasan dengan kebebasan yang lain. Dengan kata lain, kebebasan tersebut ada batasnya. Boleh jadi, ini disebabkan mereka terlalu banyak bermain-main (sibuk dengan urusan dunia) dan bermalas-malasan di dunia ini.

Mengenai ini, Allah menegaskannya dalam firman-Nya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan, di akhirat (nanti), ada azab yang keras dan ampunan dari Allah, serta keridhaan-Nya. Dan, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadiid [57]: 20).

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Dan, tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabut [29]: 64).

Hal seperti itulah yang kemudian membuat seluruh makhluk, baik yang berada di langit, bumi, laut, sungai, marah dan tidak terima dengan yang dilakukan manusia. Terkait ini, dalam sebuah kisah pernah disebutkan bahwa setiap hari, lautan meminta izin kepada Allah Yang Maha Kuasa, “Wahai Tuhanku, izinkan aku menenggelamkan anak Adam. Sebab, mereka memakan rezeki-Mu, namun menyembah selain diri-Mu.”

Langit juga berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku menggerus anak Adam. Sebab, mereka memakan rezeki-Mu, tetapi menyembah selain diri-Mu.”

Sementara itu, bumi juga berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku menelan anak Adam. Sebab, mereka memakan rezeki-Mu, namun menyembah selain diri-Mu.”

Akan tetapi, Allah Yang Maha Kuasa berfirman, “Biarkanlah mereka! Sebab, jika kalian menciptakan mereka, maka kalian juga pasti akan mengasihi mereka.

Dalam kisah yang lain juga disebutkan bahwa setiap hari matahari terbit, langit berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku menurunkan gerhana kepada anak Adam. Sebab, mereka telah memakan makanan terbaik-Mu, namun tidak mau bersyukur kepada-Mu.”

Gunung juga berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku menimpa anak Adam. Sebab, mereka telah memakan makanan terbaik-Mu, namun tidak mau bersyukur kepada-Mu.”

Akan tetapi, Allah Yang Maha Kuasa berfirman, “Biarkan mereka, biarkan mereka! Seandainya kalian yang menciptakan mereka, tentu kalian pun akan mengasihi mereka. Mereka adalah hamba-hamba-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, Aku akan mencintai mereka. Namun, jika mereka tidak mau bertaubat, Aku menjadi dokter bagi mereka.

Tidak hanya itu, para malaikat juga sempat bertanya pada Allah Yang Maha Kuasa saat hendakmenciptakan manusia. Malaikat mengetahui bahwa manusia akan berbuat kerusakan di bumi. Namun, apa tanggapan-Nya terhadap sikap para malaikat itu?

Pernyataan Allah diceritakan dalam firman-Nya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah [2]: 30).*/Ust. Yazid al-Busthomi, dari bukunya Dahsyat Energi Tahajjud.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>